Menuai Cerita di Kabupaten Karo ..

.. Tulisan ini adalah seri ketiga
dari rangkaian catatan perjalanan saya di Sumatera Utara,
22 – 25 Maret 2012, bersama Komunitas Jejak Kaki ..

Jumat, 23 Maret 2012 ..

Pagi masih belum beranjak benar, ketika saya dan teman-teman JK’ers sudah bersiap check out dan segera meninggalkan Bukit Lawang. Hmm, berat rasanya, belum puas saya menikmati suasana tenang ala Bukit Lawang, tapi apa boleh buat, perjalanan harus dilanjutkan ..

IMG_7353

— bye, Bukit Lawang —

Tepat pukul 7 pagi, lepas sarapan, rombongan mulai bergerak. Rute yang harus ditempuh pada hari kedua ini memang cukup panjang, dari Bukit Lawang, yang terletak di Kabupaten Lahat, menuju Parapat, yang terletak di Kabupaten Simalungun. Kurang lebih 8 jam perjalanan ! Jadi ya, kalau tidak mau kemalaman sampai tepi Danau Toba itu, saya dan teman-teman JK’ers tidak boleh terlambat meninggalkan Bukit Lawang ..

Sepanjang jalan, saya lebih banyak clingak clinguk kanan kiri, melihat sekitar. Saat menuju Bukit Lawang, saya sudah terlalu banyak tidur, artinya terlalu banyak pemandangan Kabupaten Lahat, Kabupaten Binjai dan Kota Medan yang saya lewatkan. Sayang sekali, bukan ? Mengingat belum tentu dalam 3 tahun ke depan, saya bisa melewati jalur ini lagi. Hehehe .. Jalanan lumayan lancar, rombongan sempat berhenti sekali di SPBU, untuk ke kamar mandi, istirahat sejenak atau sekedar meregangkan badan ..

Nah, saat belum jauh lepas dari Kota Medan, jalanan mulai membuat senewen. Macet ! Untunglah tidak terlalu lama, ternyata penyebabnya hanya sebuah proyek perbaikan jalan. Sepele, tapi cukup membuat deg-degan .. 😉

Menjelang tengah hari, badan jalan mulai berkelok, tanda bahwa saya dan teman-teman JK’ers mulai memasuki kawasan pegunungan. Ya, persinggahan kami yang pertama adalah Berastagi, salah satu daerah tujuan wisata di Kabupaten Karo, terletak di dataran tinggi, yang merupakan bagian dari Bukit Barisan, diapit Gunung Sinabung (2460 MDPL) dan Gunung Sibayak (2212 MDPL). Sebelum benar-benar masuk Berastagi, rombongan mampir sebentar di Pondok Durian Ula Lupa. Bisa ditebak, teman-teman JK’ers sibuk pesta durian ! Sementara saya dan beberapa yang lain, cukup tersenyum-senyum melihat tingkah mereka, yang sama sekali ngga jaim, menghabisi durian-durian yang terhidang .. 😉

IMG_7368

— siap-siap mabuk durian yaaa .. —

Setelah *nyaris* mabok durian, perjalanan dilanjutkan. Berastagi sudah tak jauh lagi. Kurang dari setengah jam, saya dan teman-teman JK’ers sudah berbaur dengan keramaian khas Berastagi, yang mirip dengan kondisi di Puncak : jalanan tidak terlalu lebar, penjual makanan dan souvenir bertebaran, kendaraan lalu lalang. Hmm ..

The first pit stop adalah Green Garden Hotel, yang terletak di Jl. Peceran No. 30, Berastagi. Tujuannya bukan untuk menginap disini loh, numpang makan siang saja. Hehehe .. Sekalian istirahat, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam ..

IMG_7375

— the first pit stop —

Setelah kenyang, saya dan teman-teman JK’ers lanjut ke Pasar Buah Berastagi, yang terletak tidak jauh dari Green Garden Hotel, hanya sekitar 10 menit berkendara saja. Begitu masuk areal parkir, saya berpendapat bahwa pasar ini lebih cocok diberi nama Pasar Bunga Berastagi, karena penampakan penjual bunga jauuuhhh lebih banyak dibanding penjual buah. Selain itu, beberapa toko souvenir berdiri rancak di bagian depan pasar. Saya tidak membeli apapun disini, sekedar jalan-jalan di seputaran pasar dan jeprat jepret saja. Beberapa rekan terlihat memboyong beberapa pot tanaman hias, bagus sih, cuma saya tidak terbayang bagaimana repotnya membawa mereka pulang *dasar maleeesss !!*. Hehehe ..

IMG_7380

— areal parkir Pasar Buah Berastagi —

Tujuan selanjutnya adalah Desa Budaya Dokan, yang terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo. Waktu tempuh dari Berastagi kurang lebih 30 menit. Disana, saya dan teman-teman JK’ers menjumpai rumah adat Karo, yang telah berusia ratusan tahun, bernama Siwaluh Jabu ..

IMG_7411

— salah satu rumah adat di Desa Dokan —

IMG_7406

— Opung Raihan Ginting —

Unik, menurut saya, karena di dalam rumah yang terbuat dari kayu bulat, papan, bambu dan beratap ijuk ini tinggal 8 keluarga sekaligus ! Tambah unik, saat saya mengetahui rumah adat ini tidak memiliki ruang bersekat. Segala macam aktifitas 8 keluarga tersebut dilakukan dalam 1 atap. Petak sempit jatah tiap keluarga pun sifatnya multi fungsi : siang hari untuk ruang makan, menjalankan aktifitas harian dan sekedar duduk-duduk, malam hari untuk tidur ..

IMG_7396

— anak-anak Desa Dokan —

Masing-masing rumah adat Karo memiliki 4 tungku dapur. Karena ada 8 keluarga yang menghuni, maka setiap 1 tungku dapur tersebut digunakan oleh 2 keluarga yang mempunyai hubungan darah paling dekat. Dari beberapa referensi yang saya baca, setiap tungku dapur tersusun dari 5 buah batu, yang ternyata menggambarkan keberadaan 5 marga di dalam Suku Karo, yaitu : Ginting, Sembiring, Tarigan, Karo karo dan Parangin angin ..

IMG_7404

— kondisi bagian dalam salah satu rumah adat —

IMG_7391

— mejeng rame-rame ala JK —

Hmm, benar-benar unik ..

Setelah puas mengeksplorasi Desa Dokan, saya dan teman-teman JK’ers melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sipiso-Piso, yang terletak di Desa Tongging, Kabupaten Karo. Air terjun yang terletak 800 MDPL ini merupakan yang tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian 120 M ..

IMG_7422

— air terjun Sipiso-Piso —

Sampai di anjungan Sipiso-Piso, saya terkesima, finally sampai juga saya di tempat yang selama ini hanya bisa saya saksikan lewat televisi. Pemandangan yang terhampar benar-benar luar biasa, sebelah kanan air terjun dengan debit luar biasa deras, sebelah kiri Danau Toba membentang tenang, selebihnya tebing-tebing memagari hijaunya semak dan pepohonan. Subhanallah .. Sayang sekali, saya dan teman-teman JK’ers tidak turun ke bawah, karena keterbatasan waktu. Meskipun demikian, saya pribadi sudah cukup puas, suara gemuruh jatuhnya air dari puncak tebing terdengar jelas dari anjungan. Danau Toba pun seperti menghipnotis, mata saya tidak bisa lepas mengaguminya ..

IMG_7423

— Danau Toba dari kejauhan —

IMG_7424

— mejeng lagi, hehehe .. —

Mantap jaya !

Hari semakin menuju senja, rombongan harus bergegas bergerak lagi. Masih ada 1 perhentian yang harus disinggahi, yaitu Rumah Bolon, yang pada masa lampau merupakan istana Raja Purba beserta istri-istrinya ..

Bis bergerak meninggalkan Kabupaten Karo, hingga masuk Kabupaten Simalungun, daerah dimana Rumah Bolon berada. Begitu masuk kompleks istana, saya menangkap kesan tidak terawat. Bagaimana tidak, aspalnya tidak rata, pohon-pohon rindang membentuk semacam koridor alam, reruntuhan bangunan pun terlihat di sisi kiri jalan. Duh, sayang sekali .. Untungnya, Rumah Bolon dan beberapa bangunan adat lainnya masih tampak kokoh dan tidak kusam dimakan usia. Usut punya usut, istana Raja Purba sekarang ini menjadi tanggung jawab Yayasan Museum Simalungun. Lumayan lah, ada yang mengelola .. 😉

IMG_7468

— Rumah Bolon —

IMG_7452

— suasana kompleks Rumah Bolon —

Saya dan teman-teman JK’ers berkesempatan masuk ke Rumah Bolon. Konstruksi utamanya mirip dengan yang saya jumpai di Desa Dokan : tipe rumah panggung, berbahan baku kayu dan beratap ijuk. Bagian dalamnya pun lebih tepat disebut bangsal, los tanpa sekat, kecuali ruangan privat milik Raja. Bangsal tersebut digunakan sebagai kamar para istri Raja, sekaligus tempat diletakkannya tungku dapur. Oh ya, ada sebilah peti mati yang diletakkan di dalam bangsal, kabarnya sih, peti itulah yang digunakan untuk meletakkan jenazah setiap Raja yang meninggal .. Hiii ..

IMG_7455

— nama-nama Raja Kerajaan Purba —

IMG_7459

— peti mati —

Hari semakin gelap, saya dan teman-teman JK’ers segera meninggalkan Rumah Bolon. Parapat masih jauh, Jenderal .. Hehehe ..

Untuk menuju Parapat, yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun, kami menyusuri punggungan bukit di tepian Danau Toba. Untung saja malam sudah datang ketika saya dan teman-teman JK’ers melewati rute itu. Jalanan sempit itu super berkelok-kelok, belum lagi sebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang. Fiuuuhhh ..

Alhamdulillah, tepat pukul 9 malam, sampai juga kami di Parapat, daerah mungil di pinggiran Danau Toba. Sebelum check in di Danau Toba International Cottage Parapat, saya dan teman-teman JK’ers makan malam di Restoran Padang Silaturahim *yang saking laparnya, yang saya dengar saat itu bukan Silaturahim, tapi Shirotol Mustaqim, payahhh !!*. Entah karena lapar atau memang menu-menu di restoran itu juara, saya benar-benar menikmati makan malam itu. Habis banyaaakkk .. 😉

Setelah makan malam, tujuan selanjutnya sudah pasti ke penginapan. Saya masih tetap setia sekamar dengan Mba Elis di kamar 1325, dengan Danau Toba sebagai halaman depannya. Hahaha ..

Saatnya tiduuurrr ..

Sampai jumpa di hari ketiga .. 😉

14 thoughts on “Menuai Cerita di Kabupaten Karo ..

  • April 10, 2012 at 22:29
    Permalink

    Aku kurang puas di sipiso piso. Harus ke sana lagi kapan2!! Haha..

    Reply
  • April 11, 2012 at 13:09
    Permalink

    @ bee : Kalau ada kesempatan ke Sipiso-Piso lagi, saya mau turuuunnn .. 😉

    Reply
  • April 12, 2012 at 10:15
    Permalink

    Mac 2011 saya dgn isteri berbasikal dari Berastagi ke Parapat dan singgah di Piso-Piso. Terpesona dgn keindahan di sana, terlupa untuk ke Desa Dokan. Sampai di Malaysia, baru teringat tujuan asal ke Tanah Karo..lain kali insyaallah saya akan ke sana lagi.

    Reply
  • April 12, 2012 at 14:03
    Permalink

    @ hashim : Duh, semakin malu saja saya, lebih dulu Anda berwisata ke Sumatera Utara. Hehehehe .. 😉

    Selamat menjelajah Indonesia, Pakcik ..

    Sudah pernah ke Borobudur kah ?

    Reply
  • April 16, 2012 at 10:29
    Permalink

    huwoooo sipiso-piso ciamik ya makcik
    *kapan ya bisa ke sana
    *gak mo curhat lagi ah
    hahahaa

    Reply
  • April 16, 2012 at 10:45
    Permalink

    @ sapar : Jelas dong, Pakcik .. Sayang sekali saya ngga sempet turun ke bawah, padahal mungkin di bawah ada jodohmu ya, Par, kan bisa tak cangking balik Jawa ..

    *eh
    *kaya’ ada yang salah

    Reply
  • April 30, 2012 at 11:45
    Permalink

    jika berminat dengan budaya karo bisa mengunjungi desa lingga dekat kabanjahe, rumah adat karo disana lebih banyak drpd di dokan atau peceren 😀
    enjoy sumatera utara …

    Reply
  • May 1, 2012 at 09:51
    Permalink

    @ isnasaragih : Semoga lain waktu bisa mengunjungi Desa Lingga. Terima kasih rekomendasinya .. 😉

    Reply
  • June 17, 2012 at 16:47
    Permalink

    tulisan kamu bener2 buat tt bingung!
    kapan kamu nyatet, kapan kamu ngafalin,kok bs inget smua tuh data perjalanannya?

    Reply
  • June 18, 2012 at 07:37
    Permalink

    @ te mel : Hehehehe .. Aku nyatetnya di awang2, Te .. Pas udah sampe rumah, tinggal buka contekannya itu .. 😉

    Reply
  • July 3, 2012 at 12:12
    Permalink

    mau tanya … sweaktu menginap di Danau Toba International Cottage Parapat . Berapa harga per kamarnya ?

    Terimakasih infonya

    Reply
  • July 3, 2012 at 14:16
    Permalink

    @ ratri : Maaf, saya ikut paket perjalanannya Jejak Kaki, jadi ngga tau berapa rincian detail akomodasi selama disana .. :)

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: