Mengintip Potehi ..

Semarang diguyur gerimis tipis sepanjang hari. Meski demikian, keriuhan di Jalan Wotgandul, Semarang, tidak mereda sedikitpun. Disana, kegiatan tahunan jelang Tahun Baru Cina, berjuluk Pasar Imlek Semawis, sedang digelar. Ya, layaknya Dugderan yang dilaksanakan jelang Bulan Ramadhan, Semarang juga punya pasar tiban yang membuat ramai kawasan Pecinan, beberapa hari sebelum Lunar Year berganti bilangan ..

Saya berbaur dalam keramaian yang ada, menyusuri satu demi satu lapak yang kebanyakan menjual makanan. Tidak banyak yang bisa saya cicipi, karena kepercayaan saya mengharuskan demikian. Namun tidak masalah, atmosfer fun tetap dapat saya rasakan disana ..

IMG_3059

Tiba di pertigaan Gang Tengah, perhatian saya terpecah ..

Ada keramaian yang tidak biasa. Suara dencingan alat musik semacam simbal terdengar mendominasi. Di antaranya, telinga saya juga menangkap suara seorang pria bermonolog dengan intonasi dan cengkok yang meliuk-liuk. Suara-suara itu bersumber dari sebuah rumah panggung mungil, berukuran tidak lebih dari 3 x 3 m, berpenerangan sebilah neon, bercat merah dan memiliki jendela dengan kain satin berjuntai di bagian depannya ..

IMG_3067

Potehi !

Ah, akhirnya saya berkesempatan menonton pertunjukan Wayang Potehi ! Satu hal yang saya tunggu-tunggu sejak berdomisili di Semarang, 3 tahun lalu ..

Sedikit mengenai sejarah Wayang Potehi ..

Potehi berasal dari 3 kata, yaitu Po (kain), Te (kantong) dan Hi (wayang). Benar adanya, karena material wayang-wayang Potehi adalah kain, yang dibentuk menyerupai kantong, berlubang di bagian bawahnya, sebagai tempat masuknya tangan Sang Dalang untuk memainkannya ..

Wayang ini bermula dari sebuah kisah suram 5 narapidana yang menanti eksekusi hukuman mati pada masa Dinasti Sang Tiau, di Kota Chuan Cu, Provinsi Hokkian, Tiongkok, 3000 tahun yang lalu. Dalam masa penantian yang mendebarkan, mereka menghibur diri dengan membuat pertunjukan kecil-kecilan. Mereka memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar sel, mulai dari kain perca, gagang sapu, baskom, tutup panci dan sebagainya. Gegap gempita di dalam lingkungan penjara ini sampai hingga telinga Tioe Ong, raja yang kala itu berkuasa. Tantangan pun datang, kelima narapidana diminta tampil di depan singgasana. Jika, Sang Raja merasa senang dan terhibur dengan pertunjukan mereka, vonis bebas bisa saja mereka dapatkan ..

Ternyata, Raja Tioe Ong berkenan dan sangat terkesan dengan aksi Wayang Potehi yang dilakukan oleh para narapidana tersebut. Mereka pun terlepas dari jeratan hukuman mati. Konon, sejak saat itu pula, Sang Raja yang mulanya bengis pun berubah menjadi sangat bijaksana ..

Di Semarang sendiri, Potehi sudah menjadi hal langka, yang terbilang sulit ditemui waktu pertunjukannya. Hanya ada 2 dalang sepuh yang masih begitu setia melestarikan kesenian Cina kuno ini. Beliau adalah Teguh Chandra Irawan (Thio Tiong Gie) *dalang yangΒ perform malam itu* dan Bambang Sutrisno. Hmm, nampaknya mahir menggerakkan wayang kain ini tidak terlalu digemari para generasi muda ya. Mereka lebih memilih menekuni cabang kesenian lain, Liong dan Barongsay, misalnya ..

Kembali ke panggung Wayang Potehi di pertigaan Gang Tengah ..

IMG_3029

Penasaran dengan kondisi backstage-nya, alih-alih memperhatikan jalan cerita yang sedang digulirkan Tiong Gie, saya malah beranjak ke samping dan belakang panggung *yang ternyata hanya terbuat dari potongan-potongan tripleks tipis* ..

IMG_3026

Disana, saya bisa menyaksikan jari-jari Tiong Gie asyik menghidupkan wayang-wayang kainnya, didampingi seorang asisten, di samping kirinya. Sementara 4 pemain musik pun terlihat enjoy mengiringi tingkah lincah Sang Dalang. Alat-alat musik yang digunakan adalah simbal berukuran sedang, semacam rebab, ketipung dan terompet. Dinamika musik yang dihasilkan sangat Cina, kalau saya bilang. Meliuk-liuk, seirama dengan dialog para wayang ..

IMG_3032

Ah, lain kali saya harus menemui Tiong Gie, di Jalan Petudungan, rumahnya, untuk mengajaknya berbincang banyak tentang Potehi. Perjumpaan sekilas di pertigaan Gang Tengah, tidak cukup rasanya untuk mengetahui kecintaannya pada wayang-wayang kain ini ..

IMG_3062

Saya bahkan hanya sempat mengintip sedikit. Mengintip Potehi .. πŸ˜‰

***

12 thoughts on “Mengintip Potehi ..

  • February 1, 2014 at 17:18
    Permalink

    @ kak gio : Sayang banget ! Ngga ngerti sih kalo dirimu ada juga di Hom, tau gitu kan digedor kamarnya, diajak sekalian. Ngertinya telat, pas mo cari bandeng aja .. πŸ˜‰

    @ mba olive : Itu dia, Mba, melepek waktunya. Next time pengin datengin rumahnya Koh Tiong Gie langsung .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 1, 2014 at 22:05
    Permalink

    @ bpborneo : Iya, Kak, ada 6 orang di dalam rumah panggung itu. Dalang utamanya (Tiong Gie) yang tua, pakai baju putih, di foto ketiga .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 3, 2014 at 17:25
    Permalink

    Baru denger deh tentang Potehi. Btw, framing fotonya mantap mbak!

    Reply
  • February 3, 2014 at 18:57
    Permalink

    @ bee : Kesenian wayang Cina ini emang udah mulai jarang dimainkan, Bee .. Sayang banget, padahal ngga kalah unik sama wayang kulit atau wayang golek lho .. Btw, tengkyuuu .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 6, 2014 at 15:47
    Permalink

    Arggg sungguh gelo banget nggak lihat Festival Imlek Semawis tahun ini, tapi lumayan lah baca ini jadi tombo gelo.
    Ada liputan yang lain nggak selain wayang potehi? hehehe…

    Reply
  • February 6, 2014 at 20:57
    Permalink

    @ halim : Aaahhh, sayang banget, Lim ! Hehehehe .. Hmm, ada beberapa frame foto lain sih, cuma sisi lainnya kurang tertangkap, jadi masih belom nemu ide nulisnya bagian mana .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 24, 2014 at 04:28
    Permalink

    Aku baru tahu soal Potehi ini.
    Awal pas baca judul, kukira Potehi ini nama tempat #Tepokjidat

    Reply
  • February 26, 2014 at 22:33
    Permalink

    @ mba dian : Hahaha .. Padahal wayang potehi ini lumayan terkenal lho, Mba, tapi emang udah jarang ditampilin sih. Kalau mau nonton, di Pasar Imlek Semawis tahun depan yaaa .. πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: