Kisah Dua Bukit : Setumbu dan Rhema ..

Setelah hari sebelumnya puas mengeksplorasi Candi Ngawen, Kerkhof Muntilan dan Kelenteng Hok An Bio, saya, Mba Yusmei, Indra, Afa dan Yhudi melanjutkan perjalanan di Minggu pagi yang masih begitu dini. Tujuan kami : muncak Setumbu. Saat itu, rombongan bertambah 2 orang, yaitu Chan dan Kiki, abang adik yang siap menemani pendakian mini kami ..

Bukit Setumbu atau juga biasa disebut Punthuk Setumbu, sudah bukan merupakan destinasi yang asing di wilayah Kabupaten Magelang. Terletak tidak jauh dari Candi Borobudur, tepatnya di Desa Karangrejo, kurang lebih 5 km ke arah Barat dari kompleks candi. Bukit ini disebut-sebut sebagai salah satu tempat terbaik untuk hunting sunrise, disejajarkan dengan Bukit Penanjakan di Bromo dan Bukit Sikunir di Dieng ..

IMG_0944_2

Sebelumnya, saya pernah muncak Setumbu pada Mei 2012. Saat itu, pendakian bukit setinggi 400 MDPL itu terasa begitu menyiksa. Selain karena saya mendaki paska hujan, hingga jalan setapak sangat becek dan licin, ketiadaan penerangan benar-benar membuat saya yang buta medan harus was-was di sepanjang perjalanan. Surprise ! Waktu setahun ternyata cukup bagi Setumbu untuk berbenah. Areal parkir kendaraan dipantaskan, penerangan dimaksimalkan, fasilitas di puncak pun sangat layak, meliputi kamar mandi, wedang hangat dan gardu pandang. Pungutan resmi sebesar 15K IDR pun tidak dirasa berat oleh para pengunjung, karena perbaikan-perbaikan tersebut ..

Kami bertujuh mulai mendaki sekitar pukul 5 pagi. Tidak terlalu ramai, cuaca pun cerah, sayangnya golden sunrise yang menjadi andalan Setumbu belum mau berjodoh dengan saya. Awan cukup pekat menghalangi cakrawala, hingga tidak ada bulatan matahari muda yang muncul disana. Alhamdulillah, layer kabut masih bersahabat, bukit-bukit berpohon di antara Punthuk Setumbu dan Candi Borobudur menjadi tampak begitu cantik karenanya. Yihaaa ..

IMG_0930_2

Tidak berlama-lama di puncaknya, kami bertujuh segera menuruni Setumbu sekitar pukul 6 pagi ..

Ada 1 tujuan penting lagi yang harus kami sambangi, yaitu Bukit Rhema ..

Tidak seperti Bukit Setumbu, Bukit Rhema, yang terletak di Desa Kembanglimus ini memang jauh dari publikasi. Ada apa sebenarnya disana ?

Di puncak bukit yang vegetasinya masih terbilang rapat dan dipagari Pegunungan Menoreh itu berdiri sebuah bangunan terlantar. Bentuknya sangat unik, menyerupai burung dara, lengkap dari kepala hingga ekor. Masyarakat sekitar biasa menyebutnya Gereja Ayam, Gereja Manuk-Manukan atau Gereja Merpati. Sayangnya, Gereja ini tidak pernah difungsikan, sebab tidak selesai proses pembangunannya dan mangkrak begitu saja. Informasi awal mengenai bangunan ini saya peroleh dari Chan, yang sudah terlebih dahulu mengunjunginya ..

Penasaran seperti apa bangunan unik itu, setelah menitipkan kendaraan di halaman rumah Kepala Dusun, kami bertujuh segera melangkahkan kaki ke setapak jalan tanah campur batu dengan tingkat kemiringan yang mengerikan, meskipun jaraknya tidak sejauh jalur tracking Setumbu. Jujur, saya agak pesimis bisa menempuhnya kala itu ..

Setelah terengah-engah setengah mati, sampailah saya di puncak Bukit Rhema ..

IMG_0959

Sungguh, saya ternganga, sebentuk kepala merpati raksasa menyambut saya disana, di antara rimbunnya pepohonan dan rapatnya semak-semak. Itulah Gereja Ayam, Gereja Manuk-Manukan atau Gereja Merpati, whatever it called ..

Saya sibuk mengedarkan pandang, bangunan itu masih terlihat kokoh, meski cat putihnya sudah pudar dan mengelupas dimana-mana. Paruh Sang Merpati berwarna merah, susunan keramik melingkar di bagian lehernya, kepalanya mendongak ke atas, lengkap denganjambulnya. Sementara, ruangan inti dari bangunan ini berada di dalam “tubuh” Sang Merpati, terdiri dari 2 lantai ..

Chan mengajak kami melipir ke sisi kanan bangunan, pemandangan Menoreh membentang di area terbuka yang kami lewati. Sampai di ujung belakang bangunan, terdapat lubang cukup besar yang dapat kami gunakan untuk memasuki lantai 2 ruangan inti. Satu per satu dari kami memanjati lubang tersebut ..

Kemudian, lagi-lagi saya terperangah ..

IMG_0978

Ruangan itu cukup luas, semacam aula sepertinya dan beberapa pilar terlihat merebah di lantai yang dipenuhi pasir dan debu halus. Di bagian bawah kepala merpati, tampak beberapa bias cahaya masuk melalui lubang-lubang ventilasi. Sangar ! Ukir-ukiran berbahan dasar gypsum pun terlihat menempel di sisi atas ruangan. Saat saya mendongakkan kepala, sebuah lubang berbentuk salib terdapat di atap bangunan. Dari sana, langit biru sempurna menyapa saya ..

Usai mengeksplorasi lantai 2, Chan mengajak kami mengitari bangunan dan berbelok ke sisi kiri. Ternyata vegetasi di sisi kiri jauh lebih rapat dibanding di sisi kanan, hal tersebut membuat kondisi semakin suram. Disana, kami menemukan ceruk-ceruk gelap yang seolah pasrah dengan kondisi tak terawatnya, bahkan nyaris penuh dengan aksi vandalisme orang-orang. Kami menduga, bagian ini adalah ruang-ruang doa, sekaligus pintu masuk ke dalam bangunan..

*ppsstt, saya merinding banget disini, makanya saya ngga turun, mengeksplorasi lantai 1, justru buru-buru menjauh*

IMG_0981

Lalu, sebenarnya bangunan berbentuk Burung Merpati itu dimaksudkan untuk apa ?

Selain Gereja, bangunan tersebut sempat disebut-sebut diperuntukkan sebagai pusat rehabilitasi narkoba. Namun karena ketiadaan biaya, akhirnya proses pembangunan terhenti dan menjadi terlantar seperti saat ini ..

Seorang Kristiani, teman kami, setelah melihat foto-fotonya dan mendengar sekelumit cerita, sempat berpendapat bahwa ada yang aneh dengan bangunan ini. Jika memang diperuntukkan sebagai Gereja, semestinya segala macam perijinan bahkan pendanaan sudah direncanakan sedemikian rupa, lengkap dengan penanggungjawabnya. Menurutnya, bangunan ini milik sekelompok orang yang tergabung dalam aliran kepercayaan tidak wajar. Pendapat tersebut didukung dengan pemilihan lokasi pembangunan yang ajaib : di puncak bukit, di tengah hutan dan akses jalan yang tidak mudah ..

Wallahu’alam ..

Apapun masa lalunya, bangunan ini masih menyimpan kemegahan, sekaligus aura magis yang luar biasa ..

Saat matahari sudah sepenggalah, kami menuruni Bukit Rhema. Meninggalkan Gereja Merpati yang tetap angkuh tersembunyi dibalik kerapatan vegetasi. Semoga nanti akan ada kejelasan mengenai nasib bangunan unik ini, karena sungguh sayang membiarkannya mangkrak tanpa fungsi ..

Minggu pagi itu, saya mendapatkan kesan dari 2 bukit yang terletak berdampingan di lingkup Kabupaten Magelang : Setumbu dan Rhema. Dua kesan yang berbeda, namun sama-sama menawan ..

***

Notes : Tulisan lain mengenai Bukit Rhema, dapat dibaca di SINI ..

18 thoughts on “Kisah Dua Bukit : Setumbu dan Rhema ..

  • June 29, 2013 at 12:39
    Permalink

    @ isna : Kalo ayam jago di puncak bangunan, bukan hal yang asing, Isna. Di bangunan2 kuno, ornamen ayam jago itu sebenarnya penunjuk arah angin. Menurut saya, ngga ada filosofi khusus ..

    Reply
  • June 29, 2013 at 15:21
    Permalink

    Kok Farchan ketok langsing ya ning kene? *komen OOT* :p

    Reply
  • June 29, 2013 at 15:51
    Permalink

    @ bee : Tergantung sudut pengambilan foto owk, Bee .. XD

    Reply
  • July 1, 2013 at 09:28
    Permalink

    Ohh…jadi Gereja Manuk-manukan di Bukit Rhema yah?
    Okeyy siap meluncur, mbak Noe siap jadi guide anter ke sana nggak? #ehh
    :-)

    Reply
  • July 1, 2013 at 14:37
    Permalink

    @ halim : Siap ! Insya Allah kalo waktunya pas, aku mau balik ke Bukit Rhema lagi, Lim. Eh, btw, jadi ikut Jelajah Plengkung wiken besok kan ? Ketemuan kitaaa .. 😉

    Reply
  • July 2, 2013 at 18:28
    Permalink

    @ sapar : Jujur yaaa .. Ada 1 foto yang diambil pake BB nya Indra, ada penampakannya dong deh .. Xixixixi .. 😉

    Reply
  • July 4, 2013 at 09:30
    Permalink

    let me know kalau mau balik ke bukit rhema lagi mbak-e, melu sisan :)

    Reply
  • July 4, 2013 at 20:16
    Permalink

    @ fahmi : Siap ! Tapi kapan yo ? Kayane sing bisa dipastikan le ning Kembanglimus e thok, nyamber mangut .. 😉

    Reply
  • May 11, 2014 at 21:07
    Permalink

    @ agung : Juara banget ! Salam kenal kembali, Kak .. 😉

    Reply
  • August 10, 2014 at 08:34
    Permalink

    wahh keren, yook ikut nek meh kesana

    Reply
  • September 13, 2014 at 12:35
    Permalink

    deket sama rumahq,tp malah blm prnh ksana

    Reply
  • September 15, 2014 at 19:47
    Permalink

    @ jul : Wah, sayang sekali .. Disempatkan dong, Kak .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: