Pematang Siantar, Kemudian Medan ..

.. tulisan ini adalah seri kelima
dari rangkaian catatan perjalanan saya di Sumatera Utara
22 – 25 Maret 2012, bersama Komunitas Jejak Kaki ..

IMG_7539_2

Minggu, 25 Maret 2012 ..

Pagi kedua saya terbangun di tempat yang sama, room 1325 @ Danau Toba International Cottage, Parapat. Meski tidur dengan kualitas yang cukup baik, pegal-pegal di badan tetap terasa, belum lagi, tubuh telah menghitam sempurna. Barang bukti yang tak terbantahkan, bahwa selama 4 hari belakangan saya benar-benar berpetualang menjalani liburan .. 😉

Jadwal utama hari ini adalah PULANG ! *nangis*

Fine, bukankah tujuan sebenarnya dari setiap perjalanan adalah pulang ?! Pulang ke suatu tempat yang kita sebut rumah, pulang ke suatu tempat yang memberi kita rasa nyaman. Pulang dengan kondisi jiwa raga yang lebih baik dibanding saat sebelum melakukan perjalanan, karena setiap perjalanan selayaknya memberikan pelajaran dan pengalaman positif untuk Sang Pelaku Perjalanan *tsaaahhh* ..

Lanjut ..

Saya dan teman-teman JK’ers sudah siap di resto hotel untuk sarapan, kemudian sekitar pukul 7.30, meninggalkan penginapan. Bis menanjaki punggungan bukit, dari jendelanya saya melihat Danau Toba semakin menjauh, meski tetap menghipnotis lewat permukaan tenangnya. Selamat tinggal, Parapat ..

Seperti yang saya sampaikan tadi, tujuan perjalanan hari ini adalah kembali ke Medan, namun kami akan mampir sebentar di Pematang Siantar. Kota yang terletak 128 km dari Kota Medan ini, kami tempuh sekitar 1 jam dari Parapat, dengan kondisi jalan yang baik, meski tidak terlalu lebar ..

Memasuki Pematang Siantar, saya mendapati atmosfer yang menyenangkan. Satu hal unik yang saya jumpai di kota ini, yaitu bentor alias becak motor memiliki penampakan yang agak berbeda dengan yang ada di Kota Medan. Motor yang digunakan untuk menarik becak bukan motor biasa, melainkan motor gede klasik. Hmm, menarik ..

IMG_7667

Ada 2 tempat yang akan kami singgahi di Siantar, begitulah orang-orang lokal biasa menyebut kota terbesar ke-3 di Sumatera Utara, setelah Medan dan Binjai, yaitu Roti Ganda dan Paten Shop ..

Yang pertama adalah Roti Ganda, terletak di Jalan Sutomo No. 89, Pematang Siantar. Posisinya cukup strategis, nyempil di deretan pusat keramaian Kota Siantar. Jangan khawatir tidak menemukannya, karena plang besar berwarna kuningnya cukup mencolok mata. Hehehehe .. Bagi masyarakat Sumatera Utara, Roti Ganda nyaris seperti legenda. Berdiri sejak tahun 1979 dan sanggup bertahan sampai sekarang, konsisten menjual berbagai macam roti dan selai sarikaya. Roti yang paling khas adalah Roti Ganda itu sendiri, yaitu semacam loaf dibelah 2, di dalamnya diisi krim dan butiran cokelat atau selai sarikaya. Sayangnya, waktu saya dan teman-teman JK’ers sampai disana, belum ada satupun Roti Ganda yang matang .. :(

IMG_7663

Tempat persinggahan selanjutnya adalah Toko Paten, yang terletak di Jalan Bandung No. 28, Siantar Barat, Pematang Siantar. Begitu bis masuk ke pelatarannya yang cukup luas, saya menangkap kesan vintage pada bangunan Toko Paten. Andai saja tidak ada plang nama dan kanopi besar, saya yakin, banyak wisatawan mengira tempat ini hanya rumah biasa. Sama seperti Roti Ganda, Toko Paten merupakan salah satu tempat legendaris dan khas Pematang Siantar. Bedanya, Roti Ganda menjual aneka jenis roti, Toko Paten menjual aneka macam olahan kacang dan dodol. Selain makanan ringan, Toko Paten juga menyediakan Sirup Markisa dan Sirup Terong Belanda ..

IMG_7676

Oh ya, sedikit berbagi tips ala Noerazhka, yang bisa diaplikasikan di Toko Paten .. 😉

Jenis makanan ringan yang dijual di Toko Paten cukup banyak, untuk jenis enting-enting saja ada lebih dari 5 macam, belum lagi untuk jenis dodol. Kalau uang yang dialokasikan untuk oleh-oleh cukup besar sih, tak masalah untuk membeli semuanya. Kondisi saya kemarin, uang di dompet tiris, masih ditambah pertimbangan saya tidak langsung pulang, menginap di Jakarta semalam. Ribet ! Berhubung tidak mau rugi dan melewatkan rasa makanan-makanan produksi Toko Paten, saya *tanpa rasa malu* mencomot satu demi satu tester yang disediakan di etalase. Voilaaa .. Alhasil saya bisa merasakan semua jenis enting-enting dan dodol di Toko Paten, tanpa mengeluarkan uang sepeserpun ! Cerdas, kan ?! *dancing* *silahkan ilfil ya, hahahaha ..*

Puas shopping oleh-oleh di Toko Paten, rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju Kota Medan. Masih ada sekitar 2 jam lagi, sampai saya dan teman-teman JK’ers sampai di Ibukota Provinsi Sumatera Utara itu ..

Alhamdulillah, lalu lintas cukup lancar, sampai kami memasuki Kota Medan. Sebelum city tour dimulai, saya dan teman-teman JK’ers makan siang dulu di Rumah Makan Padang ACC, yang terletak di Jalan Sisingamangaraja No. 46/48, Medan. Oh ya, satu hal yang membuat saya bersyukur saat menginjakkan kaki di Kota Medan adalah sinyal HSDPA muncul lagi di Samsung saya, setelah 3 hari belakangan raib. Hahahaha .. 😉

Setelah makan siang, demi menghemat waktu, kami buru-buru memulai city tour. Tujuan pertama adalah Graha Maria Annai Velangkani, yang terletak Jalan Sakura III No. 10, Tanjung Selamat, Medan. Bangunan bergaya Indo – Mogul *perpaduan arsitektur Islam dan Hindu dari jaman Kerajaan Mongolia kuno, memiliki kubah seperti Masjid dan memiliki undak seperti Candi* ini adalah Gereja Katholik, yang dibangun pada tahun 2001. Penggagasnya adalah Rev. Father James Bharataputra, seorang kelahiran India, yang telah mengabdi selama 34 tahun di Keuskupan Agung Medan ..

IMG_7678

Graha Maria Annai Velangkani, yang berdiri megah di atas lahan seluas 6.000 Ha ini memang istimewa. Pembangunannya jelas ditujukan sebagai tempat peribadatan bagi umat Katholik, namun pelataran, bahkan bangunan utamanya terbuka bagi penganut agama dan kepercayaan apapun. Opini sahabat saya yang tinggal di Medan, selaras dengan beberapa referensi yang saya baca, bahwa Graha Maria Annai Velangkani adalah bukti bahwa perbedaan dapat disatukan dalam kedamaian, dengan syarat masing-masing individu bersedia mengulur toleransi, pun saling menghormati ..

IMG_7680

Puas menikmati kemegahan Graha Maria Annai Velangkani, saya dan teman-teman JK’ers kembali ke pusat Kota Medan. Tujuan kami selanjutnya adalah Istana Maimoon, yang terletak di Jalan Brigjend Katamso, Medan ..

Bangunan peninggalan Kesultanan Deli ini dibangun di atas lahan seluas 4 Ha, sementara luas bangunannya sendiri kurang lebih 2.700 Meter Persegi. Sekilas, istana yang dominan berwarna kuning ini memang kental beraura Melayu, namun jangan salah, arsitektur bangunan bersejarah yang diresmikan pada tahun 1888 ini merupakan perpaduan gaya Melayu, Arab, Mengolia, India dan Eropa. Arsitektur Istana Maimoon adalah seorang Tentara KNIL, bernama Kapten Th. Van Erp, sementara pelaksana operasionalnya adalah pemborong berkewarganegaraan Italia ..

Saya sempatkan berfoto di halaman istana, kemudian baru memasukinya. Ada beberapa anak tangga, dengan prasasti batu marmer di kanan kirinya, menyambut setiap pengunjung yang datang. Kabarnya, tidak kurang 30 ruangan terdapat di dalam Istana Maimoon ini, sayang sekali, waktu kunjungan kami disini tidak banyak, hingga tidak bisa banyak mengeksplorasi. Tidak jauh dari pintu utama, terdapat sebuah singgasana megah berwarna kuning emas, berhiaskan kristal-kristal mewah. Cantiknya ..

IMG_7689

Lepas dari Istana Maimoon, saya dan teman-teman JK’ers melanjutkan kunjungan ke Masjid Raya Al-Mashun atau lebih akrab disebut Masjid Raya Medan. Terletak tidak jauh dari Istana Maimoon, hanya sekitar 200 Meter saja dan masih di Jalan Sisingamangaraja, Medan ..

IMG_7701

Desain Masjid ini mengingatkan saya pada Masjid Baiturrahman Banda Aceh. ‘Lil bit mirip. Iya ngga sih ?

Masjid Raya Al-Mashun dibangun pada masa pemerintahan Sultan Deli IX, yaitu Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam Syah, tahun 1906 dan pertama kali digunakan tahun 1909. Bentuk bangunannya cenderung sederhana, hanya berbentuk persegi berukuran 28 x 28 Meter, dengan kubah utama di tengah dan kubah pendamping di keempat sudutnya ..

Sementara teman-teman JK’ers masih sibuk mengeksplorasi sekeliling Masjid, saya dan Bee, sahabat saya, yang juga ikut dalam trip ini, berpamitan duluan. Ada “orang penting” yang harus kami temui di Nelayan Dimsum – Merdeka Walk .. 😉

Dari perempatan depan Masjid Raya, saya dan Bee naik bentor. Sengaja ! Mungkin untuk Bee, naik bentor bukan hal ajaib, karena dia memang wira wiri Banda Aceh – Medan, namun bagi saya, bentor adalah barang langka *ngakak*. Bentor yang kami tumpangi membelah Jalan Kesawan, kawasan yang dipenuhi bangunan-bangunan bersejarah dan disebut-sebut sebagai daerah tertua di Kota Medan. Menurut keterangan Bee, beberapa yang tersohor di Jalan Kesawan ini adalah Rumah Tjong A Fie dan Cafe Tip Top ..

Tidak lama kemudian, kami berdua sampai juga di Merdeka Walk, tempat nongkrong andalan anak Medan. Terletak tepat di depan Lapangan Merdeka, bersebelahan dengan Kantor Pos Besar, yang menjadi penanda Medan Nol Kilometer, juga tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Medan. Strategis sekali yaaa ..

IMG_7705

Begitu masuk area kuliner open air, saya teringat dengan atmosfir yang pernah saya rasakan di sepanjang Orchard Street, Singapore. Penuh pohon, bersih dan menyenangkan. Di salah satu kursinya, “orang penting” kami menunggu disana. Hello, Kokoh Rocha tercintahhh ..

IMG_7709

Ngobrol ngalor ngidul bertiga, sambil menikmati cepuk demi cepuk Dimsum. Ah, kalau tidak ingat punya rumah di Jawa atau paling tidak, misal pesawat bisa ditunda take off nya, saya malas beranjak dari suasana nyaman Merdeka Walk, sekaligus hawa keakraban *baca : ledek-ledekan* antara saya, Bee dan Kokoh .. 😉

Waktu sudah semakin sore, saya dan Bee harus segera meluncur kembali ke Polonia. Menunggu taksi tak kunjung tiba, yawes, bentor lagi deh. Hahahaha .. Kunjungan ke Medan tidak lengkap tanpa merasakan sensasi bentor, kan ?!

Bye bye, Kokoh .. Bye bye, Medan .. See you next time ..

Sampai di Polonia, kembali bergabung dengan teman-teman Jejak Kaki. Alhamdulillah, segala macam urusan check in dan bagasi lancar, meski akhirnya keberangkatan harus delay beberapa menit. Tak apaaa .. Penerbangan menuju Jakarta pun tidak diwarnai turbulensi yang cukup berarti, ehm, atau saya yang tidur terlalu lelap yaaa .. 😉

Akhirnya, berakhirlah petualangan kedua saya bersama Jejak Kaki kali ini. Amazing ! Bukan cuma perjalanan menyenangkan yang saya dapatkan, tapi puluhan sahabat-sahabat baru yang luar biasa. Subhanallah .. 😉

***

FYI, siapa tahu ada yang penasaran atau sekedar ingin tahu,
harga trip Sumatera Utara ini 2.345.000 IDR, exclude tiket pesawat
..

Murah mahal itu relatif, silahkan beropini,
namun saya pribadi, sih, puas setelah mengikuti 2 trip Jejak Kaki,
yaitu Trip Sumatera Barat dan Trip Sumatera Utara ini ..

11 thoughts on “Pematang Siantar, Kemudian Medan ..

  • April 23, 2012 at 23:42
    Permalink

    Kok tumben gak rame foto posting-an ini?? Tapi yang penting ada fotokuuu.. Walaupun nyempil. :p

    Reply
  • April 24, 2012 at 08:58
    Permalink

    @ bee : Kurang rame ? Coba dilihat sekali lagi deh, Bee .. Hehehehehe .. 😉

    Reply
  • April 25, 2012 at 11:35
    Permalink

    finally, ketemu lagi setelah berapa lama gak ketemu ya :))
    btw, itu koreksi dikit. Mesjid Raya itu di Jl. Sisingamangaraja juga. yg di Jl. Diponegoro itu Mesjid Agung deket Kanwil ku,za

    Reply
  • April 25, 2012 at 13:36
    Permalink

    @ kokoh : Iyaaaa, terakhir ketemu ya pas ke Sabang, Agustus 2010 itu. Masya Allah, lamanyaaa .. 😉

    Owkehhh, tengkyu ralatnya, segera dikoreksi .. *kecup*

    Reply
  • April 25, 2012 at 16:33
    Permalink

    Ha..Ha.. Lucu tuh bagian nyobain tester-nya !!! Kalo dikumpulin bisa satu kantong kali ya…

    Reply
  • April 25, 2012 at 21:07
    Permalink

    @ mas dian : Kayanya sih gitu, Mas. Hehehehe .. Pokoknya aku udah cukup puas lah icip2nya itu, gratis !

    😉

    Reply
  • May 1, 2012 at 15:46
    Permalink

    kok jd pengin ke medan jg ya
    *uwong kok pengenan yo
    *hihihihi

    eh kok g ada foto ala ab three sih di merdeka walk, pasti kokoh langsung milih jd nola-nya
    hihihihi

    Reply
  • May 1, 2012 at 15:57
    Permalink

    @ sapar : Aku masih mau loh ke Medan lagi .. Hihihihi ..

    Hush ! Bukan AB Three yooo, Rida Sita Dewi .. 😉

    Reply
  • May 30, 2012 at 21:14
    Permalink

    Bukan Bentor Mas tapi Betor, singkatan dari becak bermotor
    Itu motor bekas dari penjajah Belanda.
    Spare part nya saja kagak ada jual lagi.
    Kalau pistonnya rusak, mereka ganti pake piston mobil.

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: