Rumah Oma Opa : Kesahajaan Sesungguhnya ..

Masih di Lasem ..

Copy of IMG_0718

Di tengah teriknya mentari hari itu, saya dan teman-teman menyusuri satu lagi heritage street milik L’ Petit Chinois ini : Karangturi. Rumah-rumah besar bergaya indies membuat saya berpikir bahwa daerah ini pernah dihuni golongan borjuis pada masanya dulu ..

Bukan tanpa alasan ketika Mas Pop kemudian mengajak kami masuk ke salah satu rumah yang terletak di Karangturi Gg. IV No. 17. Sama seperti yang lainnya, rumah ini bertembok keliling penuh dengan sebilah gerbang berwarna hijau, dilengkapi dengan pintu ayun bercorak khas. Inilah Rumah Oma Opa ..

Seorang laki-laki renta, duduk lesehan di depan gerbang. Pakaian yang dikenakannya amat sangat sederhana : celana kolor selutut dan kaos singlet, keduanya berwarna putih, seputih seluruh helai rambut yang merimbun di kepalanya. Dialah Sang Opa, pemilik rumah yang akan kami kunjungi ini. Senyumnya menghangat saat Mas Pop menyampaikan maksud untuk berkunjung, sepertinya ia telah terbiasa dengan kedatangan orang-orang asing yang berminat melihat-lihat rumahnya. Kami dipersilahkannya masuk ..

Sesaat setelah melewati gerbang Rumah Oma Opa, saya terpana ..

Copy of IMG_0708

Saya melihat sebuah rumah yang jelas telah berbilang ratusan tahun usianya. Material dindingnya kayu jati, lantainya berubin sederhana berwarna merah bata. Seperangkat kursi anyaman bambu seperti menyambut kami di berandanya, yang dibatasi dengan pagar besi tempa berukir khas. Beberapa ornamen Cina dan foto-foto lama tergantung seadanya di dinding beranda. Belum lagi, keteduhan yang mendadak melingkupi kami, mungkin karena beberapa tanaman rambat yang dibiarkan menjalar liar disana-sini. Keren !

Kami dipersilahkan duduk, sementara Sang Opa kembali lesehan di depan pintu rumah. Satu demi satu mengalir dari mulutnya ..

Copy of IMG_0716

Opa memperkenalkan diri dengan nama Kadjarni. Belakangan saya tahu, ini nama Jawanya, sementara nama Cinanya adalah Lo Khing Gwan. Beliau tinggal bertiga dengan perempuan tua yang dikenal orang sebagai Sang Oma : Sri Khalawati Gunawan dan pengasuh setia mereka : Mbak Menuk. Seperti kebanyakan teman, saya mengira Opa dan Oma adalah sepasang suami istri, namun ternyata salah, mereka berdua adalah sepasang saudara sepupu, yang sama-sama tidak menikah dan memutuskan hidup bersama di rumah ini ..

Lalu Opa Kadjarni menceritakan tentang sejarah rumah tua milik leluhurnya ini. Seperti dugaan awal saya, rumah ini telah berusia lebih dari 150 tahun, dibangun oleh Engkong Opa Kadjarni, Liem Sie Tong, seorang shinsei di Lasem ..

Melangkah ke dalam ruangan berikutnya ..

Kesan kelam begitu terasa, dinding kayu berwarna coklat melingkupi ruang doa, yang memiliki sehamparan meja altar. Berbagai barang kuno teronggok di sekelilingnya, mereka seolah kumpulan saksi bagaimana waktu menggerus rumah ini, juga penghuninya. Semakin ke dalam, saya menemukan sebuah tempat tidur kayu ukir, lengkap dengan kelambu. Kasurnya lapuk, hanya dialasi selimut lurik, bantal gulingnya pun tipis kehabisan kapuk ..

Di ruang tidur inilah, pertama kalinya saya terhenyak, kesederhanaan ini begitu nyata. Lebih dari itu, saya mendadak yakin bahwa sepasang renta ini tumbuh menua bersama dalam keheningan yang nyata. Waktu berlalu lalang, keriuhan modernisasi pun menggilas segala macam masa lalu. Sementara mereka berdua tetap membeku di dalam rumah tua, membiarkan keteguhan menjaga peninggalan leluhur memasung mereka dalam kesederhanaan dan keheningan seperti ini ..

Air mata saya pun akhirnya luruh, saat saya melangkah ke bagian paling belakang dari Rumah Oma Opa ..

Copy of IMG_0711

Disana, Oma Sri Khalawati Gunawan duduk mengenakan baju terusan warna biru. Wajahnya teduh, tanpa beban dan sangat ramah. Ya, saya menangis, karena saat sapaan hormat saya tidak berbalas, Mba Menuk menjelaskan kondisi Oma,

Oma ndak bisa denger, Mba .. “.

Sempurnalah keheningan yang saya maksudkan tadi, bukan ?

Mba Menuk pun bertutur bahwa Oma dan Opa selalu berkegiatan sendiri-sendiri. Oma duduk-duduk di rumah belakangan sepanjang hari, sementara Opa bersantai di pinggir jalan atau beranda. Mereka bertemu saat jam makan atau kala berdoa di altar, tanpa saling berkata-kata. Sudah ..

Berkali-kali saya mengusap mata yang basah ..

Berkali-kali pula saya meracau pada teman-teman bahwa mereka menua dalam kesederhanaan, mereka merenta dalam keheningan. Inilah kesahajaan yang sesungguhnya. Saya melihat pada mata mereka yang menatap tanpa sedikit pun menaruh curiga. Saya merasa dari tuturan Opa tentang kesiapan kapanpun dipanggil Yang Kuasa. Saya mendengar lewat sapaan “Selamat pagi ..”-nya Oma meski kehadiran kami sudah lewat tengah hari ..

Ya, saya belajar tentang sebenar-benar kesahajaan lewat mereka berdua, Oma Sri Khalawati Gunawan dan Opa Kadjarni, di dalam rumah mereka ..

***

9 thoughts on “Rumah Oma Opa : Kesahajaan Sesungguhnya ..

  • May 11, 2013 at 23:07
    Permalink

    ini salah satu postinganmu yang paling kutunggu Zah 😀

    Membacanya perlahan berasa seperti melangkah kembali ke halaman rumah Opa – Oma …

    Beliau berdua (atau bertiga?) menjalani hari-hari dengan bersahaja. Kesederhanaan yang ternyata luar biasa

    Reply
  • May 11, 2013 at 23:29
    Permalink

    Gud story and I hope I can join with that kind of trip,,two thumbs up

    Reply
  • May 12, 2013 at 20:05
    Permalink

    @ mba dian : Sepakat, Mba Dian, mudah2an suatu saat pas kita balik ke Karangturi, Oma dan Opa masih sehat, menyambut kita sehangat Maret lalu ya .. 😉

    @ fanita : Iya, sayang banget kemaren kamu ngga bisa gabung, Nit. Next time ya .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: