[Trowulan] Menanti Usainya Ekskavasi ..

Trowulan merupakan satu-satunya situs kota klasik yang ada di Indonesia, pusat peradaban Kerajaan Majapahit pernah eksis disana pada akhir abad 13 hingga awal abad 16. Maka, tidak heran jika disana ditemukan banyak peninggalan arkeologis, baik di atas maupun di bawah permukaan tanah. Sepanjang melakukan penjelajahan, saya menjumpai beberapa situs yang masih setengah mangkrak dan belum jelas seperti apa bentuk utuhnya. Itulah, situs-situs peninggalan peradaban Majapahit yang masih menanti ekskavasi *atau penggalian tempat yang mengandung benda purbakala* selesai dilakukan ..

IMG_0286

Saat berada di Trowulan, saya baru mengetahui bahwa proses ekskavasi selalu tersedat dan memakan waktu yang sangat panjang. Bukan hanya karena keterbatasan tenaga arkeolog yang ada di Indonesia, namun juga proses birokrasi yang berbelit dan besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk mendanai penggalian ..

Inilah situs-situs di Trowulan yang menanti usainya ekskavasi ..

Situs Pemukiman

Situs ini terletak di dalam kompleks Museum Trowulan – Pusat Informasi Majapahit, tepatnya berada di sebelah kanan Ruang Koleksi Batu. Sesuai dengan namanya, situs ini memperlihatkan sisa-sisa bangunan pemukiman di masa kejayaan Majapahit. Bentuknya persegi panjang berukuran kurang lebih 5 x 2 m, memiliki 3 undakan di bagian depan bangunan dan dikelilingi selokan selebar 8 cm. Keseluruhan Situs Pemukiman ini terletak 50 cm di bawah permukaan tanah, sisi galian yang telah terbuka memperlihatkan keping pecahan gerabah dalam jumlah yang sangat banyak. Tidak ditemukan sisa dinding pada situs pemukiman ini, diperkirakan bahan yang digunakan sebagai penyusun dinding adalah material yang mudah lapuk, seperti kayu atau anyaman bambu. Sementara, keberadaan atap diperkuat dengan adanya penemuan perekat antara bata setebal 1 cm, karena tanpa atap, perekat ini akan erosi dan pasangan batu bata akan terlepas ..

IMG_0270

Satu hal yang menarik perhatian saya, di sisi Selatan situs terdapat sebuah guci yang terbuat dari tanah liat. Guci ini berukuran cukup besar, diameter bagian perutnya kurang lebih 60 cm dan tingginya 40 cm, bentuknya pun masih relatif utuh. Bukan hanya itu, jambangan berwarna merah bata itu ditopang oleh struktur batu bata berbentuk segi empat, dikelilingi oleh batu andesit kecil bulat yang ditata rapi dan sangat artistik, serta dilengkapi dengan selokan ..

IMG_0272

Duh .. Pada masa yang telah lewat lebih dari 500 tahun itu, masyarakatnya telah memiliki kesan estetika, pertimbangan kenyamanan dan keamanan dalam membangun tempat tinggalnya. Mengagumkan !

Tidak jauh dari Situs Pemukiman, terdapat sebuah bangunan tanpa dinding. Terlihat megah, meski belum sepenuhnya rampung dikerjakan. Itulah calon bangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM) yang baru, sebuah proyek yang sempat menimbulkan ontran-ontran di kalangan pecinta sejarah pada tahun 2009. Konsep PIM ini cukup brilian, sayangnya pembangunannya mengabaikan segala macam “harta karun” peninggalan masa Majapahit yang terkubur di bawahnya. Mendekatlah, lalu perhatikan struktur pondasi yang melandasi bangunan, menghancurkan kepingan-kepingan gerabah dan susunan batu bata kuno dengan kejam. Pembangunan PIM ini akhirnya terhenti hingga kini ..

IMG_0275

Situs Sentonorejo

IMG_0276

Situs Sentonorejo merupakan peninggalan peradaban klasik Majapahit yang berupa hamparan ubin dan sisa dinding bangunan. Sama seperti situs sebelumnya, situs ini terletak berada di bawah permukaan tanah, kurang lebih 1,8 m. Disini, saya sempat ternganga, 100-an ubin berbentuk segi enam, berukuran sisi 6 cm dan tebal 4 cm, tertata rapi dan saling melekat satu sama lain dengan perekat tanah liat. Lagi-lagi, pada masa sekuno itu, peradaban Majapahit telah menawarkan kesan estetika yang tinggi .. *melongo*

IMG_0278

Selain hamparan ubin, Situs Sentonorejo juga menawarkan sisa dinding bangunan. Strukturnya mirip dengan yang ditemukan di Situs Pemukiman, yaitu susunan batu bata yang rapi dan teratur. Oh ya, saya sempat menemukan beberapa sumur kuno khas Majapahit di sekitar situs, yang dikenal dengan nama Jobong ..

Situs Kedaton

Tidak jauh dari Situs Sentonorejo, terdapat situs lain yang stuktur bangunannya jauh lebih rumit dibanding “rekan-rekan”-nya. Namanya Situs Kedaton. Berdasarkan ukuran keseluruhan, kerumitan struktur dan banyaknya detail, para peneliti memperkirakan bahwa situs ini merupakan kompleks percandian, yang terdiri dari 2 bagian bangunan utama ..

IMG_0282

Bangunan pertama berbentuk kotak berukuran kurang lebih 12 x 9 x 2 m dan berbahan dasar susunan batu bata merah. Pada sudut dan bagian tengah sisi dinding terdapat bentuk-bentuk pilaster, yang berfungsi sebagai ornamen hias, sekaligus penguat konstruksi bangunan. Sementara, bangunan kedua adalah Kompleks Sumur Upas. Seperti namanya, bangunan ini memang memiliki sumur kuno yang terbuat dari batu bata dan berbentuk segi empat, berukuran 8,5 x 7,5 m, dalamnya 5,7 m. Sumur ini masih berfungsi dengan baik, masyarakat memanfaatkan airnya untuk keperluan ritual, karena Sumur Upas dipercaya memiliki tuah. Saking bertuahnya, cerita yang beredar tentang situs ini cukup melekat erat di kepala masyarakat, tidak hanya lokal, namun juga yang berasal dari luar daerah Trowulan. Menurut informasi yang saya dengar, konon, Sumur Upas ini bukan hanya sekedar sumber air, namun juga lorong rahasia yang tembus hingga ke lembah Gunung Bromo, bahkan Pulau Bali. Selain itu, masih banyak sekali orang-orang yang datang memanfaatkan Kompleks Sumur Upas ini untuk bersemedi ..

IMG_0283

Beberapa penemuan pecahan gerabah dan kerangka manusia di kompleks Situs Kedaton ini sempat membuat kerancuan fungsi bangunan. Candi atau pemukiman. Namun, beberapa referensi menyebutkan bahwa situs ini memang mengalami perubahan fungsi penggunaan bangunan, awalnya kompleks percandian, kemudian bergeser menjadi kompleks pemukiman ..

Sekedar intermezzo, terlepas dari segala macam cerita yang saya dapatkan, entah mengapa di sepanjang penjelajahan situs ini, saya merinding tanpa henti. Ahahahaha .. 😉

Situs Umpak Delapan

Usai menjelajah Situs Kedaton yang berhawa horor, saya dan teman-teman KJB beranjak ke sebuah tanah lapang terbuka yang tertata rapi dan berumput hijau. Disanalah Situs Umpak Delapan berada ..

IMG_0288

Situs ini memiliki batu-batu umpak berbentuk segi delapan berdiameter kurang dari 1 m. Pada setiap umpak terdapat lubang, yang menurut informasi ilmiah dari Mas Kartum merupakan tempat untuk meletakkan tiang. Konfigurasi umpak memanjang sejajar, berorientasi Timur-Barat dan berjumlah 13 buah ..

Mas Kartum terlihat sangat exciting, ternyata sebagian masa praktek perkuliahannya dihabiskan disini. Menjadi bagian dari penggalian benda-benda arkeologis peninggalan Majapahit, membersihkan kepingan-kepingan tembikar, menomorinya, mendatanya .. Ah, satu lagi, menghitam karenanya .. 😉 *piss, Mas Kartum, xixixixi*

Nah, itu tadi situs-situs peninggalan peradaban Majapahit yang penggaliannya belum benar-benar selesai. Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, tampilannya bukan hanya sederhana dan apa adanya, bahkan terkesan mangkrak, meski telah ditata sedemikian rupa hingga terlihat rapi. Proses ekskavasi selalu terbentur masalah rumitnya birokrasi, keterbatasan tenaga ahli dan besarnya pendanaan yang dibutuhkan ..

Ah, situs-situs itu akan setia menanti usainya ekskavasi, seperti kuncen-nya yang setia menua bersama keping sejarah yang tersimpan disana. Juga para pecinta sejarah yang setia menahan diri sekedar mengabadikan gambar dan menceritakan kisah demi kisah lewat tulisan, tanpa harus melakukan vandalisme, apalagi mengambil apapun dari situs-situs tersebut .. :’)

***

4 thoughts on “[Trowulan] Menanti Usainya Ekskavasi ..

  • March 27, 2013 at 18:16
    Permalink

    Proses yang panjang dan butuh biaya yang banyak, ya.

    Yang membuat kagum adalah proses merekontruksi bangunan sebagaimana bentuknya pada ratusan tahun yang lampau.

    Reply
  • March 27, 2013 at 21:10
    Permalink

    @ p49it : Sepakat, Mba, saya heran dengan kemampuan para ahli arkeolog yang mampu menemukan, menyusun dan membangun situs-situs masa lalu sampai bisa menyerupai bentuk asalnya. Referensi mereka dari mana ya ? Caranya gimana ? Xixixixi .. 😉

    Reply
  • April 12, 2013 at 13:54
    Permalink

    jadi ingat dulu tahun 2010, saya backpackeran dari Jogja ke Trowulan naik KA Sri Tanjung, nginep di Vihara Mojopahit lantas berjalan kaki ke situs2 purbakala di atas itu.

    Reply
  • April 12, 2013 at 15:01
    Permalink

    @ mawi wijna : Wah, benar2 menikmati perjalanan ber-budget rendah ya .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: