[Film] Negeri 5 Menara

Warning :
Tulisan ini mengandung banyak ungkapan kekecewaan,
mungkin dapat menimbulkan ketidaknyamanan ketika Anda baca ..

Negeri-5-menara

Akhir pekan ini, saya berkesempatan menonton film Negeri 5 Menara, tepat di hari ketiga sejak tayang perdananya, 1 Maret 2012. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama, karya A. Fuadi, yang mengusung semboyan “Man Jadda Wajada“. Terus terang, saya tidak berekspektasi apapun pada film yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rahman ini. Hehehe ..

Film ini diawali dengan konflik batin Alif (Gazza Zubizareta), yang harus memilih antara SMU di Bandung, demi cita-cita pribadi untuk bisa kuliah di ITB atau Pondok Madani, sebuah pondok modern di pinggiran Ponorogo, demi bakti pada orang tua (Ayah : David Chalik, Amak : Lulu Tobing). Saat awal ini pun, saya sudah merasa janggal dengan jalan cerita Negeri 5 Menara. Kok beda dengan novelnya ? Pertama, bukankah yang menyarankan Alif masuk Pondok Madani itu Pamannya dan bukan Amaknya. Kedua, sebutlah yang menyarankan Amaknya, pertentangan antara ibu-anak pun kurang terasa menggigit. Biasa saja .. Ups .. Oh ya, satu lagi, seingat saya Alif itu anak Bayur, bukan Agam. Meskipun sama-sama berada di Sumatera Barat, tapi kedua daerah itu berada di 2 tempat yang berbeda. Bayur lebih dekat dengan Kota Padang, sementara Agam lebih dekat dengan Kota Bukittinggi .. Ehmmm ..

Lanjut ..

Diceritakan Alif berangkat juga ke Pondok Madani, mengawali perjuangan dengan mengikuti tes masuk, hingga akhirnya diterima menjadi salah satu santri baru disana. Alif bertemu dengan 5 sahabat baru, yang nantinya menamakan diri mereka sebagai Shahibul Menara, yaitu : Raja Lubis (Jiofani Lubis) dari Medan, Said Jufri (Ernest Samudra) dari Surabaya, Dulmajid (Aris Putra) dari Sumenep, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung dan Baso Salahuddin (Billy Sandy) dari Gowa ..

Alih-alih mengisahkan perjuangan Alif di Pondok Madani, Baso Salahuddin justru menjadi sentral cerita, nyaris sejak dari awal hingga akhir. Bahkan ekstrimnya, yang mengikuti dan akhirnya menjadi pemenang lomba pidato bahasa Inggris, seharusnya Alif, namun di film ini malahan Baso yang dijadikan peraih piala juara 2. Loh ?! Sepanjang durasi film pun, Alif tidak digambarkan sebagai sosok yang bersemangat, apalagi menjadi inspirasi seperti versi novel. Saya hanya menemukan Alif yang terlalu pembimbang dan selalu murung. Piye toh iki ?! Aneh ..

Beberapa scene pun melenceng jauh dari novel. Sangat jauh, bahkan ..

Adegan memperbaiki genset, sama sekali tidak dituliskan A. Fuadi di dalam novelnya. Adegan pertemuan Alif dengan Sarah (Eriska Rein), keponakan Kyai Rais (Ikang Fawzi), seharusnya bukan di GOR, namun di depan rumah Sang Kyai. Adegan liburan ke Bandung, seharusnya Alif hanya bertiga dengan Atang dan Baso, bukan bersama seluruh anggota Shahibul Menara .. Fiuhhh ..

Jadi apakah mungkin film ini hanya terinspirasi dari novel Negeri 5 Menara saja ya ? Atau bahkan hanya kebetulan memiliki judul dan nama-nama pemain yang sama dengan novel Negeri 5 Menara ? Hadeuhhh ..

In my humble opinion, sebagai sebuah film yang mengusung tagline motivasi “Man Jadda Wajada“, yang memiliki makna “Barang siapa yang bersungguh-sungguh, dialah yang akan berhasil“, karya visual sepanjang hampir 2 jam ini kurang mengena sasaran. Saya pribadi kurang merasakan hembusan semangat “Man Jadda Wajada” disana ..

Intinya kecewa .. Ihiks .. Sorry .. :(

10 thoughts on “[Film] Negeri 5 Menara

  • March 7, 2012 at 16:11
    Permalink

    Setuju, Zah…. Napas perjuangannya kurang, dan serasa Baso yang jadi pemeran utama. Akting pemeran Baso dan Atang sih menurutku bagus ya, tapi jalan cerita filmnya memang berpotensi mengecewakan para pembaca novelnya.

    Reply
  • March 7, 2012 at 21:04
    Permalink

    @ leila : Fiuhhh .. Seharusnya kalau sudah berkomitmen membuat film yang diangkat dari novel, ya harus sejalan dengan novelnya ya .. Melenceng dikit ngga papa lah, tapi jangan sejauh ini lah ya .. :(

    Reply
  • March 9, 2012 at 12:05
    Permalink

    filmnya kayak gini lho (-__________-) *flat
    *orkes penonton yg kecewa
    *hihihiihihihi

    Reply
  • March 9, 2012 at 20:29
    Permalink

    @ sapar : Nah lho .. Tambah satu lagi yang kecewa .. Hehehehe .. 😉

    Reply
  • March 19, 2012 at 08:11
    Permalink

    haahh ??
    waaahh,, walawpun saya belum nonton film.x,, tp kecewa jg nich lw tw jalan cerita film.x bedah jauh dr cerita novel.x..
    yaahh,, padahal saya mw.x benar” persis sama di novel baik cerita.x maupun lokasi syuting.x…
    al.x kan waktu baca novel.x saya sudah berimajinasi tinggi membayangkan seru.x lokasi” yg ada.

    yaaaahhhh.. kecewa dech…
    :(

    Reply
  • March 19, 2012 at 08:51
    Permalink

    @ nur hafsa : Apa yang ada dalam tulisan ini, murni pendapat saya ya. Tidak ada maksud untuk mengajak orang lain tidak menonton film Negeri 5 Menara. Kalau masih penasaran, ya silahkan nonton sendiri .. :)

    Reply
  • May 2, 2012 at 19:01
    Permalink

    Sebenernya, Mas, film yg diadaptasi dari novel memang biasanya seperti ini. Adegan di film tidak persis plek dengan adegan di dalam film. Ada beberapa alasan. Misalnya, untuk mempersingkat jalannya cerita, atau bisa juga karena sang sutradara memiliki preferensi yg berbeda dengan novelisnya. Film Harry Potter kan juga beda sama novelnya. Bukan hanya di segi adegan, bahkan juga penokohan.

    Jadi itu udah biasa, Mas. Herannya gak usah berlebihan gitu hehe. Namanya juga “diangkat dari novel” atau “Diadaptasi dari novel”, jadi ada maksud tersirat bahwa mungkin ceritanya juga tidak sama persis dengan novelnya.

    Yah ini opini saya. Makasih 😀

    Reply
  • May 3, 2012 at 20:11
    Permalink

    @ matius teguh nugroho : Sebelum saya membalas komen Anda, perlu saya sebutkan bahwa saya ini “Mba”, bukan “Mas” .. :)

    Owkeh, itu opini Anda. Dan tulisan ini pun opini saya. Saya tidak keberatan dengan ketidakberatan Anda atas film ini, maka saya harap Anda tidak keberatan juga dengan heran saya yang berlebihan .. :)

    Toh di awal tulisan sudah saya peringatkan, bahwa tulisan ini mengandung kekecewaan, yang mungkin tidak nyaman ketika Anda baca ..

    Terima kasih sudah berkunjung ya ..

    Reply
  • May 11, 2016 at 23:18
    Permalink

    iya, mbak… memang kurang terasa. tapi masalah tempat tinggal alif di agam, filmnya benar kok.. bayur itu sebuah desa di maninjau yang terletak di kabupaten agam dekat bukittinggi, bukan padang. Soalnya saya asli bukittinggi makanya tau.

    Reply
    • May 12, 2016 at 16:17
      Permalink

      Terima kasih komentarnya, Kak, walaupun sudah agak terlalu lama dari waktu tayang filmnya. Hehehe. Anyway, salam untuk Bukittinggi, kota cantik yang pernah membuat saya jatuh cinta karena keindahan dan keramahannya .. 😉

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: