Finally : Waisak 2556 BE/2012 !

Sama sekali tidak terpikirkan di benak saya, bila akhirnya bisa mengikuti prosesi agung Waisak 2556 BE/2012. Terus terang, saya sempat mutung, karena beberapa tahun lalu sempat gagal berbaur dalam kekhidmatan hari raya umat Budha ini. Sampai di suatu malam, serentet BBM dari Mba Eva, tour leader Trip Sumatera Utara saya. Intinya mengajak, apakah saya bersedia bergabung dalam rombongannya untuk mengikuti prosesi agung Waisak 2556 BE/2012 ?

IMG_8288

Wow ! Saya iyakan ajakan itu, tanpa berpikir 2 kali .. 😉

Dan sampailah saya, juga rombongan Mba Eva, pada hari itu : Sabtu, 5 Mei 2012 ..

Sebenarnya rencana awal, rombongan Mba Eva sampai di Magelang pada Sabtu dini hari, tapi karena harus beberapa kali berhenti dan beristirahat, mereka baru masuk Magelang menjelang siang ..

Lepas Maghrib, saya janji ketemuan di depan Gereja St. Ignatius, Jalan Yos Sudarso, Magelang. Menunggu sebentar, sampai rombongan Mba Eva selesai misa. Disanalah saya kenalan dengan rombongan *selain Mba Eva, tentunya* : Forend *adeknya Mba Eva*, Bang Jeff *another dedengkot JK* dan Om Desi *tanpa Ratnasari, sang driver andalan, yang punya hobi masak air, hehehe ..*. Horeee, teman baru lagi !

Pas banget, begitu saya masuk mobil, Magelang diguyur hujan cukup deras. Daripada bingung harus isi perut dimana, langsung saya bawa mereka ke arah Sleman : JeJamuran ! All about mushroom, yummy .. Resto ini terletak di Niron, Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta, 55512, (0274) 868170. Tidak terlalu sulit dicari kok, dari arah Magelang, berbeloklah kiri di perempatan Beran Lor. Nah, kurang lebih 500 meter dari perempatan itulah JeJamuran berada, kiri jalan, didahului dengan pelataran parkirnya yang cukup luas ..

Kenyang makan menu jamur-jamuran, kami kembali ke penginapan : Pondok Tingal, Jalan Balaputradewa 32, Brojonalan, Borobudur, Magelang, (0293) 788145. Hotel berarsitektur Jawa dan Bugis ini terletak kurang dari 1 km dari Candi Borobudur. Pun, tidak jauh dari persimpangan Candi Mendut. Jadi menurut saya, penginapan ini cukup ideal bagi siapa-siapa yang hendak mengikuti prosesi Waisak pada setiap tahunnya, berada di antara 2 candi yang menjadi pusat dilaksanakannya ritual-ritual utama. Jalanan depan penginapan pun dijadikan rute kirab perarakan. Komplit, bukan ?

Menjelang istirahat malam, bergabung 1 teman lagi, dialah Mas Lanang. Salam kenal .. 😉

Minggu, 6 Mei 2012 ..

Hmm, Minggu ini akan menjadi hari yang sibuk bagi kami. Diawali saat matahari pun belum menampakkan diri, sekitar pukul 4.30, saya dan teman-teman sudah bersiap menuju Punthuk Setumbu, yang terletak di Desa Karangrejo, Kec. Borobudur, Kab. Magelang, sekitar 4 km dari Candi Borobudur. Bukit ini, oleh banyak fotografer ditasbihkan sebagai Borobudur Nirvana Sunrise. Di bukit itulah, pagi menyajikan sebuah kolaborasi menakjubkan : Borobudur, perbukitan dan lapisan kabut ! Semoga Anda beruntung, tidak seperti kami, setelah perjalanan cukup melelahkan menuju puncak punthuk setinggi kurang lebih 500 mdpl ini, ternyata kabut turun terlalu tebal. Siluet candi sempat muncul sesaat, kemudian menghilang ditelan putih yang misty .. :(

Tidak sulit menemukan Punthuk Setumbu. Berkendaralah ke arah Barat Candi Borobudur, ancer-ancernya pintu masuk 7 kompleks candi atau Hotel Manohara. Ikuti jalan sampai ketemu pertigaan, kalau lurus menuju Hotel Amanjiwo, nah, Punthuk Setumbu yang belok kanan. Jangan khawatir, plang penanda cukup jelas terpampang hingga kaki bukit kok ..

Dari kaki bukit, kami masih harus berjalan sekitar 15-30 menit dengan track yang tidak terlalu terjal. Beruntungnya kami, malam hari sebelumnya hujan turun cukup deras, sehingga jalur pendakian yang seharusnya tidak terlalu berat, mendadak licin dan penuh lumpur. Harus ekstra hati-hati, karena suasana masih gelap dan penerangan di sepanjang perjalanan tidak terlalu memadai. Sampai di puncak, saya mendapati sepelataran dengan beberapa rumah peneduh diatasnya. Puncak Setumbu berfungsi seperti beranda, dengan siluet Candi Borobudur, yang tampak mungil di kejauhan, diantaranya adalah bukit dan kabut yang membentuk layer. Istimewa, meski tidak lama, karena kabut keburu menyelimuti pemandangan misterius itu lagi ..

Mungkin, kami yang berangkat dari Pondok Tingal pukul 4.30 masih dibilang kesiangan, karena di atas sudah riuh dengan para fotografer handal dan sekedar pejalan, yang sama-sama ingin hunting sunrise ala Punthuk Setumbu. Jadi, berangkatlah sedikit lebih dini, agar mendapatkan tempat ideal di teras Setumbu. Pilihlah bulan-bulan pertengahan tahun, kabarnya kabut tidak terlalu tebal pada waktu-waktu tersebut ..

Sekitar pukul 7 pagi, kami kembali ke penginapan. Sekedar mandi dan segera menunaikan tujuan selanjutnya. Saya, Mba Eva dan Forend melipir ke Candi Mendut untuk mengikuti detik-detik Waisak 2556 BE/2012, sementara Mas Lanang dan Bang Jeff meluncur ke Candi Borobudur ..

Candi Mendut telah dipenuhi umat Budha, saat kami sampai. Masyarakat umum pun terlihat di banyak sudut pelataran candi, semua tumpah ruah ingin menjadi saksi jalannya prosesi sakral umat Budha : Waisak ..

IMG_8194

Beberapa rangkaian seremonial puja bakti telah digelar pada hari sebelumnya. Seperti pengambilan air berkah di Umbul Jumprit, Kec. Ngadirejo, Kab. Temanggung, pada hari Jumat 4 Mei 2012 dan pengambilan api Dhamma di api abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Kec. Godong, Kab. Grobogan, pada hari Sabtu, 5 Mei 2012. Keduanya telah disemayamkan di altar Candi Mendut pada Sabtu malam ..

Detik-detik Waisak 2556 BE/2012 jatuh pada pukul 10.39.49 ..

Menjelangnya, altar sudah sedemikian khidmat. Bhiksu perwakilan dari masing-masing majelis bergantian membacakan paritta dan mantra. Dilanjutkan dengan pemberian Dhammadesana oleh Bhikku Wongsin Labhiko Mahathera, sampai beberapa saat sebelum pelaksanaan meditasi detik-detik Waisak. Pemukulan gong mengawali meditasi tersebut, hingga pelataran Candi Mendut begitu riuh syahdu dengan gumaman-gumaman doa yang terlantun perlahan dari para umat Budha. Sekitar 10 menit kemudian, meditasi detik-detik Waisak selesai. Dhammadesana berikutnya diberikan oleh Bhiksu Tadisa Paramita Mahasthavira dengan tema Waisak 2556 BE/2012 yaitu “Meningkatkan Metta dan Karuna“, dimana Metta adalah cinta kasih yang memberikan kebahagiaan pada makhluk lain, sementara Karuna adalah welas asih yang dapat menyelamatkan umat ..

IMG_8206

Selepas prosesi tersebut, saya, Mba Eva dan Forend kembali ke Pondok Tingal. Memutuskan untuk menunggu kirab perarakan di depan penginapan saja, sekalian bisa sejenak beristirahat. Saya dan Mba Eva sempat ketiduran di pendopo Pondok Tingal, saat menunggu Bang Jeff dan Mas Lanang, yang belum pulang dari Candi Borobudur, juga Forend yang mendadak mlencing entah kemana. Ketiduran ini, sungguh, dudul sekali. Hehehehe .. 😉

IMG_8241

Sekitar pukul 1, rombongan arak-arakan melintas di Jalan Balaputradewa. Air berkah, api Dhamma dan relik Sang Budha dibawa serta dalam kirab tersebut, dikawal oleh para Bhikku, Bhiksu/ni dan pemuda Budha. Menarik, masyarakat umum pun berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi napak tilas tersebut. Sayangnya, di tengah-tengah prosesi, hujan turun dengan sangat deras. Saya dan teman-teman terpaksa menepi dan berteduh, sementara rombongan tetap teguh melanjutkan perjalanan hingga nanti sampai di Candi Borobudur ..

Hujan masih tetap turun hingga sore ..

Sempat bingung, bagaimana cara bisa mengikuti prosesi selanjutnya di Candi Borobudur kalau kondisi cuaca tetap seperti ini. Akhirnya kami berkeras tetap berangkat, beruntung, sudah mulai hanya gerimis yang turun. Awalnya, saya dan teman-teman berniat jalan kaki sampai kompleks candi, namun menyerah saat melihat andong lewat. Yuk marilah, menyiksa kuda dengan memberinya beban super berat ini .. Hehehehe ..

Pintu masuk kompleks candi yang dibuka hanya 1, yaitu pintu 7, dari sanalah kita masuk dan berjalan di tengah gerimis menuju pelataran Candi Borobudur, dimana altar utama digelar. Dan disana saya terkesima, stupa-stupa Borobudur telah bermandikan cahaya yang disusun sedemikian rupa, sementara altar raksasa membentang di hadapannya. Keren !

IMG_8272

Kami sempat menunggu beberapa saat sampai prosesi Pradaksina ditunaikan oleh para Bhikku, Bhiksu/ni dan umat Budha. Pradaksina adalah ritual mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 kali putaran, sambil membawa lilin dan melakukan meditasi. Setelahnya, inilah yang ditunggu-tunggu : Pelepasan 1000 Lampion, yang telah menjadi tradisi Waisak di Candi Borobudur beberapa tahun terakhir. Langit diatas candi yang sudah menghitam menjadi begitu spektakuler saat satu demi satu lampion mengangkasa, saya sempat terpukau dibuatnya, sekaligus antara percaya tak percaya, bahwa akhirnya saya bisa melihat prosesi ini dengan mata kepala ..

IMG_8361

IMG_8368

IMG_8370

Akhirnya, lepas pukul 11 malam, rangkaian acara Waisak 2556 BE/2012 dinyatakan selesai. Kami pun kembali ke Pondok Tingal dengan kesan mendalam tentang istimewanya seluruh prosesi ini. Ah, jadi ketagihan ! Tahun depan datang lagi yaaa .. 😉

***

Tips Waisakan :

1. Siapkan payung, jas hujan, cover bag atau apapun lah yang bisa melindungi kita dan barang bawaan kalau hujan tiba-tiba datang. Kalau perlu, sewa pawang hujan yang banyak, hehehe .. Ngga dink, banyak-banyak berdoa saja, semoga hujan ngga turun pas prosesi. Sedikit banyak, hujan pas prosesi itu gengges euy ..

2. Bagi yang bukan orang Magelang, booking penginapan jauh-jauh hari, apalagi kalau berminat bermalam di Pondok Tingal. Hotel-hotel itu mendadak penuh menjelang Waisakan. Sukur-sukur ada tebengan rumah teman, dijamin ada tempat, gratis pula .. 😉

3. Menjelang detik-detik Waisak di Candi Mendut hingga prosesi di Candi Borobudur, banyak jalan raya ditutup bagi akses mobil pribadi. Jadi monggo memilih mau memanfaatkan ojek atau andong sebagai sarana transportasi. Tapi kalau memang dompet tiris, jalan kaki kemana-mana juga ngga seberapa jauh kok, palingan gempor sedikit .. 😉

4. Bagi yang niat hunting foto, bawa lensa wide dan tripod, biar hasilnya maksimal. Trus, TOLONG BANGET, seluruh rangkaian acara Waisakan ini adalah proses peribadatan bagi umat Budha. Kalau ambil gambar ya PAKAI ETIKA, sebisa mungkin jangan pakai blitz atau apapun yang bisa mengganggu kekhusyukan mereka beribadah. Jangan atas namakan karya, hingga bisa seenaknya jeprat jepret di depan hidung Bhikku atau Bhiksu/ni ..

14 thoughts on “Finally : Waisak 2556 BE/2012 !

  • May 23, 2012 at 07:49
    Permalink

    yen mrono tahun depan numpang nang omahe bapake eko, ah
    tinggal sekali ngesot tekan halaman borobudur
    hihihihi

    fufufu …. pgn ikutan nerbangin lampion, deh
    *efek arisan!2*
    *turis mainstream, deh*
    hahahhaaa

    Reply
  • May 23, 2012 at 08:31
    Permalink

    waa, menarik – menarik! saya kemaren sebenernya pengen ngeliat juga, tapi harinya bener – bener gak pas, n kerjaan ga bisa di kompromi -_-“

    Reply
  • May 23, 2012 at 10:34
    Permalink

    @ sapar : Eh, Eko siapa ?? Kenalan dong, biar aku bisa iku nebeng juga, gratisan .. 😉

    @ fahmi : Thanks udah berkunjung ! Tahun depan wajib mengosongkan waktu yaaa .. 😉

    Reply
  • May 23, 2012 at 12:14
    Permalink

    eko unyil arek magelang iku lho, tp saiki nang semarang kerjone.
    omahe kan nang samping borobudur 😉

    Reply
  • May 23, 2012 at 15:04
    Permalink

    @ sapar : Haduh haduh haduh .. Yang mana ya ?! Malu ah, masa sesama anak Magelang ngga paham .. Bhihihihik ..

    Reply
  • May 24, 2012 at 22:18
    Permalink

    Denger2 perayaan Waisak di Kek Lok Si juga meriah lho mbak.. *galau pilih Borobudur apa Kek Lok Si buat taun depan*

    Reply
  • May 25, 2012 at 08:05
    Permalink

    @ bee : Iya, kemaren denger cerita dari penjual di Kek Lok Sie, katanya pas Waisak, Kek Lok Sie bermandi cahaya lampu. Hmm, tapi kalo saya masih prefer Borobudur lah .. Hehehehe .. 😉

    Reply
  • June 4, 2012 at 14:54
    Permalink

    Haduh, itu foto lampion-lampion beterbangannya…syahdu banget. Pasti rame banget ya kemarin? apalagi sejak film Arisan itu loh, banyak banget temenku yang kesana.

    Yang sepi di mana ya?
    *browsing tiket ke Luang Prabang*

    Reply
  • June 4, 2012 at 20:09
    Permalink

    @ kokoh : Iya, ramenya ngga nguatin, Koh. Rebutan momen ngga karuan. Tapi tetep asoooyyy ..

    *googling Luang Prabang*

    Reply
  • June 7, 2012 at 22:58
    Permalink

    Ya mbak e lebih murah ke Borobudur sih.. Sini kan lebih murah ke Kek Lok Si transportasinya.. :p

    Reply
  • June 8, 2012 at 15:11
    Permalink

    @ bee : Tapi saya masih mau kok ke Kek Lok Sie lagiii .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: