Bertemu Ahmad, Sang Pemilik Kupu-kupu Bantimurung ..

Kekaguman saya pada keangkuhan tebing Rammang-rammang masih begitu lekat, meskipun mobil milik Kak Jum sudah meluncur mengarah ke sisi lain rangkaian pegunungan karst Maros – Pangkep. Tujuan kami selanjutnya, kala itu, adalah Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung atau lebih familier disebut dengan Bantimurung saja ..

IMG_2254_2

Telinga cukup akrabkan ya, dengan nama Bantimurung ?

Alfred Russel Wallace menjulukinya The Kingdom of Butterfly. Ya, Wallace tidak berlebihan, karena disinilah habitat bagi puluhan jenis kupu-kupu, termasuk jenis unik yang hanya hidup di Sulawesi Selatan. Sebab letaknya yang tidak terlalu jauh dari Makassar *hanya perlu ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam saja*, Bantimurung hampir tidak pernah sepi dari pengunjung, terutama di akhir pekan ..

IMG_2262_2

Saya tahu Bantimurung sudah dekat, ketika Kak Jum menginformasikan tulisan “Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung” di permukaan tebing *ala-ala tulisan Hollywood gitu* mulai terlihat. Benar saja, bukan hanya susunan huruf raksasa berukuran raksasa itu, sebuah gerbang beraksen kupu-kupu yang tengah membentangkan sayapnya, menyambut kami yang begitu exciting menginjakkan kaki disana. Woohoo ..

IMG_2281_2

Bayangan akan menikmati Bantimurung seperti kebanyakan orang, yakni bermain di air terjun, sudah mengawang-awang di kepala. Saya dan teman-teman seperjalanan bergegas membeli tiket masuk seharga 20K IDR per orang dan menyusuri jalan berpaving nan diteduhi pepohonan, menuju main attraction di Bantimurung tersebut. Namun, saat air terjun yang meluncur bertingkat-tingkat melewati punggungan karst itu sudah di depan mata, saya mendadak lemas. SUPER PENUH ! Mirip dawet bercendol, manusia semua ! Mustahil untuk bisa menikmati suasana, apalagiΒ leyeh-leyeh di sana .. :(

IMG_2280_2

Kami pun melangkah gontai, kembali ke arah loket masuk. Disana, tidak jauh dari tempat pembelian tiket, terdapat jembatan kecil, yang melintang di atas sungai berair bening. Di atas jembatan terdapat plang sederhana bertertuliskan “Butterfly Museum – Museum Kupu-kupu“. Mungkin Tuhan memang menginginkan kami hanya memperhatikan kupu-kupu di habitatnya ini ya, alih-alih hanya sekedar bermain air terjun. Hehehe .. πŸ˜‰

Museum Kupu-kupu yang ada di Kompleks Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung bukan museum yang spektakuler. Hanya bangunan kayu berukuran kecil, dengan beberapa etalase kaca berisi ratusan koleksi kupu-kupu yang dikeringkan. Seperti kebanyakan museum, Museum Kupu-kupu ini pun tanpa guide. Saya hanya mengandalkan tulisan yang tertera di secarik kertas, di bawah tiap spesies kupu-kupu ..

Tidak butuh waktu lama untuk mengitari ruangan yang berukuran tidak lebih dari 50 M2 itu. Saat itulah, perhatian saya dan teman-teman seperjalanan tertuju pada sebuah sangkar raksasa, yang terletak tepat di samping museum dan terbuat dari besi-besi tipis yang disusun sedemikian rupa. Kami menebak, sangkar tersebut merupakan tempat penangkaran kupu-kupu ..

Kami masuk melalui pintu yang terpasang di salah satu sisi sangkar. Seorang anak laki-laki berbaju necis, serta tatanan rambut klimis, tersenyum menyambut kami. Tanpa diminta, dia menceritakan banyak hal mengenai Kupu-kupu Bantimurung *meski demikian, yang saya ingat dengan baik hanya nama jenis kupu-kupu yang hidup di sangkar, yaitu Pavilion dan Scaiders*. Bukan hanya pengetahuannya tentang kupu-kupu saja yang membuat saya takjub, namun juga tata bahasanya yang runtut, logat bicara yang lepas dari aksen khas Sulawesi Selatan, kepercayaan diri yang mantap dan penampilannya yang profesional ..

Kamu siapa, Dek ? Kok paham sekali tentang kupu-kupu .. “, tanya saya, setelah beberapa saat menahan kepenasaran ..

Saya Ahmad, dari kecil saya bantu-bantu Ayah disini, menjelaskan tentang kupu-kupu ke tamu .. “, jawabnya lugu ..

IMG_2276_2

Dia, Ahmad, bocah kelas 6 SD, yang hampir selalu menghabiskan waktu setelah jam sekolahnya untuk berbaur dengan ratusan Kupu-kupu Bantimurung. Dia, guide istimewa yang saya jumpai di antara keriuhan pengunjung Bantimurung hari itu ..

IMG_2274_2

Sambil mengarahkan kami mendekati kupu-kupu untuk diambil gambarnya, Ahmad sempat bercerita ketika Maros diterjang banjir bandang, awal tahun 2013 lalu. Kala itu, kondisi Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung sangat mengenaskan. Bukan hanya air berwarna kecoklatan yang menggenang dimana-mana, namun juga kerusakan parah pada semua fasilitas tempat wisata ini ..

Nenek pernah bilang, jika kupu-kupu terbang meninggalkan hutan, pasti akan ada bencana. Sebelum banjir bandang terjadi, banyak kupu-kupu terbang meninggalkan hutan, kecuali yang ada di dalam sangkar ini .. “, ekspresi Ahmad terlihat sendu ..

Besok paginya, banjir bandang datang. Taman Nasional ini habis. Saya buru-buru kesini, air di sangkar ini setinggi lutut, tidak ada lagi kupu-kupu. Kupu-kupu saya mati semua .. “, lanjutnya lirih ..

Saya terdiam mendengar cerita Ahmad. Anak sekecil itu paham benar tentang makna memiliki yang sebenarnya. Tidak sekedar memiliki, namun memelihara, menjaga, hingga sungguh-sungguh terluka ketika apa yang dimilikinya itu tiada ..

Ahmad besar di dalam sangkar kupu-kupu, membagi waktu bersama kupu-kupu tersebut sejak mereka berwujud ulat, kepompong dan bermetamorfosis menjadi makhluk bersayap yang cantik. Ahmad menyikapi amanah yang diberikan Ayahnya dengan benar. Sense of belonging bocah yang belum genap berumur 12 tahun yang begitu tinggi atas puluhan kupu-kupu yang ada di dalam sangkar membuat saya bergumam dalam hati, bahwa Ahmad lah pemilik seluruh Kupu-kupu Bantimurung ..

Terima kasih kunjungannya, hati-hati, Kak, semoga suatu saat bisa datang ke Maros lagi .. “, kata Ahmad, sesaat setelah kami berpamitan pulang ..

Saya pun mengaminkan harapannya. Semoga saat saya berkesempatan mengunjungi Bantimurung nanti, loyalitas Ahmad masih setinggi sekarang, bukan hanya kepada kupu-kupu, namun kepada seluruh kehidupannya kelak. Amieeennn .. πŸ˜‰

***

8 thoughts on “Bertemu Ahmad, Sang Pemilik Kupu-kupu Bantimurung ..

  • August 24, 2014 at 11:18
    Permalink

    wah…bagus sekali Taman Nasional Bantimurung… Kupu2nya elok sekali warnanya… di Palembang saat ini ada juga sedang dikembangkan Taman Kupu2… Semoga menjadi berkembang seperti Taman Batimurung ini…

    Reply
  • August 24, 2014 at 14:28
    Permalink

    wahh butterfly selalu mnyenangkan lihat kupu” terbang nice mbak suka ama jalan-jalannya ^-^ smga bisa nyampe Bantimurung juga aamiin ^-^

    Reply
  • August 24, 2014 at 17:12
    Permalink

    @ rita asmaraningsih : Iya, Mba, Bantimurung cantik sekali, sayangnya waktu saya berkunjung kemarin, penuhnya minta ampun, jadi kurang menikmati. Hehehe .. Wah, di Palembang ada juga ya ? Keren !

    Btw, salam kenal, Mba, terima kasih sudah mampir .. πŸ˜‰

    @ angki : Terima kasih yaaa .. Amieeennn, semoga segera bisa mengunjungi Sulawesi Selatan, Kak .. πŸ˜‰

    Reply
  • August 24, 2014 at 20:44
    Permalink

    @ mas danan : Pukpuk, Mas Danan .. Hayuks ke SulSel lagi, aku kan belom ke Bira .. πŸ˜‰

    Reply
  • August 26, 2014 at 06:32
    Permalink

    Kita harus banyak belajar dari anak sekecil Ahmad ya mbak.. Yang bisa ikut memelihara dan menjaga alam :)

    Reply
  • August 26, 2014 at 07:45
    Permalink

    Kalau saya pikir dengan banyaknya pengunjung (apalagi di akhir pekan), lambat laun kupu-kupu di Bantimurung akan makin tersingkir ya mbak? Soalnya sudah tercemar oleh aktivitas manusia. Saya jadi penasaran, dulu surga kupu-kupu yang diceritakan oleh Alfred Wallace dulu seperti apa wujudnya ya?

    Kalau tidak salah, sebelum ke air terjunnya juga ada semacam kolam renang gitu kan ya mbak?

    Reply
  • August 26, 2014 at 17:00
    Permalink

    @ ari : Iya, Bee, kata-kata Ahmad beneran membuat kami berempat melongo. Bocah sekecil itu lho, ngomongnya runtut, informatif, menyenangkan didengarkan, sense of belonging-nya tinggi pula .. Duh, malu deh saya yang udah setua ini, ngga ada apa-apanya dibanding dia .. πŸ˜‰

    @ mawi wijna : Saya pun berpikir demikian, Mas .. Serem juga ya, demi kesenangan manusia, kupu-kupu tersingkir dari ‘kerajaan’-nya sendiri .. Huhuhu .. :(

    Iya, ada kolam, tapi ngga kolam renang juga sih, pinggirannya bukan keramik, tapi plesteran semen biasa ..

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: