Museum Affandi, Kastil Sang Maestro ..

Guys, pernah melintasi Jalan Raya Solo, saat berkunjung ke Yogya ngga ? Memperhatikan ngga, ketika sampai di depan UIN Sunan Kalijaga atau di tepian Sungai Gajah Wong, ada bangunan dengan penampakan cukup unik, berbentuk mirip kastil dan berwarna dominan hijau mencolok ?

IMG_2875_3

Nah, itulah Museum Affandi ..

Saya berkesempatan mengunjunginya pada awal tahun 2014 ini. Memasukinya seperti lebur dalam kisah hidup Affandi, Sang Maestro Ekspresionis yang begitu mencintai Kota Yogya, meski Cirebon lah kota kelahirannya. Museum yang semula merupakan rumah pribadi Affandi ini, kini dikelola swadaya oleh keluarga dan ahli warisnya, yang kerap disebut sebagai Affandi Foundation. Tak heran, kompleks yang menjadi saksi bisu kemahiran Affandi memainkan warna-warna di atas kanvas ini sangat terawat, menarik untuk disinggahi dan berkonsep sangat kuat ..

Yaaa, sudah merupakan rahasia umum, bukan, ketika museum dikelola oleh pemerintah, nasibnya nyaris tidak pernah baik ..

Saya memulai tur Museum Affandi ini dari galeri pertama. Galeri ini didesain, dibangun dan dibuka oleh Affandi sendiri. Bangunan berdinding lengkung ini memiliki bentuk atap yang unik, yaitu menyerupai daun pisang. Sebuah cerita menarik berdiri di belakang pemilihan bentuk atap ini, yaitu bahwa Affandi pernah memanfaatkan daun-daun pisang untuk melindungi lukisan-lukisannya dari panas dan hujan, saat Beliau belum memiliki tempat yang layak sebagai ruang penyimpanan. Sangat filosofis ..

IMG_2872

Galeri yang dibangun pada tahun 1962 dan dibuka pada tahun 1974 ini menyimpan karya-karya agung Affandi. Lukisan memang mendominasi tertempel di dinding lengkungnya, namun selain itu saya menjumpai beberapa patung diri Affandi dan benda-benda koleksinya yang lain, seperti Mitsubishi Gallant tahun 1976, kaus yang pernah Beliau gunakan untuk melukis, sepeda onthel dan lain sebagainya ..

IMG_2877

Keluar dari galeri pertama menuju yang kedua, saya sempat menundukkan kepala dan melangitkan beberapa larik doa. Ya, disana, tidak jauh dari galeri pertama, jasad Affandi bersemayam sejak tahun 1990, bersebelahan dengan jasad Sang Istri dan dikelilingi karya-karyanya. Fiuh, cara beristirahat yang nyaman ya .. :)

Lanjut ke galeri kedua ..

Galeri yang dibuka pada tahun 1988 dan memiliki atmosfer lebih modern ini merupakan ruang pamer bagi lukisan-lukisan Affandi dan rekan-rekannya, seperti Sudjojono dan Barli. Seluruh karya tersebut dapat dibeli oleh para pecinta seni. Iseng saya bertanya tentang harga, guide yang mendampingi saya pun menyebutkan sebuah angka fantastis. Wow ! Namun, bagi pecintanya, nilai sebuah karya seni bisa jadi bahkan tidak dapat disepadankan dengan nominal Rupiah, bukan ?

page1

Galeri terakhir merupakan bangunan yang ada setelah Affandi wafat, dibangun pada tahun 1999 dan diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2000. Galeri ini menyimpan karya-karya keluarga Affandi, yaitu lukisan bordir Maryati, istri pertama Affandi; lukisan Kartika, putri Affandi dan Maryati; dan lukisan Rukmini, putri Affandi dari istri keduanya. Beberapa lukisan tersebut juga dijual, ada yang berminat membelinya ? 😉

Melekat dengan galeri ketiga, terdapat sebuah menara yang membuat Museum Affandi identik dengan bangunan kastil. Dari menara terbuka tersebut, saya dapat menyaksikan hampir seluruh bagian kompleks Museum Affandi, aliran Sungai Gajah Wong dan lalu lalang kendaraan bermotor di Jalan Raya Solo ..

IMG_2886

Selain ketiga galeri tersebut, Museum Affandi juga memiliki studio bernama Gajah Wong, yang memfasilitasi kegiatan seni lukis anak-anak di sekitar kompleks museum. Banyak gambar karya anak-anak yang terpampang di dinding studio, sementara meja kursi warna-warni terlihat memenuhi pelataran terbuka itu ..

page2

Sisi studio yang lain merupakan ruang kerja Didit, cucu Affandi. Ia mewarisi darah seni kakeknya, handal menciptakan lukisan menawan dalam aliran ekspresionis. Karya-karya yang memenuhi dinding studio didominasi gambaran situasi di Bali. Saya menerka, Didit punya keterikatan kuat dengan pulau para dewa itu ..

Setelah berkeliling galeri dan studio, tak lupa saya pun mengunjungi rumah Affandi. Bangunan yang berbentuk mirip gerobak itu memiliki 2 lantai. Kamar pribadi Affandi terletak di lantai 2, sementara lantai 1 yang dulu merupakan ruang tamu dan garasi, kini difungsikan sebagai restoran mungil, berjuluk Kafe Loteng. Disana, saya sempat duduk-duduk sejenak, menghilangkan lelah dan menunggu hujan yang tiba-tiba menderas ..

IMG_2901

Bagi saya, Museum Affandi merupakan kastil abadi bagi Sang Maestro. Beliau bertempat tinggal, melahirkan ribuan karya, menutup hidup dan jasadnya bersemayam disana. Affandi benar-benar merasuk di setiap jengkal kompleks museum ini. Senyumnya yang kocak, namun bersahaja dan apa adanya; kostum lukisnya yang selalu terdiri dari celana pendek dan kaos putih polos; rambutnya yang kusam dan berantakan, entah mengapa, kesan itu terbayang cukup lama di mata saya ..

You’re rock, Affandi ! 😉

***

Museum Affandi
Jalan Laksda Adi Sucipto (Jalan Raya Solo) No. 167
Yogyakarta – 55281

Jam buka :
Senin – Minggu, 09.00 – 16.00
Hari libur nasional tutup

Fee admission :
Wisatawan lokal 20K IDR – free softdrink
Wisatawan asing 50K IDR – free softdrink & souvenir
Kamera 20K IDR, kamera HP 10K IDR

9 thoughts on “Museum Affandi, Kastil Sang Maestro ..

  • April 16, 2014 at 08:45
    Permalink

    Meski nggak begitu paham seni, setelah melihat koleksi opa Affandi langsung kok serasa jadi ahli kritik seni ya hihihi

    Reply
  • April 16, 2014 at 18:12
    Permalink

    Penasaran pengin berbincang dengan putra-putrinya, supaya bisa mengenal Affandi lebih baik

    Reply
  • April 16, 2014 at 20:36
    Permalink

    @ halim : Lha karya-karya Beliau memang nyaman tertangkap mata awam sih, Lim. Hehehe .. 😉

    @ mba yusmei : Baleni nek ngono .. *panggil Casey*

    Reply
  • April 17, 2014 at 06:22
    Permalink

    Wah ini nih! Deket banget dari rumahku, haha. Emang keren dan subhanallah eh karyanya 😀

    Reply
  • April 17, 2014 at 06:25
    Permalink

    Wah ini nih! Deket banget dari rumahku, haha. Emang keren dan subhanallah eh karyanya!! 😀

    Reply
  • April 17, 2014 at 15:01
    Permalink

    aku pernah lewat ngarep museum iki tapi waktu itu belum pengen menyambangi. worth to visit banget ya mbak..

    Reply
  • April 22, 2014 at 20:35
    Permalink

    @ rian nofitri : Wah, di sebelah mana rumahnya, Rian ? Tau gitu mampir kemaren .. 😉

    @ bee : Menurutku iya, Bee, gih kalo liburan mampir .. 😉

    Reply
  • June 5, 2014 at 17:30
    Permalink

    @ mas priyo : Hahaha, mbok sekali2 mampir to yo, Mas .. 😀

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: