Tragedi Stasiun Tanjung Priok ..

Stasiun Tanjung Priok ..

Ya, akhirnya saya berada di dalam pelataran stasiun yang terletak di ujung Barat-Utara Jakarta, pada hari pertama di tahun 2012. Sudah cukup lama, saya ingin menikmati suasana di dalam stasiun bernuansa art deco yang cukup kental itu. Alhamdulillah, kesampaian ..

tanjung priok

Saya dan kelima sahabat bersemangat memasuki gerbang utama Stasiun Tanjung Priok. Pintu geser bermaterial besi seperti memindahkan kami dari hectic-nya Tanjung Priok ke sebuah kondisi teduh, jauh dari hingar bingar dan sangat klasik. Lobi Stasiun Tanjung Priok terdiri dari dua sisi loket penjualan tiket, yang menempati sebuah ruang berlangit-langit tinggi dan berinterior kuno. Sampai disini, saya sudah terkagum-kagum, pantas saja dijadikan cagar budaya, lha Stasiun Tanjung Priok ini gila sekali bagusnya !

IMG_1668

Nah, saya pun mulai mengeluarkan revolver tercinta. Canon EOS 1000D + 18-135 mm. Sayang sekali bukan, kalau kemegahan Stasiun Tanjung Priok, yang berdampingan dengan ke-riweuh-an Terminal Tanjung Priok, sampai tidak terdokumentasi di SD Card saya ?!

Jepret sekali .. Jepret dua kali .. Aman ..

Sampai akhirnya keasyikan jeprat jepret saya terganggu oleh teguran seorang petugas keamanan *inilah kebodohan yang baru saya sadari di kemudian hari, saking sibuknya dengan emosi, saya sampai tidak mencari tahu, siapa nama petugas-petugas keamanan yang menghadang kami*. Intinya, saya dilarang mengambil gambar Stasiun Tanjung Priok, di sudut manapun, dengan alasan apapun, KECUALI saya sudah mengantongi ijin dari KOTA ..

Adu mulut pun dimulai ..

Pertama, saya clingak clinguk, mencari spanduk, stiker atau apapun lah, yang mendokumentasikan dan menegaskan larangan lisan Si Petugas Keamanan. Tidak ada ! Saya hanya menemukan stiker besar LARANGAN MEROKOK di kawasan stasiun *dan sudah dapat ditebak dong, larangan itu tidak berguna, orang-orang tetap cuek merokok disana*. Saya coba tanyakan, larangan mengambil gambar itu aturan siapa ? Petugas keamanan itu menjawab PIHAK KOTA, termasuk mengurus ijinnya pun dengan PIHAK KOTA tersebut. Saya tanya lagi dong, PIHAK KOTA itu siapa ? Manajemen Stasiun Kota, Pemerintah Kota atau siapa ? Jawabannya, POKOKNYA PIHAK KOTA *sampai di bagian ini, saya sudah ingin sekali nggaplok Si Petugas Keamanan* !

Saya tanyakan ALASAN, mengapa harus ada aturan seperti itu di Stasiun Tanjung Priok ini ?

Jawabannya, karena Stasiun Tanjung Priok adalah CAGAR BUDAYA, aturan itu dicanangkan untuk menghindari pengkomersialan foto di luar pengawasan. Nah lho, alasan yang lucu ! CANDI BOROBUDUR, yang dianggap CAGAR BUDAYA DUNIA saja tidak ada aturan pengambilan foto dengan atau tanpa ijin. Kemudian, sebutlah MUSEUM KERETA API AMBARAWA, yang notabene sama-sama CAGAR BUDAYA di bawah wewenang PT KAI, juga tidak ada larangan mengambil fotonya tanpa ijin manajemen tertentu ..

Petugas keamanan yang ‘menyambut’ saya di lobi itu tetap saja kekeuh, kalau tidak punya ijin, maka saya tidak diijinkan mengambil gambar Stasiun Tanjung Priok dengan alasan apapun. Sorry, Pak, saya juga tetap kekeuh untuk menerobos masuk ke bagian peron raksasa milik stasiun kereta api terbesar se-Asia Tenggara itu. Saya juga tetap menenteng revolver saya, sambil sesekali menjepret sudut-sudut stasiun ..

Petugas keamanan pertama memang tidak mengejar dan menahan saya. Sekilas dia seperti membiarkan saya, sampai akhirnya saya duduk di bangku peron dan terpana melihat atap klasik yang menaungi 8 lajur peron Stasiun Tanjung Priok. Keren abisss !

Di peron, ternyata ada 2 petugas keamanan lain, yang sudah dikontak oleh petugas keamanan pertama lewat pesawat HT nya. Deuh, memangnya saya kriminal, Pak ! Saya masih tidak peduli. Saya masih asyik mengabadikan kemegahan stasiun yang dibangun pada tahun 1914 itu ..

Ternyataaa ..

Saya kembali ditegur ! Jauh lebih keras daripada teguran petugas keamanan yang berada di lobi. Intinya masih sama, saya dilarang mengambil gambar, kalau tidak mengantongi ijin dari PIHAK KOTA. Saya balik tanya :

(1) PIHAK KOTA itu siapa ? Dari tadi disebut-sebut terus, tanpa saya bisa mendapat keterangan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan PIHAK KOTA ? Ketika saya sebutkan STASIUN KOTA, petugas keamanan peron menjawab iya. Awalnya saya lega, mendapat sedikit kejelasan, tapi ketika saya sebutkan lagi PEMERINTAH KOTA, kok dia juga mengiyakan. Iki piye tooohhh ?!

(2) Mana aturan tertulis yang menyebutkan bahwa pengunjung tanpa ijin dari PIHAK KOTA dilarang mengambil gambar ? Saya sampaikan, yang saya lihat hanya LARANGAN MEROKOK, bukan LARANGAN MEMOTRET. Petugas keamanan peron malah nyolot berkata, “Pokoknya itu aturan dari atasan, Mba ! Memangnya ada untungnya buat kami melarang-larang pengunjung mengambil gambar ?!“. Wooohhh, njaluk dicemplungke Kawah Merapi wong iki ..

Saya balas nyolot, “Saya mau ketemu atasannya, kalo gitu ! “. Pernyataan saya tidak dijawab, saya hanya disuruh menurunkan kamera dan berhenti mengambil gambar ..

Saya masih sempat mengambil beberapa gambar peron Stasiun Tanjung Priok, sampai akhirnya seorang petugas keamanan yang lain juga mulai bertindak dan setengah berteriak melarang saya mengambil gambar. Khawatir kamera bakal diapa-apain, saya memilih untuk keluar dari area peron, masih sambil bersungut-sungut, tentunya ..

Sumpah ! Saya tidak habis pikir akan mendapatkan perlakuan geje semacam itu. Bayangan akan kondisi Stasiun Tanjung Priok yang nyaman dan penuh nostalgi, raib tiba-tiba, gara-gara tingkah para petugas keamanan itu ..

Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka ya. Mungkin memang benar ada aturan mengambil gambar, yang digembar-gemborkan oleh para petugas keamanan itu. Tapi mbok iyao, aturan itu disosialisasikan, dipublikasikan, atau paling tidak dipasang besar-besar di salah satu sudut stasiun, agar larangan lisan petugas dapat ditegaskan saat pengunjung melihat bukti tertulisnya ..

Atau, kalau memang mau agak komersil sedikit, kenakanlah tarif masuk bagi pengunjung, plus biaya bawa kamera. Tidak ada salahnya, bukan, toh Stasiun Tanjung Priok sudah resmi menjadi cagar budaya. Setiap yang berkunjung, wajar rasanya jika harus mengeluarkan beberapa ribu Rupiah untuk tiket masuk, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi kamera yang *mungkin* dibawanya ..

Kalau begini keadaannya, petugas bisa gontok-gontokan dengan orang awam seperti saya ..

Selama membaca banyak artikel tentang Stasiun Tanjung Priok, saya tidak menemukan satupun yang menyebutkan adanya aturan larangan pengambilan gambar tanpa ijin. So, maaf saja ya, jika pikiran saya langsung buruk, yaitu para petugas keamanan ini mencari-cari cara agar pengunjung mau mengeluarkan uang tidak resmi demi bisa mengambil gambar Stasiun Tanjung Priok ..

Satu misteri lagi, sebenarnya siapa sih mereka maksud dengan PIHAK KOTA ? Penasaran saya ..

Mudah-mudahan ada pihak Pemerintah Kota Jakarta Utara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atau PT KAI, yang membaca tulisan saya ini, kemudian memberikan jawaban memuaskan. Sungguh, saya ingiiiiinnnnn sekali mendapatkan kejelasan tentang peraturan pengambilan gambar yang berlaku di Stasiun Tanjung Priok, yang notabene merupakan cagar budaya milik seluruh masyarakat Indonesia *seharusnya* ..

Sayang sekali, kita memiliki bangunan bersejarah yang istimewa, tapi dirundung kabut misteri, yang sebenarnya bersifat sepele dan seharusnya bisa diselesaikan dengan sebuah sosialisasi, sehingga segala macam aturan dapat diketahui dan diterima oleh masyarakat luas ..

Owalah, nasibmu ya, Stasiun Tanjung Priok .. :(

19 thoughts on “Tragedi Stasiun Tanjung Priok ..

  • January 11, 2012 at 10:26
    Permalink

    Akuh emosih!! Sopo mbak jenenge petugase? Tak uncalno ning kawah ijen mengko wonge.. *emosi yg lebay*

    Reply
  • January 11, 2012 at 11:07
    Permalink

    di satu sisi kecewa sih ngeliat ‘ulah’ mereka tnp penjelasan yg lengkap, namun di sisi lain kok aku jd tertantang utk ke sana ya

    hihihii

    Reply
  • January 11, 2012 at 11:09
    Permalink

    been there zah..
    Saia dan tmn2 ponjay dulu mengalaminya..& kita kluar sambil ‘gondok’ jg sik hehe
    menggalakkan wisata budaya,tp pungli merajalela..fiuh *sumpelmulutpetugaspakeduit50rebo* *lanjutfotofiti*

    Reply
  • January 11, 2012 at 11:59
    Permalink

    Huuuuuu.. ra mudheng… mbok dilihat lagi mukanya.. itu kan saya petugasnya.. Saya itu maksud e minta difoto je, malah ra dong

    Reply
  • January 11, 2012 at 13:09
    Permalink

    @ bee : Nah itu dia, Bee, aku sibuk adu mulut, sampe ngga inget2 siapa nama petugas keamanannya .. Dudul markudul ..

    @ sapar : Coba, Par, kesana ya, terus lanjutkan perjuangan adu mulutku sama petugas keamanan super rese itu .. Hehehe ..

    @ kondra : Huwaaa, semakin banyak aja yang membuat pengakuan pernah tertolak di Stasiun Tanjung Priok. Mbok ya pada cerita, biar semakin banyak laporan ke pemerintah, kalo memang bener ada aturan kaya gitu, biar disosialisasikan, tapi kalo petugas keamanan yang mengada-ada, biar segera ditindak ..

    @ mas bimo : Duwenkkk .. Pantesan, baunya kaya kenal .. Hahahahaha .. 😉

    Reply
  • March 19, 2012 at 08:23
    Permalink

    Yth: mbak nur mohon maaf atas ketidak nyamanan selama di sta.tanjungpriok, perlu kami sampaikan berkaitan dengan kegiatan mbak di sta. Tanjungpriok, bahwa petugas security hanya menjalankan tugas dan yang mbak maksud pihak kota adalah humas pt.kai daop 1 di jakarta kota dan jika sebelum melakukan kegiatan foto dan atau apapun mbak ijin ke kepela stasiun atau staff, dijamin 100% jika cuma hoby akan kami ijinkan dan langsung diantar ke tempat2 lain dilingkukan sta. Tj.priok yg lebih eksotik dengan tentu mbak harus isi buku tamu dan data,karna sta. Tj.priok bukan musium dan bukan 100% cagar budaya karna ada kegiatan perusahaan yg lainya, dmkn

    Reply
  • March 19, 2012 at 08:47
    Permalink

    @ atin : Yang saya sesalkan bukan adanya peraturan perijinan, Bu Atin, tapi tidak dipublikasikannya peraturan tersebut plus arogansi aparat yang menurut saya keterlaluan. Saya mohon dengan hormat kepada PT KAI untuk membenahi urusan remeh temeh seperti ini, saya tidak minta muluk2 kok ..

    Saya rasa, jika PT KAI menjelaskannya, meskipun hanya lewat spanduk dan situs resminya, masyarakat bisa paham kok ..

    Reply
  • April 24, 2012 at 09:05
    Permalink

    ooh emang harus pake izin dari DaOp dulu mbak, saya juga ngebuat essay aja harus minta ijin lewat proposal baru boleh foto-foto dan fotokopi buku-buku tertentu. Kalo mbak mau ngobrol-ngobrol, mbak bisa kunjungi Indonesian Railway Heritage di Gambir.

    Reply
  • April 24, 2012 at 09:14
    Permalink

    @ xtreme : Bukan masalah perijinannya yang saya permasalahkan saat itu, tapi tidak dikomunikasikannya peraturan yang mengharuskan pengunjung melakukan perijinan. Saya datang dari luar kota, kalau harus tertolak gara-gara masalah seperti itu, kan sayang sekali ..

    But, thanks anyway .. 😉

    Reply
  • May 2, 2012 at 10:54
    Permalink

    Salam mbak NOer,, ane Doniee from Newyorkarto alias Djogja..
    sebelumnya baca cerita lucu dulu,,,,,,, kejadian ini pas ane Paraktek Industri di BY MRI unit KRL dan tugas ke Dipo Depok
    pulang naek KRL sama salah satu petinggi,, tp beliau di kabin mass,,,


    Mas,, tiketnya mana?? (tampang sok sangar..!!).. Wah kita dari dipo pak,,, (jawab kalem prengengas prengenges,,),, Ngapain di dipo?? (nyolott)… Wah kita lagi ada penelitian dan pekerjaan disana,, nie surat dari Manggarai,,, tanda tangannya EVP nya lhoooo,,, (makin cengengesan).. Ohh,, ya udahh,, (JIper liad surat logo KAI)….misi maasss,,, (petugas bilang permisi sama kitaa)”

    #Cerita antara 7 orang bolang diatas KRL Jakarta dengan petugas Sentinel (sekuriti kereta) yang sok kerennn,,,,

    hehehehe,, jujurr, miris juga siyy,,g ada pelarangan ngambil gambar, di daerah kereta,, toh juga yg diambil kan panoramic,, bukan seperti instalasi kereta semacam control wesel,, alat indikasi kereta,,, heheh 😀 😀 😀

    cuman yaa itu mbakk,, mereka hadowwhh ,, g ditraining hospitality poww yakk??????? heheh 😀 😀 😀

    Reply
  • May 3, 2012 at 20:14
    Permalink

    @ donie : Salam juga dari Semarang, Donie .. 😉

    Saya pribadi, seperti yang sudah saya tegaskan beberapa kali dalam tulisan dan komen diatas, sebenarnya kalau peraturan dipublikasikan, kemudian dikomunikasikan dengan baik, ngga akan ada masalah ya ..

    Sayang sekali ..

    Reply
  • July 29, 2012 at 18:48
    Permalink

    sbetul’y blom ada larangan resmi mengenai larangan berfoto-foto d stasiun tj.priuk..
    Mungkin yg petugas keamanan mksud stidak’y ada ijin dlu dri pihak stasiun slah satunya ijin dri kepala stasiun tersebut..,y biasa’y sich ujung2 nya mreka mengkomersilkan hal itu..
    Hehehe..mklum mba orang indonesia..

    Dan yg d mksud pihak kota adalah pejabat kereta api yg menjabat sbagai kepala wilayah stasiun di jakarta,yg berkantorkan d stasiun jakarta kota..

    Begitu yg saya tau mba..

    Reply
  • July 29, 2012 at 19:49
    Permalink

    @ ega : Nyatanya kami tidak diperkenankan bertemu dengan kepala stasiun, Ega. Whatever lah, yang penting saya sudah share kejadian tidak menyenangkan ini, semoga dibaca pihak yang berwenang. Satu hal lagi, saya sudah berhasil mendapatkan satu foto Stasiun Tanjung Priok, walaupun dianggap tidak legal .. Hehehehe .. 😉

    Terima kasih sudah berkunjung ..

    Reply
  • February 15, 2015 at 13:22
    Permalink

    Saya juga mengalami hal yg sama dengan mbak. Bedanya saya di dalam kereta. Saya bingung pas lg foto2 gerbong kok malah ditegur. Setau saya selama ini saya bawa kamera dan foto2 juga aman2 aja. Lagian di bagian tiket pun tidak ada larangan seperti itu. Semoga jika memang ada peraturan untuk dilarang memotret harap disosialisasikan kepada masyarakat luas :)

    Reply
  • February 15, 2015 at 18:20
    Permalink

    @ mutia : Oh ya ? Yang negur Polsuska, Kak ? Atau siapa ? Saya makin penasaran, apa sebenarnya memang ada aturan yang melarang fotografi tanpa ijin di properti milik PT KAI ya. Tapi kemaren saya foto-foto (untuk kepentingan pribadi, bukan komersial) di Stasiun Gambir, Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Pekalongan ngga ada masalah tuh .. 😉

    Reply
  • March 6, 2016 at 21:16
    Permalink

    Sialan hari ini kena teguran dari PKD buat gak foto,,walau sya tau akan rumor larangan itu saya berfikir di tanjung priok sepi PKD pun sekitar 2 orang aja,,terus saya asik foto2 malah di tegur harus minta ijin padaha saya pake kamera hp,,,bener2 benci PKD saya

    Reply
  • May 21, 2016 at 16:10
    Permalink

    wah wah wah, hari ini (21/05/2016) saya baru mengalami hal serupa…. Saya foto sekedar hobi menikmati kemegahan setasiun baru Palmerah. Lagi asik jeprat jepret pake DSLR dihampiri petugas PKD kurus yang sok galak. Karena males berdebat, saya delete 5 foto yang berhasil di jepret… Kaga ada larangan foto tapi harus ada izin foto, saya pikir ini pasti UUD (Ujung Ujungnya Duit). Ini sudah abad 21 bapak ibu…. kamera ada dimana mana di setiap gadget, HP, tablet, jam tangan, dll…. Apa bedanya kamera DSLR sama kamera kecil? Kalau memang dilarang pasang larangannya dong…..

    Reply
    • May 24, 2016 at 11:12
      Permalink

      Wah, setelah bertahun-tahun, masalah serupa masih saja muncul ya, Kak. Semoga PT KAI segera bisa memberi jalan tengah atas permasalahan memotret stasiun dan properti PT KAI lainnya. Tetap semangat, Kak .. :)

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: