Ngopi + Mbatik + Ngrokok = Kopi Lelet ..

Copy of IMG_0741

Sebelum mengunjungi Lasem, di benak saya, Kopi Lelet adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kopi khas Rembang yang penyajiannya dengan cara mencampurkan bubuk kopi dan air ke dalam ketel, kemudian merebusnya bersamaan. Yup, salahkan teman-teman nongkrong saya yang semena-mena memberikan pengertian tersebut dan ternyata salah besar *saya pun percaya begitu saja*. Hehehe .. 😉

Alhamdulillah, blusukan ke Lasem memberi saya pencerahan tentang apa sebenarnya Kopi Lelet itu ..

Saat itu, hari kedua penjelajahan saya dan teman-teman di Lasem, didampingi Mas Pop dari Rembang Heritage Society ..

Lepas mengunjungi rumah batik klasik milik Bu Sutra dan silaturahmi ke rumah Opa Kadjarni – Oma Sri Gunawan, kami menyusuri setapak Karangturi lebih dalam. Owh, ternyata Mas Pop berniat membawa saya dan teman-teman beristirahat sejenak di sebuah warung kopi yang senantiasa ramai ditongkrongi warga setempat. Mas Pop mengatakan bahwa warung ini menyediakan Kopi Lelet. Sip ..

Mas Karjin, Sang Pemilik Warung, menyambut kami dengan tawaran,

Kopi atau teh, Mas, Mba ? “.

Awalnya, saya memesan es teh. Hahaha .. Alasan pertama, hawa begitu panas, Bro, saya butuh sesuatu yang menyegarkan. Saya pikir, kopi hitam yang komplit dengan asap mengepul, hanya akan menambah gerah. Alasan kedua, maag saya sedang kurang beres beberapa hari terakhir, daripada kumat, lebih baik mengalah menghindari kopi. Namun, akhirnya saya tergoda juga, Nenny, yang duduk tepat di samping saya menjadi korban, kopi dalam cangkir mungilnya habis saya sesap nikmat, dengan kesan asam yang lumayan kuat ..

Lalu, apa istimewanya Kopi Lelet selain kesan asam yang dominan ?

Ternyata ‘pertunjukan’ baru akan dimulai, Teman ..

Seorang warga setempat, yang menemani kami nongkrong di warung Mas Karjin, mengatakan hendak menunjukkan cara ngelelet. Kejutan apa lagi ini ? Apa itu ngelelet ?

Yak, ngelelet adalah kebiasaan khas Lasem yang memadukan 3 hal, yaitu kopi, rokok dan batik : membatik di atas rokok menggunakan ampas kopi ! Wow ..

Dan, inilah mengapa kopi khas Rembang disebut sebagai Kopi Lelet ..

Si Bapak pun mulai menunjukkan kegiatan ngelelet pada kami. Beliau memindahkan ampas kopinya dari cangkir ke piring tatakan kecil, mengurangi konsentrasi air dengan cara menempelkan sehelai tissue di atas permukaan ampas tersebut. Kemudian, Si Bapak mencampur ampas kopi dengan beberapa tetes susu kental manis, yang nantinya berfungsi sebagai lem saat ampas di-lelet ..

Nah, pada fase ini, ampas kopi telah berubah menjadi semacam tinta yang siap di-lelet-kan di atas badan rokok dengan aneka macam motif batik. Unik, kan ?

Dengan cekatan, Si Bapak mengambil tusuk gigi, nyolek ampas kopi, kemudian mulai menorehkan tinta hitam tersebut di sebatang rokok. Saya sampai melongo, memperhatikan Beliau ngelelet. Jelas tidak mudah, badan rokok terbilang sempit, bukan ? Apalagi tinta yang digunakan dari ampas kopi, cantingnya pun sesederhana tusuk gigi. Duh ! Tapi lihat hasilnya, voilaaa, mahakarya ! Hasil batikan Si Bapak begitu rapi, luwes dan nyeni ..

Rokok-rokok yang telah selesai di-lelet diletakkan di sebuah tatakan khusus yang terbuat dari kayu. Selain untuk mengeringkan, tatakan tersebut juga berfungsi sebagai ruang pamer. Bagaimana tidak, lima atau enam batang rokok yang sudah berhias motif-motif batik cantik itu menyandar sejajar, memanjakan mata untuk sekedar mengaguminya ..

Apakah sudah, cukup sampai disitu saja ?

Ternyata belum juga, Saudara ..

Takdir rokok-rokok yang telah di-lelet tersebut tidak berhenti di tatakan khusus tersebut. Warga Lasem biasanya tetap menghisapnya hingga puntung. Katanya *tentu saja, karena meski mengagumi kebiasaan ngelelet, saya tidak akan pernah menghisap rokok-rokok tersebut*, rasa rokok yang telah di-lelet itu berbeda, lebih nikmat karena beraroma kopi. Aahh, kreatif sekali .. 😉

Yak, satu hal lagi yang membuat saya makin cinta pada Lasem : Kopi Lelet. Why ? Karena Kopi Lelet membuat kegiatan yang awalnya tampak non-sense, yaitu nongkrong di warung kopi, menjadi memiliki nuansa budaya. Membatik adalah salah satu ruh penting yang berputar di raga Lasem, maka warga setempat pun mewujudkannya, bahkan ketika duduk-duduk, ngobrol-ngobrol di warung kopi ..

Ngopi, mbatik dan ngrokok .. Kopi Lelet .. Lasem .. 😉

***

7 thoughts on “Ngopi + Mbatik + Ngrokok = Kopi Lelet ..

  • April 26, 2013 at 21:05
    Permalink

    @ isna : Betul, memang unik .. Saya pun ga suka sama rokok dan perokok, tapi saya menaruh apresiasi pada kebiasaan Ngopi Lelet ini ..

    Reply
  • May 2, 2013 at 22:12
    Permalink

    Ternyata ada sisi lain lagi dari kegiatan nongkrong di warung kopi.

    Reply
  • May 3, 2013 at 19:59
    Permalink

    @ p49it : Betul, Mba .. Bahkan di Lasem, nongkrong di warung kopi sambil merokok pun tetap memperhatikan budaya yang mendarah daging disana : MEMBATIK .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: