Candi Sukuh : Peradaban Maya atau Inca yang Tersesat ?

Jelang Minggu siang, 5 Mei 2013 ..

Setelah mengunjungi Candi Cetho dan mampir minum teh di Rumah Teh Ndoro Donker, saya, Mba Yusmei, Indra dan Almira melanjutkan perjalanan ke Candi Sukuh. Kompleks candi ini terletak di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Posisinya memang lebih rendah dibanding Candi Cetho, yaitu di ketinggian 1.186 MDPL, medan yang harus kami tempuh pun tidak terlalu ekstrim, namun pemandangan di sekitar Candi Sukuh tetap menawan ..

IMG_1144

Kompleks Candi Sukuh terlihat lebih ramai dibanding kompleks Candi Cetho. Saya menerka, orang-orang gentar menempuh medan ekstrim menuju Desa Gumeng, tempat Candi Cetho berada. Penjaga loketnya pun lebih terkondisi, buklet khusus mengenai sejarah Candi Sukuh juga tersedia, meski mahal harganya .. Hehehe .. 😉

Sama seperti Candi Cetho, Candi Sukuh merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad ke-15, saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh, dikalahkan oleh Kerajaan Demak. Salah satu ciri khas kebudayaan Hindu yang dimiliki Candi Sukuh adalah adanya pahatan-pahatan Tantrayana atau lambang Lingga dan Yoni. Penelitian pertama atas Candi Cetho ini dilakukan pada masa pemerintahan Inggris, tepatnya saat Sir Thomas Stanford Raffles berkuasa atau sekitar tahun 1815. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh seorang Belanda, Van Der Vlis, pada tahun 1842, kemudian diteruskan oleh Hoopermans pada tahun 1864-1867. Sementara, pemugaran besar-besar pernah dilakukan pada tahun 1928 ..

IMG_1158_2

Lalu, apa yang unik dari Candi Sukuh ?

Meski sudah diinformasikan oleh Mba Yusmei sebelumnya, saya tetap terkejut saat memasuki areal kompleks candi. Arsitektur Candi Sukuh terbilang aneh, bukan sekedar tidak mencerminkan budaya Hindu, namun bentuk piramida terpancung dan aneka relief yang ada mengingatkan saya pada bangunan Suku Maya atau Suku Inca ..

Benarkah ada peradaban Suku Maya atau Suku Inca yang terserak di lereng Gunung Lawu ini ?

Ternyata tidak, WF Stutterheim, seorang Belanda, pernah melakukan penelitian mengenai keunikan bentuk Candi Sukuh pada tahun 1930. Kesimpulan yang dihasilkan, yaitu :

1. Candi Sukuh bukan dibangun oleh pemahat batu profesional utusan Kerajaan, namun oleh pemahat kayu tradisional dari desa.

2. Adanya kebutuhan yang mendesak untuk membangun tempat pemujaan, apalagi saat itu kondisi Kerajaan Majapahit sedang rapuh diserang Kerajaan Demak. Hal ini membuat proses pembangunan Candi Sukuh terkesan tergesa-gesa.

3. Runtuhnya Kerajaan Majapahit menyebabkan kebudayaan Hindu mulai luntur dan diabaikan oleh daerah-daerah yang awalnya menjadi lingkup kekuasaannya. Bersamaan dengan itu, kebudayaan prasejarah Megalitik Jawa Kuno pun muncul lagi dan mempengaruhi arsitektur Candi Sukuh.

Bentuk keseluruhan kompleks Candi Sukuh adalah punden berundak dan memiliki 3 teras bertingkat, yaitu :

Teras pertama – Nista Mandala

IMG_1143

Disinilah saya memasuki kompleks Candi Sukuh. Tampak sebuah gapura besar berbentuk trapesium dan terdapat relief kepala raksasa di bagian atasnya. Sebuah prasasti berupa ukiran huruf Jawa Kuno berbunyi “Gapura Bhuta Anguntal Jalma” juga saya jumpai di gapura pertama ini. Tulisan tersebut merupakan prasasti candrasangkala atau memiliki makna angka tahun, yaitu 1359 Saka atau 1437 Masehi ..

Teras kedua – Madya Mandala

IMG_1160

Bagian kedua ini sebenarnya juga memiliki gapura, sayangnya sudah rusak parah. Saya hanya menjumpai undak-undakan batu di antara 2 dinding rendah dan sempit. Sebuah relief tunggal dan unik ada di teras ini, namanya Relief Pande Besi. Di atas relief tersebut, terdapat ukiran candrasengkala “Gajah Wiku Anahut Buntut“, yang berarti tahun 1378 Saka atau 1456 Masehi ..

Teras ketiga – Utama Mandala

Di teras ketiga inilah terdapat bangunan utama Candi Sukuh, yang berbentuk seperti piramida terpancung. Saya dan teman-teman berkesempatan menaiki candi hingga puncaknya, melewati lorong sempit dengan undakan yang curam. Pemandangan seluruh kompleks Candi Sukuh dapat saya lihat dengan jelas dari puncak tersebut ..

Sisi kiri teras ketiga ini dihiasi dengan serangkaian Relief Kidung Sudhamala, yang mengisahkan riwayat Sadewa. Sementara di sisi kanan teras ketiga, berdiri 2 Arca Garuda, tanpa kepala, bersayap mengembang dan bertaji di kaki. Arca Garuda ini merupakan penjelmaan sosok mitologi Tirta Amerta atau Pencarian Air Kehidupan ..

IMG_1149

IMG_1154

Selain Kidung Sudhamala dan Arca Garuda, teras ketiga ini juga memiliki Relief Garudeya, Relief Ramayana, Relief Swargarohanaparwa dan Relief Bima Suci. Masing-masing relief menyimpan pesan bijak tentang kehidupan, yang disuratkan melalui kisah-kisah pewayangan ..

Candi Sukuh, seperti kebanyakan cagar budaya yang ada di Indonesia, bernasib merana. Meski lebih beruntung dibanding saudara dekatnya, Candi Cetho, karena lebih bersih dan terawat, namun Candi Sukuh tetap saja diposisikan sebagai tempat wisata, sekedar tontonan, bahkan hanya background foto-foto. Padahal setiap cagar budaya pasti menyimpan sejarah panjang dan pesan bijaksana yang dapat dijadikan tuntunan kehidupan. Sungguh, sedikit sekali yang peduli ..

Bahkan, saya sempat marah pada seorang pengunjung yang sok-sokan naik turun dari puncak bangunan utama candi, tanpa melalui undakan batu. Tidakkah terpikir di benaknya, andai konstruksi candi tersebut rusak, berapa banyak sejarah yang hilang, berapa banyak dana yang harus keluar untuk pemugaran ulang ?! Hanya gara-gara keinginan egois seorang pengunjung yang ingin terlihat jagoan, karena berani mendaki bangunan utama candi ala panjat tebing ?! Stupid ..

Ah sudahlah ..

Hari semakin siang, saya dan teman-teman harus segera meninggalkan kompleks Candi Sukuh. Sayang sekali sebenarnya, karena masih banyak detail relief yang belum sempat kami perhatikan dengan seksama. Apa daya, saya, Indra dan Almira harus pulang ke Semarang sebelum kemalaman, Mba Yusmei pun punya kewajiban nguli di meja redaksi. Next time maybe, kami akan kembali ..

***

12 thoughts on “Candi Sukuh : Peradaban Maya atau Inca yang Tersesat ?

  • July 13, 2013 at 18:23
    Permalink

    Candi Sukuh candi favoritku, mbak…
    Nggak usah ke luar negeri, lihat candi di Karanganyar aja udah kaya jalan ke luar negeri hehe…
    Tenan loh woro-woro pas come back ke Solo, jadwal mblusuk ke Laweyan e ta enteni ^^

    Reply
  • July 13, 2013 at 20:19
    Permalink

    @ halim : Kalo aku pribadi lebih suka Candi Cetho, apa ya, lebih dapet suasana kunonya. Apalagi kalo kabutnya lagi turun, wah, kalo ngga buru2 balik Semarang, aku betah itu nongkrong disitu .. 😉

    Sip, insya Allah balik lagi ke Solo Raya, blusukan bareng kita ..

    Reply
  • July 13, 2013 at 22:13
    Permalink

    Siapa itu yg sok-sokan mendaki candi?!! *ikut emosi*

    Reply
  • July 13, 2013 at 22:40
    Permalink

    @ bee : Salah satu anggota rombongan piknik keluarga gitu deh, Bee. Ga inget wajahnya, cuma inget dia pake kaos merah dan songong. Udah nahan2, akhirnya pecah juga, tak semprot. Bocah e ming haha hihi. Hasyeeemmm .. :(

    Reply
  • July 15, 2013 at 13:08
    Permalink

    @ isna : Deuh nih bocah .. Komen tentang isi tulisannya kek .. *elap keringet*

    Reply
  • July 16, 2013 at 14:30
    Permalink

    wis….pokoke candine keren, tulisane apik 😉

    oya,aku dr dulu pengen follow blog mbak azizah gmn caranya ya?

    oya,magelangnya dimana mbak…pengen mampir 😉

    Reply
  • July 16, 2013 at 20:50
    Permalink

    @ isna : Ahahaha, itu dia, aku ngga ngerti gimana cara follow blog ini, padahal defaultnya ya pake wordpress, tapi kok pada ngga bisa ya ?! *bingung*

    Aku harian mah di Semarang, jarang banget pulang Magelang, Na ..

    Reply
  • July 17, 2013 at 21:53
    Permalink

    Saya juga pernah berfikir begitu. Apa terkait dengan suka Maya/Inca. Oh, rupanya begitu penjelasannyaa *manggut2*

    Reply
    • April 10, 2015 at 16:31
      Permalink

      Gih, kesana, Riev, kalo pas beruntung, dapet pas kabut-kabut gitu, tambah kereeennn .. 😀

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: