Carnival of Scenes ..

Sebagai seorang penikmat seni, saya selalu dengan senang hati berada di antara aneka macam karya seni. Ya, sebatas menikmati, karena pemahaman yang saya punya tentang karya-karya seni tersebut sangat dangkal. Ah, bukankah berkarya adalah urusan pelaku seni, sementara urusan penikmat seni adalah memberikan penafsiran sebebas-bebasnya ? 😉

Pameran karya seni yang belakangan saya nikmati bertajuk Carnival of Scenes, karya tunggal dari perupa alumni Institut Seni Indonesia, I Made Widya Diputra *biasa disapa Lampung*. Pameran ini digelar pada tanggal 29 Juni – 13 Juli 2013 lalu, di hall Semarang Contemporary Art Gallery, tidak jauh dari Gereja Blenduk *ikonik Kota Lama Semarang* dan dikuratori oleh Bambang ‘Toko’ Witjaksono ..

Inilah kali pertama, saya memasuki ruang-ruang tinggi yang dimiliki oleh Semarang Contemporary Art Gallery ini. Sekedar informasi, galeri ini menempati bangunan bekas Winkel Maatschappij *dapat diartikan sebagai toko atau perusahaan* milik Tuan H. Spiegel dan gudang penyimpanan milik Tasripin. Pada abad ke-20, galeri ini juga pernah berfungsi sebagai pabrik farmasi, tempat pengolahan meubel, pabrik limun dan etalase sepeda motor, hingga pada tahun 2008, Chris Darmawan mengubah bangunan peninggalan Belanda tersebut menjadi sebuah galeri seni yang berkesan kontemporer modern ..

Suasana sepi dan pencahayaan yang sempurna menyergap saya, tiba-tiba. Sepuluh sosok yang tengah beradegan diwujudkan oleh Lampung menempati posisi dan porsinya masing-masing dengan komposisi yang tepat. Masing-masing sosok berbahan dasar besi, resin, kulit dan silikon, nir-ekspresi, namun menekankan pada balutan kostum modern dan sangat ornamentik ..

Menurut prakata dari Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Sang Kurator, Carnival of Scenes ini dilatarbelakangi kisah Mahabarata dan Bharatayudha, sementara proses penafsiran dibiarkan lepas ..

Beberapa sosok ciptaan Lampung yang tertangkap di kamera saya, monggo ..

IMAG0083_2Adegan ini menggambarkan guyub-nya Pandawa, putra Pandu dari 2 ibu yang berbeda : Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Kelima ksatria itu adalah Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Meski tanpa rupa, saya dapat menangkap kesan bijaksana yang menguar dari sosok Yudhistira *paling kiri* dan kesan ingin melindungi dari sosok Bhima *paling kanan*. Keren, Mas Lampung !

IMAG0084_2Sosok berikutnya menempati sudut lain, sendirian. Saya menangkapnya sebagai seorang pengantin yang setia menunggu pasangannya. Kostum yang dikenakan sosok anonim ini perpaduan antara tradisional, diwakili dengan warna cokelat pekat dan modern, ditandai dengan pemakaian brokat mewah berwarna putih. Bunga yang digenggamnya telah menghitam dan menunduk layu, tanda sudah lama ia diajak Sang Pengantin untuk menunggu ..

IMAG0087_2Jika diijinkan, saya menjuluki sosok ini dengan tajuk “Ksatria yang Lelah”. Benar bukan, terasa sekali kelelahan yang disandangnya, meski ia masih berkostum lengkap, bersepatu boot dan menggenggam busur panah. Ksatria juga manusia, mungkin begitu pesan yang hendak disampaikan Lampung lewat sosok ciptaannya yang satu ini, yang berhak merasa penat, tenggelam dalam rasa sedih, bahkan bukan aib jika sampai meraung dalam tangis ..

IMAG0086_2Dan, inilah sosok favorit saya. Bukan, bukan karena adegannya *karena jujur, saya tidak terlalu yakin menafsirkan sosok yang satu ini*, tapi karena judulnya yang mak-jleb : Hatred, Torment and Pain are My Strengths. Bahkan, saking berkesannya, beberapa kali saya menjadikan judul tersebut sebagai status BBM saya. Hahahaha .. *curhat detected*

Demikian, betapa Lampung berhasil menghipnotis saya dan puluhan pengunjung lainnya lewat gelaran sosok-sosok yang beradegan di dalam ruang-ruang tinggi Semarang Contemporary Art Gallery. Good job, Mas Bro ! 😉

***

Pameran Carnival of Scenes ini saya kunjungi bersamaan dengan event Loenpia Jazz 2013 di Kota Lama, Semarang ..

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: