Singa Barong, Kereta Kencana Kasultanan Kasepuhan Cirebon ..

IMG_1965

Dua bilah daun pintu berwarna hijau tua terbuka lebar menyambut kami, saya dan Mba Yusmei, yang didampingi oleh Bapak Ramidi. Museum Kereta Singa Barong. Disanalah kami berada, di tengah-tengah lingkungan Keraton Kasultanan Kasepuhan Cirebon. Siang begitu panas menyengat kala itu, namun di bawah naungan langit-langit museum yang sangat tinggi, hawa sejuk pun menenangkan peluh yang bercucuran ..

Seperti namanya, bintang dari segala bintang di museum itu adalah Kereta Singa Barong ..

IMG_1971

Ya, mata saya menangkap sosok kereta kencana megah sesaat setelah menjejakkan kaki di atas lantai keramik putih yang menjadi alas museum. Empat sisi rantai yang menjuntai membatasi jarak pengunjung dengan Sang Bintang, Kereta Singa Barong. Beberapa bilah tongkat berujung besi tajam dan berikat kain kuning terang berdiri di belakang kereta, seolah menjaga ..

Kereta Singa Barong ini dibuat pada tahun 1549 oleh Panembahan Pakungwati I, yaitu Pangeran Mas Muhammad Arifin. Mandor pengerjaan kereta adalah Pangeran Losari yang bernama Ki Gebang Sepuh, sementara ukir-ukiran detail di sekujur kereta dikerjakan oleh seorang juru ukir dari Desa Kaliwulu, Plered, Cirebon, bernama Ki Nata Guna. Bahan utama pembangun Kereta Singa Barong adalah kayu laban atau kini lebih dikenal dengan sebutan kayu ulin ..

Pada masanya, Kereta Singa Barong ditarik oleh 4 kerbau putih atau kebo bule ..

Selain kemegahan fisik yang tertangkap mata, ternyata Kereta Singa Barong ini juga mempunyai keunggulan dari sisi kenyamanan. Pertama, ia dilengkapi dengan sistem shockbreaker, yang tersusun dari rangkaian kulit. Menurut Bapak Ramidi, shockbreaker ini benar-benar berfungsi membuat kereta mentul-mentul ketika berjalan. Kedua, tempat duduk Sultan berbentuk kursi empuk dan dilengkapi atap kain, sementara di belakangnya terdapat tempat berdiri bagi 2 punggawa, yang membawa tombak dan payung, sebagai lambang penjagaan Sultan. Ketiga, kereta ini menggunakan sistem hidrolik untuk mengemudikannya, dengan komponen penyusun kayu dan baja. Dan yang terakhir, keempat roda kereta tidak benar-benar tegak lurus, namun sedikit membentuk sudut lancip terhadap tanah datar. Usut punya usut, hal itu disengaja supaya saat kereta melewati jalanan becek atau berair, cipratannya tidak mengenai badan kereta ..

Wow !

Meskipun Kereta Singa Barong merupakan tunggangan Sultan, tetap saja saya takjub mengetahui teknologi yang melekat padanya. Ya secara ya, kereta ini dibuat lebih dari 400 tahun yang lalu .. 😉

IMG_1972

Seraya tangan tuanya mengusap badan kereta yang berukir binatang ala negeri dongeng itu, Bapak Ramidi kembali berkisah. Kereta Singa Barong memiliki makna filosofis yang begitu menyentuh. Sosoknya berbelalai gajah, melambangkan persahabatan Kasultanan Cirebon dengan Negeri India, berkepala naga, sebagai lambang kedekatan dengan Negeri Cina dan berbadan Buroq, menandakan hubungan baik dengan kawasan Timur Tengah, terutama Negeri Mesir. Sosok tersebut juga menggenggam sebuah trisula, mewakili makna Cipta – Karsa – Rasa, yang merupakan anugerah Tuhan bagi manusia, hingga membentuk ketajaman pikirnya. Hmm ..

Dulu, Kereta Singa Barong selalu digunakan kirab yang digelar oleh Kasultanan tiap tanggal 1 Sura. Namun, mengingat usianya yang semakin menua, ia terakhir difungsikan pada tahun 1942 dan kini hanya disimpan sebagai barang pusaka, yang hanya dikeluarkan tiap tanggal 1 Syawal. Bukan untuk dinaiki, hanya dicuci dan dibersihkan, serta memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyaksikan kemegahannya. Sementara kereta duplikatnya telah dibuat pada tahun 1996, meski sangat mirip, namun aura kemegahan Kereta Singa Barong asli tetap tidak tergantikan ..

Sesaat sebelum saya dan Mba Yusmei meninggalkan museum, Bapak Ramidi menahan kami dengan gumaman yang sangat terbaca kesan bangganya,

Mba, sayap dan lidah Singa Barong bisa gerak lho. Saat roda kereta berputar, sayapnya akan bergerak, nah, lidahnya juga. Semakin cepat laju kereta, maka gerakan sayap dan lidahnya semakin cepat juga .. “.

Wah, saya melongo. Detail sekali kereta ini !

Lalu, segurat kekaguman sengaja saya tinggalkan disana. Tepat di samping sosok Kereta Singa Barong, sebuah kendaraan spektakuler yang dibangun pada masa yang bahkan teknologi modern belum sedikitpun terbayang di angan-angan .. 😉

***

13 thoughts on “Singa Barong, Kereta Kencana Kasultanan Kasepuhan Cirebon ..

  • November 28, 2013 at 23:10
    Permalink

    pegasnya kaya ndak dari per ya mbak..jebul teknologi bangsa kita udah canggih..

    Reply
  • November 28, 2013 at 23:51
    Permalink

    Huah, tahun segitu udah ada shockbreaker kulit, kemudi hidrolik, anti becek, plus sayap robotiknya 😀

    Reply
  • November 29, 2013 at 08:32
    Permalink

    Nahh ini yang jadi impian utamaku kalo mo ke Cirebon… Ukirannya mantep banget. Kudu ke Cirebon tahun depan. titik, hehehe

    Reply
  • December 2, 2013 at 03:42
    Permalink

    liat postingan ini jadi pengen jelajah kota2 di Pulau Jawa, maklum masih keturunan Jawa pengen belajar budaya leluhur… dulu waktu tante masih ke Cirebon ga kepikiran jalan2 😀

    Reply
  • December 2, 2013 at 19:50
    Permalink

    @ sinchan : Kalo ngga salah, sistem pegasnya pake rangkaian kulit gitu deh, Chan. Iya, mereka udah mengadopsi teknologi sedemikian canggih, padahal masih jaman dulu banget .. 😉

    @ hanifa : Iya, keren ya .. 😉

    @ halim : Cirebon mah masih deket, gih segera kesana. Hehehe .. 😉

    @ ariev : Nah lho, ayo disempatkan .. 😉

    @ mas danan : Kalo jelajah kota di Jawa, jangan lupa mampir Semarang ya, Mas. Lumayan banyak cerita disini .. 😉

    Reply
  • December 6, 2013 at 10:26
    Permalink

    Saya yang cuma baca ikut melongo apalagi yang dateng langsung. Cerita yang masyhur 0:)

    Reply
  • December 6, 2013 at 20:25
    Permalink

    @ bpborneo : Ngga boleeehhh ! Udah rapuh, nanti rusakkk .. Mending naik odong2, Kak .. ~~~\o/

    @ hamid : Itu dia, Om, sangar bener ini yaaa .. 😉

    Reply
  • December 27, 2013 at 09:32
    Permalink

    Mba Noerazkha dan Yusmei.. duooooo!!
    *komentar OOT*

    Reply
  • December 27, 2013 at 10:28
    Permalink

    @ mba nurul : Ahahahaha .. Iya, Mba, tahun 2013 memang tahun duet saya dengan Mba Yusmei .. Kalo dibikin sinetron udah ngalah2in Tersanjung keleusss .. *ngikik*

    Reply
  • December 29, 2013 at 21:33
    Permalink

    Jadi mikir, kalau 400 tahun lalu sudah secanggih itu, seharusnya sekarang kita sudah bisa produksi mobil sendiri. gak perlu impor dari mana2. aaahh…tapi sepertinya ada mata rantai yang hilang cukup panjang, jadi sekarang kita masih jadi bangsa penikmat produksi yang lain….:(

    * Mbak Noe : ayo mbak gabung, mau bikin trio boleh lho? hihihi

    Reply
  • December 30, 2013 at 10:02
    Permalink

    @ mba yusmei : Ah iya, jangan2 ada yang hilang selama kurun 4 abad itu ya .. Eman2 byangets .. :(

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: