Yang (Nyaris) Terlupakan .. #SaveLokananta

Siang itu, hawa panas Solo menyapa saya, Indra dan Almira. Kami baru saja sampai di Tirtonadi, setelah menempuh kurang lebih 3 jam perjalanan dari Semarang. Tak lama menunggu, Mba Yusmei dan Krisna sudah melambai-lambaikan tangan dari seberang jalan. Yuhuuu, simple weekend gateaway dimulai .. πŸ˜‰

Tujuan pertama adalah Lokananta, studio rekaman pertama di Indonesia ..

IMG_1020

Lokananta terletak di Jalan Jend. Ahmad Yani No. 387, Solo. Seperti layaknya bangunan-bangunan lawas di Indonesia, nasibnya mengenaskan, meskipun Lokananta masih lebih beruntung, karena masih ada pengelola yang eksis ..

Seperti sudah saya sebutkan tadi, Lokananta merupakan studio rekaman pertama di Indonesia. Berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956, dipelopori oleh pegawai RRI Surakarta yang bernama Oetojo Soemowidjojo dan Raden Ngabehi Soegoto Soerjodipoero. Awalnya Lokananta adalah pabrik piringan hitam, seiring perkembangan, tugas yang diemban tidak hanya sebatas produksi piringan hitam, namun juga meliputi perekaman, hingga penjualannya. Nama Lokananta sendiri berasal dari ranah pewayangan yang berarti gamelan milik khayangan bersuara merdu, merupakan usulan musisi R. Maladi ..

IMG_1028_2

Pada era tahun 60-an, Lokananta berubah status menjadi perusahaan negara. Bidang usahanya pun berkembang, salah satunya memproduksi fonogram. Saat masa piringan hitam mulai pudar, tepatnya pada era tahun 70-an, Lokananta pun menghentikan produksi lempengan bersuara tersebut dan menggantinya dengan produksi rekaman pita suara magnetik yang berbentuk audio cassette. Inilah masa-masa kejayaan Lokananta, pasar musik nasional dikuasai olehnya. Sejumlah musisi kenamaan pun lahir di bilik rekaman milik Lokananta, sebutlah Gesang, Waldjinah, Titik Puspa, bahkan Ki Narto Sabdo, Sang Dalang Legendaris, merekam pementasan wayangnya disini ..

Perubahan atas Lokananta kembali terjadi pada era tahun 80-an, status perusahaan negara berubah menjadi BUMN, di bawah lingkup Departemen Penerangan. Bidang usahanya pun meluas, kali ini meliputi penggandaan film dalam format video cassette, baik Betamax maupun VHS ..

Memasuki era tahun 90-an, masa kejayaan Lokananta mulai memudar. Perusahaan label swasta yang semakin menjamur, menjadi saingan berat bagi Lokananta, belum lagi kejahatan pembajakan karya cipta tidak terelakkan. Perlahan namun pasti, kegemilangan Lokananta berubah menjadi kesuraman, ia mulai tidak diperhitungkan dalam kancah dunia musik Indonesia, disisihkan, bahkan dilupakan. Lokananta dinyatakan pailit pada tahun 2001 ..

Saat mengunjunginya, saya dan teman-teman dipersilahkan masuk ke 3 ruangan ..

Ruangan pertama terletak di sayap kanan bangunan utama, disana tersimpan aneka macam alat-alat recording, mulai dari alat produksi hingga media yang digunakan untuk memutar hasil rekaman. Saya tidak terlalu paham detail satu per satunya, saya hanya mengenal Phonograph atau alat pemutar piringan hitam dan alat pemutar video cassette bermerk Sony ..

IMG_1016

Beranjak ke ruangan selanjutnya, disinilah harta karun Lokananta tersimpan, yaitu ruang penyimpanan arsip budaya. Tidak kurang dari 40.000 keping piringan hitam tertata seadanya di rak-rak sederhana di dalam ruangan ini. Lagu-lagu daerah, lagu hiburan, pementasan wayang, hingga rekaman pidato kenegaraan Presiden Soekarno ada disini. Bahkan keping sejarah paling berharga bagi negeri ini, yaitu rekaman lagu Indonesia Raya versi tiga stanza pun bisa saya jumpai di antara deretan koleksi piringan hitam Lokananta ..

IMG_1023

Satu hal yang memprihatinkan, koleksi piringan hitam ini seharusnya disimpan dalam ruangan yang lebih layak. Paling tidak memiliki pendingin ruangan lah. Saat kami masuk, bau lembab dan pengap langsung menyergap indera penciuman. Duh, apa tidak rusak ya, piringan hitam yang telah berusia puluhan tahun disimpan seadanya di ruangan sesempit dan seminimalis itu ? :(

Ruangan ketiga yang kami kunjungi adalah studio rekaman ..

IMG_1031

Letak ruangan ini agak terpisah dari bangunan utama. Saat memasukinya, saya ternganga, tidak menyangka Lokananta memiliki ruang recording semegah ini. Berdasarkan referensi yang saya baca, semua mesin recording yang dimiliki Lokananta bermerkΒ Studer, produksi Jerman. Di seberang ruang kontrol, hanya dipisahkan selapis kaca tebal, terdapat sebuah auditorium kedap suara. Selama ini, studio rekaman yang saya tahu hanya punya ruang kontrol dan sepetak ruang bagi artisnya. Ini mah, paduan suara, bahkan grup orkestra bisa masuk semua. Wow !

Saat ini, Lokananta yang berstatus Perum Percetakan Negara RI Cabang Surakarta terseok-seok mempertahankan hidup. Ratusan pegawainya, menyusut hingga menjadi 20 saja. Kegiatan usaha yang masih dilakukan Lokananta antara lain menjadi pusat multimedia, recording, remastering, percetakan, penerbitan dan penyiaran. Terobosan lain yang coba diusahakan oleh Lokananta adalah melakukan remastering rekaman analog ke digital. Hasil remastering yang berbentuk CD dan VCD tersebut dapat dibeli di lobi bangunan. Hal ekstrim yang dilakukan pengelola Lokananta untuk bertahan hidup adalah menyewakan lahan kepada pihak ketiga, meliputi kantor asuransi, warung soto dan lapangan futsal. Memprihatinkan ..

Di tengah kondisinya yang terlupakan, beruntung seorang musisi masa kini, Glenn Fredly, berniat menyelamatkan Lokananta. Ia melakukan rekaman disana dan mempublikasikan kampanye #SaveLokananta sebagai keping sejarah Indonesia yang harus dilestarikan. Belakangan, terdengar pula wacana untuk menjadikan Lokananta sebagai Museum Musik Indonesia. Ah, semoga wacana tersebut tidak mentah dan segera bergulir menjadi rencana, bahkan direalisasikan ..

Atau paling tidak, banyak pihak yang kembali peduli untuk menyelamatkan Lokananta ..

Let’s #SaveLokananta !

***

15 thoughts on “Yang (Nyaris) Terlupakan .. #SaveLokananta

  • June 30, 2013 at 15:22
    Permalink

    Tidak sabar menunggu Lokananta menjadi museum musik Indonesia…semoga Kemendikbud tidak hanya PHP :)

    Reply
  • June 30, 2013 at 18:11
    Permalink

    @ mba yusmei : Kalo ntar beneran jadi museum, kita wajib kesana lagi ya, Mba. Horeee .. *berdoa khusyuk*

    Reply
  • June 30, 2013 at 21:50
    Permalink

    Aku mau ikut #SaveLokananta!! Pengen ke sana dan borong CD dan VCD nya dehh..

    Reply
  • July 1, 2013 at 14:35
    Permalink

    @ bee : Eh iya, kemaren aku sama Indra beli VCD Waldjinah. Bersih banget kualitas suaranya, ngga kalah sama perusahaan label swasta masa kini .. πŸ˜‰

    Reply
  • July 2, 2013 at 13:56
    Permalink

    Semoga Lokananta selalu lestari dan semoga banyak pemusik Indonesia masa kini tertarik dengan jejak langkah yang dibuat Glenn Fredly.

    Reply
  • July 2, 2013 at 18:33
    Permalink

    @ sapar : Betuuulll. Itu Krisna SMU 1 Klaten, Par .. πŸ˜‰

    @ pagitta : Amieeennn .. Semoga Lokananta beneran jadi Museum Musik Indonesia ya, Mba .. Btw, salam kenal .. πŸ˜‰

    Reply
  • July 12, 2013 at 09:26
    Permalink

    Tahun 2010 saya pernah melakukan reportase ke Lokananta untuk artikel di majalah Rolling Stone Indonesia.

    Persoalan di Lokananta sebetulnya sederhana: soal birokrasi. Sebelum berstatus BUMN di bawah Perum Percetakan Negara, Lokananta ada dibawah Departemen Penerangan. Setelah Deppen bubar LOkananta sempat terkatung-katung statusnya. Pemprov Jawa Tengah dan Pemkot Solo sebetulnya punya niatan untuk mengambil alhih pengelolaan Lokananta dan merevitalisasinya jadi Museum Musik, tapi terkendala status Lokananta yang merupakan aset pemerintah pusat.

    Saat ini sudah ada inisiatif pribadi untuk melakukan revitalisasi. Beberapa band (independen) melakukan rekaman di Lokananta: White Shoes and The Couples Company, Shaggy Dog, dan terakhir Efek Rumah Kaca untuk pryek Pandai Besi. Komunitas musik di Malang juga saat ini menjalankan saweran untuk membeli AC untuk ruang penyimpanan vinyl Lokananta, sebelumnya mereka pernah nyumbang AC tapi kebutuhan AC untuk vinyl kan tak sedikit.

    Ini hasil liputan saya dan teman. Sila dibaca jika berkenan http://www.scribd.com/doc/109230778/lokananta-menyelamatkan-musik-indonesia

    Salam,

    Reply
  • July 12, 2013 at 12:18
    Permalink

    @ masjaki : Hai, Masjaki .. Salam kenal ..

    Weekend lalu, Farchan sudah bercerita tentang liputan yang Masjaki lakukan atas Lokananta, bahkan liputan tersebut termasuk salah satu yang membuat nama Lokananta kembali terangkat ke permukaan ya. Salut, Mas .. πŸ˜‰

    Matur nuwun link-nya, segera meluncur kesana. Dan kita sama2 berharap Lokananta bisa diselamatkan ..

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: