I Love Aceh : Kekuatan yang Membangkitkan ..

I-Love-Aceh-Story

I Love Aceh

Saya pernah menekuri suatu senja yang mataharinya pulang melalui cakrawala Lampuuk, Aceh Besar. Saat itu saya terduduk di hamparan pasir putih, sambil membatin tentang setengah hari yang telah saya lewati di ujung Barat Nusantara ini. Keindahan hamparan pasir putih, berpagar bukit-bukit hijau nan tinggi, ditingkahi warna jingga yang menyemburat di langit biru, siapa sangka gempa dahsyat yang disusul dengan gelombang pasang pernah memporakporandakan tempat ini ?

Bukan hanya Lampuuk, sebagian besar pesisir Barat Aceh pernah luluh lantak di suatu pagi di penghujung 2004 lalu. Masih lekat dalam ingatan, tentang gempa yang terjadi di Samudera Hindia, 160 km sebelah Barat Aceh, disusul dengan tsunami setinggi 9 meter. Aceh bukan hanya kehilangan lebih dari 100.000 warganya, namun juga tempat-tempat yang menjadi andalan wisatanya.

Ibarat tertoreh luka, ternyata Aceh tidak membiarkan dirinya terserang infeksi berkepanjangan. Aceh segera menyembuhkan diri, membenahi kerusakan yang terjadi, move-on dari rasa sedih akibat kehilangan kerabat dan sahabat.

Kekuatan inilah, yang menurut saya menjadikan Aceh seperti saat ini ..

Banda Aceh, kota ramah penganut aturan syari’ah yang bersih, teratur disana-sini dan beraura menyenangkan. Saya terkesima sejak pesawat landing di Bandara Internasional Sultan Iskandarmuda. Tidak banyak airport di Indonesia yang memiliki garbarata, bukan ? Kekaguman saya berlanjut sesaat setelah mobil sewaan memasuki kota. Masya Allah, di mata saya, nyaris tidak terlihat carut marut yang ditinggalkan oleh hantaman bencana dahsyat itu.

Sungguh, Banda Aceh begitu apik dan cantik ! Bahkan bukan sekali dua kali saya mengungkapkan kecintaan saya pada kota ini,

β€œ Banda Aceh adalah kota di luar Jawa yang bersedia saya tinggali, kelak jika institusi tempat saya bekerja memanggil saya untuk bertugas disana .. β€œ.

Menyembuhkan luka, namun menolak lupa ..

Itu anggapan saya selanjutnya. Aceh memang telah bangkit dari keterpurukan, namun beberapa titik monumental sengaja dijaga sebagai pengingat bahwa jika Allah berkehendak, apapun dapat terjadi. Titik monumental pertama adalah kuburan massal para korban wafat di Ulee Lheue, Lhoknga dan Siron. Titik monumental selanjutnya adalah PLTD Apung yang terseret gelombang hingga ke daratan yang berjarak 5 km dari bibir pantai, perahu nelayan yang tersangkut di atas atap rumah di daerah Lampulo dan Museum Tsunami di seberang Blang Padang. Masjid-masjid yang mampu bertahan dari serangan gelombang pun menjadi penanda bahwa bencana besar pernah singgah di Aceh : Masjid Raya Baiturrahman di pusat Kota Banda Aceh, Masjid Baiturrahim di Ulee Lheue dan Masjid Al-Ikhlas di Lhoknga. Subhanallah.

P8060081_2

Menara Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, NAD

Bergeser ke Utara, menyeberangi Selat Benggala ..

Pulau Weh, pulau yang menjadi penanda titik nol Nusantara, merupakan andalan wisata Aceh pula. Pantai-pantai perawan bertebaran, taman laut berair hijau tosca pun memanjakan para pehobi snorkeling. Suasana Kota Sabang yang tenang dan bergerak lamban cocok untuk bersantai dan lepas dari rutinitas harian.

P8080213_2

Taman Laut : Pulau Rubiah, Pulau Weh, NAD

Ah, menuliskan ini membuat saya rindu berkunjung kembali ke Aceh ..

Bukan hanya untuk lebih mengeksplorasi tempat-tempat wisatanya, namun juga untuk memanjakan indera pengecap lewat icip-icip kuliner, seperti Mie Aceh Razali, Bebek Gulai Putih atau sekedar duduk-duduk di kedai kopi ber-WiFi, menikmati harumnya kopi dan kue canai kuah kari. Surga !

Atas semua keistimewaan yang dimilikinya, bagaimana bisa saya tidak berucap @iloveaceh pada Nangroe Aceh Darussalam ?

***

18 thoughts on “I Love Aceh : Kekuatan yang Membangkitkan ..

  • February 3, 2013 at 09:48
    Permalink

    aku doakan semoga menang …. blm kesampaian nich ke sabang, hanya bisa ngiler liat foto rubiah nya

    Reply
  • February 3, 2013 at 12:03
    Permalink

    @ cumi MzToro : Amieeennn .. Makasih, Mas ..

    Belom pernah ke Aceh ?? Makanya ikutan nulis buat lomba ini, Mas, siapa tau menang, gratisan ke Aceh dehhh .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 3, 2013 at 20:33
    Permalink

    Aku mau nulis tapi buntuuu.. Hiks.. Ngalah aja lah aku sama mbak Zizah. Aku kan udah sering menjelajah Aceh.. Kasihan yg jauh dari Aceh :p

    Reply
  • February 3, 2013 at 21:49
    Permalink

    @ bee : Hasyem ! Padahal tow, Bee, misal menang, aku belom tentu bisa berangkat, wong tanggal 22-24 Februari 2013 posisiku di Samarinda .. Huhuhuhu .. :(

    Reply
  • February 4, 2013 at 15:13
    Permalink

    Weh weh, alame pancen apik, gak kalah dibanding Padang πŸ˜€
    Mengko nek menang seng berangkat tak aku wae wes πŸ˜€

    Reply
  • February 4, 2013 at 20:09
    Permalink

    @ rofi : Wakakakaka .. Nembe euforia Padang yak ?! Ternyata cerita dari Retno benar2 merasuk dalam pikiranmu, Anak Muda .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 4, 2013 at 22:09
    Permalink

    huwaaaaaaa … jadi tambah homesick … kangen sepedaan pagi di pantai lampu’uk atau jalan-jalan sore sambil makan jagung bakar di Ulhe Lheu, suasana minggu pagi di Blang Padang … kangen semuanya …. T_T

    Reply
  • February 4, 2013 at 22:13
    Permalink

    Waaah tulisanmu juga mewakili perasaanku tentang aceh…Aceh ibaratnya seperti orang tangguh yang bisa bangkit dari penderitaan luar biasa. Yang paling mengesankan adalah tulisan Damai Itu Indah yang bertebaran di sudut2 kota. Huhuhu jadi kangen pengen ke sana lagi….
    Salam kenal Nora (eh panggilannya apa nih? :)) , udah kenalan di Twitter lanjut di sini..:)

    Reply
  • February 5, 2013 at 08:38
    Permalink

    deskripsi yg sangat apik, mba zizou.. πŸ˜€
    saya sudah beberapa kali ke banda aceh dan sabang (secara suami saya orang sana :P)..
    dan pernah menuliskan tentang kecintaan saya pada tanah rencong itu, tapi belum bisa sememikat tulisannya mba zizou..
    :)

    Reply
  • February 5, 2013 at 10:54
    Permalink

    @ sarah : Waaahhh .. Maafkan, ngga bermaksud bikin Sa jadi homesick dan sedih .. Huhuhu .. :(

    @ yusmei : Yes ! Kangen banget, pengin bisa ke Aceh lagi, semoga tulisan ini bisa membawaku kesana, Yus .. Hehehe .. Panggilanku banyak, kalo formal sering dipanggil Azizah, kalo non-formal biasa dipanggil Zizou, Zou, Zee .. Terserah Yusmei laaahhh .. πŸ˜‰

    @ trisakses : Waduh, matur nuwuuunnn .. Jadi malu .. Semoga tulisan ini menginspirasi banyak orang .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 6, 2013 at 10:05
    Permalink

    ikutan ahhh… kayaknya pas jadwal off dutu nih, kalo menang lumayan jalan2 gratis

    Reply
  • February 8, 2013 at 16:31
    Permalink

    @ arifadlillah : Amieeennn .. Mohon doanya .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 15, 2013 at 17:42
    Permalink

    Hai mbak nur, postingan yang sangat keren tentang Aceh. salam kenal ya

    Reply
  • February 18, 2013 at 17:55
    Permalink

    @ liza : Hai, Liza, salam kenal juga .. Makasih udah mengapresiasi tulisan ini .. Semoga saya bisa segera menuntaskan rindu dengan berkunjung lagi ke Aceh .. πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: