Serba-Serbi Tuban ..

Setelah menyaksikan goa-goa dan menikmati keterkejutan atas keberadaan puluhan becak di depan Museum Kambang Putih, saya penasaran, apa lagi yang akan saya temukan di Tuban. Mba Dian, bersama Endah, sebagai tuan rumah, benar-benar total mengantarkan saya, Mba Yusmei dan Halim blusukan dari satu tempat ke tempat lainnya. Menggunakan 3 motor, kami menyusuri jalan-jalan kota yang memang tidak terlalu lebar. Meski harus berpanas-panas dan sesekali berkejaran dengan rintik hujan, saya enjoy sekali, karena dengan begitu, Tuban terlihat lebih nyata di mata saya ..

Jadi, selain Masjid Perut Bumi, Goa Akbar dan Museum Kambang Putih, ada apa lagi di Tuban ?

Let’s check it out ..

Klenteng Kwan Sing Bio

IMG_2728

Klenteng yang juga akrab disebut Klenteng Kepiting oleh masyarakat lokal ini terletak tepat di sisi jalan raya pantura, menghadap langsung ke hamparan Laut Jawa. Siapapun yang melintasi Tuban dari arah Jawa Tengah ke Jawa Timur atau sebaliknya (kecuali menggunakan bis ya, karena jalur bis berbeda ruasnya) dapat melongokkan pandangan sejenak untuk melihat bangunan mencolok berwarna dominan merah ini ..

IMG_2733

Memasuki pelataran parkirnya yang super luas, saya bengong. Sepi sekali. Ya, untuk ukuran lahan seluas dan bangunan semegah itu (bahkan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Klenteng Sam Po Kong di Semarang), Klenteng Kwan Sing Bio tidak terlihat memiliki geliat dinamis ..

page2

Alih-alih memasuki altar utama, saya dan teman-teman justru menuju ke taman tengah. Disana patung dewa-dewa terlihat membeku dengan beraneka macam ekspresinya. Patung simbolisasi shio pun ada mengelilingi area taman. Kami sempat berkelakuan absurd, yaitu sibuk mencari hewan yang mewakili tahun kelahiran masing-masing. Hahaha ..

IMG_2719

Melangkah ke bagian belakang klenteng, disana saya menyaksikan sebuah bangunan super besar dengan detail arsitektur yang sangat Cina. Sekilas, bangunan tersebut tampak seperti istana Tiongkok kuno, lengkap dengan gerbang, taman, kolam dan jembatan penghubung. Sementara di sisi kanannya terdapat jejeran kedai makanan, yang ternyata disediakan gratis bagi orang-orang yang beribadah, dengan menu-menu yang tidak dapat saya konsumsi ..

Lagi-lagi, saya merasa sayang, Klenteng Kwan Sing Bio ini terlalu spektakuler untuk dibiarkan sepi seperti ini. Mungkin, saya datang pada saat yang tidak tepat ya, tidak banyak orang yang beribadat. Semoga ..

Pantai Boom

IMG_2748

Masih di garis pesisir Utara Jawa, sebuah pantai dengan dermaga permanen yang menjorok jauh ke arah lautan, terlihat ramai dikunjungi masyarakat setempat. Namanya Pantai Boom. Sekilas, tidak ada yang istimewa dengan pantai tersebut, kapal-kapal nelayan terlihat bersandar sekadarnya di tepian, yang pasirnya bercampur dengan pecahan cangkang kerang atau serpihan bangkai ikan; anak-anak berebutan kelomang; sepasang remaja duduk berdekatan dan memperbincangkan apalah; bapak-bapak pemancing membiarkan umpannya hingga dilahap mangsa ..

IMG_2739

Namun ternyata, sejak lebih dari 7 abad yang lalu, banyak peristiwa sejarah Nusantara bermula dari Pantai Boom ini. Pada abad 13, Kertanegara memberangkatkan ekspedisi penaklukan Melayu dari dermaga ini. Masih dari abad 13, Pasukan Tar-Tar utusan Kerajaan Mongolia pun mendarat di Pantai Boom. Mereka berniat menghancurkan Kerajaan Singosari, meski akhirnya Kerajaan Kediri lah yang dibasmi, akibat pengaruh dari para keturunan Singosari, yaitu Raden Wijaya dan Raden Arya Ronggolawe ..

Sementara, pada ri purneng kartikamasa pancadasi, penanggalan tahun Saka atau ekual dengan tanggal 12 November 1293, Raden Wijaya dinobatkan sebagai Raja Majapahit disini, di pantai yang kini disebut Pantai Boom. Sri Kertajasa, gelar yang dilekatkan pada Raden Wijaya, pun kemudian menetapkan dermaga ini menjadi dermaga niaga internasional. Dua abad kemudian, pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, dermaga ini menjadi pintu gerbang masuknya Agama Islam di Pulau Jawa ..

Seperti biasa, saya yang pengkhayal ini mendadak membayangkan kapal-kapal dagang berukuran besar bersandar di sepanjang Pantai Boom. Pelabuhan ini riuh oleh saudagar-saudagar asing yang hendak bertransaksi dengan Kerajaan Majapahit, yang termahsyur kala itu. Wuihhh ..

Belut Goreng Jangkar

IMG_2776

Nah, sampailah pada bagian favorit di setiap episode traveling yang saya jalani, kulineran. Menurut Mba Dian, Tuban punya banyak makanan khas, mulai dari menu-menu laut, seperti ikan, kepiting, udang karang, kemudian legen siwalan dan belut goreng ..

Mendengar belut goreng, saya langsung antusias, apalagi ditambah bumbu-bumbu cerita bahwa penyajiannya dengan sambel super pedas yang rasanya aduhai. Slurppp, nyaris menetes lah air liur saya. Hahaha .. 😉

Maka, jelang tengah hari, kami meluncur ke daerah yang terbilang pinggiran kota. Sempat terhalang hujan, kami menepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi. Kemudian, setelah melewati jalan makadam di antara dua hamparan sawah, kami sampai di Desa Tegalagung, Kecamatan Semanding. Celingak celinguk sebentar, mana warung makannya ? Ternyata nylempit, Saudara-Saudara. Hahaha ..

Ya, Warung Makan Jangkar memang terbilang sangat sederhana, dengan bangku dan meja kayu seadanya, serta terletak di tengah-tengah pemukiman di Desa Tegalagung. Jalan masuknya hanya cukup untuk satu motor, namun pengunjungnya luar biasa banyak. Apalagi jika bertepatan dengan jam makan siang, harus memperbanyak stok sabar .. 😉

Sebenarnya, bukan hanya belut goreng yang dijual disini, ada lele goreng dan jeroan ayam. Namun apa daya, selera saya sudah terpaku pada makhluk air berbadan panjang dan licin itu, juga pada citarasa sambal yang pedas menggoda. Kata orang-orang, sambalnya kejam, membuat mata dan hidung sampai berair, tapi kok saya tidak merasakannya ya. Level kepedasannya biasa saja, pas dengan gurih belut yang digoreng renyah. Nyam nyam ..

Batik mBongkol

IMG_2777

Batik, salah satu ciri khas yang dimiliki negeri kita tercinta. Bahkan belakangan setiap daerah menyatakan mempunyai batiknya masing-masing. Tuban pun demikian. Kota pesisir ini mempunyai batik yang khas, yaitu Gedhog, yang dilukis di atas kain yang ditenun. Sementara beberapa sebutan batik disesuaikan dengan nama desa yang menjadi sentra para pebatik, seperti Kerek, mBongkol, Karang dan Semanding. Mba Dian hanya sempat mengajak kami ke salah satu rumah pengrajin batik di daerah mBongkol, karena keterbatasan waktu ..

Motif dan corak batik Tuban mengadopsi ciri khas Pantai Utara Jawa, yaitu berwarna cerah dan membentuk bunga atau hewan. Satu hal yang saya tandai dari sebagian besar batik yang saya pilih, ada warna hitam dan putih yang menyela di antara kesan cerahnya. Saya sempatkan membeli 1 kaos batik dan kain sarung. Murah meriah, sumpah !

***

Jadi, bagaimana ? Tuban cukup menarik untuk dikunjungi, bukan ?

Meski bukan merupakan kota tujuan wisata utama di Provinsi Jawa Timur, Tuban sangat layak untuk disinggahi sehari dua hari, saat melintas di pesisir Utara Jawa ini. Tertarik ? 😉

10 thoughts on “Serba-Serbi Tuban ..

  • March 25, 2014 at 13:31
    Permalink

    Wah, bagus foto2nya, bisa ngambil angle yang ciamik 😉

    Reply
  • March 26, 2014 at 08:30
    Permalink

    Salam Takzim
    Wah pernah ke Tuban tapi ga ketempat ini habis waktunya hanya sebentar sih. Semua bagus semoga nanti bisa melihat secara langsung, Terima kasih khasanahnya ya
    Salam Takzim Batavusqu

    Reply
  • March 28, 2014 at 06:30
    Permalink

    @ endah : Matur nuwun, Endah .. 😉

    @ batavusqu : Salam juga, Mas. Semoga lain kali bisa berkunjung dalam waktu yang lebih lama ya, biar bisa eksplor banyak tempat .. 😉

    @ info kontes SEO : Terima kasih sudah mampir. Salam kenal juga .. 😉

    Reply
  • March 28, 2014 at 11:12
    Permalink

    @ travel junkie : Jangankan kamu, Kak, aku juga mau lagiii .. Ke Tuban yuks ! 😉

    Reply
  • April 3, 2014 at 20:38
    Permalink

    Belut gorengnya akan terasa nikmat kalau tidak ada kucing2 yang mengganggu hahahha

    Reply
  • April 4, 2014 at 20:14
    Permalink

    @ mba yusmei : Hwahahahaha .. Padahal kucing2 e cuma minta dibagiin sisa belut lho, Mba .. #TimPencintaKucingGarisKeras 😉

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: