[Malaysia] Suka-Suka Melaka (1) ..

Melaka .. Malaka .. Melacca ..

Sebutan mana yang benar bagi kota mungil yang berada di Pantai Barat Daya Semenanjung Melayu ini ? Uncle penarik becak hias yang saya temui di depan Dutch Square menjawab, “Suka-suka lah !“, lalu tertawa ramah. Ya, inilah tempat perhentian saya selanjutnya setelah 5 hari sebelumnya kelayapan di Singapore, Hanoi dan Ha Long Bay : Melaka, The World Heritage City milik Malaysia, selain Georgetown, Pulau Penang ..

53

Senin, 19 November 2012 ..

Usai Subuh, saya meninggalkan Changi International Airport di Singapore, via MRT ke Nichole Highway Station. Tujuan saya adalah Golden Mile Complex, dari sanalah Bis Starmart akan membawa saya melintasi Singapore ke Malaysia. Waktu sudah menunjukkan pukul 6.30, namun langit Singapore masih cukup gelap, ditambah rintik hujan pun sudah turun cukup rapat di sepanjang perjalanan. Agak lama saya menunggu di emperan pertokoan, hingga akhirnya bis diberangkatkan sesuai jadwal, pukul 7.30. For your information, saya memesan tiket Bis Starmart ini sejak jauh hari secara online, via Easibook.com ..

Perjalanan dari Singapore ke Melaka saya tempuh kurang lebih selama 5 jam, dengan melalui 2 pemberhentian imigrasi. Yang pertama adalah Woodlands Checkpoint, disini saya turun dari bis tanpa harus membawa ransel yang segede gaban itu, karena tidak ada pemeriksaan barang bawaan bagi pelancong yang akan meninggalkan Singapore. Usai proses imigrasi, saya kembali ke bis yang menunggu di lajur parkir kendaraan tepat di depan pintu keluar pos dan melanjutkan perjalanan. Selepas Woodlands, saya melewati jembatan penghubung Singapore dan Semenanjung Malaysia, Causeway Link. Hmm, melintasi highway di atas lautan yang merupakan bagian dari Selat Melaka, pengalaman baru .. 😉

Tidak lama kemudian, bis berhenti di pos imigrasi yang kedua, yaitu Johor Bahru Checkpoint. Sebagaimana layaknya perlakuan kedatangan di pos imigrasi airport, pemeriksaan dilakukan lebih ketat. Saya harus membawa seluruh barang bawaan ke dalam terminal kedatangan untuk dicek lewat mesin pemindai. Agak njeglek, Johor Bahru Checkpoint tidak seluas dan semewah Woodlands Checkpoint, sementara volume pengunjung sama besar. Jadilah pos imigrasi Malaysia ini terlihat umpek-umpekan, mana saya kebagian petugas yang rada jutek. Huhuhuhu .. :(

Setelah menyelesaikan seluruh proses imigrasi, perjalanan menuju Melaka ditempuh dengan lancar, meski hujan turun sangat deras. Pemandangan agak menjemukan, karena jalanan yang dilewati adalah highway yang super duper lurus, tanpa jeglongan, tanpa aspal bolong, tanpa kelokan atau turunan ekstrim. Ah, mendadak saya merindukan rute Semarang – Magelang. Hahaha ..

51

Sekitar pukul 12.30, saya menjejakkan kaki di Melaka Sentral, terminal besarnya Melaka. Disana, saya disambut Nenny, teman lama di timeline, namun baru kali itu bertemu. Ya, rencana awal, saya memang sendirian menjelajah Melaka, namun Si Mungil asal Pati itu menawarkan diri menemani, ya masa ditolak ?! Hehehe ..

Melaka Sentral, di mata saya, tidak jauh berbeda dengan Terminal Blok M, namun tentu saja lebih bersih, lebih tertata dan lebih tampak aman. Aneka warung makan berjejer menggoda di sisi kanan kiri plasanya, sementara di bagian tengah koridornya, aneka penjual pernak-pernik siap mencuci mata *dan dompet, tentunya*. Susah payah saya menahan diri untuk tidak menggaet apapun di Melaka Sentral, kecuali makan siang di salah satu booth yang menjual nasi rempah dan mampir ke stand selular untuk membeli SIM card DiGi ..

Setelah perut kenyang dan Blackberry Messenger saya aktif, saya dan Nenny segera menuju ke peron keberangkatan dalam kota. Disanalah kami menunggu Bis Panorama No. 17, yang kabarnya dialah satu-satunya bis yang melewati pusat keramaian Melaka, yaitu Dutch Square atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bangunan Merah (Red Square). Namun, berhubung bis tersebut tidak segera muncul, kami mencari informasi tentang bis lain yang juga melewati Bangunan Merah, ternyata ada, yaitu Bis Panorama No. 8. Dan kami menyegerakan untuk melompat masuk ke bis bernuansa merah, putih, biru itu ..

52

Sepanjang perjalanan dari Melaka Sentral hingga Bangunan Merah terlihat tidak terlalu asing di mata saya. Mirip sekali dengan atmosfer kota Georgetown, Penang, namun penampakan warga ras Melayu lebih banyak terlihat disini. Kurang lebih 30 menit, jalan aspal mulai berubah menjadi jajaran paving, itulah tanda saya sudah memasuki pusat Kota Melaka. Yay ! Benar saja, ucapan selamat datang, “Welcome to Melaka, World Heritage City“, terpampang di kanan jalan, menempel di bangunan berwarna Merah pertama, sementara Gereja St. Francis Xavier berdiri megah di kiri jalan. Nuansa Merah maroon mewarnai perjalanan saya berikutnya, bangunan dan lorong-lorong bergaya kolonial klasik seolah menjadi mesin waktu yang membawa saya ke masa lampau ..

Dan sampailah saya dan Nenny di Bangunan Merah, kompleks paling nge-hits di Melaka : Christ Church Melaka, yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1753 dan sempat direnovasi oleh pemerintah Inggris pada tahun 1795; Victoria Fountain, sebuah kolam air mancur yang dibangun pada tahun 1904, yang merupakan hadiah masyarakat Melaka untuk pemerintah Inggris, dalam rangka memperingati ulang tahun naik tahtanya Ratu Victoria ; Clock Tower, merupakan menara jam yang dibangun oleh Tan Beng Swee pada tahun 1886. Selain 3 bangunan itu, Kompleks Bangunan Merah dikelilingi gedung-gedung tua lain yang masih terawat dan difungsikan menjadi aneka perkantoran, seperti Unit Polis Pelancongan, Pejabat Pos, Museum History and Etnography, juga beragam toko souvenir khas Melaka. Kemeriahan ala Bangunan Merah tambah semarak dengan kehadiran becak hias yang berwarna-warni. Becak ini disediakan bagi pengunjung yang berminat berkeliling di sekitaran Bangunan Merah, kalau tidak salah ingat, harga sewanya 40 MYR  per 60 menit ..

54

55

Selanjutnya, kami mulai menyusuri lorong-lorong di pinggiran Jalan Laksamana. Kesederhanaan ala masyarakat Melayu, saya jumpai disana. Toko-toko tanpa etalase gemerlapan menyambut setiap pengunjung dengan ramah, cafecafe menyediakan makanan berbumbu rempah dan beraroma menggoda, pusat-pusat bisnis dijaga oleh uncle ras Cina yang senantiasa tersenyum dan mengangguk sopan kepada para pejalan. Ah, saya cinta Melaka !

57

Gereja St. Francis Xavier kembali menyeruak pandangan saya. Megah, dengan gaya kastil abad pertengahan. Berbelok kiri, disanalah kami menjumpai jalan setapak di pinggiran Sungai Melaka. Wah, pemerintah Bandaraya Melaka benar-benar niat untuk memperbaiki bantaran sungainya, yang awalnya kurang terawat, kini bahkan menjadi salah satu daya tarik kota ! Sungai Melaka membelah kota sejauh kurang lebih 9 km, sejauh itu pula lah Melaka mempercantik diri, memanfaatkannya menjadi etalase panjang yang mempertontonkan perjalanan kisah Kota Melaka. Penginapan murah dan cafe mendominasi tepian sungai di sisi Selatan, sementara sisi Utara baru akan saya ketahui nanti, saat menjelajah Sungai Melaka dengan Melaka River Cruise ..

56

Sesampainya kembali di seberang Kompleks Bangunan Merah, waktu sudah menunjukkan pukul 3 lebih. Saya dan Nenny memutuskan untuk check in penginapan dan meletakkan barang bawaan disana. Penginapan yang saya booking sejak jauh-jauh hari via Hostels.com itu bernama Backpackers Freak Hostel (BFH), yang terletak di Jalan PM 2, tepat di depan Menara Taming Sari dan Dataran Pahlawan. Sangat strategis, ya ?!

Alhamdulillah, pilihan saya tepat, hostel yang telah mendapatkan badge recommended hostel dari Trip Advisor dan reviewreview positif di Hostels.com dan Hostelbookers.com ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat singgah yang murah meriah. Untuk private room berkapasitas 2 orang, fan dan sharing bathroom, saya hanya perlu membayar 18 MYR per orang. Kelebihan BFH dibanding penginapan-penginapan murah yang pernah saya singgahi adalah sistem keamanannya yang mumpuni. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam, bagi non-tamu, disediakan door bell, sementara bagi tamu, diberikan semacam password yang digunakan untuk masuk penginapan. Asoy !

Saya dan Nenny sempat leyeh-leyeh dan bersih diri sebentar di penginapan, sebelum melanjutkan perjalanan lagi, menelusuri jejak sejarah yang tertinggal dan terawat dengan baik di Melaka. Ingin tahu ? Tunggu di tulisan berikutnya yaaa .. 😉

***

11 thoughts on “[Malaysia] Suka-Suka Melaka (1) ..

  • January 6, 2013 at 10:39
    Permalink

    Nice blog and story. Penginapannya bs buat rekomendasi nih buat ke malaka next month. Salam kenal

    Reply
  • January 6, 2013 at 11:56
    Permalink

    @ ainun : Hai, Ainun .. Wah, nama kamu mengingatkan saya pada BCL, hehehe .. 😉

    Salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung. Semoga perjalanan ke Melakanya lancar yaaa ..

    Reply
  • January 10, 2013 at 19:47
    Permalink

    aminnn, moga2 menyenangkan holiday ke malaka hehehe. Ke diengnya juga moga2 mb lancar2 aja

    Reply
  • May 20, 2013 at 21:37
    Permalink

    Kak mau tanya dong, itu pesen bis nya harga langsung ringgit atau dollar ya? harus jadi member easibook dulu ya? Makasih :)

    Reply
  • May 21, 2013 at 19:20
    Permalink

    @ tamara : Tergantung bis dari mana yang mau dipesen tiketnya. Kalo bis dari Malaysia, ya harganya dalam MYR. Kalo bis dari Singapore, ya harganya dalam SGD .. Yups, daftar .. 😉

    Reply
  • January 1, 2014 at 08:33
    Permalink

    @ mas danan : Tinggal dijadwalkan lah, Kak, kan liburnya banyak tuh 2014 .. 😉

    Reply
  • December 9, 2015 at 19:17
    Permalink

    2 kali ke Malaka kok aku gak nemu gedung bertuliskan “Welcome To Melaka” huhuhu. Kayaknya aku bakalan balik lagi ke kota ini hahaha, target utama harus nemuin gedung ini wakakakz

    Reply
    • December 9, 2015 at 19:22
      Permalink

      Kalo ngga salah inget, dulu pas aku dateng ke downtown pake bis dari Melaka Center, itu gedung dengan tulisan “Welcome To Melaka” keliatan jelas banget, Om. Sedikit sebelom masuk Kompleks Bangunan Merah. Kalo emang belom ketemu juga, berarti emang takdirnya harus balik ke Melaka lagi tuh. Hihihi .. 😀

      Reply
  • Pingback: Singapura ke Legoland, Tanpa Antri di Woodland .. - Noerazhka

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: