The Mystical Bromo, 7-8 July 2010

Menuntaskan perjalanan ke Bromo kemarin membuat saya berbinar2. Bagaimana tidak ? Pertama, sudah lama saya ingiiinnn sekali menginjakkan kaki ke objek wisata yang satu ini, tapi entah mengapa, berkali2 direncanakan, berkali2 juga gagal. Kedua, karena kegagalan2 beruntun itulah, saya memasukkan Bromo dalam wish list tempat2 yang harus saya kunjungi selama tahun 2010 ini. Saya pernah menulisnya dalam sebuah jurnal DISINI.

Tiga tempat yang lain, yaitu Bandung Selatan, Sawarna dan Kota Tua Jakarta, sudah saya kunjungi di Januari dan Maret lalu. Tinggal Bromo yang belum. Makanya, tidak berlebihan kan, kalau saya jingkrak2 kegirangan ketika Bromo pun akhirnya berhasil saya sambangi ?!

Jujur, baru kali ini saya membuat resolusi dan kesemuanya menjadi kenyataan .. :)

Saya memulai perjalanan pada hari Selasa, 6 Juli. Tujuan saya Surabaya, disanalah besok paginya, saya berjanji ketemu dengan teman seperjalanan. Pukul 10 pagi, saya bergerak menuju Terminal Soekarno Hatta, Magelang dengan bis tanggung *disini biasa disebut engkel* jurusan Temanggung – Magelang, ongkos 2K IDR. Sampai di terminal, saya langsung menuju ke tempat Bis Eka jurusan Magelang – Surabaya mangkal. Tidak lama dari saya memilih tempat duduk, ternyata tidak harus menunggu pukul 11 siang, Bis Eka pun meluncur meninggalkan Magelang, ongkos 72K IDR *termasuk makan siang di RM. Duta, Ngawi*.

Menurut perhitungan saya, karena meninggalkan Magelang sebelum pukul 11 siang, maka kira2 pukul 7 malam, bis sudah akan masuk Terminal Bungurasih, Surabaya. Tapi ternyata saya salah euy, saya baru menginjakkan kaki di terminal yang menurut saya keren itu, pukul 9 malam. Jiaaahhh, Magelang – Surabaya nyaris 12 jam ! Dengan setengah buslag *emang ada ya buslag ?!*, saya menunggu Neni, sahabat saya yang tinggal di Surabaya. Yaaa, semalam di Surabaya saya numpang di rumah Neni dan Mas Aria, suaminya. Hehehehe .. Modal numpang doang nih .. :)

Tidak lama, saya bertemu juga dengan mereka berdua, alhamdulillah, soalnya saya agak keder malam2 nongkrong sendirian di terminal yang sama sekali belum pernah saya jamah *jamah ?! sumpah, bahasanya ngga banget*. Saya langsung diangkut ke rumah mereka yang nyaman, yang ternyata bukan masuk wilayah Surabaya, tapi Sidoarjo *intinya, saya belum ke Surabaya nih, karena Terminal Bungurasih pun ternyata masuk Sidoarjo*. Dan malam itu saya terkapar dengan suksesnya di rumah Neni. Gratiiisss .. *thanks a lot ya, Ne, kapan2 lagi, hehehehe ..*

Rabu, 7 Juli 2010, tepat tengah hari, saya meninggalkan rumah Neni yang super duper nyaman. Berhubung ngga paham jalan, daripada nyasar, saya naik Taksi Bosowa (031 5315151) dari rumah Neni ke Terminal Bungurasih, ongkos 24K IDR. Selama menunggu teman seperjalanan, Tac & Sapar *sebenarnya ada satu lagi, Samhoed, tapi terpaksa kami jalan duluan, berhubung pesawatnya dari Jakarta di delay*, saya menunggu di Masjid Nurul Iman, sekalian jama’ sholat Dhuhur dan Ashar. Begitu ketemu Tac & Sapar, kami bertiga makan siang dulu di salah satu kedai di terminal, saya makan nasi soto daging dan teh botol dingin, habisnya 15K IDR.

Setelah makan, kami bertiga segera menuju area keberangkatan bis antar kota dan mencari bis patas AC jurusan Surabaya – Probolinggo. Yak, kami dapatkan bis itu, sayangnya, baru sampai Sidoarjo kota, mendadak AC nya mati ! Jadilah, dari Sidoarjo sampai Probolinggo, kami bertiga dan seluruh penumpang dipanggang habis2an dalam bis. Hiks hiks, sabar deeehhh .. Ongkos bis PAsilitas terbaTAS itu 23K IDR. Alhamdulillah, kami sampai juga di Terminal Probolinggo *hedeh, namanya apa ya terminal itu ?!* dalam kondisi merindukan udara segar. Hehehe .. :)

Setelah Sapar sholat Ashar, karena ternyata di Surabaya dia belum men-jama’, kami segera mencari bison *atau biasa disebut elf, kalo di jakarta dan beberapa daerah di jawa barat* jurusan Probolinggo – Cemara Lawang. Sempat khawatir kehabisan angkutan yang satu ini, karena memang bison hanya akan jalan ketika penumpangnya penuh, kalau tidak, ya akan selamanya ngetem. Sementara, pengunjung Bromo biasanya naik ke Cemara Lawang siang hari, jadi jangan sampai kesorean seperti kami yaaa .. Tapi, alhamdulillah, kami tidak harus menunggu lama, bison penuuuhhh. Sampai2 kaki kami bertiga terlipat2. Hehehe .. :) Ongkos bison 25K IDR *kalau pengemudi menawarkan harga di atas 25K IDR, tawar saja*. Oh ya, saya sempat beli Aqua & Country Juice di kios2 tempat bison mangkal, habis 8K IDR.

Sampai di Cemara Lawang, hari sudah gelap. Kami segera mencari penginapan, dibantu sama sopir bison yang baik hati .. :) Awalnya kami mau ambil kamar di Cemara Indah, tapi ternyata kamar yang tersisa cukup spooky. No no no, cari yang lain saja, daripada semalaman ngga bisa tidur. Akhirnya dapat juga di homestay Setia Kawan, tidak jauh dari Cemara Indah. Harga sewa kamar semalamnya 100K IDR. Fasilitasnya, satu kamar bisa dipakai berdua *jadi hitungan per orang untuk penginapan ini kena 50K IDR*, kamar mandi luar, ngga ada air panas *jadi siap2 menggigil tiap kali pegang air* .. :)

Setelah dapat penginapan, kami bertiga menuju pos informasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) *letaknya ada di sudut persimpangan jalan ke Cemara Indah dan jalan ke lautan pasir* untuk registrasi sewa hardtop. Sebenarnya banyak orang2 lokal yang menawarkan jasa sewa kendaraan yang nantinya digunakan ke Penanjakan dan Lautan Pasir, tapi harganya pasti lebih mahal dari harga resmi di pos informasi. Harga resmi 275K IDR, harga “calo” 300K IDR. Satu hardtop bisa diisi maksimal 6 orang. Memang, selisih harganya ngga jauh, terserah Anda sih, mau pilih harga resmi atau harga “calo”, kalau kami sih memilih yang bisa membuat kami berhemat 25K IDR .. :) Untuk sewa hardtop ini, karena kami berempat, so per orang kena charge 68,75K IDR.

Urusan hardtop pun beres, kemudian kami makan di warung makan Puput, ngga jauh dari pos informasi dan penginapan kami. Saya makan nasi goreng, teh panas manis, jahe susu panas, kerupuk dan beberapa potong kentang goreng *buset, banyak banget makannya yaaa ..*, habisnya 18K IDR. Setelah makan, niatnya pengin ke Lautan Pasir, tapi berhubung jalannya gelap banget, batal deh. Saya, Tac & Sapar hanya duduk di depan penginapan Bromo Permai sambil menatap taburan bintang yang super banyak. So sweet .. :)

Habis itu, kami pulang ke penginapan dan menunggu Samhoed datang *perjuangan Samhoed sampai Cemara Lawang, biar dia yang cerita aja ya, soalnya kalau saya yang membeberkan, ntar dituding nyinyir, hahahaha ..*. Setelah yang ditunggu datang, kami pun tidur dengan agak kurang nyenyak. Tidak lain dan tidak bukan, karena menggigil kedinginan .. :(

Kamis, 8 Juli 2010, dini hari, masih beberapa menit lepas dari pukul 3 pagi, saya sudah terjaga. Janjian dengan sopir hardtop pukul setengah 4, untuk segera menyusuri punggungan bukit, menuju Puncak Penanjakan, menunggu matahari terbit. Sayangnya, hardtop kami agak terlambat datang, karena harus mengisi bensin terlebih dulu. Setelah kami siap di dalam, hardtop segera melaju, meski agak tersendat di loket masuk TNBTS. Bayar tiket masuk TNBTS per orang 6K IDR. Setelanya, hardtop melaju di hamparan pasir super luas, kemudian berganti medan menjadi jalan berliku, sempit dan menajak. Kami berguncang2 di dalam hardtop. Seruuu !!

Satu jam perjalanan, sampailah kami di Puncak Penanjakan. Sebelum hunting sunrise, kami sempatkan sholat Subuh dulu di musholla yang letaknya tepat di bawah gardu pandang. Penantian matahari terbit pun dimulai, sayangnya, meskipun cuaca bukan main cerahnya, kabut terlalu tebal. Jadilah, matahari hanya mengintip malu2 di balik kabut tersebut. Hiks .. Ketika hari mulai terang, orang2 sudah putus asa, matahari sudah terlalu tinggi. Tidak akan ada lagi momen2 cantik matahari muncul dari lautan pasir Bromo. Mereka pulang. Tapi bukannya juga pulang, kami berempat malahan turun ke punggungan bukit, tempat dimana akhirnya kami menemukan pemandangan yang bukan main indahnya. Ketika perlahan2 kabut menyibak, saya menemukan hamparan lautan pasir, dimana di atasnya tertancap Gunung Batok dan Kaldera Bromo yang berasap putih, dipagari Pegunungan Tengger dan dilatarbelakangi Mahameru yang gagah perkasa. Subhanalloh .. Tidak henti2 saya bertasbih, mengingat kebesaran Alloh yang menciptakan harmoni seideal ini.

Puas di Penanjakan, kami turun ke lautan pasir, dengan hardtop. Tujuan kami selanjutnya adalah mendaki Kaldera Bromo, yang berasap, yang tampak seperti bentukan batu purba berwarna putih pucat, dengan sedikit semburat merah dan yang senantiasa ditemani hijaunya Gunung Batok. Sebelum mendaki, kami melewati Pura Luhur Poten, pura yang digunakan oleh para pemeluk Hindu Tengger untuk melakukan ritual ibadah, terutama saat Prosesi Kasada.

Eh, jangan percaya ya, kalau ada yang bilang, “Naik Bromo mah enteng, kan udah ada tangganya ..“, karena justru bagian tangga itulah yang paling berat dan bikin keok. Saya perlu berkali2 berhenti dan mengambil nafas, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Sebenarnya ada penyewaan kuda, dari tempat parkir jeep sampai area datar sebelum tangga, tapi lebih baik jalan kaki deh, rasakan sensasi menggeh2 nya .. Hehehe .. :) Sewa kuda, berdasarkan informasi yang saya dapatkan di pos informasi TNBTS, 100K IDR pulang pergi. Sampai di Puncak Bromo, dengan nafas yang sudah separuh2, saya melihat kawah kering yang retak di dasarnya. Dari sanalah, asap putih yang terus mengepul itu keluar. Saya terbius, agak lama saya diam memperhatikan kawah Bromo itu, sambil sesekali menengok ke belakang, dimana lautan pasir terhampar begitu luas, Pegunungan Tengger menyapa angkuh dan Gunung Batok yang saat itu terlihat begitu dekat. Sekali lagi, saya tidak bisa berhenti bertasbih pada Alloh ..

Pukul 9 pagi, kami turun, kembali ke hardtop dan menempuh perjalanan kembali ke Cemara Lawang. Kami menambahkan sekedar ucapan terima kasih untuk sopir, 25K IDR *jadi per orang kenanya 6,25K IDR*. Setelahnya, kami nge-brunch di warung makan Tante Tolly, ngga jauh dari penginapan Bromo Permai. Saya makan mie goreng telur, es teh panas dan beberapa tahu goreng, habisnya 11,5K IDR. Sebenarnya rasa makanan di warung makan ini jauuuhhh dari yang malam sebelumnya, tapi ngga tau kenapa, namanya tersohor. Hmm ..

Sampai di penginapan, kami mandi dan packing. Sekitar pukul 11, kami sudah ditunggu bison di depan penginapan. Saatnya turun ke Probolinggo lagi. Ongkos, masih sama dengan saat naik, 25K IDR per orang. Perjalanan turun ke Probolinggo diwarnai hujan gerimis. Saat itulah, saya tau ternyata medan Cemara Lawang – Probolinggo juga cukup mengesankan, dengan tebing2 hijau, jalan berkelok2 dan rumah2 tradisional .. :)

Satu jam kemudian, kami sampai di Terminal Probolinggo dan disambut dengan hawa panas. Sangat ekstrim dengan suhu di Bromo. Mantaaappp ! Sholat di musholla terminal dan menyempatkan makan siang di salah satu kedai makanan. Saya makan nasi rawon dan es teh manis, habis 11K IDR. Sebelum masuk bis Patas AC jurusan Probolinggo – Malang, saya beli You C100, 5K IDR. Kali ini, bis yang kami tumpangi benar2 nyaman, ngga ada cerita AC nya mati lagi. Horeee .. :) Ongkos bis 23K IDR.

Perjalanan 2 jam, sampailah kami di Malang. Di depan Terminal Arjosari, Malang, inilah, saya berpisah jalan dengan Tac, Sapar & Samhoed. Saya pulang ke Magelang, sementara mereka bertiga lanjut ke Sempu *so so so happy, bisa jalan sama kalian, Guys !*. Dari Arjosari, saya naik angkot ABG (Arjosari – Borobudur – Gadang) sampai ke Jalan Tawangmangu, kantor travel Pesona Indah (0341 475020), ongkos 2,5K IDR. Ya, dari Malang ke Magelang, saya naik travel, berhubung belum pernah naik bis, males kalau harus pake bingung sendirian di Terminal Arjosari. Hehehe .. :) Ongkos travel Malang – Magelang 135K IDR *termasuk makan tengah malam di Caruban dan snack yang layak*.

Sempat menunggu agak lama sebelum akhirnya travel bertolak ke Magelang. Saya sempat makan tahu telor di pertigaan Jalan Tawangmangu, 5K IDR, juga beli beberapa bekal perjalanan pulang, 10K IDR. Pukul 9 malam, travel bergerak meninggalkan Malang. Alhamdulillah, selama perjalanan saya bisa tidur nyenyak, hanya terbangun saat istirahat di Caruban.

Sampai Magelang, agak terlambat, sekitar pukul 7 pagi, Kamis, 9 Juli 2010. Yaaahhh .. Berakhirlah perjalanan saya menyaksikan kehebatan ciptaan Alloh, Bromo. The Mystical Bromo !

#total biaya perjalanan = 546K IDR#

3 thoughts on “The Mystical Bromo, 7-8 July 2010

  • March 6, 2011 at 12:21
    Permalink

    @ hamid : Kalo Magelangnya sih udah biasa ya, habis lahir gede disana .. Bromonya yang amazing .. Luar biasaaa ! 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: