Boog Kotta-Leiding : Pusaka Milik Kota Magelang ..

Minggu, 7 Juli 2013 ..

Akhir pekan itu, saya sengaja pulang ke Magelang dan merelakan agenda bangun siang kala liburan. Semua itu saya lakukan demi mengikuti sebuah agenda bulanan yang digelar oleh Komunitas Kota Toea Magelang : Djeladjah Plengkoeng ..

IMG_1706~ para peserta Djeladjah Plengkoeng, sebelum berangkat ~

Acara tersebut dilaksanakan seharian, dimulai sejak pukul 8 pagi, hingga lepas tengah hari. Di luar dugaan, peserta penelusuran salah satu sejarah Kota Magelang ini diminati banyak orang. Total jenderal ada kurang lebih 50 peserta, hingga membuat perjalanan menyusuriΒ Boog Kotta-Leiding atau saluran air kota buatan Belanda *yang membentang nyaris sejauh bentang kota Utara – Selatan* terasa menyenangkan ..

Let’s see, sejarah apa yang tersimpan di balik saluran air kota tersebut ..

Saya yakin, kebanyakan orang Magelang ngeh dengan keberadaan Kali Manggis dan Boog, yang alirannya berada di tengah kota. Namun, demikian halnya saya, pasti banyak yang tidak mengetahui bahwa Kali Manggis adalah sebuah sungai buatan yang sengaja dibangun oleh Pemerintah Belanda ..

Kondisi geografis Kota Magelang cenderung berbentuk cembung, sehingga di bagian tengahnya rawan kekurangan air. Hal inilah yang menjadi dasar pemikiran Pemerintah Belanda untuk membangun sebuah sungai buatan. Sungai buatan tersebut dibangun pada rentang tahun 1856 – 1857, dengan sumber air dari 2 sungai utama yang membatasi Kota Magelang di sisi Timur dan Barat, yaitu Sungai Elo dan Sungai Progo. Sungai Elo dibendung di Dusun Manggis, Desa Payaman, Kec. Secang, Kab. Magelang – Bendung Plered, sementara Sungai Progo dibendung di Dusun Badran, Desa Bengkal, Kec. Kranggan, Kab. Temanggung – Bendung Badran. Kedua bendungan inilah yang menjadi sumber aliran Kali Manggis ..

Pada perkembangannya, Pemerintah Belanda memecah Kali Manggis menjadi sebuah aliran yang lebih kecil. Inilah yang dinamakan Boog Kotta-Leiding atau di masa kini lebih akrab disebut Boog saja ..

Detail pembangunan Boog tidak diketahui secara jelas. Beberapa prasasti yang tertulis di sepanjang tubuh saluran pun mengundang beraneka macam interpretasi dan menghasilkan informasi yang simpang siur. Satu hal yang pasti, Boog dibangun jauh setelah Kali Manggis difungsikan ..

page1

Boog Kotta-Leiding bermula di Kel. Kedungsari dan berakhir di Kel. Jurangombo Utara. Saluran ini membentang kurang lebih 5 km *meski saya tetap bersikeras bahwa panjang Boog pasti lebih dari 5 km, paling tidak 10 km lah*, nyaris sejauh bentang kota Utara – Selatan Magelang. Fungsi pembangunan Boog diketahui secara pasti, yaitu sebagai penggelontor limbah rumah tangga, pengairan lahan pertanian, penyiram tanaman, sarana pemadam kebakaran dan pendukung pengisian air pendingin lokomotif ..

Sebagian bentangan Boog ini berada di atas permukaan jalan. Dimulai dari Kampung Peniten, hingga sisi Timur Kantor PDAM Kota Magelang. Kelihaian Negeri Belanda dalam memanajemen hal perairan telah dibuktikan di Kota Magelang, warisan berharganya masih tertinggal sampai sekarang dalam bentuk Boog Kotta-Leiding ini ..

IMG_1722

~ Plengkung Baru ~

Nah, karena saluran berada di atas permukaan jalan, beberapa titiknya berpotongan dengan ruas jalan. Di titik inilah, Boog dimodifikasi dengan bangunan semacam terowongan yang disebut Plengkung, sesuai dengan bentuknya yang melengkung. Ada 3 Plengkung yang dapat dijumpai hingga kini, yaitu Plengkung Baru (jarak HM 14,5), memotong Boog dengan Jalan Ade Irma Suryani; Plengkung Lama, memotong Boog dengan Jalan Piere Tendean dan Plengkung Tengkon, memotong Boog dengan Jalan Daha ..

IMG_1727

~ pemandangan yang tertangkap dari atas Plengkung Lama ~

Boog Kotta-Leiding ini juga dilengkapi dengan 3 menara sirine, yaitu Menara Potrobangsan (jarak HM 0,9), Menara Botton – di atas SMK Negeri 3 Magelang (jarak HM 18,5) dan Menara Kemirikerep (jarak HM 36,5). Ketiga menara ini terhubungan dengan sirine pusat yang berada di atas Water Toren atau Menara Air Minum di Alun-Alun Kota Magelang. Pada masanya, menara ini pernah berfungsi untuk memberikan peringatan atas bencana dan penanda diberlakukannya jam malam ..

page2

Selain Plengkung dan menara sirine, Boog juga dilengkapi dengan beberapa pintu air, yang memungkinkan alirannya menggelontor limbah rumah tangga di sisi kanan kirinya. Sayang sekali, pintu air tersebut sudah banyak yang tidak utuh lagi. Besi-besi penyusunnya raib, dipotong tangan-tangan tidak bertanggung jawab, tanpa peduli seberapa besar nilai sejarah yang terkandung di dalamnya ..

Aliran air sepanjang Boog cukup deras di awal saluran, namun mengenaskan begitu menyentuh Plengkung Tengkon. Debit air minipis, sampah dan limbah rumah tangga justru mendominasi. Hiyaks ! Bahkan di titik penghabisannya, Boog hanya menyisakan ceruk yang ditumbuhi tanaman liar ..

IMG_1739

~ titik akhir Boog, tanpa debit air ~

Hmm .. Menyusuri sejarah kota sendiri memang selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang sebenarnya ditemui setiap hari, namun lolos dari perhatian. Kota Magelang adalah salah satu kota bentukan tertua di Indonesia, tidak heran, tanah kelahiran saya ini menyimpan banyak sejarah yang menarik untuk dikupas satu persatu. Boog Kotta-Leiding ini salah satunya. Bahkan tidak berlebihan jika saluran air kota ini disebut sebagai pusaka peninggalan kolonial, bukan ?

Thanks to Komunitas Kota Toea Magelang yang telah menggagas agenda secemerlang ini. Semoga segera ada penjelajahan-penjelajahan lain yaaa *dan semoga saya bisa bergabung dalam setiap perjalanan tersebut, hahaha, maklum anak rantau* .. πŸ˜‰

***

20 thoughts on “Boog Kotta-Leiding : Pusaka Milik Kota Magelang ..

  • September 16, 2013 at 18:02
    Permalink

    seru benerrr
    saya gak nolak kalo diajak kegiatan semacam ini
    cuma sayang itu ya di ujung boognya malah ga ada airnya
    ckck

    Reply
  • September 16, 2013 at 20:21
    Permalink

    @ anita lusiya dewi : Lain kali coba perhatikan ya. Boog ada di sisi kiri Jalan Ahmad Yani, kalo Mba Anita datang dari arah Semarang menuju Yogya .. πŸ˜‰

    @ hlga : Memang, acaranya seru, jadi tahu sejarah kampung halaman sendiri .. πŸ˜‰

    Reply
  • September 17, 2013 at 12:59
    Permalink


    @ anita lusiya dewi : Lain kali coba perhatikan ya. Boog ada di sisi kiri Jalan Ahmad Yani, kalo Mba Anita datang dari arah Semarang menuju Yogya .. πŸ˜‰

    kok sisi kiri ya? bukannya di kanan Ahmad Yani? yang di kiri Ahmad Yani itu spoorban

    Reply
  • September 17, 2013 at 18:46
    Permalink

    @ tomi : Oh iyaaa, maaf, salah .. Sisi Kanan Jalan Ahmad Yani .. Makasih ralatnya, Mas Bro .. πŸ˜‰

    Reply
  • September 18, 2013 at 11:42
    Permalink

    mantaaaaaaaaaaaaaaapppp tenaaaaaaaaaaaann..

    Reply
  • September 19, 2013 at 09:53
    Permalink

    seru. dulu jaman mahasiswa selalu lewat magelang kalo pas pulang ke semarang, tapi gak nyangka ada cerita semenarik ini tentang kota magelang.

    Reply
  • September 19, 2013 at 19:50
    Permalink

    @ bayik : Posisi sekarang masih di Semarang kah ? Kalo iya, satu kota kita. Hehehehe .. Iya, saya pun yang lahir besar disana, baru kemarin itu ngerti gimana cerita tentang Boog Kotta-Leiding ini .. πŸ˜‰

    Yuk, kapan2 ke Magelang bareng ..

    @ hamid : Iya ya, pacaran ke Surabaya sih ya .. :p

    Reply
  • September 22, 2013 at 18:09
    Permalink

    @ isna : Lha ngga ada subjeknya, tiba2 bilang “di ambarawa gak ada, tapi kalo arah ke magelang ada”, lak yo bingung sing moco .. -,-“

    Reply
  • April 5, 2015 at 18:08
    Permalink

    Inget jaman SMP, klo pulang sekolah mau ke pecinan suka naek ke saluran air…. kereeeenn

    Reply
    • April 7, 2015 at 16:47
      Permalink

      Wah, Aris Kiting dolan kesini ik ! Matur nuwun, Kakak ..
      Hahaha, iya ya, jaman sekolah pikniknya ke boog .. πŸ˜‰

      Reply
  • June 14, 2015 at 06:44
    Permalink

    Satu hal yang paling saya suka dari Magelang: banyak peninggalan Belanda di sini. Semoga pemerintah dan masyarakat terus menjaganya ya…

    Reply
    • June 14, 2015 at 19:43
      Permalink

      Amien! Semoga ya, Kak, semoga pemerintah dan masyarakat bareng-bareng menjaga peninggalan sejarah. Ngga cuma di Magelang, tapi dimana pun. Soalnya kan sering tuh, hal-hal jadul dianggap ngga kekinian, trus ga diperhatiin. Ujung-ujungnya dirubuhkan. Huwaaa .. :(

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: