Jakarta, Menyeberangi Waktu ..

31 Desember 2011

Belum ada 1 jam sejak adzan Subuh berkumandang di pagi terakhir tahun 2011, taksi pesanan sudah ready di depan rumah, siap mengantarkan saya ke Bandara Ahmad Yani, Semarang. Yap, saya akan terbang ke Jakarta, via JT 511, boarding time 05.50 WIB. Pernikahan sahabat di Pasar Anyar, Tangerang menggerakkan saya sejenak meninggalkan kota tercinta menuju Sang Metropol(u)tan itu ..

IMG_1612

Alhamdulillah, urusan check in lancar, saya bisa memilih tempat duduk agak di depan, penerbangan pun tepat waktu dan tidak terlalu ajrut-ajrutan. Landing di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, disambut hujan gerimis lumayan rapat. Saya segera menuju shelter bis pemadu moda milik Damri, mencari yang jurusan Gambir, untuk kemudian berhenti di Menara Peninsula, Slipi, Wulan siap menjemput disana. Tiket bis Damri 20K IDR ..

Setelah istirahat sebentar, saya dan Wulan kembali memacu motor menuju Tangerang. Hmm, sedikit khawatir akan tersasar dan kagok, karena sekian lama tidak mengendarai motor di jalanan Jakarta. Kemanggisan – Pasar Anyar bukan jarak yang singkat, kurang lebih 25 km sekali jalan, kalau PP ya 50 km. Wow ! Sedikit terseok-seok dan stres melihat tingkah laku manusia Ibukota *untung tidak ada embel-embel macet, bisa tambah gila saya*, akhirnya saya berdua Wulan sampai dengan selamat di Pasar Anyar, tempat pernikahan Adella dan Sosro digelar ..

Lepas menghadiri undangan, niatnya sih pengin ke Teraskota, nge-Blitz disana, tapi berdasarkan informasi beberapa teman, tempat itu sama jauhnya seperti kalau kami pulang ke Kemanggisan. Oh no ! Mengingat malam pergantian tahun pasti akan menjadikan jalanan padat, daripada kesulitan pulang ke Kemanggisan, kami memilih pulang. Bye bye, Teraskota, padahal niatnya pengin nostalgia ..

Balik ke Kemanggisan, diajak mampirlah saya ke 7 Eleven, yang berada di pertigaan Kemanggisan. Awalnya skeptis, tapi ternyata *oke saya akan jujur* es kopinya enak ! Walaupun Wulan bilang kopi seharga 15K IDR itu tidak ada bedanya dengan kopi instan biasa, tapi boleh lah saya tetap kekeuh, es kopinya 7 Eleven enak .. 😉

Sempat pulang sebentar ke kosan Wulan, sebelum akhirnya kami beredar lagi ke Central Park. Jalanan masih lengang, hanya sempat tersendat sebentar di depan Mal Taman Anggrek. Bagi saya, Central Park adalah barang baru, karena sampai khatam D4 dan hijrah pulang ke Jawa Tengah, belum sekalipun saya mengunjungi supermal, yang mengadopsi konsep taman di halamannya ini. Letak Central Park bersebelahan dengan Apartemen Podomoro dan benar saja, supermal ini merupakan megaproyeknya Podomoro kok ..

IMG_1626

Tujuan kami nongkrong disini cuma satu, nonton Dancing Fountain, yang digelar tiap 30 menit sekali di taman utama. Sambil menunggu gelap, saya dan Wulan ngider kesana kemari, alhasil ketahuan bahwa stamina saya tidak sehebat masa muda dulu. Putar-putar sebentar, kaki langsung terasa pegal *nangis* ..

Oh ya, kami sempat mampir ke Kopitiam, salah satu booth di area gourmet & restaurant, LG Floor. Saya pikir, Kopitiam ini sama dengan Kopitiam Oey, yang pernah saya kunjungi di Solo. Ternyata tidak, Saudara ! Beda jauuuhhh ..

Ketika pertunjukan Dancing Fountain dimulai, saya agak heran, ternyata kecil toh, kirain akan sebesar di Song of the Sea gitu *pletak ! over expectation dong deh ..*. Saya dan Wulan menonton beberapa kali pertunjukan, sambil diantara jeda, kami sekedar duduk-duduk *plus jeprat jepret* di seputaran taman. Disana saya bertemu seorang teman, yang datang dengan istrinya. Lumayan, reuni kecil-kecilan ..

Lapar, butuh makan, tapi trauma dengan Kopitiam, saya, Wulan, teman saya dan istrinya, kemudian meninggalkan Central Park menuju bilangan Tanjung Duren. Yap, kami makan disana, sayangnya saya lupa apa nama warungnya, yang jelas warung Iga Bakar deh *tumben tidak mengingat detail, bahkan nama warung, padahal kan itu penting untuk reportase, kacau ! malu ..*. Makan berempat habisnya 58K IDR ++ saja loh *plusnya adalah Pempek yang dipesan istri teman saya, beda nota soalnya ..* ..

Menjelang pukul 10 malam, saya dan Wulan pulang ke Kemanggisan, sementara teman saya dan istrinya pulang ke Kebon Jeruk. Sengaja tidak melewatkan malam pergantian tahun di jalanan, kami hanya menikmati langit Jakarta, yang mendadak meriah karena ribuan kembang api, dari balkon kosan Wulan .. Keren !

Oke deh, selamat tahun baru 2012 ya ! Sukses selalu .. 😉

1 Januari 2012

Welcoming 2012 !

Terbangun di hari pertama tahun Naga Air *katanya* di kamar Wulan. Kedinginan ! Sesuatu banget ya kedinginan di Jakarta .. 😉 Walah, ternyata hujan yooo ! Waduh, padahal rencana seharian ini adalah city tour, yang seharusnya akan banyak outdoor activity-nya. Kalau hujan bisa kacau .. :(

Menjelang pukul 9 pagi, karena gerimis tidak mampet juga, saya dan Wulan nekat tetap motoran ke Tugu Proklamasi, yang memang digunakan sebagai meeting point. Perjalanan awalnya lancar, hujan pun tidak terlalu kejam, masih bisa ditoleransi. Sampai di samping Stasiun Cikini, saya mulai lieur dan berakhir dengan nyasar sampai daerah Salemba. Mutar muter, tetap bingung, sampai akhirnya hujan pun bresss .. Okeeehhh ! Dipandu pelan-pelan, akhirnya ketemu juga dengan Mba Nuning, Tante Mel, Uni Lusi & Melinda, dengan kondisi basah kuyup, kedinginan dan kelaparan *komplit* ..

Pengembaraan *tsaaahhh* pun dimulai ..

1. Toko Merah

Bangunan yang terletak di Jalan Kalibesar Barat No. 11, Jakarta Barat, ini cukup mudah terlihat, karena warnanya yang mencolok dan unik. Merah. Kabarnya Toko Merah ini sudah berusia tidak kurang dari 300 tahun. Wow ! Tampilan depan masih cukup kokoh, meskipun sekaligus menjadi korban vandalisme anak negeri. Coretan cat tak beraturan mengotori bangunan ini. Heran, paling susah melihat tembok nganggur ya ?! Bangunan antik pun tidak luput dari tindakan tidak beretika seperti itu ..

IMG_1658

Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal VOC, Gustaff Willem Baron van Imhoff. Puluhan Gubernur Jenderal VOC lainnya pun pernah memanfaatkan bangunan ini sebagai tempat tinggal. Selain sebagai tempat tinggal para pejabat VOC, Toko Merah juga pernah digunakan sebagai toko oleh warga Tionghoa, tepatnya pada tahun 1851 ..

IMG_1660

Saat ini, kondisi Toko Merah sendiri cukup mengenaskan, setelah tidak terpakai cukup lama, bagian dalamnya pun terbengkalai. Harapan saya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau Pemerintah Kota Jakarta Barat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bangunan, yang menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Jakarta ini. Ya, semoga ..

2. Kawasan Kota Tua Jakarta

Ini adalah kunjungan kedua saya ke Kawasan Kota Tua Jakarta setelah yang pertama Januari 2010 lalu. Bedanya kalau waktu itu saya puas menclok dari satu tempat ke tempat lain, kali ini saya hanya boleh berpuas diri memandangi Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik and so on, and so on .. Tutup semua ! Hujan pula ! Hmm ..

IMG_1665

Meski begitu, ada yang menarik di pelataran Kota Tua, yaitu berjejernya sepeda kumbang warna warni. Mungkin dulu saya yang kurang ngeh atau memang waktu itu lebih banyak sepeda yang sedang disewa. Kali ini hujan turun cukup deras, tentunya orang-orang malas mengendara sepeda, kalaupun ada hanya satu dua, sehingga jajaran cantik seperti ini tidak sama temui. Berkali-kali saya mengabadikannya lewat view finder kamera ..

IMG_1664

Saat hendak meninggalkan Kota Tua, saya menjumpai gerbang utama Stasiun Jakarta Kota terlihat begitu menawan. Kokoh, meskipun basah disana sini, gara-gara air hujan yang terciprat. Ingin rasanya mengeksplorasinya, tapi kami memilih tidak, kondisi stasiun yang penuh orang membuat kami menyerah ..

IMG_1667

3. Stasiun Tanjung Priok

Destinasi ketiga ini cukup membuat energi saya terkuras dan emosi saya memuncak. Kenapa ?? Nanti, akan saya ceritakan khusus di post selanjutnya, saya tidak mau merusak mood tulisan ini ..

IMG_1668

Stasiun ini terletak tidak jauh dari Pelabuhan dan Terminal Tanjung Priok, di sudut Utara Kota Jakarta. Memiliki nuansa art deco yang cukup kental, stasiun tua itu kini dijadikan bangunan Cagar Budaya DKI Jakarta. Setelah sekian lama pasif dan mangkrak, akhirnya pada 28 Maret 2009, Stasiun Tanjung Priok diresmikan kembali oleh Presiden SBY menjadi stasiun aktif ..

Stasiun Tanjung Priok dibangun pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jenderal AFW Idenburg, oleh tidak kurang 1700 tenaga pekerja. Memiliki 8 peron, menjadikannya stasiun raksasa, bahkan tidak kalah dari Stasiun Jakarta Kota, yang pada masa itu merupakan stasiun utama. Saat ini, dari Stasiun Tanjung Priok diberangkatkan KA. Kertajaya jurusan Pasar Turi, Surabaya, KRL. Jabodetabek dan kereta lokal jurusan Purwakarta ..

4. Pelabuhan Tanjung Priok

Lepas dari stasiun, kami bergeser ke Pelabuhan Tanjung Priok. Tidak jauh, kami hanya berkendara kurang dari 15 menit *sudah termasuk nyasar ke pelabuhan kontainer* dari stasiun. Baru sekali, saya masuk ke kawasan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia itu. Keren sekali, jalanan terbentang di tengah-tengah tumpukan kontainer, yang uniknya tiap cluster terdiri dari kotak-kotak besi berwarna senada ..

IMG_1672

Kami sempat berhenti sebentar di depan pintu masuk Container Terminal Regional Harbour, foto-foto disana. Hmm, sempat terheran, dimana sebenarnya pelabuhan penumpangnya ? Kami tidak berhasil menemukannya, padahal pelabuhan barang terlarang dimasuki manusia awam semacam saya dan teman-teman ini, kalau pelabuhan penumpang kan bisa berdalih menjemput sanak saudara. Hehehehe ..

5. Tugu Proklamasi

Puas menjelajah bagian Utara Jakarta, kami kembali ke bilangan Jakarta Pusat, tepatnya di Tugu Proklamasi. Ya, tempat saya bertemu teman-teman pagi tadi. Cuaca sudah bersahabat, gerimis sudah reda, kami pun bisa sowan ke monumen yang menjadi saksi dibacakannya teks proklamasi oleh Soekarno dan M. Hatta, 68 tahun yang lalu. Tugu Proklamasi terletak di Taman Proklamasi, Jalan Proklamasi *dulu disebut Jalan Pegangsaan Timur No. 56*, Jakarta Pusat. Sebelumnya, saya hanya berseliweran di luaran pagar, biasanya ketika pulang jalan-jalan dari arah Salemba, menuju Bintaro ..

IMG_1680

Disana berdiri patung Soekarno dan M. Hatta, Sang Proklamator, dengan penampakan dan ukuran menyerupai sosok sebenarnya. Posisinya pun, konon, sama dengan posisi dua tokoh ketika membacakan teks proklamasi, dulu, tanggal 17 Agustus 1945. Di tengah-tengah patung, terhampar batu marmer warna hitam, berpahatkan naskah proklamasi, sangat mirip dengan aslinya, baik dari segi susunan, maupun bentuk tulisannya ..

Saya pribadi merasakan sedikit haru ketika berada di tempat ini, entah mengapa. Sosok dua Proklamator terlihat begitu nyata, apa yang dilakukan Beliau berdua adalah tonggak perubahan, sekaligus kulminasi perjuangan melawan penjajahan. Berkat perubahan dan perjuangan itulah, sekarang saya *uhm, kita semua* bisa merasakan udara kemerdekaan. Heroik banget kan ya ?! 😉

6. Jalan Sabang

Niat awalnya sih ingin makan di Kopitiam Oey, sekalian cemal-cemil di Toko Sabang 16, tapi apa daya, tutup, Saudara ! Ya sudah, terdamparlah kami di Hoka Hoka Bento, tak apalah, saya dan teman-teman sudah kelaparan akut .. 😉

7. Masjid Cut Meutia

Bergeser ke daerah Menteng, kami berhenti sholat Dhuhur di Masjid Cut Meutia, yang terletak di Jalan Cut Meutia No. 1, Jakarta Pusat. Ada yang unik dengan masjid ini, pertama bangunannya tidak mencerminkan arsitektur masjid pada umumnya, malah lebih bergaya kolonial Belanda ; kedua, arah kiblatnya menyerong cukup jauh dari arah bangunan, ada kali 45 derajad. Hmm .. Saya penasaran ..

IMG_1694

IMG_1687

Browsing sana sini, akhirnya saya mendapat jawaban tentang keunikan salah satu bangunan tua di Jakarta ini. Arsitektur Masjid Cut Meutia unik karena memang pada awal pembangunannya, bangunan ini bukan diperuntukkan sebagai tempat ibadah, namun sebagai Kantor Biro Arsitek dan Pengembang NV Bouwploeg *nama ini sekarang diplesetkan menjadi Boplo* , milik seorang Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen. Kemudian, pernah juga digunakan untuk Kantor Pos, Kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini pun pernah dimanfaatkan sebagai Kantor Urusan Perumahan, Kantor Urusan Agama, bahkan Kantor Walikota Jakarta Pusat ..

Akhirnya, pada tahun 1987, bangunan ini resmi difungsikan sebagai masjid, dengan nama sama dengan jalan dimana bangunan ini berlokasi, Cut Meutia. Sejak saat itulah, ditetapkan shaf, yang ternyata melenceng jauh dari arah berdirinya bangunan. Masjid Cut Meutia juga menyandang status sebagai cagar budaya dan berada di bawah pengawasan Dinas Museum dan Sejarah ..

8. Taman Menteng

Sebentar berkendara dari Masjid Cut Meutia, kami sampai di Taman Menteng. Beberapa kali saya ingin mengunjungi Ruang Terbuka Hijau milik Kota Jakarta ini, setelah sahabat saya, DanSapar, menuliskannya via blognya. Alhamdulillah, kesampaian juga di hari pertama tahun 2012 ini .. 😉

IMG_1718

Taman Menteng diresmikan oleh Pemprov DKI Jakarta pada tahun 2007, dibangun dengan tujuan menambah Ruang Terbuka Hijau dan memberikan Ruang Publik bagi warga Ibukota. Kabarnya, taman seluas 2,5 Ha ini memiliki tidak kurang dari 30 spesies tanaman, beragam fasilitas pendukung dan 2 rumah kaca, yang difungsikan sebagai function hall. Selain itu, lebih dari 40 sumur resapan terdapat di areal taman ini, sebagai serapan air hujan ..

9. Jembatan Kota Intan

Menjelang senja, kami kembali ke kawasan Kota Tua Jakarta. Kali ini tujuannya adalah Jembatan Kota Intan, yang terletak melintang di atas Kali Ciliwung, tidak jauh dari lokasi Toko Merah. Suasana disana cukup ramai, meskipun untuk memasuki areal jembatan, pengunjung dimintai uang kebersihan 2K IDR per orang ..

IMG_1721

Jembatan ini dibangun pada tahun 1628. Wow, ternyata sudah lebih dari 4 abad usianya ! Meski begitu, bangunannya masih cukup kokoh dan menawan. Sejak masa pembangunannya, jembatan ini beberapa kali berganti nama. Pertama, tahun 1628, Engelse Brug atau Jembatan Inggris, karena jembatan ini menghubungkan Benteng Belanda dengan Benteng Inggris, yang dipisahkan oleh Kali Ciliwung. Kedua, tahun 1630, De Hoender Pasar Brug atau Jembatan Pasar Ayam, karena letaknya berdekatan dengan pasar ayam. Ketiga, tahun 1655, Het Middlepunt Brug atau Jembatan Pusat, nama ini diberikan setelah jembatan mengalami kerusakan akibat banjir dan korosi air asin, sehingga kala itu harus direnovasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Keempat, tahun 1938, Ophals Brug Juliana, pada pergantian nama keempat inilah, jembatan diubah konstruksinya menjadi jembatan ungkit, dimana bagian tengahnya dapat diangkat dan dapat digunakan untuk lalu lintas perahu. Terakhir, setelah masa kemerdekaan, Pemerintah RI mengubah nama jembatan ini menjadi Jembatan Kota Intan, karena letaknya berdekatan dengan Kastil Batavia, yaitu Bastion Diamond *intan* ..

10. Radja Ketjil, Tebet

Naaahhh, inilah akhir dari perjalanan kami di hari pertama tahun 2012, Radja Ketjil, yang berada di seputaran Tebet, Jakarta Selatan. Sebelum makan malam, kami sempat mampir sholat Ashar *yang kami tunaikan hampir mendekati waktu Maghrib, maafkan kami, Ya Allah ..* di Masjid Al Ittihad, Tebet Mas, Tebet ..

Di restoran ber-genre vintage peranakan, yang terletak di Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 19, Jakarta Selatan ini, kami makan besar. Menu yang dipesan adalah Gurame Goreng Persembahan Hati *tsaaahhh, namanya galau banget*, Tahu apaaa gitu, lupa namanya *yang jelas tahunya buatan manajemen Radja Ketjil sendiri, halus, lumer di mulut* dan Brokoli dimasak sama Jamur Hioko. Tiga-tiganya enak, tiga-tiganya membuat perut keroncongan menjadi kenyang .. 😉

Makan berenam habisnya kurang lebih 300K IDR, ditraktir Mba Nuning pula. Telima kaciiihhh ..

Dan berakhirlah perjalanan saya yang menyenangkan bersama Wulan, Mba Nuning, Tante Mel, Uni Lusi dan Melinda. Thanks banget ya, Teman-teman, kebersamaan dengan kalian membuka tahun 2012 saya dengan sempurna .. 😉

2 Januari 2012

Adzan Subuh belum berkumandang, ketika saya meninggalkan kos Wulan di Kemanggisan. Diantar Wulan sampai putaran samping Slipi Jaya, lanjut ke Gambir via ojek (20K IDR), sambung lagi dengan bis pemadu moda milik Damri, menuju Bandara Soekarno-Hatta (20K IDR). Di Terminal 1A, JT 500 sudah siap membawa saya kembali ke Semarang. Terlambat 10 menit dari waktu yang seharusnya, saya baru boarding pukul 05.55 WIB. Penerbangan lancar, justru perjalanan dari Bandara Ahmad Yani, Semarang ke kantor saya di bilangan Johar yang tersendat setengah mati. Ternyata hujan deras mengguyur kota tercinta saya ini, macet deeehhh ..

Alhasil, saya mengawali hari pertama bekerja di tahun 2012 dengan catatan terlambat 1 jam 22 menit ! Sesuatu banget .. 😉

18 thoughts on “Jakarta, Menyeberangi Waktu ..

  • January 6, 2012 at 13:57
    Permalink

    kok ndak ada fotonya *refresh sekali lagi*

    lha itu museum di kota tua libur kan tgl merah, mereka bakal libur 2 hari keknya, soalnya senin kn biasanya juga libur. *korban kecelek juga pas ke galeri nasional* hahahahhaa

    Reply
  • January 6, 2012 at 16:16
    Permalink

    @ sapar : Ceritanya tadi itu salah, Par, mau save draft, malah kepencet publish .. Maaf yaaa .. Hehehehe .. 😉

    Iya, ternyata libur euy, tapi ngga papa, banyak yang kecele kok, bukan saya tok .. Wkwkwkwkwk ..

    Reply
  • January 6, 2012 at 16:38
    Permalink

    ahhhhh suka deh foto stasiun tanjung prioknyaaaa
    *kosongin jadwal ah buat naik comuterline ke sana
    😉

    Reply
  • January 6, 2012 at 16:52
    Permalink

    @ sapar : Iyaaa .. Bagus, Par, tapi dilarang ambil foto, kecuali kita sudah mengantongi ijin dari pemerintah. Itu foto colongan saya, nekat, habis gitu diomelin petugas keamanannya ..

    Cerita tentang tragedi Stasiun Tanjung Priok saya ceritain tersendiri, setelah ini yaaahhh .. 😉

    Reply
  • January 9, 2012 at 17:56
    Permalink

    Zou, bagus tulisannya, kumplid!eh itu tulisannya koq 2 jan 2011, hayo diedit yo, hahaha..iki 2012 lho!smp ktm di trip berikutnya ya..miss u zou

    Reply
  • January 10, 2012 at 08:30
    Permalink

    Aku yg udah pernah cuma nomor 2 aja coba.. Ditunggu ya mbak cerita tragedi stasiun tanjung prioknya..

    Reply
  • January 10, 2012 at 09:28
    Permalink

    @ mba nuning : Makasih, Mbaaa .. Oleh2 paling hemat setelah jalan2 ya bikin catatan perjalanan kaya gini, Mba, jadinya mesti dibagusin .. Hehehehe .. Oh ya, makasih ralatnya, malah ngga ngeh .. 😉

    @ bee : Iya, Bee, kemaren mau nulis, blognya malah demam, ngga bisa diakses .. Insya Allah secepatnya .. 😉

    Reply
  • January 10, 2012 at 09:36
    Permalink

    hah? aq lho mau ke sana motret mosok gak ethuk. huwaaaa *nangis kejer*

    ditunggu ceritane
    btw, alhamdulillah ya blog aman
    *kasih jambul cendrawasih*

    Reply
  • January 10, 2012 at 09:37
    Permalink

    eh kmrin di taman menteng sekalian liat jakarta biennale donk 😉

    Reply
  • January 10, 2012 at 16:41
    Permalink

    @ sapar : Iya, beneran ngga boleh, kecuali ngantongin ijin dari Kota, kata petugasnya. Ngga tau deh Kota bagian mana .. Tunggu ceritanya yaaa .. 😉

    Biennale ada di Taman Menteng ?? Sebelah mana yaaa ?? Kok ngga ngeh sih akuuu .. :(

    Reply
  • January 11, 2012 at 11:03
    Permalink

    Iya ada (klo blm diangkut ya)
    di pintu masuk seberang monami depan rumah kaca (sekitar situ deh), cek aja di postinganku mengenal biennale

    ada maenan tradisional gede yg dipajang di sana

    Reply
  • January 12, 2012 at 09:09
    Permalink

    Pelabuhan Penumpang Nusantara Tanjung Priok ada di dekat terminal bis Tanjung Priok,za. taunya gara-gara selama D3 pulangnya dari situ terus sih

    dan itu..dan itu..Radja Ketjil. aku kangen mereka. Paling suka di cabang Terogong. Menu paling suka itu Tahu Hujin Tje Lie Rina (tahu sutra yg dasarnya daun bayam, & disiram tumisan jamur) sama Ayam Ibu Tiri.

    Reply
  • January 12, 2012 at 11:25
    Permalink

    @ sapar : Kalo mainan tradisional, aku foto di depannya, Par .. Tapi yang lain kok ngga ada yaaa .. Huhuhuhu ..

    @ kokoh : Hehehe, jadi akrab sama riuhnya Tanjung Priok dong ya, Koh .. Beneran deh, kemaren itu kok ngga nemu pelabuhan penumpangnya yaaa ..

    Radja Ketjil kita pernah kesana bareng kan ya ?! Yang habis pulang dari Bogor itu ?! Sama kamu bukan sih ?! *lieur*

    Reply
  • January 12, 2012 at 12:24
    Permalink

    klo yg di taman menteng kayaknya cuman ada itu aja, sih.
    yg banyak (katanya) di galeri nasional, tim, sama central park (indoor)

    kayaknya radja ketjil yg di tebet deh zah klo sehabis dr bogor
    *eh itu aku sama kamu bukan sih?*
    *nunun*

    Reply
  • January 12, 2012 at 14:02
    Permalink

    @ sapar : Iyaaa ! Ada gasing sama burung2an gitu di deket tulisan “Taman Menteng”. Aku foto disana kok .. 😉

    Err .. Kok jadi binun ya, perasaan ada Kokoh juga, tapi iya ada dirimu juga dan bener habis pulang dari Bogor .. Kebanyakan jalan bareng jadi lieur dweeehhh .. *ngakak*

    Reply
  • January 19, 2012 at 08:51
    Permalink

    belum ke Kopi Tiam ya mbak? insya alloh nanti kalo aku ada dinas ke Bandung aku beliin Kopi Aroma deh, kopi yang dipake di Kopi Tiam..soalnya Kopi Aroma kalau libur tutup. nanti aku kirimin ke Semarang. :)

    Reply
  • January 19, 2012 at 11:56
    Permalink

    @ chan : Iyaaa, belum kesampean ke Kopitiam yang di Sabang .. :(

    Waaahhh, mau bwangeeettt ! Tengkyu sebelomnyaaa .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: