Museum House of Sampoerna, Surabaya

Kunjungan ke Museum House of Sampoerna ini **yang merupakan bagian dari episode akhir rangkaian jalan-jalan saya ke Papuma, Ijen & Surabaya** saya sebut-sebut sebagai kunjungan-ironis-seorang-pembenci-nikotin. Apa pasal ? Sudah jelas lah, saya adalah satu dari beribu-ribu orang anti-nikotin yang masih saja sering dipaksa menghisap asap-asap yang mengepul egois dari para perokok egois ..

Sudah, sudah, bukan saatnya mengibarkan bendera perang pada para perokok .. Cerita saja lah yukkk .. 😉

Hosam, begitu teman-teman Surabayaers menyebut museum yang terletak di Jalan Taman Sampoerna, di tengah kawasan Kota Lama Surabaya **eh, Kota Lama atau Kota Tua ya ?**. Kalau saya tidak salah ingat, lokasinya tidak seberapa jauh dari Jembatan Merah. Bangunan megah berarsitektur klasik Eropa ini dibangun pada tahun 1862 dan termasuk situs sejarah yang dilestarikan. Awalnya, Hosam adalah kompleks panti asuhan putra yang dikelola oleh Pemerintah Kolonial Belanda, kemudian pada tahun 1932 dibeli oleh Liem Seeng Tee, pendiri PT HM Sampoerna, dijadikan pabrik rokok Sampoerna ..

Sesaat setelah kita masuk bangunan utama, aroma rempah tercium pekat. Hal pertama yang dapat kita jumpai adalah sebuah fountain mungil, tepat di tengah-tengah ruangan depan, memisahkan ruang kerja Liem Seeng Tee dan galeri foto keluarga Sampoerna **di sebelah kanan** dengan parade jenis-jenis tembakau dan cengkeh, hingga cara pengolahannya **di sebelah kiri**. Menuju ruang berikutnya, kita melewati semacam gerbang, yang diatasnya bertahtakan lambang Sampoerna : Anggarda Paramita 1913. Di ruang inilah, kita dapat menjumpai replika warung rokok yang digunakan Liem Seeng Tee berjualan untuk pertama kalinya. Selain itu, ada sepeda kumbang tua milik Liem Seeng Tee, yang juga Beliau gunakan untuk berkeliling jualan rokok, berbagai alat produksi rokok pada masa awal pendirian pabrik, sepeda motor antik dan sebagainya ..

Di lantai 2, pengunjung dapat shopping berbagai macam merchandise khas Sampoerna dan Surabaya. Kemudian dari bagian belakang merchandise shop itu, kita dapat menyaksikan ruangan semacam hall, yang hingga kini masih digunakan sebagai pabrik yang memproduksi rokok Dji Sam Soe. Proses produksinya masih secara tradisional, digawangi oleh 234 pekerja, yang setiap orangnya **kabarnya** sanggup menghasilkan 325 linting rokok tiap jam ! Wow !

Lepas dari bangunan utama, Hosam memiliki 2 bagian rumah, yaitu Rumah Barat dan Rumah Timur. Kabarnya, 2 bagian rumah ini mengambil konsep cermin, alias identik namun saling berkebalikan. Rumah Barat masih dihuni keluarga Sampoerna, karena itulah rumah ini tidak terbuka untuk umum. Di bagian depannya, terparkir manis sebuah mobil Rolls Royce merah bata yang diproduksi terbatas pada tahun 1972. Sementara Rumah Timur kini dimanfaatkan menjadi kantor dan kafe, beberapa event dan pagelaran pun sering diselenggarakan disini ..

Oh ya, Hosam juga menjadi starting point Bis Surabaya Heritage Track. Apa sih Surabaya Heritage Track itu ? Hmm, semacam city sightseeing menggunakan bis yang didesain seperti trem jadul. Sepanjang perjalanan, para tracker mendapatkan penjelasan dari guide mengenai situs-situs budaya yang dilewati. Ada 2 macam track yang bisa dinikmati oleh para tracker, yaitu :

  1. Tur pendek : Hosam – Tugu Pahlawan – PTPN XI – Hosam
  2. Tur panjang : Hosam – Balai Kota/Taman Surya – Gedung Kesenian Jawa Timur – PTPN XI – Hosam

Untuk mengikuti tur SHT ini, pengunjung tidak dipungut biaya, namun wajib memiliki tiket yang dijual gratis di Hosam. Perjalanan diselenggarakan setiap hari, kecuali Senin. Sayangnya, saya dan teman-teman tidak kebagian tiket, karena tempatnya memang terbatas, jadi hanya mupeng lihat bisnya dari pelataran Hosam saja .. :(

Just info :

Museum House of Sampoerna buka setiap hari, dari pukul 09.00 – 22.00, tidak dipungut biaya apapun, kecuali jika pengunjung membeli merchandise atau makanan dan minuman di kafe ..

13 thoughts on “Museum House of Sampoerna, Surabaya

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: