Menapaki Jejak Islam di Semarang ..

Semarang ..

Ibu kota Propinsi Jawa Tengah ini dikenal memiliki Kelenteng Sam Po Kong yang megah dan puluhan kelenteng-kelenteng lain di kawasan Pecinan. Pagoda Avalokitesvara pun berdiri kokoh dan indah di sekitaran batas kota, seolah menjadi landmark baru bagi kota pesisir ini. Namun siapa sangka, Semarang menyimpan sejarah panjang tentang perkembangan Islam berupa Masjid berusia ratusan tahun. Bangunan-bangunan tua itulah yang menjadi saksi bahwa Islam pun tumbuh sehat disini. Tidak menggegap gempita, hanya tersimpan sederhana di beberapa titik kota, hingga tidak banyak orang tahu, apalagi peduli ..

Saya dan Rana, sahabat saya, sempat menapaki satu demi satu Masjid-Masjid tersebut. Memang baru 5, namun saya masih menargetkan diri saya sendiri untuk mencari yang lainnya ..

Inilah 5 Masjid tua, nan bersejarah di Semarang tersebut ..

1. Langgar Al Yahya, Jl. Gandhekan No. 15, Semarang Tengah, Semarang ..

IMG_0801

Lagi-lagi, siapa sangka, di tengah kampung yang didominasi warga Tionghoa, sebuah Langgar atau Musholla kecil berusia hampir 200 tahun ini berdiri disana. Langgar Al Yahya yang biasa disebut oleh warga setempat sebagai Langgar Gandhekan ini merupakan peninggalan Tasripin, pribumi kaya asal Semarang ..

Saat saya dan Rana sampai disana, suasana begitu sepi, karena memang masih sangat pagi. Warna hijau mendominasi hampir keseluruhan bangunan. Kami beranikan diri untuk masuk ke dalamnya. Muram, penerangan seadanya, jendela pun belum dibuka. Namun, terlepas dari itu, Langgar ini benar-benar terlihat kokoh. Temboknya tebal, kayu penyusun kusen, pintu dan jendelanya antep, lantainya terbuat dari jajaran kayu jati tua, hingga ketika saya melangkahkan kaki, terdengar deraknya ..

IMG_0791

Langgar Gandhekan ini memiliki luas yang minimalis, saya mengira tidak lebih dari 25 m2, itupun masih disekat kain sebagai pembatas jemaah pria dan wanita. Atapnya menggunakan model atap bertingkat 3, dengan ornamen bunga menghiasi pucuknya. Tidak ada yang berubah dari bangunan ini, karena begitulah pesan dari keturunan Tasripin. Kentongan tua, detail pintu dan jendela, ukiran kaligrafi sederhana, lantai kayu dan sebagainya. Pengelola Langgar hanya menambah keramik di sekeliling dinding, untuk mengurangi kelembaban dan mengganti genting yang pecah. Itu saja ..

al yahya

Di Sabtu pagi itu, saya menemui kejanggalan yang menenangkan. Sebuah tempat ibadah yang menjadi saksi perkembangan Islam di Semarang, berdiri di tengah komunitas Tionghoa yang begitu kental. Tidak ada sentimen apapun, apalagi kerusuhan, yang ada hanya saling menghormati dan toleransi yang tinggi .. 😉

2. Masjid Menara Kampung Melayu, Jl. Layur No. 33, Semarang Tengah, Semarang ..

IMG_0806

Saya dan Rana melanjutkan penelusuran jejak perkembangan Islam di Semarang. Setelah meninggalkan Kampung Gandhekan, kami menuju ke tepian Kali Semarang ataulebih sering disebut dengan Kali Mberok, tepatnya di Jl. Layur. Kami harus menyusuri jalanan yang terendam air pasang, sebelum akhirnya sampai di depan Masjid bersejarah ini ..

Bangunannya khas, mudah ditemukan. Berpagar keliling, dengan warna hijau mendominasi dan sebuah menara megah menjulang tinggi. Gerbangnya tertutup, meski tidak rapat. Pelan-pelan saya membukanya, sepi, ada seseorang di dalam rumah jaga, namun berkali saya mengucap salam tidak ada balasan. Hmm, ternyata Masjid Menara Kampung Melayu atau yang biasa disebut Masjid Layur ini pun tidak besar. Bangunan utamanya hanya berukuran kurang dari 100 m2, namun pelatarannya cukup luas ..

IMG_0808

Masjid ini berdiri di tengah perkampungan yang dihuni oleh etnis Melayu, pada masanya dulu *sejak tahun 1743*. Berada di tepian sungai yang saat itu digunakan sebagai sarana utama perdagangan dan transportasi. Maka tidak heran, jika sejarah bercerita tentang pembangunan Masjid ini oleh para saudagar asal Yaman, pada tahun 1802. Arsitekturnya mengadopsi budaya Arab, Melayu dan Jawa sekaligus : pagar keliling tinggi dan memiliki gerbang (Arab), atap bersusun tiga (Jawa) dan lantai yang tinggi, serta pondasi batu yang menopang struktur kerangka kayu (Melayu). Satu hal yang menarik perhatian saya adalah ornamen jendelanya yang unik, berbentuk segi enam beraturan ..

layur

Mengenai menara, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa menara tersebut adalah bekas mercusuar, namun ada pula yang mengatakan bahwa menara tersebut sejak awal memang difungsikan sebagai bagian tak terpisahkan dari Masjid ..

Terbayang di benak saya, Masjid ini dulu ramai disinggahi para pedagang yang melintas di Kali Semarang. Mampir sholat, membangun relasi dan kembali melanjutkan perjalanan untuk berdagang. Ah, masa lalu yang syahdu ..

3. Masjid Agung Semarang, Jl. Alun-Alun Barat No. 11, Semarang Tengah, Semarang ..

IMG_0839

Kalau ada yang mengatakan bahwa Masjid Baiturrahman yang terletak di Simpang Lima adalah Masjid Agungnya Semarang, jangan percaya. Itu salah. Seperti halnya pendapat bahwa Simpang Lima merupakan alun-alunnya Semarang, itu pun tidak benar. Masjid Agung Semarang yang sebenarnya adalah Masjid yang kini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kauman, letaknya di tengah Kampung Kauman, tidak jauh dari keriuhan Pasar Johar. Lalu, alun-alunnya mana ? Alun-alun Kota Semarang yang sesungguhnya, ya, pelataran di depan Masjid Kauman, yang kini ditempati oleh para pedagang tiban dan kios-kios Pasar Yaik Baru ..

IMG_0830

Masjid Agung Semarang dibangun oleh Ki Ageng Pandanaran pada abad ke-16, meski hingga kini telah mengalami renovasi berkali-kali. Menurut prasasti yang tertempel di gapura utama, pada masa kepemimpinannya, Ki Adipati Surahadimenggala III, Bupati Semarang, merenovasi Masjid hingga menjadi lebih besar pada tahun 1759 – 1760. Renovasi besar selanjutnya dilakukan oleh RM Tumenggung Aria Purbaningrat, Bupati Semarang, pada tahun 1867. Kemudian, Masjid ini pernah terbakar tanggal 11 April 1885, lalu R Tumenggung Tjokrodipuro, Bupati Semarang, memperbaikinya bersama dengan seorang Asisten Residen bernama GI Blume. Arsitek yang dipercaya mengerjakan perbaikan ini adalah seorang berkebangsaan Belanda bernama GA Gambier. Perbaikan selesai pada tanggal 23 November 1890.

AH. Plas, seorang penulis Belanda dalam bukunya yang berjudul Van’t Verjongde Semarang En’t Verjongde Semarang (1911) menyebut Masjid Agung Semarang ini sebagai De Fraii Misigit atau Sebuah Masjid yang Indah ..

4. Masjid Taqwa Sekayu, Jl. Sekayu Masjid, Semarang Tengah, Semarang ..

IMG_0851

Saat teman-teman shopping atau sekedar makan dan nonton di Mal Paragon, pulangnya, coba sempatkan melongok ke Kampung Sekayu yang berada tepat di belakang keriuhan pusat perbelanjaan tersebut. Sangat berbeda dengan Mal Paragon yang gegap gempita dan bertabur lampu-lampu meriah, pemukiman asli Semarang ini semakin sepi dan terasing dari peradaban. Ironi, padahal letaknya di tengah kota ..

Disana pula lah, sebuah Masjid bersejarah berdiri dengan segala kesahajaannya ..

Masjid Taqwa Sekayu, namanya. Konon, Masjid mungil yang berdiri di atas lahan seluas 349 m2 dan luas bangunan 174 m2 ini lebih tua beberapa tahun dibanding dengan Masjid Agung Demak. Bagaimana tidak, Masjid Taqwa Sekayu dipercaya dibangun pada tahun 1413 oleh Kyai Kamal, seorang ulama dari Cirebon, sekaligus orang kepercayaan Sunan Gunung Jati, sementara Masjid Agung Demak dibangun pada tahun 1420 ..

Menurut beberapa referensi yang saya baca, Kampung Sekayu pada mulanya adalah lokasi penampungan kayu, yang dikirim dari luar Kota Semarang. Konon, kayu-kayu dari Kampung Sekayu inilah yang digunakan untuk membangun Masjid Agung Demak ..

IMG_0844

Menilik struktur bangunannya, terlihat jelas bahwa Masjid Taqwa Sekayu ini telah mengalami perubahan besar. Hanya kubah dan tiang pancangnya saja yang masih dipertahankan. Kubah Masjid mengadopsi ciri khas Jawa, yaitu puncak atap berupa ornamen bunga. Sementara tiang pancang atau penyangga inti Masjid ada 4, terbuat dari balok kayu jati yang berukir. Namun untuk menghindari kerusakan, balok-balok tersebut dilapisi sisiran kayu, sehingga yang tampak sekarang hanyalah tiang bulat berwarna cokelat tua. Balok kayu penyangga inti Masjid tersebut merupakan hadiah dari Raden Patah, Raja Bintoro Demak, kala itu, sebagai ucapan terima kasih atas peran serta ulama-ulama Masjid Taqwa Sekayu dalam membantu pembangunan Masjid Agung Demak ..

Di dalam areal lahan Masjid, terdapat makam Kyai Kamal, Sang Pendiri Masjid ini. Sayang, saya tidak sempat menziarahinya ..

IMG_0848

Dan satu hal lagi yang unik, dari garis shaf yang terlihat agak serong ke kanan, menandakan bahwa Masjid ini mengalami salah arah kiblat. Sehingga mimbar imam tidak lagi menempati ceruk yang tersedia, namun mengikuti garis shaf, agak mengarah ke sudut kanan bangunan utama ..

5. Masjid Asy Syuhada, Jl. Syuhada, Tlogosari Kulon, Semarang ..

IMG_0867

Tidak semua penelusuran yang saya dan Rana lakukan saat itu berjalan lancar. Setelah keempat Masjid berhasil disambangi dan ditangguk cerita masa lalunya, justru tujuan terakhir membuat kami agak tersaruk-saruk ..

Masjid As Syuhada, ini tujuan kelima kami ..

Sebuah Masjid yang berlumur cerita heroik tentang perjuangan para pahlawan saat berperang melawan penjajah. Kala itu, para pejuang memanfaatkan Masjid ini sebagai tempat berlindung, entah siapa yang membocorkan, mereka diserang habis-habisan secara mendadak. Itulah sebab Masjid ini diberi nama Asy Syuhada atau berarti juga pahlawan ..

Lokasinya di Jl. Syuhada, melenceng jauh dari keempat Masjid sebelumnya. Saya benar-benar buta, tidak ada gambaran mengenai lokasi Masjid ini. Berkali-kali mencari, tanya orang kesana kemari, tidak ada jawaban yang kami peroleh secara pasti. Ndilalah hujan deras pula. Sempat hampir putus asa, berhenti dan mengakhiri pencarian, namun ketika seorang Ibu menginformasikan keberadaan sebuah Masjid tua di Jl. Syuhada Barat III, saya dan Rana pun melanjutkan perjalanan ..

Benar, disana memang berdiri sebuah Masjid, namun setelah bertanya pada Sang Penjaga, kok dibangunnya baru sekitar tahun 1970-an ?! Salah dong ..

Berbekal sedikit perbincangan dengan penjaga tersebut, saya menyimpulkan, ada Masjid lain yang memang benar-benar Masjid As-Syuhada yang kami cari. Tidak jauh, hanya menyusuri jalan kampung kurang dari 500 m ..

Dan voilaaa ..

Kami menemukannya ! Sayangnya, dalam kondiri sedang direnovasi total. Tembok bersejarah, yang masih menyisakan lubang-lubang bekas tembakan penjajah sudah rubuh, habis sama sekali. Hampir menangis rasanya mendapati fakta ini, tapi akhirnya saya dan Rana sama-sama menertawai perjalanan pagi hingga sore, yang berakhir cukup tragis itu .. 😉

Itulah kelima Masjid bersejarah yang ada di Kota Semarang. Saya yakin masih banyak yang lainnya, insya Allah saya akan menelusurinya satu demi satu di lain waktu. Semoga menginspirasi, karena jejak Islam itu nyata, tidak jauh dari tempat kita berdiri sekarang. Meski kadang terpinggirkan dan lepas dari kepedulian kita, Umat Muslim itu sendiri ..

***

9 thoughts on “Menapaki Jejak Islam di Semarang ..

  • June 9, 2013 at 17:26
    Permalink

    @ bee : Malah saya sama Rana sama sekali ngga sholat di salah satu Masjid yang kami kunjungi, Bee .. Hehehe .. 😉

    Reply
  • June 25, 2013 at 22:39
    Permalink

    Hiks eman banget yahh Masjid Asy Syuhada-nya dirombak total…jadi ilang deh sejarahnya :(

    Reply
  • June 27, 2013 at 19:34
    Permalink

    @ halim : Banget ! Padahal bukti perjuangan para syuhada adanya ya di tembok Masjid, Lim, katanya banyak lubang2 bekas peluru gitu. Dan sekarang ilang .. :(

    Reply
  • June 13, 2014 at 10:32
    Permalink

    assalamualaikum wmwb boss rumah saya dekat masjid yang ke 5…hehehe wmwb trimakasih

    Reply
  • June 13, 2014 at 20:46
    Permalink

    @ mochammad zainil : Waalaikumsalam, salam kenal .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: