Warna-Warni Losari ..

Losari ..

IMG_2604

Siapa tidak kenal nama tempat ikonik di Makassar ini ? Maka, biarlah disebut mainstream, saya dan teman-teman tetap saja bersemangat mengunjunginya. Dua kali, bahkan. Meski keriuhannya sungguh membuat pening kepala, macetnya pun, mengingatkan saya pada Super City, Jakarta ..

Pantai Losari membentang Selatan – Utara di pesisir Barat Kota Makassar, sepanjang kurang lebih 1 km dan menghadap persis ke bentangan Selat Makassar. Seperti halnya banyak pantai di tengah kota, alih-alih memiliki hamparan pasir, Losari menjadikan tanggul beton sebagai batas antara lautan dan daratan. Meski demikian, warga setempat dan wisatawan tidak bosan berlama-lama disana. Selain merupakan spot favorit untuk berburu sunset, Pantai Losari juga telah ditata sangat apik, dengan aneka macam landmark yang menarik dimanfaatkan sebagai background foto. Jajaran pedagang makanan pun membuat Pantai Losari menjelma sebagai pusat kuliner paling nge-hype di Kota Makassar. Kepopuleran Losari juga dilengkapi dengan lokasinya yang tidak jauh dari pusat kota dan banyaknya penginapan di sekitarnya, seperti di Jl. Penghibur dan Jl. Somba Opu ..

Bagi saya, Losari dimulai dari ujung Utaranya ..

page1

Disana, sebuah benteng peninggalan Kesultanan Gowa, yang kini berwarna krem dan merah bata, berdiri megah menantang lautan. Fort Rotterdam, namanya ..

Benteng ini dibangun pada tahun 1545, saat Raja Gowa ke-10 berkuasa, Beliau lah Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Konsep pembangunan kompleks benteng terpengaruh kesan arsitektur Portugis. Tembok batu tebal, berwarna hitam, mengelilingi kompleks benteng. Citra udara menggambarkan Benteng Rotterdam mirip totem penyu, dengan kepala yang mengarah ke pesisir Barat Kota Makassar. Satu hal yang unik, ternyata material asli benteng adalah tanah liat yang dibakar hingga kering, sementara di dalam beberapa bangunannya terdapat panggung, yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal Raja dan keluarganya ..

page2

Saat ini, Benteng Rotterdam difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Makassar. Museum La Galigo Provinsi Sulawesi Selatan pun ditempatkan di salah satu gedungnya, yaitu Gedung No. 2, yang dahulu pernah ditempati oleh Laksamana Cornelis Speelman. Koleksinya cukup lengkap, jumlahnya sangat banyak, hingga saya menyerah untuk membaca detailnya satu persatu .. 😉

Fort Rotterdam bernasib sedikit lebih beruntung dibanding bangunan-bangunan bersejarah lain di negeri ini. Ia terbilang sangat terawat, bersih dan dikunjungi oleh banyak orang ..

Lepas menelusuri labirin Rotterdam, saya dan teman-teman memutuskan untuk duduk-duduk di tepian benteng. Beberapa penjual Pisang Epe terlihat bersiap menawarkan dagangannya. Sekali lagi, saya tidak peduli disebut mainstream, bilah-bilang pisang bakar, yang di-plenet dan ditaburi macam-macam topping, terlalu menggoda untuk diabaikan. Nyam !

IMG_2066

Menyambangi Losari dari ujung Selatan, saya disuguhi pemandangan sebuah Masjid terapung, mirip dengan yang ada di tepian Laut Merah, Jeddah, Arab Saudi. Cantik ..

IMG_2593

Sementara di sisi kanan Masjid, beberapa landmark buatan terlihat ramai dikelilingi pengunjung. Miniatur Perahu Phinisi, macam-macam patung dan, yang paling terkenal, rangkaian huruf “City of Makassar” dan “Pantai Losari”. Waaahhh, meriah !

IMG_2598

Saya benar-benar menikmati euforia di Pantai Losari kala itu. Tua muda, laki wanita, tak peduli bersuku Bugis atau Jawa, semua seperti melebur dalam kegembiraan di tepian Selat Makassar. Kebetulan yang menyenangkan pula, saya mendapat kesempatan membuktikan keindahan sunset disana. Langit yang begitu bersih telah berubah warna menjadi jingga, matahari setengah manja mendekati cakrawala, sementara permukaan air laut memantulkan sinar keemasan yang menawan ..

20131103_172835

Duh, warna-warni Losari benar-benar melengkapi kunjungan saya ke Kota Makassar. Dan saya tidak peduli meski orang-orang mengatakan destinasi saya sangat mainstream. Bukankah yang penting saya bahagia ?

Sepakat ?! 😉

***

12 thoughts on “Warna-Warni Losari ..

  • December 27, 2013 at 15:20
    Permalink

    @ maheswara tour & travel : Terima kasih juga sudah berkenan mampir & meninggalkan jejak .. 😉

    Reply
  • December 28, 2013 at 11:01
    Permalink

    Yang ngak tahan dari pantai losari ini bau pesing nya menyengat banget, beberapa spot yg kami datangin mulai dari depan mesjid sampai di depan tulisan “Pantai Losari” nya terkesan kotor dan bau nya menyengat banget :-(

    Reply
  • December 29, 2013 at 20:02
    Permalink

    @ mas cumi : Kok kemaren saya ngga terlalu mencium bau ngga enak ya, Mas ? Hidung saya yang eror atau memang udah ada solusi atas masalah itu yaaa .. Hehehe .. 😉

    Reply
  • December 29, 2013 at 20:09
    Permalink

    wahh….taun baru tampilan baru ya mbak …. bakalan kangen sm yg lama :(

    habis nonton van der wijk ku pengen maen ke makassar suatu saat nanti

    Reply
  • December 29, 2013 at 20:31
    Permalink

    @ isna : Ngga juga, sekedar pengin ganti baju aja biar fresh .. 😉

    Reply
  • January 2, 2014 at 12:54
    Permalink

    Kangen Losari dengan segala atmosfernya. Aku lebih suka kalau di tiap kota dibanyakin tempat ngumpul-ngumpul begini daripada warganya bergumul di mall doang. Ga apa-apa rame, yang penting bisa bersosialisasi, bukan berhedon ria.

    Reply
  • January 3, 2014 at 19:39
    Permalink

    @ kokoh : Iya, banyakin ruang publik ya, orang jangan dicekokin buat hedon mulu. Hehehe .. Tapi mall juga tetep rame sih itu di Makassar, gila, macet pun dimana2 .. Huwooo .. 😮

    Reply
  • January 16, 2014 at 19:34
    Permalink

    @ farida : Ahahahaha .. Selamat menikmati, Sulawesi Selatan, Da .. Sorry, itinerary-nya malah belom tak kirim .. 😉

    Reply
  • February 9, 2014 at 10:17
    Permalink

    Selamat datang di Kota kami yang penuh dengan keramah tamahan kepada para pendatang.
    Foto sunsetnya keren, emang banyak sih yang bilang kalau pantai losari tempat paling baik untuk menikmati sunset.
    Ayo Berkunjung ke Kota kami, Kota Daeng.

    happy blogwalking
    @indonesianholic
    http://www.indonesianholic.com

    Reply
  • February 15, 2014 at 20:46
    Permalink

    @ akbar : Benar, Sulawesi Selatan sangat ramah ternyata, padahal sebelumnya saya agak keder dengan kesan keras dan tanpa basa-basi yang melekat di kepala saya tentang saudara-saudara di Timur Indonesia ..

    Insya Allah, lain kali berkunjung lagi. Belum ke Bira .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: