Dugderan, Gempita Semarang Menyambut Ramadhan ..

Ketika Kawasan Johar, Semarang mendadak padat dengan beraneka ragam wahana permainan dan pedagang-pedagang tiban, bisa dipastikan saat itu telah dekat dengan datangnya Bulan Ramadhan. Ya, Kota Semarang memang mempunyai tradisi khas dalam menyambut hadirnya masa yang diagungkan oleh Umat Islam itu ..

Namanya Dugderan ..

IMG_5090_2

Kemeriahan yang hanya bisa ditemui di Kota Semarang setahun sekali ini, sudah berlangsung puluhan tahun lalu. Alkisah, pada tahun 1881, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Aryo Purbaningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Semarang, merasa gelisah dengan adanya perbedaan penentuan awal Bulan Ramadhan. Maka, Beliau pun memberanikan diri untuk mengumpulkan para Kyai dan Ahli Ilmu Falak untuk bersidang dan bersepakat mengenai kapan 1 Ramadhan tiba. Setelah diperoleh keputusan, Sang Bupati mengumumkannya lewat pukulan bedug di Masjid Agung Kauman dan letusan meriam di halaman Kantor Kabupaten yang terletak di daerah Kanjengan *for your information, sekarang Kanjengan lebih dikenal sebagai bagian tak terpisahkan dari Johar*. Jika bedug dan meriam telah terdengar, maka artinya warga Semarang akan segera memulai ibadahnya di Bulan Suci Ramadhan ..

Bedug dan meriam itulah yang menjadi asal muasal nama Dugderan. Dug, adalah bunyi bedug. Der, merupakan suara meriam. Jadilah tradisi yang telah mendarah daging bagi Kota Semarang ini berjuluk Dugderan ..

Selain pukulan bedug dan letusan meriam, rangkaian kegiatan Dugderan juga tidak dapat dilepaskan dari Warak Ngendhog, hewan imajiner yang diwujudkan dalam patung dan diarak di sepanjang jalan. Warak, berasal dari kata Wara’i, yang berarti suci. Sementara Endhog atau Telur, dimaknai sebagai hal baik atau pahala. Ya, Warak Ngendhog membawa pesan bahwa barangsiapa melaksanakan ibadah di Bulan Ramadhan dengan jiwa dan raga yang suci, maka akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Insya Allah ..

warak-ngendhogeg

Foto Warak Ngendhog dipinjam dari Situs www.sejarahsemarang.wordpress.com

Warak Ngendhog juga merupakan wujud kerukunan etnis yang terjalin baik di Kota Semarang. Kepalanya mewakili Naga, yang identik dengan etnis Tionghoa; badannya serupa Buraq, yang menjadi ciri khas etnis Arab; kakinya milik Kambing, yang dianalogikan dengan etnis Jawa. Ketiga etnis tersebut memang hidup rukun dan berdampingan di Kota Semarang hingga sekarang .. ๐Ÿ˜‰

Seiring berjalannya waktu, seperti yang telah saya sampaikan di depan, tradisi Dugderan menjadi semakin meriah dengan adanya beraneka ragam wahana permainan dan pedagang-pedagang tiban. Keramaian ini dapat dijumpai di sepanjang Jalan Pemuda, tepatnya di perempatan Sri Ratu, hingga Kawasan Johar ..

IMG_5073_2

IMG_5066_2

Kincir raksasa, komedi putar, kereta-keretaan, ombak banyu, perahu kora-kora, tong setan dan beberapa jenis wahana lain, dapat dinikmati pengunjung dengan membayar 8K IDR per permainan. Terbilang mahal, menurut saya. Namun sepertinya pengunjung tidak terlalu mengambil pusing dengan harga, terbukti dengan ramainya area setiap wahana. Saya sendiri tidak berani mencoba, katakanlah saya cupu, saya memang meragukan tingkat keamanannya. Hahaha ..

IMG_5101_2

IMG_5067_2

Pedagang yang berjualan di Dugderan pun cukup khas. Selain makanan ala pasar malam, seperti arum manis, kacang rebus, gorengan atau bakso, dagangan khas yang dapat dijumpai disana adalah aneka gerabah, dolanan pasaran, mainan perahu othok-othok atau boneka-boneka Barbie KW. Hehehe ..

IMG_5080_2

IMG_5081_2

IMG_5077_2

IMG_5075_2

Tahun ini merupakan Dugderan keempat bagi saya, yang membawa euforia berbeda di seputaran lokasi kantor saya. Pergi pulang kerja menjadi berhias kemacetan, kebisingan pun sesekali terdengar, keramaian yang silih berganti sejak siang hingga malam, namun selalu ada bahagia ketika mendapati Dugderan sudah dimulai. Ramadhan hampir datang. Beginilah cara Kota Semarang menyambutnya, dengan gegap gempita ala kadarnya, dengan kemeriahan yang sederhana ..

Dan akhirnya, saya, Noerazhka, melalui Berbagi Lewat Kata | www.noerazhka.com ini sangat bersuka cita menyambut hadirnya Bulan Suci Ramadhan. Pun, mengucapkan selamat menjalankan ibadah di masa yang penuh maghfirah Allah SWT, semoga Diaย ridho dengan semua hal baik yang kita lakukan. Amien ..

***

2 thoughts on “Dugderan, Gempita Semarang Menyambut Ramadhan ..

  • June 29, 2014 at 12:43
    Permalink

    Selamat menunaikan ibadah puasa ya Mbak. Saya suka foto yang menampilkan penjual harum manis. Nampak lebih bercahaya dan menarik perhatian gitu, hehehe.

    Eh, karena dugderan ini digelar pas malam hari, bukan berarti lantas masjid jadi sepi dengan jemaah tarawih dan berbalik membanjiri pasar malam ini kan?

    Reply
  • June 30, 2014 at 08:40
    Permalink

    @ mawi wijna : Matur nuwun, Mas. Oh ya ? Padahal sebenarnya saya agak kurang puas dengan penjual harum manis yang ada itu. Buntelan harum manisnya tinggal sedikit, ngga terlalu bagus difoto jadinya. Syukurlah kalo Njenengan suka. Hehehe ..

    Dugderan ini selesai tepat sehari sebelum Ramadhan, Mas, jadi ya ngga ngganggu peribadatan .. ๐Ÿ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: