Gedong Dhuwur, Sisa Kejayaan Tuan Oei ..

Sepertinya Tuhan memang merestui ketertarikan saya pada sejarah, nyatanya Dia mempertemukan saya dengan beberapa komunitas dan teman-teman baru dengan interest yang sama. Pertemuan saya dengan Mba Olive, yang hanya berawal dari saling mention di Twitter adalah salah satu buktinya. Setelah kejatuhan rejeki nomplok bisa masuk ke Ereveld Candi dan Ereveld Kalibanteng, saya kembali mendapatkan kejutan dari Kota Semarang ..

Sejarah menyebutnya Gedong Dhuwur, beberapa yang lain mengenalnya dengan Eagle Nest atau Sarang Garuda ..

IMG_0544

Bangunan bergaya IndischΒ ini merupakan salah satu dari banyak properti milik Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Asia, yang berasal dari Semarang.Β Gedong Dhuwur terletak di puncak Bukit Penggiling, yang kini lebih dikenal sebagai daerah Simongan, tepatnya Jl. Pamularsih Dalam III. Menurut beberapa referensi yang relevan, Gedong Dhuwur dibangun pada penghujung abad 19 oleh Oei Tjie Sin, ayah Tuan Oei. Oei Tjie Sin membeli persil Simongan *membentang dari Bukit Penggiling hingga petilasan Cheng Ho, yang kini dikenal sebagai Gedong Batu* dari seorang tuan tanah berkebangsaan Yahudi, bernama Johanes ..

Apa yang istimewa dari Gedong Dhuwur ?

Disinilah letak pesanggrahan agung Tuan Oei, selain juga digunakan untuk tempat melakukan kontrol atas bisnis gulanya yang mendunia. Saya pun mendapat informasi bahwa bangunan ini adalah tempat tinggal para gundik Tuan Oei. Masuk akal. Informasi tersebut sesuai dengan penuturan Oei Hui Lan, putri kesayangan Tuan Oei, di dalam buku “Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia“, tentang kunjungannya ke rumah para Bibi *demikian gundik-gundik itu disebut oleh Oei Hui Lan* yang berada di sebuah bukit, jauh dari Istana Gergaji ..

Ditinjau dari sisi arsitektur, Gedong Dhuwur pun memiliki banyak keistimewaan ..

bangunan induk

* Bangunan Induk di Kompleks Gedong Dhuwur, tampak Selatan *
sumber : Tesis Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro – Ndaru Hario Sutaji – Tata Ruang Gedong Dhuwur di Kawasan Bersejarah Simongan Semarang

Meskipun mengadopsi kesan Indisch dengan sangat kental, bangunan ini tidak mengabaikan ciri khas arsitektur Cina dan perhitungan Feng Shui. Lalu, pada masanya, Gedong Dhuwur memiliki visibilitas yang sempurna. Ia terletak di puncak bukit, sehingga tidak ada yang menghalangi pandangan mulai dari view Gunung Ungaran, Gedong Batu, Pelabuhan dan Kota Semarang secara keseluruhan. Perencanaan yang matang, Wahai Oei Tjie Sin .. πŸ˜‰

Sejatinya kompleks Gedong Dhuwur terdiri dari 7 bangunan, yaitu Bangunan Induk dan Bangunan Pendukung Utama, keduanya dihubungkan dengan sebuah jembatan, Paviliun, yang dilengkapi dengan garasi kereta, Rumah pelayan, yang menyatu dengan Dapur, Kandang kuda, Gudang dan Rumah penjaga pintu gerbang, yang terletak di lereng bukit.Β Bangunan ini juga mempunyai 4 kolam teratai yang konon sangat indah, serta 2 akses masuk, yaitu jalan menurun yang langsung menuju ke ruas Jalan Simongan dan jalan memutar sebagai jalan masuk bagi kereta kuda ..

Benar-benar gambaran sebuah istana, paling tidak di benak saya ..

Sayangnya, kemegahan Gedong Dhuwur telah pupus, bukan hanya karena tergerus waktu, namun juga terkikis ketidakpedulian masyarakat sekitar. Satu-satunya bagian dari kompleks Gedong Dhuwur yang tersisa adalah Bangunan Induk, serta sisa-sisa jembatan penghubung Bangunan Induk dengan Bangunan Pendukung Utama. Ubin terakota berukuran 30 x 30 cm masih terlihat jelas di beberapa sudut bangunan ..

IMG_0540

Enam bagian kompleks Gedong Dhuwur lainnya sudah rata dengan tanah, berganti dengan jejeran rumah modern dengan volume hunian cukup padat. Kondisi bekas pesanggrahan Tuan Oei saat ini pun sungguh sangat mengenaskan, ia menjadi tempat tinggal bagi para pensiunan tentara, sejumlah kurang lebih 50 KK. Struktur bangunannya makin rapuh, sementara beban yang ditanggungnya makin berat. Detail unik khas Indisch sudah tertutup dengan aneka macam kalender bekas, rentangan tali jemuran, bangkai motor tua yang dibiarkan tergeletak begitu saja, serta anak-anak kecil ingusan yang tak henti berkejaran di antara pilar-pilar kokohnya ..

Di sisi Barat Daya Bangunan Induk, saya mengintai villa yang pernah megah di jamannya ini melalui view finder kamera. Mata saya berkaca-kaca, benak saya mengira-ngira kehidupan ala bangsawan yang pernah ada disini. Kekayaan Tuan Oei nyaris tak terbatas, dia dapat membeli apapun yang dimaui, hidupnya serba mudah dan dihormati baik oleh pemerintah Belanda, etnis Tionghoa, maupun warga pribumi. Saat itu, kejayaan Tuan Oei seolah tak ada habisnya, namun ternyata waktu lah yang menegaskan bahwa semua pesta akan berakhir dan hanya akan menjadi kenangan semata ..

Semua habis ! Kecuali satu hal, nama besar .. πŸ˜‰

***

Referensi :

1. Buku ” Kisah Tragis Oei Hui Lan, Putri Orang Terkaya di Indonesia ” – karya Agnes Davonar – penerbit Intibook
2. Tesis Magister Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro, ” Tata Ruang Gedong Dhuwur di Kawasan Bersejarah Simongan Semarang ” – karya Ndaru Hario Sutaji

3. Thread ” Semarang : Story & History ” di Skyscrapercity – http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1431947

19 thoughts on “Gedong Dhuwur, Sisa Kejayaan Tuan Oei ..

  • April 12, 2013 at 05:22
    Permalink

    waaaah, kamu infonya lengkap
    btw, buka dari hp koq gak bisa ya?

    Reply
  • April 12, 2013 at 08:35
    Permalink

    Dan aku masih penasaran, bagaimana bangunan ini berakhir ditempati oleh 50 KK.

    Reply
  • April 12, 2013 at 08:44
    Permalink

    @ mba olive : Niat banget ini, Mba, cari2 referensinya, sampe akhirnya nemu thread tentang Semarang & berkas tesis mahasiswa S2 Undip itu .. Hehehe ..

    Hmm, dari HP aku ngga masalah tuh, Mba, tapi emang iya, aku pasangin widget mobile itu. Mungkin bermasalah itu widget-nya ..

    @ bee : Ngga ada informasi yang aku dapet tentang asal mula perubahan kegunaan bangunan dari villa milik Tuan Oei menjadi asrama pensiunan tentara itu, Bee .. :(

    Reply
  • April 12, 2013 at 12:16
    Permalink

    Semua habis…kecuali nama besar. Tidak ada yang abadi…kapan2 anterin ke sana yaaaa zah :)

    Reply
  • April 12, 2013 at 13:59
    Permalink

    tempat tinggal pensiunan tentara? berarti bangunan ini sekarang diambil alih oleh pemerintah mbak? atau yayasan tertentu gitu? Bukan ahli waris dari Oei Tiong Ham?

    Reply
  • April 12, 2013 at 14:40
    Permalink

    yaahhhh sayang bangetttt, nasibnya sama seperti bangunan bersejarah lainnya

    Reply
  • April 12, 2013 at 14:58
    Permalink

    @ mba yusmei : Siap, Mba ! Kita telusuri jejak Oei Tiong Ham bareng2 ya, kebetulan aku udah nemu bekas kantor utama Beliau di Kota Lama, deket tempat kita makan soto kemaren .. πŸ˜‰

    @ mawi wijna : Iya, Mas, tempat tinggal keluarga pensiunan tentara. Untuk penguasaan bangunan, aku belom dapet informasi yang jelas, penghuni hanya mengatakan sudah tinggal disana turun temurun. Seluruh properti Oei Tiong Ham kini sudah berpindah tangan, bukan lagi dikuasai ahli warisnya .. πŸ˜‰

    @ lemu ginuk2 : Begitulah .. :(

    Reply
  • April 19, 2013 at 10:07
    Permalink

    I wish this town will be restored and listed as Heritage Town. Vigan juga ga besar-besar amat kayak Malaka & Penang, cuma karena diperhatikan dan diurus jadinya layak sebagai UNESCO Heritage Site.

    Ada kegeraman tersendiri lihat situs-situs seperti kota Lasem, Braga (yg ini lumayan terurus walaupun in modern way), Kesawan – Medan, Kota Tua Semarang terlantar :(

    Reply
  • April 19, 2013 at 21:01
    Permalink

    @ kokoh : Ngenes banget, Koh, padahal Kota Lama-nya Semarang ga beda2 amat sama Melaka, dibelah sungai yang sama2 ga bersih. Tapi kok ya mereka punya cara bikin sesuatu yang tadinya ga bagus itu jadi sesuatu yang bisa dijual. Nah, nanti, hasil jualannya ya balik dipake buat ngurus situs2 tua itu ..

    Indonesia terlalu ngga kreatif kalo dalam hal memelihara dan melestarikan ya .. :(

    Reply
  • May 29, 2013 at 22:56
    Permalink

    Nice story Like!!!

    Reply
  • May 31, 2013 at 07:59
    Permalink

    @ mas tanto : Hai, Mas, selamat datang di ‘rumah’ saya. Hehehe .. Makasih, udah ninggalin jejak .. πŸ˜‰

    Reply
  • September 26, 2013 at 17:36
    Permalink

    Ninggalin jejak ah…
    Antarr ke sini ya mbak kalo aku ke Semarang city x)

    Reply
  • May 16, 2014 at 13:45
    Permalink

    Mba di semarang to tinggalnya? Sangat tertarik dengan cerita Raja Gula ini. Kalau berkenan ada beberapa teman saya yang juga tertarik ingin mengajak berdiskusi. Mungkin bisa kontak ke email saya next_dicky@yahho(dot)com terimakasih. :)

    Reply
  • May 17, 2014 at 20:21
    Permalink

    @ dikki : Iya, posisi saya di Semarang, Dikki .. Baik, saya kontak via email ya .. Terima kasih sebelumnya .. πŸ˜‰

    Reply
  • April 10, 2015 at 18:54
    Permalink

    huuuh, waktu itu gak sempat ke sini! baiklah, akan gue masukkan ke agenda kalo ke semarang lagi! kamu jadi pemandunya ya :))

    Reply
    • April 12, 2015 at 09:05
      Permalink

      Iya, kemaren mlepek banget waktumu, Kak Vir. Ayo lah ke Semarang lagi, nanti aku temenin ke Gedong Dhuwur wesss .. πŸ˜‰

      Reply
    • April 12, 2015 at 09:06
      Permalink

      Padahal tinggal mlipir dari Ungaran ya, Riev. Xixixixi ..

      Btw, Agnes Davonarnya dibahas loh. Hahahahaha .. :))

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: