Mie Razali, dari Mulut Turun ke Hati ..

Entah apa yang membuat saya begitu tergila-gila pada Banda Aceh, sebuah kota yang berada di ujung Barat negeri berjuluk Zamrud Khatulistiwa ini. Padahal baru sekali saya datang kesana, menikmati hiruk pikuknya yang sederhana, mengagumi potensi wisatanya yang bersinar ala mutiara dan mentakzimi sejarah-sejarah agung yang menjadi latar belakangnya. Itupun sudah lama, Agustus 2010, tepatnya. Namun saya seperti sedang merindui kekasih yang terpisah jarak dan selalu menuntut jumpa. Iya, banyak sekali satuan kilometer yang memisahkan saya dengan Banda Aceh, saat ini. Berapa ribu, tak tahulah, yang jelas saya begitu rindu. Sampai-sampai seorang sahabat berkomentar,

Jangan-jangan di kehidupan sebelumnya kamu memang lahir besar di Aceh, Zou .. “

Ah, bisa jadi.

Masih lekat di permukaan ingatan, ketika pertama kali saya menjejakkan kaki di Bandara Sultan Iskandar Muda. Di luar dugaan, saya melangkah keluar pesawat menuju terminal kedatangan melalui garbarata. Wow, ini terobosan luar biasa, karena bahkan banyak airport di Jawa, sebutlah Yogyakarta, belum memiliki fasilitas yang memudahkan dan menyamankan penumpang pesawat ini, bukan ? Menuju kota, saya menumpang mobil sewaan dengan tarif yang telah distandarkan, hingga tak khawatir diperlakukan curang. Di sepanjang jalan yang belum jauh dari bandara, saya menemukan pemandangan yang jauh berbeda dengan di Jawa. Alih-alih bangunan, saya lebih sering melihat tanah lapang, dimana anak-anak kecil riang berlarian main bola atau mengendarai sepeda. Keramaian makin hingar ketika sedan tua yang dikendarai Pak Guru, begitu Sang Sopir minta dipanggil, memasuki pusat kota. Saat itu, bencana gempa dan tsunami telah berlalu hampir 6 tahun. Melihat kondisinya, saya haru dan terpana, Banda Aceh berhasil menyembuhkan luka, bukan dengan melupa, namun dengan bangkit dan berbenah, serta menempatkan bencana sebagai hal monumental agar manusia ingat akan kelemahannya.

P8060006_2

Tak lama, Pak Guru menanyakan apakah saya lapar dan langsung saya iyakan, pun hari sudah lewat tengah siang. Berhentilah kami di sebuah kedai yang tidak terlalu besar, dengan plang nama berwarna kuning tua.

Kita makan Mie Aceh ya, Razali salah satu yang legendaris disini .. “, Pak Guru menginformasikan.

Mie Aceh. Hmm, seperti apa rupa dan rasanya ? Berbeda kah dengan mie di Jawa ?

P8060009_2

Saya memesan Mie Goreng Udang. Selain goreng, Mie Aceh juga bisa dinikmati dengan olahan rebus atau basah (sedikit berkuah, nyemek – dalam Bahasa Jawa). Setelah menunggu beberapa saat, sepiring Mie Goreng Udang beralas daun pisang pun terhidang di depan mata saya. Wah, penampakannya sedikit berbeda dengan menu mie yang biasa saya temui sehari-hari. Penampangnya lebih besar, gilig dan berwarna kuning kemerahan. Saya mulai mencoba merasainya. Yummy, citarasa mie tersebut benar-benar sepadan dengan penampilannya yang menggoda, hingga membuat saya menitikkan air liur. Aroma rempahnya sangat terasa. Usut punya usut, bumbunya memang istimewa. Selain campuran cabai merah bermutu tinggi, bawang putih, bawang merah dan kemiri dalam jumlah yang dominan, Mie Aceh bertambah khas karena dibubuhi kacang tanah yang dihaluskan. Semua bahan tersebut digiling halus, hingga berwarna kemerahan. Untuk menyajikannya, mie dimasak dengan bumbu, ditambah aneka topping sesuai selera, seperti udang, cumi, kepiting atau daging. Sebagai pelengkapnya, saya menemukan sepiring kecil pendamping yang menyempurnakan rasa, yang terdiri dari irisan bawang merah, cabai rawit, acar mentimun dan beberapa keping emping gurih. Sempurna! Kemudian, kesempurnaan tersebut dilanjutkan dengan segelas Jus Terong Belanda dingin. Segarnya luar biasa, rasa asamnya pun pas di tenggorokan. Yummy.

Pilihan Pak Guru membawa saya ke Mie Razali untuk mencicipi salah satu pusaka kulinari Aceh ini sungguh tepat. Rasa Mie Aceh yang diolah goreng dan bertabur udang matang berhasil memuaskan indera perasa saya, perfectly. Oh ya, Razali bukan satu-satunya, banyak kedai lain yang juga menjual Mie Aceh dengan rasa yang tak kalah lezat, seperti Mie Lala atau Mie Bireuen. Namun memang Razali lah yang lebih banyak didengar pendatang.

Jadi, tidak berlebihan bukan, jika saya katakan bahwa Banda Aceh begitu cepat memikat saya, tak lama sejak saat pesawat saya landing di Bandara Sultan Iskandar Muda, lewat Mie Acehnya yang lezat tak terkira. Semacam cinta pada pandangan, eh, cicipan pertama.

Mie Razali, dari mulut turun ke hati, yang sekarang ketika tiba-tiba rindu merasainya lagi, entah dimana harus mencari, disini.

***

.. tulisan ini diikutsertakan dalam Banda Aceh Blog Competition 2014 ..

9 thoughts on “Mie Razali, dari Mulut Turun ke Hati ..

  • April 27, 2014 at 05:43
    Permalink

    Kapan-kapan kayaknya kita harus ke Banda Aceh bareng nih mbak. Semoga menang!! 😀

    Reply
  • April 27, 2014 at 19:47
    Permalink

    @ bee : My bucketlist itu, Bee, balik lagi ke Banda Aceh dan kota-kota di sekitarnya. Kapan-kapan yaaa .. 😉

    @ mas danan : Bikin aromanya beda ya, Mas. Yummyyy .. 😉

    Reply
  • April 28, 2014 at 07:59
    Permalink

    Yang saya suka dari mie Aceh itu adalah rempah-rempahnya yang lebih kuat dari mie Jawa.

    Reply
  • May 9, 2014 at 13:40
    Permalink

    pertama kali makan mie aceh di malang, nah lho, ini mie aceh atau mie malang. Tapi kayaknya emang lebih mantep kalo makan langsung di tempat asalnya ya

    Reply
  • May 11, 2014 at 21:06
    Permalink

    @ pungky sudrajat : Aroma rempahnya juga luar biasa yaaa .. Salam kenal .. 😉

    @ mawi wijna : Sepakat !

    @ mhdharis : Memang enak ! Percayalahhh .. Hehehe .. Salam kenal .. 😉

    @ ainun : Betul, coba langsung di tempat asalnya, lebih maknyuuusss .. 😀

    Reply
  • October 19, 2014 at 09:40
    Permalink

    Undangan Menjadi Peserta Lomba Review Website berhadiah 30 Juta.

    Selamat Siang, setelah kami memperhatikan kualitas tulisan di Blog ini.
    Kami akan senang sekali, jika Blog ini berkenan mengikuti Lomba review
    Websitedari babastudio.

    Untuk Lebih jelas dan detail mohon kunjungi http://www.babastudio.com/review2014

    Salam
    Baba Studio

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: