Meraba Indonesia, Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

2012-01-23 11.15.49

Mengenal lebih dekat, lebih rekat, mencintai Indonesia apa adanya ..

Menurut saya, Meraba Indonesia – Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara, karya Ahmad Yunus ini istimewa. Mengapa istimewa? Karena Ahmad Yunus dan Farid Gaban *partner perjalanannya* berhasil membuat saya ikut “gila” mengikuti perjalanan mereka menjelajah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, sejak Miangas hingga Pulau Rote. Siapa sangka, bermodal Honda Win 100 bekas, Ahmad dan Farid berhasil menyelesaikan Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa dengan buah tangan mengagumkan : 10.000 frame foto, setumpuk catatan perjalanan dan 70 jam materi video ! Lebih “sadis” lagi, ketika saya paham apa maksud mereka berdua nekat melakukan perjalanan panjang ini : Mengenal lebih dekat, lebih rekat, mencintai Indonesia apa adanya. Tujuan yang sejalan dengan pesan Soe Hok Gie : Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat ..

Ahmad Yunus menceritakan ekspedisi keliling Nusantara, yang ia lakukan selama rentang waktu 1 tahun itu secara runtut dan sangat baik dalam 6 bab, yaitu (1) Melibas Sumatera Dari Monas Menuju Titik Kilometer Nol, (2) Menyusuri Garis Khatulistiwa, (3) Gemuruh Di Tepi Pasifik, (4) Kolonialisme Ala Pala dan Mutiara Hitam Dari Timur, (5) Pulang Kampung dan (6) Kembali Ke Jawa. Bahasa tulisannya mengalir dan sama sekali tidak membuat saya bosan, secara ya, saya ini pecinta fiksi, sekalinya membaca non-fiksi, biasanya akan berakhir dengan ketiduran atau tidak tuntas membaca sampai akhir. Hehehe .. Tapi tidak dengan Meraba Indonesia, serius, sumprit !

Petualangan duo nekat, Ahmad Yunus dan Farid Gaban, dimulai dari Tanah Andalas. Mereka berdua mati-matian menuntaskan keingintahuan mengenal negerinya, mulai dari Lampung sampai Aceh. Banyak sekali cerita yang tergurat di Sumatera, salah satu yang paling membuat batin saya nggrentes adalah sejarah Kototinggi dan Pak Sjaf. Saya yakin, banyak yang tidak menyadari bahwa Kototinggi pernah menjadi ibukota Indonesia pada masa darurat tahun 1948, juga riwayat tentang Pak Sjaf aka. Sjafroeddin Prawiranegara, tokoh yang diserahi mandat oleh Soekarno – Hatta pada masa darurat tersebut atau notabene Beliau lah Presiden kedua di negeri ini. Fiuhhh, kondisi ini menjadi bukti, bahwa sejarah adalah mutlak milik penguasa, dimunculkan di keriuhan bangsa ketika dibutuhkan dan dibenamkan di tengah masa saat dianggap tidak berguna ..

Lepas menyelesaikan Sumatera, Ahmad Yunus dan Farid Gaban bergeser ke Kalimantan, sebuah tanah tua dan disanalah terbentang garis imajiner khatulistiwa. Mereka berdua menjadi saksi kerontangnya Sungai Kapuas, hingga anak-anak lokal dapat memanfaatkannya menjadi lapangan bola, atau berbahayanya proses penambangan intan konvensional di Cempaka, sampai kehidupan masyarakat tapal batas di Sebatik, yang telah teruji benar nasionalismenya. Ya, berkali saya harus mengusap air mata, inilah nasionalisme yang sebenarnya, yang tidak hanya terucap di berbagai event acara kenegaraan, yang tidak hanya tertulis di papan yang tertancap di perbatasan, pun semakin mengusam ..

Bukan !

Namun, anak-anak usia sekolah yang dengan bangga memasang lambang Merah Putih di seragamnya, untuk membedakan dengan pelajar Malaysia. Mereka jumawa menjadi warga Indonesia, meski dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana. Sementara janji-janji penguasa akan meningkatkan kesejahteraan mereka, dalam rangka mendukung tegaknya kedaulatan NKRI di tapal batas, masih setia mereka nanti, walaupun entah kapan realisasinya. Astaga, ngenes ..

Tak hanya haru biru, Ahmad Yunus pun sempat membawa saya ternganga membaca deskripsinya tentang eksotisnya kawasan Kepulauan Derawan. Ya, Derawan, Sangalaki, Kakaban dan Maratua adalah harta berharga yang diberikan Tuhan untuk Indonesia. Ribuan Tukik yang baru saja menetas dari telur-telur lunak, yang tertanam di pasir ; Manta Ray yang melayang tenang di udara, dengan bentangan sayap hingga 3 meter ; Ubur-ubur yang telah kehilangan kemampuan sengatnya, menjadi saksi betapa rumitnya evolusi yang terjadi di Danau Kakaban ..

Subhanallah ..

Perjalanan pun berlanjut dan semakin terasa seru begitu memasuki Ranah Celebes. Saya mendapati Ahmad Yunus terheran-heran dengan kosakata baru, yang ia temui di Jinoto, yaitu Janda Kompresor. Terdengar lucu, namun inilah kondisi memprihatinkan yang terjadi di salah satu sudut negeri. Penggunaan kompresor oleh masyarakat Jinoto sebagai alat bantu menyelam saat mencari teripang atau ikan karang, sudah banyak memakan korban meninggal. Para wanita yang ditinggal mati suami dengan cara seperti inilah yang akhirnya menyandang status Janda Kompresor. Berbahaya, namun mereka tidak punya pilihan lain ..

Selanjutnya, ada keindahan Taman Nasional Wakatobi, yang merupakan singkatan dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko *seharusnya ada 1 pulau lagi, yaitu Runduma*, yang menghipnotis duo Ahmad Yunus dan Farid Gaban. Dunia bawah laut Wakatobi memang mempesona, selain indah, barisan terumbu karang disana adalah yang terpanjang kedua setelah Australia. Belum lagi ikan-ikan konsumsi, seperti Kakap, Kerapu dan Tuna, yang banyak ditemukan di laut Wakatobi ini. Kualitas ekspor ! Hmm, lihatlah, Indonesia begitu cantik dan kaya raya ..

Bergerak ke Timur, Ahmad dan Farid memasuki Kepulauan Maluku dan Papua. Ada kisah tentang keajaiban Kepulauan Raja Ampat : Waigeo, Batanta, Salawati, Misool dan ratusan pulau kecil lain ; riwayat kejayaan Kerajaan Islam Ternate ; dan *lagi-lagi* cerita warga di tapal batas, yang terasing dari pembangunan, yang tersendiri dari keriuhan modernisasi ..

Menjelang kepulangan ke Jawa, pulau impian yang begitu gemerlap dan gempita, Ahmad Yunus dan Farid Gaban mampir sejenak ke Flores. Disini, siapa sangka pernah terjadi tragedi kemanusiaan paling menyayat hati, di kurun tahun 1965. Pecahnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Jawa, ternyata berimbas pedih di Flores. Tidak banyak yang tahu, disini ribuan orang diculik, kalau tidak berakhir hilang, ya dipenggal, dengan tuduhan terlibat gerakan Komunis. Kisah itu menjadi Senandung Bisu 1965, begitu Ahmad Yunus menyebutnya. Bisu, karena tidak pernah ada kejelasan. Bisu, karena saksi mata dipaksa diam dan memendam trauma mendalam. Bisu, karena sejarah tidak pernah bersedia mengungkapnya ke permukaan ..

Pulang ke Jawa ..

Akhirnya Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa selesai juga. Farid Gaban menghentikan perjalanannya di Wonosobo, kota kecil, yang terletak di bentangan dataran tinggi Dieng. Sementara Ahmad Yunus masih harus menaklukkan Cadas Pangeran, untuk sampai di Bandung. Sungguh perjalanan panjang, yang menguras emosi dan tenaga. Jangankan bagi mereka berdua, saya saja yang membaca merasa letih, meski bukan letih raga, namun hati. Berkali-kali mata saya berkaca-kaca, inilah potret Indonesia yang sebenar-benarnya, dimana kecintaan diuji ..

Negeri ini indah. Negeri ini kaya raya. Negeri ini serba ada .. Namun mengapa begitu banyak catatan muram disini ?! Entah siapa yang salah, sampa-sampai ketimpangan terlihat nyata : yang kaya, semakin sejahtera, sementara yang miskin tambah nelangsa ..

Masih banyak cerita-cerita menarik, sekaligus ironis, tentang negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, yang dikisahkan oleh Ahmad Yunus di dalam buku setebal 370 halaman ini. Baca deh ! Keterlaluan kalau hati tidak tergetar mengetahui fakta kelam tentang kondisi masyarakat di pulau-pulau terluar, sekaligus keindahan, kekayaan dan potensi luar biasa yang dimiliki Nusantara ini ..

Semoga bermanfaat .. 😉

Meraba Indonesia – Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

Penulis : Ahmad Yunus
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Halaman : 370
Harga : Rp. 63.750 (15% off)

5 thoughts on “Meraba Indonesia, Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

  • January 24, 2012 at 07:35
    Permalink

    tahun lalu baca buku ini… buku yg keren, petualangan yg keren, dan masyarakat indonesia yg keren, serta tentu saja indonesia yg kerennnnn

    Reply
  • January 7, 2015 at 16:49
    Permalink

    mau baca tapi ini terbitan lama ya? udah jarang yang jual. padahal pingin banget baca.

    Reply
  • November 13, 2016 at 09:48
    Permalink

    buku yang luar biasa, sekali baca langsung deh ketularan
    ingin rasanya mengellilingi negri ini.

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: