[Padang Extended Version] Semarang, 10-11 Des 2011 (1)

Akhir minggu lalu, saya kedatangan 5 sahabat dari Jakarta. Mereka adalah teman seperjalanan saya pada Trip Padang, September lalu. Baru bertemu sekali, ternyata bukan halangan menjadikan pertemuan kedua kami menjadi begitu cair dan menyenangkan ..

Ah, kalian memang traveler sejati, sangat bisa mengesampingkan ego, membaurkan canda, hingga orang-orang yang melihat keakraban itu, menyangka kita sudah berteman bertahun-tahun .. Hehehe .. 😉

Mereka yang berlima itu adalah : Mba Nuning, Mba Ade, Tante Mel, Uni Lusi & Meli ..

Dan inilah cerita bagian pertama, ketika saya pura-pura menjadi guide bagi mereka ..

Sabtu, 10 Desember 2011

Rencana hari pertama sebenarnya kami akan langsung menuju Bandungan dan Ambarawa. Berhubung Mba Ade masih terjebak travel yang terlambat sampai di Semarang, akhirnya kami putuskan untuk city tour saja dulu di seputaran Semarang. Tepat pukul 7, Mas Supri *sopir kantor saya* sudah nangkring manis di depan rumah saya, dengan Avanza Silver, yang siap membawa kami berkeliling ..

Kami mulai dengan sarapan di Pecel Yu Saji, Jalan Mataram, Semarang. Murah meriah dan enak, namun penuh perjuangan. Antrinya itu lhooo .. Ampuuunnn ! Untung Mba Nuning, Tante Mel, Uni Lusi & Meli sabar menanti. Hehehe .. Sambil menyantap pecel, kami terima kabar bahwa Mba Ade sudah mendekati batas kota. Akhirnya sepakat lah, kami menjemput Mba Ade di Jatingaleh. Alhamdulillah, Mba saya yang satu itu tidak harus tertinggal satu pun tujuan perjalanan ..

Dari Jalan Mataram, kami meluncur menjemput Mba Ade di jembatan tol Jatingaleh. Dari sana, kami menuju bilangan Watugong, batas sebelah Selatan Kota Semarang. Ada sebuah Pagoda megah yang berdiri disana, namanya Pagoda Avalokitesvara. Pagoda ini berada satu kompleks dengan Vihara Buddhagaya Watugong Semarang. Dibangun pada tahun 2005, diresmikan tahun berikutnya, memiliki ketinggian 145 meter, dengan 7 tingkat. Di depan bangunan Pagoda, terdapat patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih) dan Sang Budha, yang duduk di bawah Pohon Bodhi ..

3_2

9_2

Untuk masuk ke area Pagoda dan Vihara, kami tidak melihat adanya loket penjualan tiket masuk. Gratis ! Kita pun diperkenankan masuk ke dalam Pagoda, untuk sekedar menyaksikan keindahan detailnya, mengambil gambar, bahkan leyeh-leyeh sambil membaui aroma sisa dupa. Namun, tidak berlebihan jika pengunjung menyisihkan sedikit uang untuk dimasukkan ke kotak sumbangan yang disiapkan di depan pintu Pagoda ..

Setelah puas mengeksplor area Pagoda dan jeprat jepret *pastinya*, kami melanjutkan perjalanan ke Semarang bawah, menuju Kuil Sam Poo Kong. Sekedar intermezzo, kami sempat berkelakar bahwa perjalanan ini semacam orientasi trip Pra-Beijing, dari pagoda ke kuil. Hehehehe .. 😉

Di perjalanan, saya mengajak mereka mampir ke Ereveld Candi, salah satu dari tujuh Ereveld yang ada di Indonesia. Tempat bersemayamnya jasad para Tentara KNIL yang tewas selama masa Perang Dunia II ini terletak di kawasan Candi, tidak jauh dari Hotel Belle View, Semarang. Berhubung memang ereveld ini tidak boleh dimasuki oleh orang umum, maka kami hanya boleh puas mengambil gambar hamparan nisan berbentuk salib dari luar pagar ..

Lepas dari Ereveld, kami menuju Kuil Sam Poo Kong, yang berada tidak jauh dari Kaligarang, jembatan yang melintang di atas Banjir Kanal Barat. Kuil atau Kelenteng ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, yang dipercaya pernah mendarat di daratan Semarang dan mengembangkan kehidupan masyarakat sekitar, lewat cocok tanam dan berdagang. Dialah pengembara ulung Tiongkok, sekaligus Duta Perdamaian ..

11_2

13_2

Areal kuil ini sangat luas, dimulai dengan bangunan semacam pendopo, yang siap menyambut kehadiran para pengunjung. Di pendopo itu dijual aneka hio dan dupa, juga area penyewaan kostum ala Putri Cina. Kemudian, bangunan utama, terdiri dari 3 kuil dengan ukuran cukup besar. Satu hal yang unik, di pelataran kuil, berdiri patung raksasa Sang Laksamana, setinggi 12,7 meter dan didatangkan langsung dari Cina. Patung ini ditasbihkan sebagai simbol harmonisasi umat beragama, oleh Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah ..

Dari Sam Poo Kong, kami melanjutkan perjalanan ke Kelenteng Tay Kak Sie, di bilangan Pecinan Kota Semarang *nah kan, benar-benar trip Pre-Beijing, dari kelenteng ke kelenteng, hehehe ..*. Kelenteng ini adalah yang terbesar di Semarang, dalam hal jumlah dewa dewi yang dipuja. Di depan bangunan berornamen khas Cina ini terdapat patung Sang Budha, yang duduk di bawah Pohon Bodhi. Selain itu, replika kapal Laksamana Cheng Ho pun terhampar megah disana. Berada di Tay Kak Sie selalu menyenangkan bagi saya, selain masuknya serba gratis *halah !*, warga keturunan yang sedang bersembahyang disana, selalu ramah pada pengunjung. Tampaknya mereka adalah warga keturunan asli, yang sudah turun temurun tinggal di seputaran Gang Lombok ..

Kami tidak terlalu lama mengeksplor Kelenteng Tay Kak Sie, bukan apa-apa, kelaparan !

Akhirnya kami mampir cemal cemil cantik di Lunpia Gang Lombok, yang cukup tersohor itu. Sebenarnya part ini hasil kekecewaan kami setelah sebelumnya tertolak di Lunpia Mba Lien, Jalan Pemuda, Semarang. Hehehe .. 😉

Satu buah lunpia mengganjal perut kami masing-masing. Lumayan lah untuk bekal menuju makan siang, yang baru akan kami nikmati selepas istirahat sholat. Bingung sholat dimana, akhirnya Masjid Sholahudin di GKN II lah yang menjadi tujuan *alias tepat di belakang kantor saya, hehehe ..* ..

Seusai sholat, kami menyerbu warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin, yang terletak tepat di sebelah kanan GKN I atau di pinggiran Kali Mberok, Semarang. Kenyang to the max, padahal porsi setengah thok ..

Kenyang. Lanjut jalan lagi lah ..

Tujuan selanjutnya adalah area Kota Lama. Sayangnya beberapa bagian Little Nedherland itu sedang tergenang air, ya air hujan, maupun air rob. Terlihat kumuh deh .. Hiks .. Di Kota Lama, kami berhenti di 2 spot, yaitu di depan Polder Tawang dan di taman sebelah Gereja Blenduk. Eksplor lokasi dan foto-foto sebentar disana, sebelum akhirnya kami lanjutkan penjelajahan ..

16_2

Lawang Sewu, adalah tempat perhentian selanjutnya ..

Alhamdulillah, renovasi besar-besaran pada gedung lama milik PT KAI itu memperlihatkan hasil cukup signifikan. Gedung utama Lawang Sewu menjadi megah dan bersih, jauh dari kesan mistis, seperti yang selama ini melekat padanya. Namun berhubung masih ada pekerjaan pemasangan instalasi listrik di gedung utama, pengunjung dilarang masuk kesana. Jadilah kami hanya bisa mengeksplor gedung baru saja *gedung baru maksudnya gedung yang dibangun lebih akhir dibanding gedung utama ya ..* ..

17_2

Sekarang, seluruh pengunjung Lawang Sewu, selain diwajibkan membeli tiket masuk, juga harus didampingi seorang guide. Jangan khawatir, Guys, guide-nya niat kok, bukan asal-asalan. Pengunjung benar-benar dibimbing mengitari Lawang Sewu sesuai rute standar dan diberikan penjelasan tentang latar belakang, juga sejarah bangunan berpintu banyak itu ..

20_2

Selesai putar-putar area Lawang Sewu, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah, yang terletak di Semarang bagian Timur, tepatnya di Jalan Gajah. Sampai disana, kami langsung menuju Menara Al Husna, yang memiliki 19 lantai. Dari puncak menara, pengunjung dapat menyaksikan panorama Kota Semarang dari semua sisi. Alhamdulillah, saat kami sampai di puncak, angin sedang tidak bertiup kencang. Amaaannn .. Saya suka pusing, soalnya .. 😉

21_2

23_2

Dari MAJT, kami berlanjut balik lagi ke tengah kota, menyerbu Toko Oen ! *hahahahaha .. makan melulu yaaakkk ..*

Tenang, kami sudah berkomitmen kok, di Toko Oen, tidak ada makan besar. Cukup cemal cemil es krim thok thil. Kenapa ? Karena makan malam sudah direncanakan di Pesta Keboen, yang terletak di Jalan Veteran, Semarang. Ayeyyy ..

Setelah menghabiskan masing-masing secepuk es krim khas Oen, sesuai rencana, kami meluncur ke Pesta Keboen. Namun apa yang terjadi, Sodara-Sodara ?! Ada resepsi pernikahan yang digelar di tempat makan eksklusif bernuansa kuno itu. Kami tertolak ! Batal deh makan enak disana .. *nangis guling-guling*

Terpaksa kami harus mencari tempat yang layak untuk makan malam. Banyak pilihan sih, cuma bingung menentukan yang mana. Ada lesehan Taman KB atau Pondok Daun di kawasan Marina, hingga akhirnya saya tercetus ide : Parisj Van Java, yang terletak di Jalan Singosari Raya. Oke, kami pun mengarah kesana ..

Dasar nasib lagi apes, nyaris seluruh orderan kami di Parisj Van Java mengecewakan byangeeettt. Makan ngga selera lagi, ditambah acara sewot sama pelayan-pelayan, yang sama sekali tidak paham menu di resto tempatnya bekerja itu. Emosaaa ! Pertikaian berakhir damai, ketika saya berhasil menahan amarah dan memilih untuk bicara baik-baik dengan penanggung jawab Parisj Van Java. Jawabannya standar sih, minta maaf dan terima kasih atas kritiknya ..

Deuh, kami tidak cukup puas dengan respon seperti itu kali, Kakak .. *tepok jidat*

Lepas makan malam, kami yang sudah kelelahan, memilih untuk pulang ke Tlogosari, rumah saya. Istirahat, karena besok paginya kami masih punya jadwal eksplorasi kawasan Bandungan dan Ambarawa. Alhamdulillah, hari pertama lancar jayaaa .. 😉

Gono Gini Semarang Day 1st :

  • Sewa mobil : 225K IDR
  • Bensin : 75K IDR
  • Air mineral : 45,5K IDR
  • Sarapan pecel Yu Saji : 62K IDR
  • Kotak amal Pagoda Avalokitesvara : 5K IDR
  • HTM Kuil Sam Poo Kong : 18K IDR
  • Kotak amal Kelenteng Tay Kak Sie : 5K IDR
  • Lunpia Gang Lombok : 91K IDR
  • Makan siang nasi goreng babat Pak Karmin : 134K IDR
  • HTM Lawang Sewu : 90K IDR
  • HTM Menara Al Husna : 30K IDR
  • Cemal cemil es krim Oen : 105K IDR
  • Makan malam Parisj Van Java : 295K IDR

.. to be continued yahhh ..

5 thoughts on “[Padang Extended Version] Semarang, 10-11 Des 2011 (1)

  • December 19, 2011 at 16:29
    Permalink

    Ceritanya sungguh menarik mbak.. foto paling cantik yaitu di lawang sewu.. sip .. sukses terus mbak

    Reply
  • December 19, 2011 at 18:46
    Permalink

    @ hamid : Terima kasih .. Iya, foto di Lawang Sewu juga foto favorit saya, hasil jepretan Mas Guide, keren .. 😉

    Reply
  • December 20, 2011 at 08:21
    Permalink

    kmrin aku lihat acara teropong tentang event berapa abad (lupa) pelayaran cheng ho, salah satu eventnya di semarang, ada semacam karnaval dari klenteng terbesar itu td ke sam pho kong…
    hiks…beneran g tau klo ada event spesial itu
    *eh ini g oot kan*
    hihihi

    Reply
  • December 20, 2011 at 10:33
    Permalink

    @ sapar : Kalo ngga salah, nanti tanggal 23 Desember 2011 ada event arak-arakan Hari Lahir Laksamana Cheng Ho. Biasanya lumayan rame, Par, cuma sayang hari kerja, jadi ngga bisa hunting liputannya .. :(

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: