Dia Yang Merana Kesepian : Museum Kretek Kudus ..

Tersebutlah H. Jamhari, seorang pribumi yang mengawali sejarah rokok kretek di Kudus. Bermula dari sakit dada yang mendera, Ia mencoba mengoleskan minyak cengkeh di dada, serta mengunyah butiran cengkeh. Ia langsung merasakan manfaatnya, sakit mereda. H. Jamhari pun mencoba cara lain, mencacah cengkeh menjadi sangat tipis dan mencampurnya dengan tembakau, kemudian dilinting dengan klobot kering. Lintingan tersebut dibakar dan dihisap asapnya, ajaib, sakit dada Beliau hilang. Berita mengenai pengobatan tradisional ala H. Jamhari itu mulai meluas di seputaran Kudus. Orang-orang menyebutnya Rokok Obat, yang dijual tanpa kemasan dan merk. Selain Rokok Obat, lintingan cengkeh dan tembakau itu juga biasa disebut Rokok Kretek, karena ketika dibakar berbunyi ‘kretek-kretek‘ ..

foto nitisemito

Foto M. Nitisemito, Sang Raja Sigaret dari Kudus
foto saya pinjam dari SINI

Selepas masa H. Jamhari yang mempopulerkan Rokok Kretek lewat produksi rumahan, muncullah M. Nitisemito, seorang pribumi lain yang memulai sejarah industri modern rokok kretek di negeri ini. Ia lahir pada tahun 1863 sebagai anak seorang Lurah di Desa Jagalan, Kudus Kulon. Jiwa enterpreneur-nya sudah terlihat sejak belia, Nitisemito pernah mencoba menjadi pengusaha konveksi, memproduksi minyak kelapa, bahkan berdagang kerbau. Namun, takdir memang menggariskannya menjadi Raja Sigaret di masa itu. Berawal dari pertemuan dengan Nasilah, sang peracik lintingan kretek konvensional, yang akhirnya dinikahi oleh Nitisemito. Dari sanalah sebuah Kerajaan Rokok bermerk Bal Tiga terbangun ..

IMG_1787

Ya, Rokok Bal Tiga merupakan rokok pertama di Indonesia yang menggunakan kemasan modern. Berdiri pada tahun 1906, memperoleh ijin usaha dari Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908 dan mencapai masa keemasan pada tahun 1914. Ekstrim ! Nitisemito, yang notabene hanya seorang nir-pendidikan, bahkan nyaris buta huruf, mampu membuat usaha yang sedemikian mengguritanya. Pabrik Rokok Bal Tiga mempekerjakan tidak kurang dari 10.000 pegawai. Strategi marketing yang digagas oleh Nitisemito pun terbilang unik pada masa itu, Ia menghadiahi pembeli rokoknya dengan teko, cangkir dan piring lewat undian. Selain itu, Nitisemito juga pernah menyebar pamflet promosi Rokok Bal Tiga dengan cara menyebarnya dari pesawat Fokker sewaan. Wow !

IMG_1796

Kejayaan Pabrik Rokok Bal Tiga mulai surut di awal dekade 1950-an, saat Sang Raja Sigaret wafat. Kala itu, pabrik-pabrik rokok modern lain telah bermunculan, seperti PT Djarum – 1951, Perusahaan Rokok Sukun – 1949, Perusahaan Rokok Djambu Bol – 1937 dan PT Norojono – 1932. Jejak Kerajaan Sigaret milik Nitisemito masih dapat ditemui di Kota Kudus, salah satunya adalah Rumah Kembar Nitisemito yang terletak di sisi Sungai Gelis. Kompleks rumah bergaya indies ini masih megah, meski telah mengusam di beberapa sisinya. Konon, anak cucu Nitisemito masih tinggal di salah satu rumah kembar ini. Selain itu, nama Nitisemito akan tetap abadi di hati masyarakat Kudus. Bagaimana tidak, jika produksi rokoknya yang massive pernah menjadi urat nadi perekonomian di kota itu ..

page2

***

Siapa sangka sebuah cerita mashyur bisa saya dapatkan lewat kunjungan sederhana ke Museum Kretek Kudus, yang terletak di Jalan Getas Pejaten No. 155, Kec. Jati, Kudus, (0291) 440545 ..

IMG_1803

Siang itu, saya dan Mba Yusmei memasuki pelataran museum yang luas, namun sunyi itu dengan agak terbengong. Apa pasal ? Kami berhenti di gerbangnya dan diminta membayar tiket masuk seharga 3K IDR untuk 2 orang. Ya, tiket masuk Museum Kretek Kudus per orang hanya 1,5K IDR ! Hari gini ! Entah apa saja yang bisa dilakukan oleh pengelola museum dengan nominal sekecil itu ..

Seperti kebanyakan museum di Indonesia, Museum Kretek Kudus pun merana dalam kesunyian dan minimalisnya perawatan. Saat kami datang, tidak ada pengunjung lain di dalamnya.Petugas pun awalnya tidak terlihat ada disana, hingga akhirnya seorang wanita muda berseragam kasual muncul menyambut dengan senyumnya.

Sepi, Mba ? “, sapa saya berbasa-basi.

Dia mengangguk ramah dan membalas sapaan saya,

Biasa, Mba, mana ada museum yang ramai disini .. “, dengan logat yang membuat saya dapat memastikan bahwa petugas tersebut bukan orang Kudus.

Saya tersenyum getir. Petugas itu benar, nasib museum-museum di Indonesia memang tidak terlalu baik ..

IMG_1791

Museum Kretek Kudus ini berdiri atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah, Soepardjo Roestam, pada tanggal 3 Oktober 1986. Menurut Beliau, usaha rokok kretek menempati posisi penting dalam sejarah Kudus, pada khususnya dan sejarah Indonesia, pada umumnya. Selain itu, usaha rokok kretek juga berkontribusi besar dalam menggerakkan roda perekonomian lokal. Museum ini memperkenalkan sejarah rokok kretek, mulai dari produksi rumahan hingga produksi pabrikan, mulai dari penggunaan cara manual hingga cara modern. Disana tersimpan kurang lebih 1200-an koleksi yang berhubungan dengan sejarah rokok kretek di Indonesia ..

page1

Museum yang berada di bawah kelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Kudus ini kini kalah pamor dengan arena waterboom yang dibangun dalam satu kompleks. Masyarakat lebih berminat bermain aneka wahana air disana, dibanding menyimak sejarah penting yang tersimpan di dalam museum. Meski, konon cerita, pembangunan arena rekreasi tersebut ditujukan untuk mendukung eksistensinya, toh ternyata Museum Kretek Kudus tetap merana kesepian diantara keramaian pengunjung waterboom ..

Kunjungan ke Museum Kretek Kudus pun usai, kami dilepas oleh Si Mbak petugas penjaga,

Terima kasih sudah berkunjung, Mba .. “.

Kami mengangguk pamit, ia pun melanjutkan pekerjaan sampingan : mengawasi penggantian lampu taman, karena tidak ada petugas lain yang berjaga hari itu ..

***

13 thoughts on “Dia Yang Merana Kesepian : Museum Kretek Kudus ..

  • October 6, 2013 at 15:20
    Permalink

    Rumahku deket museum, dan jumlah kunjunganku kesana bisa dihitung jari satu tangan *tutup muka*

    Reply
  • October 6, 2013 at 15:45
    Permalink

    wow..museum apa mbak? mau dong ditemenin jalan2 ke tuban… disini juga ada museum daerah, gratis dan kayaknya hampir semua orang disini gak tau ada museum :)

    Reply
  • October 6, 2013 at 16:59
    Permalink

    @ mba dian : Pengin nyempetin wikenan di Tuban ih, kapan yaaa. Nostalgia pas jemput almarhum Bapak, sekalian ngrusuhi Mba Dian. Ahahahaha .. 😉

    Reply
  • October 6, 2013 at 18:17
    Permalink

    @ jalan2liburan : Waaa .. Trimikisi udah mampir, Kakak .. *blushing*

    Reply
  • October 7, 2013 at 01:29
    Permalink

    mungkin indonesia harus punya menteri pariwisata yang bisa mempromosikan museum…tapi mungkin yang lebih penting adalah Indonesia punya rakyat yang cinta museum :)))

    Reply
  • October 7, 2013 at 22:06
    Permalink

    @ mba yusmei : Ngga bisa ngandalin Menteri kayanya, Mba, mereka disibukkan dengan prosedur. Ribet ! Nah, masalahnya bisa ngga ya, kita mengandalkan rakyat yang cinta museum ? Tambah ribet .. :(

    Reply
  • October 9, 2013 at 10:58
    Permalink

    Juni 2010, saya kesana dan karena itu hari minggu, tutup.

    Sampai sekarang belum kesampaian kesana lagi. Kapan kapan dah , saya juga pengen dapet cerita masyhur 😀 😀

    Reply
  • October 9, 2013 at 21:00
    Permalink

    @ bee : Mboten, Bee. Ngga ada orang, udah berusaha ketok2 pagernya, nihil .. :(

    @ hamid : Silahkan ..

    Reply
  • October 21, 2013 at 21:41
    Permalink

    @ mas danan : Banget ! Semoga ngga sampe tutup deh ah .. :)

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: