Tuban : Sejuta Goa, Sejuta Pesona ..

2002 ..

Saya menyinggahi Tuban. Tidak lama, hanya beberapa jam saja. Tujuan utama perjalanan menyisir pantai Utara, saat itu, adalah untuk menjemput Bapak yang memasuki masa temporary-off, kapalnya sandar di Pelabuhan Semen Gresik. Bonusnya, kami sekeluarga plesiran Goa Akbar, objek wisata andalan Tuban, yang jujur, tidak dapat saya ingat dengan baik bagaimana kondisi dan kesan saya kala mengunjunginya ..

Sebelas tahun kemudian, 2013 ..

Saya kembali menyinggahi Tuban, kali ini cukup lama, 2 hari 1 malam. Alhamdulillah, seorang sahabat yang lahir, besar dan tinggal disana, Mba Dian, mengundang saya, Mba Yusmei dan Halim untuk datang dan jalan-jalan santai di kotanya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dari Semarang, dengan bis umum jurusan Surabaya, kami bertiga sampai di sisi Utara alun-alun Tuban ..

Kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah di sisi Barat – Utara ini selalu ramai dilintasi kendaraan. Maklum, jalur pantura membentang di sepanjang wilayahnya. Strategis sekali ya .. πŸ˜‰

Nah, berhubung tidak punya banyak memori dan pengetahuan tentang Tuban, awalnya saya agak skeptis mengenai hal-hal menarik apa yang bisa saya jumpai disana. Mentok, paling-paling hanya ada Goa Akbar, begitu pikir saya. Sayangnya, ternyata saya salah besar, karena banyak tempat unik yang ditunjukkan Mba Dian dan membuat saya berubah pikiran ..

Jadi, ada apa di Tuban ? Let’s check it out ..

Masjid Perut Bumi

IMG_2682

Mba Dian mengajak kami mengunjungi salah satu bangunan unik yang berlokasi tidak jauh dari pusat kota. Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi. PanjangΒ ya, namanya, namun memang lebih akrab disebut sebagai Masjid Perut Bumi saja. Masjid yang terletak di Jalan Gedungombo, Semanding, Tuban ini memang berbeda dari yang lainnya ..

IMG_2675

Memiliki tampilan depan yang nyentrik, berwarna-warni dan penuh ukiran paduan aksara Jawa – kaligrafi, membuat perhatian saya tercuri oleh masjid yang dibangun dalam kompleks Pondok Pesantren Aschabul Kahfi ini. Tersebutlah KH Subhan, tokoh yang memiliki ide untuk memfungsikan goa yang semula tandus dan berbatu menjadi sebuah Islamic center. Lubang besar di perut bumi tersebut mempunyai stalagmit dan stalaktit yang telah mengering tetesan airnya. KH Subhan mengubahnya menjadi tempat ibadah yang megah, dengan pilar, ukir-ukiran, lampu bercahaya remang, hiasan marmer dan puluhan anak tangga yang menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya ..

Untuk memasukinya, tidak ada tiket masuk berharga spesifik. Kami hanya disodori buku tamu dan himbauan untuk ber-infaq seikhlasnya. Di sela-sela keterpukauan pada keunikan masjid ini, saya sempat berbincang dengan salah satu santri senior yang sudah beberapa tahun tinggal dan belajar di Pondok Pesantren Aschabul Kahfi ini ..

Masjid ini belum selesai, Mba, di belakang sana masih ada pengembangan asrama santri. Pak Kyai yang menanggung pembangunannya .. ”

Benar saja, saat melangkah keluar area masjid, kami menyaksikan sepetak tanah berukuran lumayan besar dengan rongga-rongga yang menganga. Beberapa tukang bangunan terlihat sibuk bekerja disana. Hmm, seperti apa penampakan Masjid Perut Bumi ini ketika keseluruhan bagiannya telah sempurna ya ? Di benak saya, terbersit sebuah bangunan megah, unik, serta mengadopsi nilai budaya dan religi, sekaligus. Benarkah akan terwujud demikian ?

Next time, saya buktikan .. πŸ˜‰

Goa Akbar

Finally, setelah lebih dari 1 dekade, saya kembali menginjakkan kaki di tempat ini. Jujur, begitu sampai disana, saya mendadak melankolis, teringat almarhum Bapak. Hehehe .. :’)

IMG_2692

Pintu gerbang Goa Akbar terletak tidak jauh dari kompleks Pasar Baru Tuban. Bahkan, sebagian pelataran pasar tersebut berada tepat di atas rongga goa. Aneh deh, di tengah aura Goa Akbar yang bercahaya temaram dan semula begitu sunyi, tiba-tiba terdengar suara para perempuan yang riuh melakukan tawar menawar harga. Ealah ..

Harga tiket masuk objek wisata alam ini tidak mahal, hanya 5K IDR per orang. Kompleks Goa Akbar telah tertata apik, jalan menuju ke titik destinasi utama dipayungi kanopi panjang berwarna hijau, sementara di sisi kanannya terdapat relief sejarah Kota Tuban, yang melibatkan Sunan Bonang dan Ronggolawe. Rongga Goa Akbar sendiri sudah begitu mudah dijalani. Setapak permanen yang dilengkapi dengan batas pengaman tersedia di sepanjang jalur penjelajahan goa. Dengan begitu, saya dan pengunjung-pengunjung lain bisa leluasa menikmati penampang Goa Akbar, yang dipenuhi tonjolan-tonjolan stalaktit dan stalagmit. Selain itu, di dalam goa terdapat sungai-sungai bawah tanah. Aliran airnya cukup deras dan super duper bening, beberapa kali saya memanfaatkannya untuk cuci muka. Segar ! πŸ˜‰

IMG_2694

Eh, bahkan kabarnya air sungai tersebut aman untuk dikonsumsi lho ..

Goa Akbar yang pernah menjadi tempat tinggal Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, arena latihan perang prajurit Ronggolawe danΒ  merupakan andalan wisata utama Kota Tuban ini ternyata memiliki masa lalu yang tidak terlalu cemerlang. Ia pernah tersembunyi di balik semak belukar dan menjadi tempat pembuangan sampah. Hingga pada tahun 1996, H. Hindarto, Bupati Tuban kala itu, mengangkatnya kembali ke permukaan dan menjadikannya sepopuler sekarang ..

Hmm, setelah menyaksikan 2 bentukan alam tersebut dan mendengar informasi dari Mba Dian, bahwa masih banyak rongga-rongga sejenis di bawah Kota Tuban, saya jadi paham bahwa wilayah yang membujur sepanjang 65 km di pantai Utara itu layak disebut sebagai kota sejuta goa. Potensi wisata yang luar biasa, sebenarnya. Semoga seiring berjalannya waktu, wisatawan Tuban yang selama ini dominan bertujuan ziarah ke makam Sunan Bonang, dapat menikmati eksotisme goa-goa di bawah kota .. πŸ˜‰

***

.. to be continued ..

10 thoughts on “Tuban : Sejuta Goa, Sejuta Pesona ..

  • March 13, 2014 at 00:13
    Permalink

    Zah, sudah kukasih tahu apa belum?
    Ternyata di bawahnya masjid Ashabul Kafni ini masih ada ruangan lain, yang lebih besar dan lebih keren desain interiornya. Ada ka’bah kecil buat manasik haji juga.

    Kapan2 kita kesana lagi ya. Aku juga penasaran dengan hasil akhir pembangunan pondok Perut Bumi ini

    Reply
  • March 13, 2014 at 09:48
    Permalink

    Aku kok nggak nemu papan nama “Goa Akbar” yg keren itu ya? *cek stock foto* hehehe
    Ayokkk ke Tuban maneh, aku ya semangat nih meh ublek-ublek kota ala Amazing Race lagi >_<

    Reply
  • March 13, 2014 at 14:16
    Permalink

    Berjuta cerita di tuban :). Zizah, Halim, dan mba Yusmei kurang lama hehe

    Reply
  • March 13, 2014 at 19:48
    Permalink

    Belum jadi nyoba kuliner makanan laut, kapan2 harus ke sana lagi *siap2 pijet boyok :)

    Reply
  • March 14, 2014 at 19:41
    Permalink

    @ mba dian : Di bawah Masjid Aschabul Kahfi itu sebelah mananya lagi, Mba ? Jadi goa utama itu masih ada ruang di bawahnya lagi ? Waaahhh ..

    @ halim : Ahahahaha, jalan2 ala Amazing Race itu yang naik motor uyeg2an di dalam pasar itu ya, Lim ? Wkwkwkwk .. Seru, sekaligus absurd .. πŸ˜‰

    @ ainun : Gih, sana ke Tuban, kenalan sama tuan rumahnya tuh, Mba Dian ..

    @ endah : Iya ya, Ndah, kurang lama, harusnya seminggu. Hahahaha .. Mba Dian bangkrut ..

    @ mba yusmei : Iya ik, belom jadi makan ikan bakar ala Tuban .. Xixixixi .. πŸ˜‰

    Reply
  • March 21, 2014 at 05:56
    Permalink

    Zah,durung nyoba RAJUNGAN REMASON kowe nek ning tuban!!Kecap Laron,Legen karo siwalan…

    Reply
  • March 21, 2014 at 09:00
    Permalink

    Mbak Diaaaaannnn.. Ajak aku ke Tubaaaaannnn.. *glesotan*

    Reply
  • March 21, 2014 at 19:12
    Permalink

    @ mas ergie : Hahaha .. Wingi nembe njajal sambel welut, Mas, enak, ning pwedes .. πŸ˜‰

    @ bee : Buruaaannn ! Ojo wacana thoookkk .. :p

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: