Mbolang ke Gunung Kidul, 28-29 Mei 2011

Sekitar awal Mei lalu, saya mendapat ajakan dari seorang sahabat untuk menjelajah wilayah tempatnya lahir dan besar, Gunung Kidul. Mumpung tanggal 29 Mei 2011 ada event Gubug Gedhe, yang merupakan seremoni bersih desa di Desa Ngalang, Kecamatan Gedang Sari, Kabupaten Gunung Kidul, sekalian susur pantai Selatan, yang khas dengan tipikal pantai karang yang eksotis. Tidak mungkin menolak, segera saya iyakan ajakan itu .. :)

Drini Beach

Rombongan terdiri dari 7 orang : Sosro *si empunya gawe alias tempat kami nebeng akomodasi selama 2 hari 2 malam*, Yuda, Aga, Danang, Della, Wulan dan saya. Sekalian reunian lah ini ceritanya, secara saya dengan Della sudah 8 tahun ngga ketemu. Dengan Sosro, Yuda, Aga dan Danang sih baru sekitar 3 bulan yang lalu jalan-jalan bareng di Solo, sementara Wulan, ah, tiap hari ketemuuu .. Hehehe .. :)

Jumat, 27 Mei 2011

Saya dan Wulan berangkat dari Semarang sekitar pukul 6 petang, via Travel Iqro’ Management, Jl. Dr. Wahidin No. 58, Semarang, (024) 8509270 (35K IDR/orang). Sampai di pool Iqro’ Management Yogya, Jl. Dr Wahidin No. 44 B, Yogyakarta, (024) 8508900, diantar bagian pengantaran sampai meeting point di Ambarukmo Plasa (12,5K IDR/orang).

Setelah ketemu Sosro, Yuda, Aga dan Danang *ternyata Della baru sampai keesokan harinya*, kami hunting taksi Avanza *namanya apa yaaa ?* untuk menuju Gunung Kidul (150K IDR). Perjalanan dari depan Amplas sampai ke rumah Sosro, memakan waktu kurang lebih 1 jam. Eh, kami sempat berhenti sebentar dink, di Bukit Patuk, menikmati Kota Yogyakarta dari ketinggian. Eksotis !

Bukit Bintang

Sampai di rumah Sosro hampir tengah malam, tapi sambutan dari Sang Ibu luar biasaaa *terharu, makasih ya, Bu ..*. Beliau bela-belain terjaga dari tidur, menyiapkan jahe panas, bahkan makan malam bagi tamu-tamu anaknya ini. Wah, istimewa ! Tidak lama, kami pun klipuk, tidur .. :)

Sabtu, 28 Mei 2011

Pagi-pagi sekali, satu persatu dari kami antri mandi. Air Gunung Kidul ini ternyata, Masya Alloh, dinginnya. Brr ! Oh ya, Della pun sudah sampai di rumah Sosro, pasukan lengkap. Hehe .. Habis mandi, sarapan uenaaakkk pun tersedia di meja, lengkap dengan gorengan yang masih hangat dan teh panas. Nikmat ..

Tepat pukul 8.30, kami mulai bergerak menuju sisi Selatan Jawa, menggunakan mobil tua nan perkasa milik Mas Warto, salah satu kerabat Sosro. Kami memulai perjalanan dari pantai paling Timur, bergerak ke Barat. Alasannya sederhana, memulai dari yang paling jauh, ditambah lagi, kata orang, semakin ke Timur, pantai-pantai di Gunung Kidul semakin indah dan private, jadi perjalanan kali ini tidak menganut prinsip save the best for the last .. Hehehe ..

1. Pantai Wediombo

Wedi Ombo Beach

Pantai ini menjadi tujuan pertama kami, terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, sekitar 45 km arah Tenggara Kota Wonosari. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, 1 jam lebih. Medan berkelok, naik turun, kanan kiri gunung kapur yang menghijau *lihat, siapa bilang Gunung Kidul tandus ? bahkan tanah kapurnya bisa menumbuhkan tanaman hijau loh !*. Dan, taraaa, pantai landai, berpasir putih, menghampar di depan mata. Sisi kanan kirinya dipagari bukit karang eksotis. Ombak khas Laut Selatan berkali-kali mendebur dahsyat. Subhanalloh ..

Kondisi pantai yang super duper sepi, membuat kami seolah sedang berada di pantai milik kami sendiri. Hahaha .. Ngimpi ya ! Tapi beneran kok, hanya ada 2 rombongan, kami dan keluarga kecil, yang menikmati Wediombo yang mempesona .. Mantap !

Parkir Pantai Wediombo 5K IDR

2. Pantai Siung

Siung Beach

Pantai yang termasuk wilayah Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus ini adalah tujuan kedua kami. Menurut warga setempat, pantai ini dinamai Siung, karena ada sebuah karang yang menyerupai siung wanara atau taring kera. Oh ya, Pantai Siung cukup terkenal di kalangan climber dunia, karena konon pantai karang ini memiliki tidak kurang 250 jalur pendakian. Wow !

Kami sempat mendaki bukit di sisi kiri pantai. Meski menggeh-menggeh, perjuangan kami tidak sia-sia, panorama Siung terlihat menawan dari atas sana. Angin bertiup cukup kencang, punggungan bukit pun tidak terlalu lebar, membuat kami *khususnya saya* agak terbungkuk-bungkuk, parno aja kalau tiba-tiba nggelundung ke bawah, melalui bukit karang yang bersisi tajam itu. Hii ..

Tiket masuk Pantai Siung 9K IDR

Parkir Pantai Siung 3K IDR

3. Pantai Sundak

Sundak Beach

Mungkin sudah banyak yang tahu asal mula nama Sundak pada pantai yang terletak di Desa Sidoharjo, Kecamatan Tepus ini. Yak, asu (anjing) dan landak ! Menurut cerita, pernah ada perkelahian antara seekor anjing dan landak laut di pantai ini. Dari situlah, akronim dua jenis hewan itu digunakan untuk menyebut pantai yang memiliki gua karang berair tawar ini.

Kami menunaikan sholat Dhuhur disini. Masjidnya besar dan bersih, begitu pula dengan toilet umumnya. Senang, ketika fasilitas umum di kawasan wisata terjaga dengan baik .. :)

Tiket masuk 6 pantai (Sepanjang, Sundak, Drini, Baron, Krakal, Kukup) 15K IDR

Bayar toilet Pantai Sundak 7K IDR

Parkir Pantai Sundak 5K IDR

4. Pantai Krakal

Krakal Beach

Pantai yang menjadi tujuan keempat kami ini terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari. Disini, kami mulai menemukan keramaian. Serombongan bocah, didampingi para orang tua, asyik bermain air di sepanjang pantai. Hmm, aura privat mulai memudar. Hehehe ..

Pantai Krakal membentang cukup panjang, mungkin sekitar 2 atau 3 km. Pasirnya putih, lembut dan melandai ke arah atol yang cukup luas, menjadikan ombak tidak pernah pecah di garis pantai. Sembari menikmati suasana Pantai Krakal yang semakin ramai, kami sempatkan makan siang di salah satu warung disana. Hmm, agak kecewa sih, nunggu lama, rasanya ngga seberapa .. Deuh ..

Parkir Pantai Krakal 5K IDR

Makan siang 143K IDR

5. Pantai Drini

Drini Beach

Masih dari Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 2 km dari Pantai Krakal, kami terpana pada Pantai Drini. Dari Pantai Krakal yang cukup ramai, kami menemukan kesunyian lagi disini. Hanya ada sepasang fotografer dan modelnya, jeprat jepret berkali-kali, menjadikan keeksotisan Pantai Drini sebagai background-nya.

Kegiatan nelayan di pantai yang menyerupai teluk sempit ini cukup hidup. Perahu-perahu kayu bersandar di bibir pantai berpasir putih, sebuah pelelangan ikan pun berdiri cukup terawat disana.

Kami sempat naik ke bukit karang yang terletak di sisi kiri pantai. Berbeda dengan Pantai Siung, track pendakian di Pantai Drini lebih jelas, berupa undakan teratur hingga puncak bukit. Pemandangan di atas ?! Jangan tanya !! Kereeennn bangettt ..

Parkir Pantai Drini 5K IDR

6. Pantai Kukup

Kukup Beach

Pantai ini adalah tujuan terakhir perjalanan kami saat itu. Popularitas pantai yang terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari ini memang cukup tinggi, setara dengan saudara dekatnya, Pantai Baron. Jadi jangan heran, ramainya ngga ketulungan. Bukan saja oleh wisatawan, tapi juga para penjual aneka macam makanan dan buah tangan.

Keistimewaan Pantai Kukup adalah adanya jembatan yang menghubungkan area pantai dengan sebuah pulau karang. Di atas pulau karang itu terdapat semacam gardu pandang. Panorama di gardu pandang cukup mengesankan, hanya saja kemarin agak hilang feeling, gara-gara ramai orang pacaran dan rombongan piknik. Ya ya ya ..

Kami menyempatkan membeli oleh-oleh khas Pantai Kukup, yaitu peyek undur-undur. Rasanya gurih loh ! Lain kali, kalau ke Pantai Kukup lagi, saya berniat membeli banyak, karena kemarin berasa kurang. Hehehe ..

Oh ya, jangan khawatir mengenai tempat ibadah dan toilet disini, banyak banget. Kebetulan yang kami singgahi kemarin cukup bersih, walaupun tidak terlalu luas .. :)

Peyek undur-undur dan rumput laut goreng 10K IDR *dapat 6 bungkus peyek dan 1 bungkus rumput laut*

Bayar toilet Pantai Kukup 7K IDR

Yuhuuu, cukup 6 pantai saja, Baron dianulir, mengingat keterbatasan waktu. Mas Warto pun harus segera pulang, berbenah menyiapkan gunungan Dusun Nglarang untuk acara Gubug Gedhe keesokan harinya. Kami pun sudah tepar, ingin bersih-bersih dan tiduuurrr ..

Minggu, 29 Mei 2011

Pagi itu, 14 dusun yang termasuk dalam wilayah Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari bersiap mengikuti ritual bersih desa. Setiap dusun diwajibkan membuat Gunungan, biasanya berisi macam-macam hasil bumi. Selain itu, setiap dusun juga ditantang untuk menyajikan sepasukan warganya sekreatif mungkin. Iring-iringan 14 dusun dimulai dari Balai Desa Ngalang, berjalan mengitari beberapa dusun dan berakhir di Alun-Alun Gubug Gedhe.

Dari beberapa kabar yang saya dengar, ritual ini rutin dilakukan tiap tahun, dengan harapan Desa Ngalang terbebas dari segala petaka, mendapat keberkahan, musim tanam lancar, begitu pula musim panennya. Bukan hanya rombongan 14 dusun yang turut lebur, sepasukan Bregada sengaja didatangkan langsung dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk mengawal ritual tahunan warga ini.

Bregada

Melihat barisan panjang para warga, saya terpana, mereka benar-benar niat loh menjalankan tugasnya untuk tampil di ritual ini. Yang anak-anak, ya serius menyanyi lagu-lagu Jawa. Yang ibu-ibu, begitu semangat mengenakan kostumnya masing-masing. Yang bapak-bapak, apalagi, mengusung Gunungan yang pasti tidak enteng, sepanjang rute perjalanan. Wah, jarang-jarang ! Belum lagi satu demi satu pertunjukan tradisional disajikan dengan apik, seperti Jathilan, Jaran Kepang, Dolanan Bocah dan sebagainya. Wow ..

Rombongan

Yogya memang istimewa, seperti yang disenandungkan penuh semangat oleh rombongan sebuah dusun. Saya trenyuh.

Lepas tengah hari, kami kembali ke rumah Sosro, bersiap mengakhiri rangkaian perjalanan kali ini. Wulan sudah pulang duluan, menyempatkan menengok rumahnya di bilangan Sleman. Saya, Aga dan Danang, turun ke Yogya sekitaran pukul 2 siang, diantar keluarga Sosro sampai pertigaan Sambipitu, dari sana sambung naik bis sampai Terminal Giwangan, Yogya (6K IDR/orang). Berpisah dari Aga dan Danang, yang hendak menuju Stasiun Tugu, saya melanjutkan perjalanan via bis Trans Yogya ke arah RS Bethesda, di sekitar sanalah pool Travel Iqro’ Management berada (3K IDR/orang). Sementara Sosro, Della dan Yuda masih menunggu malam, baru turun ke Yogya, karena kereta api yang akan membawa mereka kembali ke Jakarta berangkat sekitar pukul 9 petang.

Alhamdulillah, perjalanan kembali ke Semarang lancar (35K IDR/orang) dan selesailah petualangan 7 sekawan di Gunung Kidul .. :)

19 thoughts on “Mbolang ke Gunung Kidul, 28-29 Mei 2011

  • June 8, 2011 at 06:41
    Permalink

    Penulisannya informatif dan enak dibaca :). Kalo kata kaskus nice post!

    Reply
  • June 8, 2011 at 07:55
    Permalink

    jadi inget udah 2x keliling gunkid motoran
    dengan hasil kulit gosong
    hahahhahaaa

    Reply
  • June 8, 2011 at 09:07
    Permalink

    @ endah : Makasih udah mau mampir & mengapresiasi .. 😉

    @ sapar : Nah itu dia, Par, kayanya kalo muter2 Gunung Kidul pake motor seru deh, bisa berhenti di setiap titik pantai .. Seruuu .. 😉

    Reply
  • June 8, 2011 at 10:05
    Permalink

    Waaah….
    Emang bisa idup taneman2… tapi panase tetep rak nguwati… Hihhi….

    As usual…. Nice catper…. Great job mbakyu…
    *entah kenapa kok sekarang malah saya yang masih malas bikin catper ^^’

    Reply
  • June 8, 2011 at 10:35
    Permalink

    @ aga : Yang penting anggapan kalo Gunung Kidul itu tandus terpatahkan, Ga .. Emang kaya suhu di gurun sih, malem dinginnya ngga karuan, siangnya panas ngenthang2 .. Heuuu ..

    Makasiiihhh .. 😉

    Reply
  • June 10, 2011 at 19:42
    Permalink

    Selalu siap untuk kembali :)

    Reply
  • June 13, 2011 at 19:00
    Permalink

    @ danang : Kalo mo kembali, bilang2 yaaa .. Aku ikuuuttt .. 😉

    Reply
  • June 22, 2011 at 17:12
    Permalink

    topmarkotop! Kapan2 pengen menjelajah ke sana. Tahun kemarin cuman sampai pantai Baron, karena bawa pasukan…

    Reply
  • June 22, 2011 at 21:39
    Permalink

    @ mas topiq : Bawa pasukan pun memungkinkan kok sampai Wediombo dan kawan2nya .. Malahan asik, anak2 bisa bebas lari2an sepanjang pasir putih .. Huwiii .. Maknyuuusss ..

    Btw, tulisan2 di blognya Mas Topiq bagus loh, nulis lagi donggg .. 😉

    Reply
  • June 28, 2011 at 15:18
    Permalink

    ahhhh, pantai. tahun ini gak ada agenda ke Pantai setelah tahun lalu penuh dengan pantai. semoga rezeki tahun depan mantai lagi

    Reply
  • June 28, 2011 at 15:39
    Permalink

    @ kokoh : Amiiinnn .. Jadi tahun depan ke Phi2 ? Hehehehe .. 😉

    Reply
  • September 2, 2011 at 13:55
    Permalink

    ahhh….

    besuk besuk lagi kontak ta mbak nek meh nduwe acara ngene ikiii….
    aku meluuu..
    :)

    Reply
  • September 9, 2011 at 10:17
    Permalink

    @ mas tri : Waaa, with my pleasure lah, Mas .. Ngko nek mbolang arah2 Yogya meneh, tak kabari yaaa .. 😉

    Reply
  • October 27, 2011 at 08:47
    Permalink

    Aduh…. salut dech… komplit banget catpernya ….

    Salam kenal ya…

    Reply
  • October 27, 2011 at 09:59
    Permalink

    @ dini : Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak, Mba .. Salam kenal balik dari saya .. :bighug:

    Reply
  • October 31, 2011 at 15:02
    Permalink

    Tau gak seeeeh….. Kalo acara nyusur pantai gunkid ini udah tertunda 1 tahun lebiiih….

    Dulu rencananya aku ma sosro yang mau nyusurin pake motor tapi gak terlaksan terus..

    Eh udah mau injury time tugas belajar baru terlaksana….

    *uhhmmm sebetulnya itu acara temu keluarga yang berkedok jalan2… hahahaha….*

    Reply
  • October 31, 2011 at 21:46
    Permalink

    @ aga : Saya merasa tertipuuu !!

    Ternyata acara jalan2 ini sengaja disusun untuk mempertemukan calon Mertua dan calon Mantu .. Wakakakaka .. Tapi ngga papa lah, semoga terhitung sebagai pahala mak comblang, satu anak tangga menuju surga .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: