Never Ending, Yogya !

Long weekend awal April 2012 lalu, tidak saya biarkan berlalu begitu saja ..

Berawal dari saling mensyen di Twitter, sepakatlah saya, Aga aka. @agabluenight dan Rifqy aka. @rifqybroody menjelajah salah satu wajah DIY, yaitu Pantai Ngrenehan. Setelah itu hendak kemana lagi, jujur, kami tidak punya bayangan .. *ngakak*

IMG_7878

Sabtu, 7 April 2012 ..

Belum lepas pukul 8 pagi, saat saya dan Dini, adik ipar saya, meluncur ke Terminal Bis Soekarno-Hatta, Magelang. Kemudian, via Bis Eka jurusan Magelang – Surabaya, kami berdua menuju Yogya, Terminal Bis Giwangan, Yogya, lebih tepatnya. Spot tersebut, memang saya, Aga dan Rifqy sepakati sebagai meeting point. Saya dan Dini sempat mengganjal perut dengan semangkuk soto ayam, sebelum Aga dan Rifqy muncul bersama Si Silvy Jazzy ..

Yak, kami pun langsung mengarah ke  Kabupaten Gunung Kidul, tujuan pertama tetap Pantai Ngrenehan, yang terletak kurang lebih 30 km dari Wonosari. Jauh memang, namun tidak sulit menjangkaunya. Sebelum memasuki pusat keramaian Wonosari, kami melewati lapangan super luas, yang kabarnya akan menjadi bandara pengganti Adi Soetjipto. Nah, tidak jauh dari lapangan tersebut, ada jalan simpang semacam huruf Y, ambil saja simpang yang kanan. Ikuti saja jalan itu, plang penunjuk arah terlihat jelas kok .. Dont worry !

Oh ya, di pertigaan Sambipitu, Sosro, salah satu sahabat kami, bergabung dalam perjalanan itu ..

Jalanan semakin sempit dan sepi saat mendekati bibir pantai, beberapa petak kebun kacang mewarnai kiri kanan badan jalan. Alhamdulillah, cuaca cukup cerah siang itu. Sip ! Kami melewati sebuah pos penjagaan mungil, disana pengunjung ditarik retribusi yang tidak mahal dan berlaku untuk beberapa spot pantai *sayangnya, saya lupa berapa nominalnya* ..

Plang menunjukkan bahwa kami telah sampai di Pantai Ngrenehan, yang terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Saya sempat heran, kok ‘gini doang ? Ya, hanya ada bangunan kusam, yang ternyata adalah bagian dari Tempat Pelelangan Ikan. Bau amis cukup menyengat indera penciuman saya dan setelah sedikit berjalan, terpaku lah saya pada pemandangan spektakuler yang selama ini hanya bisa saya lihat via blog orang-orang. Itulah, Pantai Ngrenehan !

IMG_7774

Sebuah pantai dengan penampang pasir landai yang tidak terlalu lebar, terapit dua batu karang super kokoh di kanan kirinya, hingga menyerupai pintu gerbang. Hal itulah yang membuat gelombang Samudera Hindia tidak langsung menghempas hamparan pasir putih yang dimiliki Ngrenehan. Batu karang berwarna kecokelatan, serta hijau tumbuhan yang menempel padanya, kemudian laut yang tosca, langit membiru bening, bentangan pasir berbutir lembut, plus hiruk pikuk nelayan yang belum lama pulang melaut dan tengah berkutat dengan perahu dan jaringnya. Sungguh, perpaduan yang fantastik ..

Saya menikmatinya ..

Sesekali kami membiarkan jari-jari kaki terjilat sisa-sisa gelombang, yang telah bercampur bulir pasir, kemudian juga heboh berpose aneka rupa untuk diabadikan dengan kamera. Hanya ada 1 rombongan lain, selain kami, yang sama-sama asyik menyatu dengan harmoni ala pantai Selatan. Ah, ternyata keindahan Ngrenehan belum terlalu sanggup mengundang banyak tamu untuk mengunjunginya ..

Selanjutnya, kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Ngobaran, yang terletak tidak jauh dari Ngrenehan. Di Ngobaran pula lah, kami putuskan untuk makan siang, karena menu ikan bakar ala Ngrenehan yang terkenal, tidak berhasil kami temukan ..

IMG_7818

Berbeda tipe dengan Ngrenehan, Ngobaran memiliki garis pantai yang jauh lebih panjang, meski sama-sama diapit oleh terjalnya batu-batu karang. Sebelum benar-benar memasuki atmosfer pantai, kami menjumpai deretan warung makan dan bau ikan bakar. Di sebelah kiri warung-warung tersebut, terdapat sebuah kompleks tempat peribadatan. Menurut saya, spot ini unik dan mewakili bentuk multikulturalisme yang sukses ..

Beberapa patung-patung dewa berdiri kokoh di bagian tengah, kemudian bangunan berbentuk Joglo, yang konon dijadikan tempat para penganut kepercayaan Kejawen bermeditasi. Selain 2 hal tersebut, dalam kompleks tersebut terdapat juga sebuah Masjid sederhana dan bangunan Pura. Tidak banyak informasi yang saya dapatkan mengenai kompleks tempat peribadatan tersebut, baik tentang sejarah berdirinya, maupun latar belakang pembangunannya ..

Berjalan sedikit ke arah belakang deretan warung, kami menjumpai susunan anak tangga, yang ternyata membawa kami ke sebuah bukit mungil. Dari puncaknya, kami dapat melihat dahsyatnya gelombang Samudera Hindia menghantam batu karang, yang seolah tak pernah gentar. Lagi-lagi, saya menyaksikan perpaduan warna-warna bentukan alam yang menakjubkan .. Subhanallah ..

Lepas mengeksplorasi bukit, kami melanjutkan ke arah bentangan pasir dan tebaran algae *rumput laut* ala Ngobaran. Sayangnya, panas matahari terlalu menyengat, hingga saya memilih untuk ngadem di salah satu gubug yang berdiri sederhana di pinggiran pantai. Sementara Aga dan Sosro sibuk berjalan bertelanjang kaki sampai ujung karang sebelah kanan ..

Mendadak langit biru berubah kelabu !

Kami putuskan untuk meninggalkan area pantai dan kembali ke deretan warung-warung di dekat area parkir. Time to luncheon, Brader .. Tapi ternyata laparnya kami tidak berbanding lurus dengan waktu penyajian, yang amat sangat lama sekali. Nyaris 90 menit, waktu yang dibutuhkan Si Empunya Warung untuk menghidangkan menu ikan bakar yang kami pesan. Hiks hiks .. :(

Akibat dari lamanya menunggu menu makan siang, kami gagal mengunjungi Air Terjun Sri Gethuk, yang terletak diantara Ngrenehan-Ngobaran dan Wonosari. Kesorean ! Someday, I will ..

Perjalanan pulang kami kembali ke Yogya, diwarnai guyuran hujan yang cukup deras. Ditambah jalanan yang mulai padat, mungkin muda mudi Gunung Kidul hendak bermalam Minggu di Kota Yogya ya .. Hehehehe ..

Sebelum melanjutkan plesiran Sabtu malam, kami menuju ke Wisma Nendra, yang terletak di Jalan Dr. Soetomo No. 20, Yogya, tempat saya dan Dini menginap. Yups, saya check in dan meletakkan barang-barang bawaan. Saya memperoleh informasi tentang penginapan ini dari YOGYES, sebuah tourism portal milik Provinsi DIY. Jujur, saya agak tertipu dengan foto-foto Wisma Nendra yang ditampilkan oleh YOGYES, yang terlihat terang benderang dan menyenangkan, karena kenyataannya tidak begitu. Jelek sih tidak, kotor pun bukan, tapi suram, ‘lil bit mengerikan. Untung berdua dengan Dini .. *nangis*

Lanjut ..

Agak melipir ke arah Utara, kami berniat untuk makan malam di JeJamuran, sebuah resto dengan menu all about mushroom, yang terletak di Niron, Pandowoharjo, Sleman. Dan benar, menu yang disediakan oleh tempat makan yang selalu ramai dikunjungi tamu, meski letaknya cukup dari kota ini, sebagian besar berbahan dasar JAMUR ! Kami memesan beberapa menu, yaitu Sate Jamur, Jamur Tepung Asam Manis, Dadar Jamur, Sop Jamur dan Jamur Bakar. Rasanya ?? Mantap !! 😉

IMG_7838

Oh ya, kalau berniat makan di JeJamuran, jangan terlalu malam yaaa .. Kabarnya, resto yang satu ini tutup pukul 9 malam, sekalipun malam Minggu atau musim liburan ..

Selesai makan malam, kok ternyata masih terlalu sore untuk pulang ke penginapan. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke Taman Pelangi, sebuah objek wisata baru, yang berada di dalam kompleks Monumen Yogya Kembali, Jalan Ring Road Utara, Yogya. Konsep taman ini miriiippp sekali dengan salah satu wahana Taman Lampion milik Batu Night Spectacular (BNS). Yups, aneka rupa lampion warna warni di sepanjang track-nya. Menarik, walaupun masih terasa kurang greget jika dibandingkan dengan BNS ..

Menjelang pukul 10 malam, dengan mata mulai terkantuk, kami meluncur pulang. Batal lagi keinginan foto-foto di Tugu Yogya, badan sudah terlalu lelah, agak keterlaluan jika memaksakan diri. Jadilah, saya dan Dini klipuk di penginapan, sementara Aga terkapar di kosan Rifqy ..

Sampai jumpa keesokan paginya, Guys .. Selamat istirahat ..

Minggu, 8 April 2012 ..

Alhamdulillah, semalaman bisa tidur nyenyak, meskipun agak kedinginan gara2 AC yang kurang bersahabat. Saya dan Dini siap-siap check out dan menunggu dijemput Aga & Rifqy untuk kembali menyusuri pinggiran Yogya. Oh ya, karena menu breakfast yang disediakan oleh manajemen Wisma Nendra kurang nendang, akhirnya saya dan Dini sempat nyemil Bubur Ayam yang gerobag jualannya persis di sebelah penginapan. Hehehe ..

Sekitar pukul 9 pagi, Si Silvy Jazzy sudah nangkring manis di depan Wisma Nendra, menjemput saya dan Dini. Ahoooyyy ..

Awalnya kami ingin memantai lagi, kali ini ke Pantai Parangkusumo, yang terkenal dengan gumuk pasirnya. Namun, mengingat keterbatasan waktu, akhirnya kami banting stir, beralih ke arah Imogiri saja. Yups, Bantul, we’re coming .. 😉

Tujuan pertama adalah kulineran di Mangut Lele Mbah Marto ..

IMG_20120508_221014

Tempat makan legendaris ini terletak di Dusun Geneng, Sewon, Bantul. Jangan membayangkan warung makan dengan deretan meja kursi yang disusun khusus yaaa. Karena Mbah Marto hanya menyediakan rumahnya yang sederhana, lengkap dengan dapur tradisional, untuk menyambut setiap orang yang berminat merasakan mangut lele maknyus nya ..

Tidak terlalu sulit mencari lokasi nyempil nya ..

Runuti saja Jalan Parangtritis, sampai ketemu Institut Seni Indonesia (ISI). Tidak jauh dari kampus tersebut, di kiri jalan ada Kantor Pos Sewon, nah, berbeloklah ke kanan, masuk gang yang ada tepat di depannya. Susuri jalan kampung, kalau bingung, tanya saja pada masyarakat sekitar, dijamin tahu .. 😉

Eh, serius deh ya, mangut lele buatan Mbah Marto benar-benar juara ! Murah pula, makan berempat dengan porsi kuli, kami cuma harus mengeluarkan uang kurang dari 60K IDR saja. Si Aga masih penasaran dengan olahan ayam kampung yang saat itu terlihat masih mengepul panas-panas, yummy .. Suasana tenang, khas rumah di pedesaan, plus dapur konvensional dengan tungku kayu, menambah mantap aura wisata kulineran kami pagi itu. Benar-benar recommended menu to eat deh !

Kenyang makan lele, kami segera meluncur ke Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, yang terletak di Imogiri, Bantul. Jujur ya, tempat ini adalah salah satu tujuan yang saya impikan untuk saya kunjungi sejak jaman SD dulu. Alhamdulillah yah, sekarang keturutan .. Hehehe ..

Dari tempat parkir, kami hanya perlu sedikit berjalan, sekitar 250 meter, untuk sampai di anak tangga menuju kompleks makam. Sebelum menaiki anak tangga yang menjulang tinggi itu, kami menjumpai pendopo Joglo di sebelah kanan dan Masjid mungil di sebelah kiri. Saya agak keder melihat susunan anak tangga yang begitu banyak, tinggi sekali ! Bahkan gerbang kompleks pemakaman tidak terlihat dari bawah, saking jauhnya dan saking tingginya ..

IMG_20120408_115803

Bukit Imogiri terletak di ketinggian 409 mdpl, disana bersemayam jasad Sultan Agung dan 23 keturunannya. Terbagi menjadi 8 kelompok makam, yaitu Kasultanan Agungan, Paku Buwanan, Kasuwargan Yogyakarta, Besiyaran Yogyakarta, Saptorenggo Yogyakarta, Kasuwargan Surakarta, Kapingsangan Surakarta dan Girimulya Surakarta. Telah menjadi rahasia umum bahwa tempat ini memang dikeramatkan, tidak semua orang dapat masuk dan berlaku sembarangan disana ..

IMG_7913

Kompleks makam dapat dikunjungi dengan beberapa syarat ketat, baik laki-laki maupun perempuan, harus berganti baju dengan pakaian ala khas Jawa, tidak boleh beralas kaki, melepas seluruh perhiasan emas dan tidak membawa kamera. Nah, saya cuma bisa merengut, karena saya tidak mungkin bisa masuk ke dalam kompleks makam, lha pakaian Jawanya bukan kebaya, tapi model kemben, plus harus lepas kerudung pula. Bagaimana bisaaa .. *nangis*

Oh ya, di depan gerbang kompleks makam terdapat 4 gentong *biasa disebut juga Padhasan*, yang merupakan hadiah dari kerajaan sahabat kepada Sultan Agung. Gentong-gentong tersebut adalah Nyai Siyem (dari Kerajaan Siam), Kyai Mendung (dari Kerajaan Rum/Turki), Kyai Danumaya (dari Kerajaan Aceh) dan Kyai Danumurti (dari Kerajaan Palembang). Masing-masing gentong berisi air yang dipercaya memiliki khasiat, karena itulah banyak peziarah yang mengambil air tersebut, baik untuk diminum di tempat dan dibawa pulang ..

Setelah sempat istirahat sejenak di depan gerbang kompleks pemakaman, kami pun kembali turun dan mampir minum Wedang Uwuh di warung yang berderet di depan pintu masuk. Minuman khas Imogiri, yang menggunakan gula batu sebagai pemanisnya ini cukup nikmat dihirup panas-panas, menyamankan badan yang baru saja dipaksa mendaki ratusan anak tangga menuju gerbang kompleks pemakaman .. Slurppp !

Tujuan selanjutnya adalah makan siang di Sate Klathak Pak Pong, yang berlokasi di Jalan Imogiri Timur. Hujan sudah turun cukup deras, ketika kami sampai di warung makan berpengunjung ramai tersebut. Sedikit berlarian untuk menuju ke dalam, pun kesulitan mendapat tempat duduk. Fiuhhh ..

IMG_20120408_135624

Yang membuat Sate Klathak unik adalah tusuk yang digunakan untuk menyusun potongan daging kambing mudanya, yaitu jeruji sepeda dan bermaterial besi. Selain itu, sate ini disajikan dengan semacam kuah gulai, plus sambal kecap, lengkap dengan potongan bawang merah diatasnya. Mantap jaya ! Saya yang biasanya tidak terlalu doyan daging kambing pun, dengan ringan hati menghabiskannya .. Hahaha ..

Hujan turun semakin deras, saat kami menyusuri jalan untuk menuju ke Terminal Jombor, Yogya. Yak, waktunya saya dan Dini untuk pulang ke Magelang, sementara Aga masih sedikit punya waktu lebih, karena bis menuju Surabaya baru bertolak lepas senja. Thanks for this simple trip, Guys .. Yogya selalu memberi kesan berbeda di setiap kunjungan. Tidak ada kata henti untuk menjelajah Yogya, setiap sudutnya menawarkan keunikan yang tidak biasa. Jadi sepakat dong ya, never ending, Yogya ?!

***

9 thoughts on “Never Ending, Yogya !

  • May 10, 2012 at 15:36
    Permalink

    wah pas bgt deh, kmrin aku bikin postingan yg dua dischedule buat minggu depan dgn judul ‘berburu pantai di jogja’ dr kulonprogo, bantul dan gunungkidul, trus salah tiganya wishlist-e pgn ke ngobaran itu, eh ternyata liat ini pantai ngrenehan jg keren, jd 4 deh gabung sama indrayanti sama timang utk dijelajahi.

    trus, imogiri iku aq jg blm pernah ke sana ;(
    jogja aja ternyata blm khatam yo
    hahahhahaha

    Reply
  • May 10, 2012 at 15:38
    Permalink

    eh btw di jejamuran km g motoin SAPARrela?
    kata mba ria yg komen di blog ku ada minuman itu di jejamuran
    😉

    Reply
  • May 10, 2012 at 22:26
    Permalink

    @ sapar : Aaakkk .. Mau dong ikut yang Indrayanti & Timangnya ! Tahun lalu, Indrayanti masih ditutup, paska sengketa itu .. Huhuhuhuhu ..

    Yups, banyak banget yang masih bisa kita eksplor di Provinsi DIY. Jangan capek yaaa .. Never ending ! 😉

    Reply
  • May 11, 2012 at 18:21
    Permalink

    Pengen manguuuutttt.. Ning kene ora onooooo.. *mendadak homesick*

    Reply
  • May 31, 2012 at 15:40
    Permalink

    wow, indah sekali pantainya..

    saya ingin sekali ke gunungkidul tetapi sayangnya setiap kali ke Jogja impian saya itu terkubur..busy melihat sisi lain jogja huhuhu

    *salam perkenalan dari saya…

    Reply
  • May 31, 2012 at 19:42
    Permalink

    @ zilla : Salam kenal juga, Zilla, terima kasih udah berkunjung .. 😉

    Ngrenehan dan Ngobaran cuma 2 dari puluhan pantai2 karang super indah di Gunung Kidul lho, Zilla. Jadi, bersegeralah sisihkan waktu untuk menjelajahnya .. Hehehe .. 😉

    Reply
  • June 4, 2012 at 07:36
    Permalink

    hehehe..baru aje pulang dari Jogja ini, I’Allah next year sure kembali. this time mahu explore Gunungkidul pula :)

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: