Bermain Dengan Kenangan Tentang Mainan ..

Yogya menjelang senja, suatu hari, saat 2014 belum lama bermula ..

Kami –saya, Rifqy, Mba Yusmei dan Halim, lalu menyusul pula Anti– berjalan cepat memasuki pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Jarum jam menunjukkan sebentar lagi pukul 3, jika tidak bergegas, bisa-bisa kami kehilangan kesempatan untuk mengunjungi Museum Anak Kolong Tangga untuk kedua kalinya. No way !

IMG_2925_2

Permisi, Mas, kalau mau ke Museum Anak Kolong Tangga lewat mana ya ? “. Ya, akhirnya saya memutuskan untuk bertanya pada petugas keamanan TBY, setelah beberapa saat celingak celingukΒ dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sebuah museum disana ..

Museum dolanan kuwi to, Mba ? Naik tangga itu, museumnya ada di dalam .. “, Sang Petugas menunjuk lantai 2, di atas hall, dimana perhelatan tahunan Art Jog biasa digelar ..

IMG_2910_2

Benar saja, tidak menunggu lama hingga mata kami menangkap goresan mural di sisi dinding yang berwarna dominan hijau, disisipi aksen-aksen lain yang ceria, bertuliskan “Museum Anak Kolong Tangga” dan benar-benar terletak di bawah tangga. Literraly .. πŸ˜‰

Museum tampak sepi, tidak ada pengunjung selain kami. Dua petugas jaga, yang terlihat sedang sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas, sedikit terkejut menyadari wajah-wajah kami menyembul di kaca loket. Seorang di antaranya tersenyum lebar dan menyambut kami dengan hangat,

Untung datang sekarang, sebentar lagi tutup soalnya .. “.

page1_2_2

Dibawanya lah kami masuk. Lalu saya terhenyak, museum yang memanfaatkan space di bawah tangga ini benar-benar berisi aneka rupa koleksi dan dokumentasi mainan yang kebanyakan merupakan inventaris masa silam. Saya menemukan perkakas pasaran, kartu kuartet, tentara-tentara mini, miniatur flora fauna dan lain sebagainya. Museum Anak Kolong Tangga benar-benar sukses membuat saya bernostalgia. Hahaha .. πŸ˜‰

page2_2_2

Museum ini diprakarsai oleh seorang berkewarganegaraan Belgia, bernama Rudi Corens, yang mengkhawatirkan musnahnya kenangan (bagi orang dewasa) dan ketertarikan (bagi anak-anak) pada mainan. Generasi masa kini lebih memilih berkutat dengan gadget-nya, dibanding bermain lego, boneka, pernag-perangan atau berkejaran dalam kompetisi betengan. Corens paham benar tentang hal ini, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mulai membangun ruang pamer bagi sekitar 10.000 koleksi mainannya, yang berasal dari seluruh belahan dunia. Pada Bulan Februari 2008, terwujudlah Museum Anak Kolong Tangga ini, meski sementara hanya dapat memamerkan kurang dari 500Β items mainan ..

IMG_2937_2

Mendekati pukul 4 sore, petugas jaga mulai menarik masuk sebuah gerobag pamer yang semula berada di depan pintuk masuk dan menutup beberapa jendela. Museum akan segera tutup. Ah, sayang sekali, kami datang agak terlambat rupanya, hingga tidak dapat berlama-lama berada disana. Next time, surely .. πŸ˜‰

Kami berpamitan, di sela langit Yogya yang tiba-tiba menghujan ..

Museum Anak Kolong Tangga
Lantai 2, Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedari No. 1, Yogyakarta
Buka : Selasa – Minggu, 09.00 – 16.00 WIB
HTM : 4K IDR/orang

***

Jika Yogya punya Museum Anak Kolong Tangga, Singapore punya MINT – Moment of Imagination and Nostalgia with Toys ..

page1

Serupa, namun tak persis sama. Keduanya berkonsep mengundang manusia jaman sekarang kembali ke masa dimana mainan masih menempati posisi penting dalam kehidupan kanak-kanak. MINT berusia sedikit lebih tua dibanding Museum Anak Kolong Tangga, ia resmi dibuka untuk umum pada Bulan Mei 2006. Museum yang menempati gedung unik berlantai 5 ini merupakan milik pribadi Mr. Chang Yang Fa. Total koleksi MINT pun jauh lebih banyak, yaitu sekitar 50.000 items, yang berasal lebih dari 40 negara. Seluruh koleksi tersebut telah dipajang dalam ruang pamer yang terbagi dalam 4 kategori, yaitu Collectables (level 2), Childhood favourites (level 3), Characters (level 4) dan Outerspace (level 5) ..

MINT pun dilengkapi dengan restoran dan toko souvenir. Saya sih hanya membeli postcard, tanpa mencoba cemal cemil cantik di Mr. Punch, demikian mereka melabeli tempat makan yang berada di basement dan roof top gedung museum. Mahal, Cyint. Hahaha .. πŸ˜‰

Museum ini terletak sekitar 2 blok dari Bras Basah MRT Station dan City Hall MRT Station. Cukup dekat menurut orang Singapore, meski kenyataannya saya lumayan gempor jalan kaki dengan rute Bras Basah – MINT – City Hall. Huvt ..

Mengenai performa, tidak heran jika MINT tampak lebih apik dan tertata dibanding Museum Anak Kolong Tangga. Namun saya merasakan efek yang sama saat mengunjungi keduanya. Biarkan saya menyebut efek tersebut sebagai Mesin Waktu, yang berhasil menyeret saya kembali ke masa kecil yang menyenangkan, bergumul dengan berbagai macam mainan .. πŸ˜‰

Sama seperti di Yogya, saya mengakhiri kunjungan, ketika tiba-tiba gerimis menderas mengguyur Singapore ..

MINT – Moment of Imagination and Nostalgia with Toys
26, Seah Street, Singapore
Buka : Senin – Minggu, 09.30 – 18.30
HTM : 15 SGD (adult), 7,5 SGD (child)

***

15 thoughts on “Bermain Dengan Kenangan Tentang Mainan ..

  • June 7, 2014 at 23:09
    Permalink

    Unik ya si Museum Kolong Tangga yang literally di bawah tangga itu. Ada jual souvenir mainan semacam kuartet atau sejenisnya gitu ga sih? sebagai memorabilia kita akan masa kecil gitu, biar gak pas ke museum aja bisa dinikmati.

    Reply
  • June 8, 2014 at 20:02
    Permalink

    @ kokoh : Ada, Koh, ngga banyak sih, paling cuma mainan bongkar pasang, monyet drum-band, perahu othok-othok. Ngga liat kartu kuartet .. πŸ˜‰

    Reply
  • June 9, 2014 at 08:28
    Permalink

    Jadi pingin ngulang ke Museum Anak Kolong Tangga… eh tapi ini ada ArtJog gimana nasibnya ya? :-)
    Ulasan MINT nya kok dikit, Zah? We want more… we want more… πŸ˜›

    Reply
  • June 9, 2014 at 08:41
    Permalink

    @ halim : Iya, kurang lama ya kemaren, udah deket jamnya tutup. Ulangin yuks. Hehehe .. MINT emang sengaja cuma pendamping aja, Lim, yang utama ya pengin angkat popularitas Museum Anak Kolong Tangga .. πŸ˜‰

    Reply
  • June 9, 2014 at 15:00
    Permalink

    Wiw.. jadi pengen ke sana klo ke Jogja nanti,
    Itu tuh yang peralatan masak-masakan dan bongkar pasang adalah mainan wajib Dhe sepanjang tahun 90-an.

    Reply
  • June 10, 2014 at 11:07
    Permalink

    @ dhe : Saya pun masih pengin ngulangin ke Museum Anak Kolong Tangga lagi, kemaren datengnya kesorean, jadi kurang puas menikmati nostalgianya. Hehehehe .. πŸ˜‰

    Reply
  • June 10, 2014 at 13:52
    Permalink

    wah di singapur ada ya, sesuk nek nyingapur mampir ah… aku yg inget maenan jaman kecil boneka beruang, lego, mobil2an kaleng, wadah bekas pita mesin tik… πŸ˜€

    Reply
  • June 10, 2014 at 17:02
    Permalink

    @ mas danan : Ada, Mas, di Seah Street, ngga jauh dari kompleks Bras Basah. Keren sih, cuma tiketnya rada mahal. Hahahaha .. πŸ˜‰

    Reply
  • June 16, 2014 at 15:17
    Permalink

    hoo? itu beneran bisa dimasuki orang dewasa ya Museum Kolong Tangga? Aku pikir karena namanya kolong tangga gitu dan museum anak, ya… hanya muat dimasuki sama anak-anak, hahaha. Kapan lagi kalau ke TBY saya coba mampir deh ya.

    Reply
  • June 17, 2014 at 21:39
    Permalink

    @ mawi wijna : Hahahaha, imajinasimu, Kak. Ayo mampir ke Museum Anak Kolong Tangga, tempat kita, manusia2 dewasa ini bernostalgia pada masa kecil. Dijamin asyiiikkk .. πŸ˜‰

    Reply
  • June 20, 2014 at 08:59
    Permalink

    Dulu pas ke SG pengen ke MINT. Tp krn sayang uangnya gak jadi deh. Dan sekarang nyesel knp gak mampir ke MINT

    Reply
  • June 22, 2014 at 21:17
    Permalink

    @ bee : Hahaha, memang agak mahal sih, Bee, cuma ya worth it sih kalo buatku, koleksinya seabrek, bikin nostalgia akan masa kecil terasa komplit. Hehehe .. πŸ˜‰

    @ alfi kamal fikri : Sama, Kak ! Nostalgia banget .. :p
    Btw, salam kenal ya, terima kasih sudah mampir & meninggalkan jejak ..

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: