Candi Cetho : Sisa Kemegahan Abad Ke-15 ..

Minggu, 5 Mei 2013 ..

Hari masih terbilang pagi, saat saya, Mba Yusmei, Indra dan Almira beranjak meninggalkan Kauman, untuk melipir ke luar Kota Solo. Tujuan eksplorasi kami hari itu adalah Kabupaten Karanganyar, sebuah wilayah kota mungil di sebelah Timur Kota Solo dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Banyak orang menyangka Karanganyar hanya punya Tawangmangu, dengan hutan pinus danΒ grojogan Sewu-nya, padahal banyak objek wisata lain yang menarik disana ..

Candi Cetho adalah salah satunya ..

IMG_1110

Kompleks bangunan candi ini terletak di lereng Barat Gunung Lawu di ketinggian 1496 MDPL, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Untuk menuju ke Candi Cetho ini, kami berempat melewati medan yang cukup berat : jalanan naik turun, berliku cukup ekstrim dan berkabut tebal. Meski demikian, pemandangan yang kami temui di sepanjang perjalanan sangat mengagumkan. Subhanallah, hamparan kebun teh yang seperti tidak berujung, membentang sejauh mata memandang ..

Cetho, dalam bahasa Jawa berarti jelas, sesuai dengan kondisi kompleks candi ini yang berada di puncak bukit, sehingga jika berada di pelatarannya, kita dapat menyaksikan rangkaian pegunungan yang mengelilinginya dan bentangan Solo Raya dari ketinggian ..

Candi Cetho diperkirakan dibangun pada abad ke-15, saat Kerajaan Majapahit mulai meredup masa keemasannya. Bentuk candi ini didominasi oleh punden berundak, tidak seperti candi-candi Hindu pada umumnya. Hal ini memunculkan kesimpulan bahwa setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit, kebudayaan masyarakat asli mulai muncul dan mewujud lewat Candi Cetho ini. Kompleks bangunan candi memiliki 13 teras yang meninggi ke arah puncak, dengan ukuran keseluruhan panjang 190 M dan lebar 30 M ..

Data mengenai pembangunan candi diperkuat oleh prasasti yang tertulis dalam aksara Jawa Kuno di gapura teras ke-7,

Pelling padamel irikan buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397“.

Kalimat ini ditafsirkan oleh para ahli bahwa Candi Cetho adalah tempat pelaksanaan ruwat atau ritual pembebasan diri dari kutukan, yang dibangun pada tahun 1397 Saka atau tahun 1475 Masehi ..

Candi Cetho telah melewati 4 episode penelitian dan pemugaran yang saling berkesinambungan. Pertama, candi ini mulai dikenal setelah seorang Belanda bernama Van der Vilis melakukan penelitian pada tahun 1942. Kedua, berdasarkan materi penelitian tersebut, pada tahun 1976, WF Stuterheim, KC Crucq, AJ Bernet Kempers dan Riboet Darmosoetopo melakukan pendokumentasian candi. Ketiga, pada tahun yang sama, Sudjono Humardani melakukan pemugaran kompleks candi. Pemugaran ini cukup kontroversial di masa itu, karena tidak mengikuti kaidah pemugaran cagar budaya yang benar, sehingga bentuk asli candi disinyalir hilang. Keempat, pada tahun 1982, Dinas Purbakala, yang sekarang berubah nama menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, melakukan penelitian lebih lanjut, yang disambung dengan pelaksanaan rekonstruksi ..

IMG_1115_2

Satu fakta menarik yang saya temukan di kompleks candi ini adalah bahwa ternyata Candi Cetho merupakan satu-satunya candi yang menggambarkan hubungan laki-laki dan perempuan dengan gamblang. Simbol keintiman tersebut dapat kita jumpai di teras ke-2, berupa simbol segitiga (alat kelamin wanita) dan simbol oval memanjang (alat kelamin laki-laki). Kedua simbol tersebut saling bersentuhan, disatukan oleh arca berbentuk garuda dan mewakili lambang penciptaan ..

Kisah bijak yang tersurat di Candi Cetho adalah Cerita Samudramanthana dan Cerita Garudeya ..

IMG_1114_2

Samudramanthana mengisahkan tentang taruhan 2 istri Kasyapa, yaitu Kadru dan Winata pada pengadukan lautan susu untuk mendapatkan air amarta atau air kehidupan. Gunung Mandara digunakan sebagai alat pengaduknya, ia ditopang oleh seekor kura-kura jelmaan Dewa Wisnu. Kadru memenangkan taruhan ini dengan cara yang curang, Winata pun dijadikannya budak ..

Sementara, Garudeya mengisahkan tentang pembebasan Winata oleh Garudeya, anaknya. Syarat pembebasan tersebut adalah air amarta, hingga Garudeya mati-matian mendapatkan air kehidupan tersebut. Perjuangan Garudeya tidak sia-sia, hingga Winata, ibunya berhasil bebas dari perbudakan ..

Saya, Mba Yusmei, Indra dan Almira sama-sama takjub saat menaiki satu demi satu teras Candi Cetho. Kebetulan kompleks candi sedang tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang terlihat menikmati suasana cagar budaya ini. Kabut yang silih berganti turun dan naik, sempat membuat saya merasa berada di negeri antah berantah yang agung dan mistis. Penempatan tiap teras nyaris simetris dan menuju ke arah puncak, mengesankan Candi Cetho merupakan sebuah kompleks perkampungan atau bahkan kerajaan kecil yang berkasta dan dibatasi oleh gapura-gapura ..

IMG_1126

Saya menyayangkan ketiadaan guide yang menemani pengunjung dan informasi yang memadai mengenai sejarah candi. Akhirnya, pengunjung hanya bisa menikmati keindahannya saja, tanpa mengetahui betapa luhurnya sejarah dan kisah yang tertinggal di badan candi. Kisah klasik cagar-cagar budaya yang ada di Indonesia ..

Menjelang pukul 10 pagi, saat kabut benar-benar sudah naik dan langit terlihat melengkung membiru, kami meninggalkan Candi Cetho yang mempesona. Serombongan anak muda baru saja datang dan siap memadati kompleks candi. Ah, saya berharap tidak ada vandalisme yang mereka lakukan disana .. πŸ˜‰

***

 

14 thoughts on “Candi Cetho : Sisa Kemegahan Abad Ke-15 ..

  • July 10, 2013 at 22:18
    Permalink

    Jalane ke sana bikin spot jantung hahaha. Eh tapi isih pengen ke sana lagi, mistik tapi apik :)

    Reply
  • July 11, 2013 at 10:06
    Permalink

    Udah jadi list yg pengen aku kunjungi dari beberapa tahun lalu ini.. Tapi belum ada kesempatan ke sana *hiks*

    Reply
  • July 12, 2013 at 12:22
    Permalink

    @ mba yusmei : Betul, Mba, jalanannya horor, tapi pemandangan asoy. Di kompleks candinya pun sesekali bikin merinding disko ya. Ahahahaha .. πŸ˜‰

    @ duniaely : Aslinya jauh lebih bagus, Mba .. πŸ˜‰

    @ bee : Buruan dijadwalkan ah .. πŸ˜‰

    @ isna : Kalo saya pribadi, memahami relief bukan hal sepele. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata rumitnya bukan main. Ditambah lagi, ciri khas kisah jaman dulu itu tidak pernah tersurat, pasti tersirat. Tidak hati2, bisa salah kaprah ..

    Reply
  • July 13, 2013 at 15:36
    Permalink

    Wah, udah kesana aja Mbak e satu ini, punten g sempet nemenin kemarin πŸ˜€

    Itu kalo dilihat dari konstruksi bangunannya memang asimetris, ngebangunnya terkesan buru-buru. Beda sama candi-candi lain peninggalan Majapahit yang lebih simetris dan tertata rapi. Karena pembangunannya, emang pas masa Brawijaya V yang lagi “menyingkir” di kejar sama Sunan Kalijaga. Jadi ya cepet-cepet dan hasilnya kek gitu. Coba buat garis lurus dari trap yang paling bawah sampai ke puncak, pasti g simetris. Aku dapet info nya dari dosen sejarah dan satu kawan arsitek πŸ˜€

    Kalo simbol lingga dan yoni, bbrpa ahli sejarah mengartikan kalo itu sebuah pesan buat Raden Patah. Kalo dia itu asalnya dari lingga (falus/penis) dan yoni (vagina) dua orangtuanya. “Eling asalmu soko endhi” kira-kira maksudnya. Coba buka cari “Serat Sabdo Palon Noyo Genggong / Babad Tanah Jawa” pasti bakalan ngerti maksudnya. ya, walaupun isinya campur-campur antara sejarah ma legenda.

    Di Candi Cetho, disampingnya ada semacam gapura yang ngarah ke Hutan, masuk situ aja aku dah mrinding Mbak. Itu katanya jalur pelariannya Brawijaya V ke Hargo Dumilah (Puncah Lawu). Jalur Pendakian Cetho – Lawu itu jalur ILEGAL, kalo mau harus bawa orang lokal. Dan orang Demak, Pati, Kudus disarankan g naik gunung Lawu. Ada bau-bau mistis juga akhirnya :v

    Btw, kapan2 yen nang karanganyar mampir omahku Mbak πŸ˜€

    Reply
  • July 13, 2013 at 16:08
    Permalink

    @ budhi : Wah, Duta Karanganyar e muncul juga akhir e. Hahaha ..

    Betul, Candi Cetho & Candi Sukuh semacam anomali buat situs-situs peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya. Tentang asimetris, yang aku perhatikan malah yang di Candi Sukuh, jelas banget itu ngga simetrisnya ..

    Lingga dan Yoni (Tantrayana) pun maknanya ngga semata-mata melambangkan erotisme, ada pesan bijaksana yang tersirat disana. Walaupun emang iya sih, di Candi Cetho dan Candi Sukuh, 2 simbol itu terlihat vulgar ..

    Eh iya, Budh, sempet lihat rute menuju hutan, cuma emang ngga niat napak tilas, waktu pun terbatas, jadi ya sudah, cuma keluyuran di sekitaran candi aja. Hmm, orang Demak, Pati & Kudus kenapa ngga boleh ke Lawu, Budh ? Mungkin karena mereka dianggap keturunan Kerajaan Demak yang membuat Kerajaan Majapahit kocar kacir ya ?

    Siap. Next time, tujuan utama ngrusuhi dirimu ning omahmu deh. Hahahaha .. πŸ˜‰

    Reply
  • July 13, 2013 at 16:25
    Permalink

    Iku rutene pendakian e emang angel Mbak, aku we durung pernah rono, tapi emang kudu gowo wong lokal. Babad alas beneran katane. 😐

    kalo pas di pos pendakian Cemoro Sewu emang ada pantangan buat yang ngedaki. G boleh make warna ijo pupus sama kuning. Soale kalo ijo pupus itu warna sing dipake Brawijaya V buat nyamar buat “menyingkir”. Kalo kuning itu dipake sama abdi dalem e.

    Dan gunung Lawu emang gunung mistis, kemarin pas terakhir aja diliatin banyak !
    temenku diikutin dibelakangnya kek abdi dalem pake baju kuning #mrindingdisko

    Tapi, ada banyak cerita kok yang bisa didapet pas masa akhir Majapahit. :)

    “For those who can’t remember the past, are condemned to repeat it”

    PS:
    sok ae Mbak, yen aku pas nang ngomah mampir ae πŸ˜€

    Reply
  • July 13, 2013 at 16:26
    Permalink

    Dan orang Demak, Pati, Kudus disarankan g naik gunung Lawu. <- Berarti aku gak entuk naik gunung Lawu? Yo wis.. Nek ngaku wong Banda Aceh entuk kan? Hehehe..

    Reply
  • July 13, 2013 at 16:32
    Permalink

    iso mas, biasane yo ngono :3
    tapi Lawu emang ngangenin kalo buatku πŸ˜€

    Reply
  • July 13, 2013 at 20:24
    Permalink

    @ budhi : Hmm, banyak banget ya cerita2 mistis di sekitaran kita, yang berhubungan dengan cagar2 budaya dan situs alam. Aku sih ambil positifnya, Budh, anggaplah itu bagian dari kearifan lokal, efeknya ke orang2, mereka bakalan lebih takut berbuat sesuatu yang merusak karena takut kualat, takut kena kutukan, takut diganggu makhluk ngga kasat mata dan sebagainya. Lumayan lah, cagar2 budaya dan situs alam jadi terjaga. Hehehehe .. πŸ˜‰

    @ bee : Atur aja deeehhh .. Hihihihi .. πŸ˜‰

    Reply
  • July 14, 2013 at 11:52
    Permalink

    tahun 2007 dulu perna kesana bawa mobil, pas di tikungan tanjakan ternyata salah masukin gigi dan mobil mundur ngak kuat naik tapi setelah sampai candi nya bener2 tenang dan damai, apalagi saat itu di temani gerimis kecil :)jadi sepi banget

    Reply
  • July 14, 2013 at 21:29
    Permalink

    @ mas cumi : Hiyaaa .. Lha kok jadi tambah horor kalo pake acara mobil ngga kuat naik & gerimis ?! Hehehe .. πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: