Sunyaragi : Rumah Kedua Raden Budi ..

Jelang tengah hari, Cirebon luar biasa panasnya. Bukan sekedar matahari begitu terik menyengat, tapi juga hawa terasa sangat pengap. Keringat saya mengucur deras, sebotol minuman dingin tidak terlalu membantu meredam kegerahan ..

IMG_1914_2

Itulah salah satu sebab saya tidak terlalu tertarik melanjutkan langkah ke Kompleks Gua Sunyaragi. Panas. Lagipula, pikiran pendek saya berkata, apa lah yang bisa diharapkan dengan objek wisata yang berada tepat di tengah kota ? Ya, Sunyaragi terletak di Jl. Brigjen AR Dharsono, yang merupakan salah satu jalan raya utama di Cirebon. Namun, melihat niat teman-teman seperjalanan, Mba Yusmei, Russy dan Anne, saya menyerah juga, menyeret kaki menuju gerbang masuk ke kompleks gua. Disana hanya ada beberapa petugas tidak berseragam dan berusia jelang senja, yang menyambut kami dengan ramah. Salah satu dari mereka itulah, seorang lelaki sepuh, dengan semangat yang masih terlihat menyala, bernama Raden Budi, yang kemudian menemani saya berkeliling Sunyaragi ..

IMG_1910_2

Pak Budi, demikian saya memanggil Beliau, seorang Jawa – Sunda kelahiran Bandung, yang besar di Cirebon ini berhasil mencairkan sikap skeptis saya pada Kompleks Gua Sunyaragi. Beliau begitu fasih menjelaskan satu demi satu seluk beluk situs peninggalan Keraton Kasepuhan Cirebon ini. Penguasaan bahasa asingnya pun di luar dugaan. Beberapa kali saya harus tertunduk malu, mengakui kelihaian pria tua ini bertutur kata dalam bahasa Inggris dan Perancis ..

Sunyaragi, menurut Pak Budi, berasal dari 2 kata, yaitu sunyi dan raga, yang juga bermakna sebagai tempat pensucian raga. Berbagai kegiatan Keraton Kasepuhan berlangsung di kompleks yang dibangun dalam 3 tahap ini, yaitu tahun 1536, 1703 dan di akhir abad 18 ini. Sekilas, Pak Budi menyampaikan bahwa arsitek yang mengawal pembangunan Sunyaragi adalah Sam Po Kong, Sam Cai Kong dan Lim Poa Tjien, yang berkebangsaan Tiongkok ..

Saya sempat memotong penjelasan Beliau,

Sam Po Kong ? Sam Po Kong yang sama dengan yang melakukan pendaratan di Semarang, Pak ? “.

Lelaki berambut putih itu mengangguk yakin. Bahkan, kemudian ia menunjukkan sebuah sudut berbentuk mirip altar yang dipercaya merupakan makam Sang Laksamana Cina tersebut. Wah !

IMG_1935_2

Pak Budi mengajak saya berdiri diatas Bangsal Jinem, sebuah tempat kehormatan bagi Sultan, berkedudukan sedikit lebih tinggi di banding permukaan di sekitarnya. Disanalah, Sultan menyampaikan hal-hal baik bagi hambanya atau mengawasi latihan perang para prajuritnya. Dari sana juga lah, saya menangkap kesan bahwa ternyata Sunyaragi merupakan masterpiece, yang tersusun dari batuan karang, kapur, batu bata dan dilekatkan menggunakan putih telur. Susunannya memang cukup acak, tidak simetris, namun justru itulah yang membuat Sunyaragi unik dalam ketidakteraturannya ..

IMG_1903_2

Lepas dari Bangsal Jinem, Pak Budi mengarahkan saya menyusuri labirin Sunyaragi. Ruang-ruang di dalamnya terhubung satu sama lain. Sebutlah Mande Beling, tempat istirahat Sultan; Gua Peteng, yang benar-benar peteng, tempat Sultan bermeditasi atau ngraga sukma; Gua Langse, yang semula bertiraikan air terjun; Balekambang, pendopo apung yang biasa digunakan untuk menyambut para tamu kerajaan. Disini, Pak Budi menyampaikan bahwa ada rencana dari Pemerintah Kota untuk merekondisi Sunyaragi. Ceruk di antara gua-gua akan kembali diisi air, hingga nantinya Sunyaragi akan menyerupai taman air. Wah, sepertinya menarik ..

Sampailah kami di sudut kanan depan Kompleks Gua Sunyaragi ..

Pak Budi menyebut tempat itu Gua Arga Jumut, dimana jamuan makanan minuman dihidangkan. Konon, disanalah pusat kekuatan Keraton Kasepuhan Cirebon. Sebuah meja perundingan yang terbuat dari marmer, pernah ada di bagian tengahnya. Selain itu, Sultan dipercaya sering melakukan perjalanan gaib ke Tiongkok dan Arab melalui 2 bilik Arga Jumut. Belanda mendengar desas-desus tersebut, hingga akhirnya pada tahun 1787, bangunan ini dijatuhi bom. Bekas kerusakannya masih dapat saya saksikan, salah satu dinding gua terlihat berserak di atas tanah, sementara sisanya berdiri miring ..

IMG_1916_2

Menuju jalan keluar kompleks, Pak Budi menunjukkan 2 ruang khas milik Sunyaragi, yaitu Gua Padang Ati, yang merupakan tempat meditasi para hamba; Gua Pande Kemasan, tempat senjata-senjata kerajaan ditempa oleh para pandai besi; Gua Lawa; dan Gua Pawon ..

Cirebon masih saja berhawa panas dan pengap, ketika saya selesai mengitari Sunyaragi. Namun, paling tidak penilaian saya pada kompleks bangunan bersejarah ini berubah drastis. Dari mulanya memandang sebelah mata, lalu berakhir terpesona luar biasa ..

IMG_1926_2

Bapak benar-benar paham tentang Sunyaragi ya .. “, sembari berkemas pulang, saya tulus memuji kehandalan Sang Guide yang semula saya ragukan kemampuannya karena usianya yang telah renta.

Pak Budi tersenyum saja,

Sunyaragi seperti rumah kedua bagi saya, sudah lama saya bekerja disini, mengantar tamu-tamu dan menceritakan kemegahan Keraton Kasepuhan pada mereka .. “.

Saya iyakan pernyataan Pak Budi tersebut. Tidak berlebihan, saya memang merasa Beliau begitu akrab dengan Sunyaragi, dengan setiap detailnya, dengan rincian sejarahnya ..

Saya pamit, Pak. Tetap sehat ya, semangat, insya Allah kalau Sunyaragi sudah selesai direkondisi, saya kesini lagi .. “.

Pak Budi kembali tersenyum senang dan melepas kami pulang ..

***

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: