Sawarna, Surga yang Tersembunyi di Ujung Jawa, 12-14 Maret 2010

Yeheee, salah satu resolusi tahun baru saya terwujud tanggal 12-14 Maret 2010 kemarin. Sawarna !! Alhamdulillah .. :)

Bersama 11 sahabat, Sosro, DanSa, Aga, Muse, Mas Khanif, Mba Eva, Mba Andika, Mba Ida, Roro, Keket dan Ika, saya meninggalkan keramaian Jakarta sejenak, untuk menemui keheningan di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten.

Perjalanan dimulai pada tanggal 12 Maret pukul 8 malam. Meeting point di boulevard STAN, alhamdulillah, ngga pake ngaret2, semuanya tepat waktu. Kali ini kami menyewa elf dari “Carter Wisata“, mengingat kami berbanyak, jadi biaya perjalanan bisa ditekan, meskipun ngga ngeteng. Trus kalo ngeteng juga rada susah, secara Sawarna rada2 terpencil gitu yahhh .. :) Lepas pukul 8, kami bergerak ke Slipi untuk menjemput Mba Andika dulu. Setelahnya, kami langsung meluncur menjauhi Jakarta melalui jalan tol Jakarta-Merak.

Serang, Pandeglang, Lebak ..

Kami lalui 3 kabupaten itu selama hampir 6 jam, jalanan pun tidak bersahabat, berkelok2, naik turun dan bolong2. Tidur pun seadanya, karena elf kami diguncang2 ngga karuan. Demi Sawarna, saya tak apa .. :)

Pukul 4 pagi, menjelang adzan Subuh, elf kami berhenti di Desa Sawarna. Seseorang sudah menunggu kami di saung pinggir jalan, sambil berkalung sarung. Dia, Kang Hendi, pemilik rumah singgah yang akan kami tempati berdua belas. Untuk menuju ke rumah Kang Hendi, kami harus melintasi sebuah jembatan gantung. Heuuu .. Rada ketar ketir, goyang2 parah euyyy, mana gelap gulita, ngantuk pula. Mantappp .. :)

Sampai di rumah singgah, kami langsung tidur2 ngga jelas, sambil menunggu waktu sholat tiba. Semuanya lelah. Rumah singgah ini terdiri dari 3 kamar tidur dan 2 kasur tambahan. Untuk menumpang 2 hari 1 malam, biayanya 200K IDR saja. Cukup murah, menurut saya. Memang sederhana dan ngga senyaman di penginapan pada umumnya, tapi justru itu sensasi bedanya. Oh ya, untuk kamar mandinya, kita masih harus menimba pake timba katrol itu lohhh .. Hehehe .. Trus, berhubung di Sawarna ngga ada warung makan, kami minta istri Kang Hendi untuk memasakkan makanan untuk kami. Skali makan 14K IDR, menu lengkap, enak **terutama sambalnya**, minum sepuasnya. Lumayan ..

Setelah matahari agak tinggi, kami berjalan kaki ke Pantai Ciantir. Jarak dari rumah agak jauh, kurang lebih 1 km, melalui jalan kampung. Wewww .. Indah permai .. Hehehe .. Dari pantai ini, terlihat Pulau Manuk dan Pantai Tanjung Layar. Seperti biasa, kami foto2 lahhh .. Belum cibang cibung, karena ombaknya cukup tinggi dan mengerikan **khas laut selatan**, takuuuttt .. ^^

Pulang dari Pantai Ciantir, kami siap2 menjelajah Gua Lalay. Gua ini dipenuhi kelelawar dan didalamnya mengalir sungai dengan ketinggian sebetis orang dewasa, juga lumpur yang lumayan licin dan tebal. Dari rumah, kami bermobil dulu kurang lebih 1 km, kemudian lanjut dengan berjalan kaki kurang lebih 1 km juga. Kami dibekali helm, untuk mengamankan kepala dari “serangan” kelelawar oleh Kang Hendi, disarankan bawa senter dan masker, karena didalam gua sangat gelap dan bau kotoran kelelawar. Susur gua adalah pengalaman pertama bagi saya, apalagi guanya berair. Haduuuhhh, awalnya sempet parno, tapi melihat semangat temen2, saya percaya, semua akan baik2 aja.

Benar aja, Gua Lalay, gelap gulita, air berarus menggenangi kaki saya hingga lutut, telapak kaki saya mengambah lapisan lumpur di dasar gua **oh ya, pas masuk gua, mendingan ngga usah pake alas kaki, soalnya licin buanget**. Omigooottt .. Ada beberapa titik gua yang licinnya minta ampun. Saya lah orang pertama yang terpeleset dan jatuh. Hehehehe .. Over all, seru !! Menyenangkannn .. 😀 Keluar dari gua, rupa kami udah ngga karu2an, lumpur semua. Mana kaki saya harus kram segala .. Hihihi .. ^^

Sepulangnya dari susur gua, kami antri mandi. Gileee .. Satu kamar mandi dipake 12 orang, kebayang dong. Apalagi dengan penampakan ngga karu2an, berbalut lumpur semua. Sabaaarrr .. Hehehe .. Untungnya, ada beberapa dari kami yang nekat minjem kamar mandi di rumah Kang Hendi. Lumayan berkurang deh antriannya .. :)

Setelah itu, kami makan siang bareng di saung depan rumah, istirahat sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Manuk, yang terletak kurang lebih 5 km **ke arah Bayah** dari rumah. Sempat mampir di **semacam** gardu pandang, yang dari sana kami bisa liat pemandangan Pantai Ciantir yang cantik jelita dari ketinggian. Wewww .. Kemudian, di Pulau Manuk kami menikmati pantai berbatu karang dan islet batu yang ngga begitu besar yang menyerupai burung bertengger. Masuk ke objek ini bayar, cuma saya ngga ngeh berapaan, maklum, kali ini saya jadi peserta biasa saja, terbebas dari tugas jadi bendahara. Hehehe .. ^^

Dan hujan turun !

Hiks, kebayang rencana melihat sunset akan gagal. Tapi ternyata alam Sawarna bersahabat dengan kami. Menjelang pukul 5, hujan reda. Kami berlarian ke Pantai Ciantir lagi, mengejar Si Fire Ball. Alhamdulillah, kami kebagian momen berpulangnya Si Raja Siang itu ke peraduan. Wewww .. Indahhh ..

Malamnya, kami kumpul2 aja di saung, sambil main kartu & coreng2 yang kalah. Seruuu, walopun akhirnya keputus dengan “tragedi” mati lampu. Hehehe .. I’ll miss that moment, Guys !!

Minggu, 14 Maret 2010, pagi2 benar selepas Subuh, kami memulai petualangan lagi. Menuju Lagoon Pari dan Pantai Tanjung Layar. Kami harus menempuh perjalanan sejauh 4 km untuk menuju ke Lagoon Pari, medannya pun ngga gampang. Pertama, pematang sawah yang sempit dan licin bukan main. Kedua, naik turun bukit dengan lumpur yang ampun2an **karena sore sebelumnya hujan, kalo ngga hujan, katanya ngga sesulit itu medannya**. Sekali lagi, kami harus berurusan dengan lumpur, beberapa dari kami harus terpeleset, terluka .. Dan semuanya harus merelakan kaki indahnya berbalur lumpur. Hehehe .. :) Setelah berjalan di medan super susah selama kurang lebih 1 jam, sampai juga kami di cekungan bernama Lagoon Pari. Keinginan untuk cibang cibung udah ngga bisa dibendung, nyemplunglah kamiii .. 😀 Eh, walopun namanya laguna, ombaknya tetep tinggi loh, herannn ..

Puas mandi2 di laut, kami bergerak menuju Pantai Tanjung Layar. Susur pantai. Kirain deket, ternyata jauh juga. Tapi pemandangan sepanjang perjalanan membuat lupa kalo capek kok. Hehehe .. Karang2 yang membentuk formasi di sepanjang pantai, membuat perjalanan kami aman dari ombak, karena ombak2 tinggi itu udah dipecah jauh sebelum sampai ke deket daratan. Setelah setengah jam berjalan, kelihatan juga Pantai Tanjung Layarnya. Sebelum menuju ke Pantai Tanjung Layar, kami foto2 di karang2 di tengah laut, rada lumayan jauh dari daratan, kurang lebih 300 meteran. Pas mo balik ke pinggiran, ternyata kami harus melewati air sedalam lutut dengan batu2an di dasarnya yang licin. Heuuu .. Tapi alhamdulillah, semua baik2 aja .. ^^

Di Pantai Tanjung Layar, kami foto2 **biasaaa**. Abis itu sarapan di saung, mantaaappp .. Selepasnya, kami balik lagi ke rumah untuk bersih2 badan dan siap2 pulang ke Jakarta. Pake acara antri mandi lagi lohhh .. Hahaha .. 😀

Setelah Dhuhur, kami bergegas pulang. Rute yang ditempuh beda dengan pas berangkat, kami akan menempuh jalan pulang lewat Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Kurang lebih 1 jam perjalanan, kami berhenti di gardu pandang di Bukit Habibie **di deket situ ada villa milik Pak Habibie** untuk makan siang. Dari tempat kami berhenti itu, terlihat Pantai Cisolok **bagian dari Pelabuhan Ratu** dari ketinggian. Bagusss !

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam, alhamdulillah sampai juga kami di Jakarta. Sempat kena macet pas di Sukabumi. Tepar lah kami semuaaa, tapi hepiii .. :)

Untuk detail anggaran perjalanannya saya ngga terlalu ngeh, yang jelas totalnya adalah 315K IDR per orang. Itu termasuk sewa elf, berangkat 12 Maret 2010 malam dan pulang 14 Maret 2010 malam adalah 2000k IDR, trus penginapan 200K IDR, 5 kali makan @ 14K IDR per orang dan remeh temeh lainnya **biaya tol, tiket masuk objek, cemilan bersama dan lain2**. Menurut saya, anggaran segitu ngga berlebihan untuk semua petualangan dan atmosfir persahabatan yang saya dapatkan selama di Sawarna.

Yuhuuu .. ^^

8 thoughts on “Sawarna, Surga yang Tersembunyi di Ujung Jawa, 12-14 Maret 2010

  • March 21, 2010 at 10:35
    Permalink

    @ esumpelo : Eleuhhh, Si Mas juga keren itu jalan2nya, udah menjelajah Asteng .. Penginnn jugaaa .. >.< Salam kenal juga .. ^^

    Reply
  • March 21, 2010 at 20:10
    Permalink

    wah wah…yang hobi jalan-jalan. salut banget euy…bisa punya group yang ngajak jalan2 muluk… aku baru tadi denger nama mas Sosro, yang katanya banyak informasi tentang travelling… salam kenal ya untuk beliau…

    Reply
  • March 21, 2010 at 21:14
    Permalink

    @ dino : Hehehe .. Travelling is my soul, gitu kali yaaa .. Kalo ma Sosro mah dari jaman D3, kerjaannya naik gunung bareng dia .. Hehehe .. Okay, insya Alloh disampaikan, Din .. :)

    Reply
  • February 8, 2011 at 21:17
    Permalink

    wah, menarik. hanya dengan 300rban bisa sampai ke “surga”.
    kapan ada trip sprti ini lagi ya? ada yg nge-arrange?

    Reply
  • February 8, 2011 at 21:22
    Permalink

    @ muis : Terima kasih juga sudah mampir kesini .. 😉

    @ sandi : Coba gabung di milis2 traveling, seperti Natrekk dan Indobackpacker, biasanya banyak komunitas penyelenggara jalan2 hemat, salah satu tujuannya ya ke Sawarna ini .. Atau kalau punya akun Multiply, bisa add Lintas Wisata dan Jejak Kaki, mereka sering arrange jalan2 juga tuh .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: