Sisi Lain Museum Kambang Putih, Tuban ..

Seperti kebanyakan museum di Indonesia, Kambang Putih terbilang sepi untuk sebuah bangunan megah yang mengadopsi kesan Eropa Timur, berpilar-pilar besar; dan berwarna perpaduan salem – putih, berada tepat di jantung Kota Tuban pula. Padahal, jika orang-orang bersedia sedikit jeli, museum yang terletak di Jalan Kartini No. 3, tidak jauh dari alun-alun Kota Tuban, menyimpan sejarah penting mengenai kota yang berlokasi di pesisir Utara Jawa ini ..

IMG_2764

Saya menyusuri lorong-lorong museum yang sedikit pengap. Tidak ada pemandu yang bisa saya mintai tolong untuk bercerita tentang koleksi-koleksi yang terpampang di dalam etalase kaca sederhana. Secara garis besar, Museum Kambang Putih terbagi dalam 2 bagian, yaitu koleksi masa purbakala dan koleksi kebudayaan Tuban. Pada bagian yang pertama, saya mendapati banyak benda-benda dari masa lampau, meliputi perkakas dari batu, gerabah, keramik atau logam. Benda-benda kuno tersebut, kebanyakan, merupakan hasil temuan penggalian yang dilakukan oleh masyarakat Tuban. Sementara sisanya, terutama yang berbahan dasar keramik, ditemukan di dasar Laut Jawa, yang tidak jauh dari sepanjang garis pantai kota ..

IMG_2755

Satu hal yang menarik, di sepetak ruang terbuka di sisi kanan museum terdapat Prasasti Watu Tiban, yang berbentuk 2 buah yoni berukuran cukup besar. Konon, batu yang dijatuhkan oleh sepasang burung yang terbang dari Majapahit menuju Demak inilah asal muasal pemberian nama Tuban. Watu tiban atau batu yang jatuh. Pendapat lain, Tuban berasal dari frase metu banyune atau keluar airnya, yang mencirikan bentang alam goa-goa di bawah kota, dengan sungai-sungai bawah tanah yang mengalir disana ..

Bagian kedua adalah ruang pamer benda-benda yang menunjukkan kebudayaan khas Tuban, seperti aneka motif Batik Tuban, proses pembuatan Tenun Gedog, baju adat Tuban, alat-alat pertanian, perikanan dan perkebunan, hingga Ongkek, yang merupakan wadah khusus yang digunakan masyarakat Tuban untuk berjualan legen atau air sadapan pohon siwalan ..

page1

Melangkah keluar museum, pengunjung dapat bernostalgia sebentar dengan grup musik legendaris yang ternyata berasal dari Tuban, Koes Plus. Sebuah poster berukuran besar, serta etalase kaca berisi kaset pita dan piringan hitam karya Koes Plus terdapat disana. Koleksi ini memang sedikit menyimpang dari timeline Kambang Putih, ya semata-mata untuk memberikan penghormatan bagi maestro yang pernah berjaya di masanya ..

Setelahnya, saya pikir kunjungan ke Museum Kambang Putih ini telah berakhir dengan kesan yang datar-datar saja. Ya, saya tinggalkan bangunan yang kesepian di tengah keriuhan jantung Kota Tuban itu ..

Eh, tunggu, riuh ?

IMG_2770

Ah, saya baru sadar, ada keriuhan di luar pagar Museum Kambang Putih. Bukan keriuhan biasa, karena ternyata puluhan, ups, bukan, ratusan unit becak berjajar di sepanjang Jalan KH. Mustain. Usut punya usut, ternyata mereka antri menunggu penumpang yang notabene merupakan para peziarah di Makam Sunan Bonang. Rute becak-becak ini standar : taman parkir kendaraan menuju Masjid Agung Tuban atau sebaliknya, yang berjarak kurang lebih 3 km. Tarif sekali jalannya, mohon koreksi jika salah, 6K IDR saja ..

Uniknya, masing-masing becak ini terhubung satu sama lain, kaki-kaki pengayuhnya terkait dengan ekor becak di depannya. Sehingga saat antrian harus bergerak, mereka tidak harus turun, cukup memutar roda, mengaitkan kakinya, voila, rentetan becak-becak tersebut maju ke depan dengan rapi. Hebatnya lagi, tidak ada tukang becak yang rebutan penumpang, semua sudah terkoordinasi dengan baik. Keren, ‘cuma’ becak padahal .. 😉

IMG_2762

Melihat fenomena antrian becak ini, saya exciting setengah mati. Jeprat jepret kamera tiada henti, bahkan sampai numpang ancik-ancik di salah satu becak, untuk mendapatkan angle yang tepat, menangkap atmosfer unik ala Tuban ini ..

Salah satu tukang becak sampai berkelakar,

Oalah, Mba, kaya ora tau weruh becak wae .. ”
(Oalah, Mba, seperti tidak pernah lihat becak saja ..)

Saya tertawa dan membalas ringan,

Becak e kerep weruh, Pak, tapi sing nganti atusan ngene iki yo nembe ning Tuban iki .. ”
(Becaknya sih sering lihat, Pak, tapi yang sampai ratusan begini ya baru di Tuban ini ..)

IMG_2767

Ah, ternyata kejutan yang diberikan Museum Kambang Putih tidak semata-semata dari dalam bangunan megah dan ruang-ruang pamer yang asing dan sepi, namun justru dari sisi lain, yaitu dari luar gerbangnya. Ratusan antrian becak yang terkoordinasi dengan rapi untuk melayani para peziarah .. 😉

***

8 thoughts on “Sisi Lain Museum Kambang Putih, Tuban ..

  • March 14, 2014 at 05:12
    Permalink

    Hhwwaaaahh, foto-foto becakmu heboh Zah!

    Kalau kalian2 kaget dengan antrian becaknya, aku kaget dengan reaksi kalian saat melihat becak-becak itu hehhehhee. Soalnya antrian becak yang mengular begitu sudah jadi pemandangan sehari-hari sejak belasan tahun lalu

    Ditunggu lanjutan ceritanya yaaa

    Reply
  • March 14, 2014 at 07:56
    Permalink

    Tuban kota seribu becak hahahaha… curiga mbak Dian kelola bisnis becak juga di sana :p

    Reply
  • March 14, 2014 at 19:45
    Permalink

    @ mba dian : Iya, Mba, beneran kaget ! Luar biasa, belum pernah lihat antrian becak sebanyak dan seterkoordinir itu. Sisi lain Tuban yaaa .. 😉

    @ halim : Hahahaha .. Mba Dian Sang Juragan Becak, cocok lah jadi judul FTV .. *ngikik*

    Reply
  • March 22, 2014 at 00:23
    Permalink

    Judule Ftv-ne kurang jos
    Kudune : cintaku nyangkut di becak! :))

    Reply
  • April 10, 2014 at 16:16
    Permalink

    Wah orang Tuban juga ya 😀 Ada gak ya komunitas blogger tuban ?

    Reply
  • April 13, 2014 at 23:08
    Permalink

    @ mbu : Saya bukan orang Tuban, monggo silahkan kenalan dengan Mba Dian (@awardeean), Beliau sahabat saya yang saat ini berdomisili di Tuban .. 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: