Sangiran, Kampung Halaman Manusia Purba ..

Setelah meninggalkan hiruk pikuk ruas jalur Solo – Purwodadi, saya, Mba Yusmei dan Farida menyusuri jalan aspal dengan permukaan tidak rata, yang cukup lengang. Tujuan kami adalah kampung halaman manusia purba, yang begitu tersohor di buku-buku pelajaran SD saya, Museum Sangiran ..

IMG_3198_2

Sangiran, museum yang bernasib jauh lebih baik dibanding museum-museum lain di Jawa Tengah ini terletak di perbatasan Kabupaten Sragen dan Kabupaten Karanganyar. Lokasinya tidak jauh dari Kota Solo, hanya membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 30 menit saja ..

.. jadi, jangan lupa mampir sebentar kesini, setelah euforia belanja batik di PGS ya ..

Motor-motor yang kami kendarai memasuki gerbang besar berbentuk gading gajah purba. Ya, akhirnya sampai juga saya di tempat legendaris, yang sejak lama saya idamkan untuk saya kunjungi. Entah hal yang patut disayangkan atau justru merupakan keberuntungan, saya begitu terlambat datang ke Sangiran. Bagaimana tidak, Kompleks Sangiran telah menyandang gelar sebagai Warisan Budaya Dunia yang disematkan oleh UNESCO sejak tahun 1996, sementara saya baru datang pada tahun 2014. Namun, beruntunglah saya, tahun 2011, Museum Sangiran telah berbenah habis-habisan, dari yang dulu terkondisi seadanya, menjadi tertata dan begitu informatif ..

IMG_3194_2

Bangunan utama Museum Sangiran ini berbentuk mirip Museum Yogya Kembali, kerucut. Untuk bisa memasukinya, pengunjung terlebih dahulu membeli tiket masuk seharga 6K IDR. Murah bingits, kan ? Iya, saya juga heran ..

Alih-alih langsung masuk ke kubah utama yang terlihat mencolok sejak dari pelataran parkir, ternyata saya harus berjalan memutar melewati semacam selasar terlebih dahulu. Informasi pertama yang saya peroleh di Museum Sangiran ini adalah bahwa ternyata saya sedang berdiri di atas lapisan tanah yang berusia 1,8 juta tahun, yang merupakan lapisan vulkanik paling tua, hasil aktivitas erupsi Gunung Lawu Purba, di Kawasan Sangiran. Wow .. 😉

page1_2

Saatnya mengeksplorasi ruang pamer ! Yuks ..

Museum Sangiran memiliki 3 ruang pamer, yang pertama adalah “Kekayaan Sangiran” | “Wealth of Sangiran“. Sesuai namanya, ruang pamer ini menunjukkan tentang hal-hal yang membuat Sangiran layak dianggap istimewa. Selain lapisan tanah vulkanik purba, Sangiran pun dipercaya menjadi areal hunian manusia purba dengan rentang waktu paling lama dibanding situs lain di dunia. Itulah sebab mengapa di Sangiran begitu mudah ditemukan fosil, tanpa proses ekskavasi berbelit, cukup saat penduduk mencangkul ladang saja, misalnya. Hingga saat ini, di Sangiran telah ditemukan lebih dari 100 individu fosil Homo Erectus (Meganthropus Erectus), yang mewakili separuh lebih populasinya di dunia. Sangiran juga menjadi saksi bisu 2 tingkatan evolusi Homo Eretus, yaitu Homo Erectus Arkaik (1,5 – 1 juta tahun yang lalu) dan Homo Erectus Tipik (0,9 – 0,3 juta tahun yang lalu). Sementara, tingkatan evolusi Homo Erectus yang paling muda, yaitu Homo Erectus Progresif (0,2 – 0,1 juta tahun yang lalu) ditemukan di Ngandong (Blora), Sambungmacan (Sragen) dan Selopuro (Ngawi). Maka, tidak berlebihan jika Homo Erectus menjadi primadona disini. Koleksi tengkorak dan diorama kehidupan manusia purba tertata rapi, dilengkapi keterangan yang mudah dipahami ..

IMG_3145_2

Koleksi lain Museum Sangiran di ruang pamer pertama ini pun telah ditata dengan apik, seperti tulang tengkorak buaya purba, tanduk kerbau purba dan sekumpulan tulang gajah purba yang terbilang paling lengkap. Menyebut gajah purba, pikiran saya otomatis terarah pada Situs Patiayam, yang ditengarai menjadi habitat gajah purba di pesisir Utara Jawa ..

Lanjut ke ruang pamer kedua, yaitu “Langkah-langkah Kemanusiaan” | “Steps of Humanity“. Jujur, disini saya puyeng, too much information. Hahaha. Ngga sih, lebih tepatnya saya memang tidak terlalu menguasai materi evolusi, saat belajar mata pelajaran IPA dulu .. 😉

IMG_3162_2

Museum Sangiran menyuguhkan informasi mengenai bumi kita, dari masa ke masa, di ruang pamer kedua ini. Triasik, Jurasic, Pleistosen, bla bla bla. Aaakkk .. *semaput*

Satu hal yang berhasil saya ingat dengan baik di ruang pamer kedua ini adalah box berisi rangka manusia utuh, dengan posisi terlentang sempurna. Merinding, bukan karena takut *eh, sedikit takut juga sih, secara pengunjung museum saat itu cuma kami bertiga, sepiii ..*, namun lebih karena takjub ! Rangka tersebut ditemukan di Punung, Pacitan dan ditengarai berusia 7000 tahun. Berdasarkan ciri fisik dan tes DNA, manusia purba ini termasuk dalam Ras Mongoloid, individu paling tua dari bangsa penutur bahasa Austronesia, yang merupakan cikal bakal dari penduduk Indonesia saat ini. Amazing !

IMG_3179_2

Dan, ruang pamer terakhir adalah “Masa Keemasan Homo Erectus – 500.000 Tahun yang Lalu” | “Golden Era of Homo Erectus – 500.000 Years Ago“. Disini, tidak banyak koleksi yang dipamerkan, kecuali diorama super besar mengenai kehidupan manusia purba di era 500.000 tahun yang lalu. Dari diorama tersebut, dapat diketahui bahwa Homo Eretus telah menganut kegiatan berburu dan meramu ..

IMG_3187_2

Setelah kurang lebih 2 jam ngiderngider di dalam museum, saya, Mba Yusmei dan Farida pun meninggalkan area ruang pamer. Saat itulah, saya melewati sekumpulan penjual cinderamata khas Sangiran, juga kedai makanan dan minuman. Beberapa toilet pun tersedia di sisi kanan pelataran parkir, kebersihan dan kelayakannya terbilang lumayan untuk sebuah destinasi wisata *biasanya kan jorok*. Musholla juga tersedia, meski letaknya cukup jauh, kami harus menuruni beberapa anak tangga untuk menuju kesana. Intemezzo, dari tepian tembok pembatas Musholla, sebuah pemandangan menakjubkan dapat disaksikan. Itulah tebing-tebing hijau, yang merupakan bagian dari lapisan vulkanik purba Sangiran. Woohoo ..

Jelang pukul 4 sore, kami bertiga meninggalkan Museum Sangiran. Kompleks museum sudah sepi, karena memang akan segera tutup dalam bilangan menit. Menyenangkan, mengeksplorasi kampung halaman manusia purba ini. Harapan saya, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS), yang mengelola Museum Sangiran ini terus berbenah, terutama segera mengatasi masalah ketiadaan guide. Menurut saya, keagungan koleksi sebuah museum dan destinasi sejarah lainnya, menjadi tidak tertangkap maksimal oleh pengunjung tanpa adanya pemandu. Sepakat ?

Semoga .. 😉

***

19 thoughts on “Sangiran, Kampung Halaman Manusia Purba ..

  • August 23, 2014 at 11:23
    Permalink

    Aku dulu ke Sangiran karena sakit hati dikatain temen dari Filipina, dia jauh2 dari Manila datang ke Sangiran masak sy yang deket gak pernah sama sekali, dan jujur tahu Sangiran juga dari dia >_<
    Akhirnya 2010 saya kesana dan kesannya kecewa karena museumnya begitulah seadanya, padahal itu UNESCO dan katanya dapat biaya gede. Entah klo sekarang apa sudah cling kemasannya.

    Btw setuju dan sepakat bahwa tiap museum wajib ada guide tapi klo dipasang visual dan keterangan yg lengkap gpp, toh sy suka baca. Ya ada juga sih yg gak suka baca dan dilihat doang 😀

    Btw ke Sangiran sedikit perjuangan karena dari pertigaan gak ada angkot akhirnya demi ngirit ongkos ojek sya nebeng anak2 sekolahan hahaha… Pulangnya saya cari tebengan di deket kampung situ diliatin sama emak-emak sana terus jreng jreng haha "Iko terno arek iko, sakno ganteng-ganteng"

    yaowoh duwowooooooooo komenku

    Reply
  • August 23, 2014 at 11:44
    Permalink

    wah kerenn yah museum sangiranbelum kesampean ke sini nih smoga bisa nyampe sini ^-^

    Reply
  • August 23, 2014 at 11:54
    Permalink

    @ cak alid : Astaga, alasannya ! Hahahaha .. Hayuk lah, ke Sangiran lagi, kalo waktunya pas, aku ikut nemenin deh. Tentang guide, aku emang agak malas baca sih, lebih enak diceritain sama ahlinya. Hehehe .. 😉

    Matur nuwun sudah berkunjung, Kakak ..

    @ angki : Ayooo, ngga terlalu jauh dari Solo kok, ditempuh motoran pun ngga bikin badan capek. Hehehe .. Semoga segera bisa sampai ke Sangiran yaaa .. Btw, salam kenal .. 😉

    Reply
  • August 23, 2014 at 14:00
    Permalink

    Wuih, sudah bagus ya sangiran sekarang…
    Dulu kalo diceritain sangiran tu kotor, berantakan, bla.. bla.. bla..
    tapi kalo liat yang di poto2 kayaknya sudah sangat layak dikunjungi….

    Reply
  • August 23, 2014 at 14:04
    Permalink

    Sempat terlontar ide museumnya mau buka 24 jam, tp sedang dikaji dulu efektivitasnya. Kayaknya asyik ke sana malam2 zah…ngeri2 sedap 😀

    Reply
  • August 23, 2014 at 16:03
    Permalink

    @ pungky sudrajat : Iya, Kak, Museum Sangiran sekarang sangat layak dijadikan destinasi liburan. Keren banget, ngga terlalu rame pula. Cuma ya itu, sayangnya belum ada guide yang nemenin kita ngider museum. Hehehe ..

    Salam kenal dan tengkyu udah berkunjung, Kak .. 😀

    @ mba yusmei : APAAAHHH ?! Seriusan, Mba ?! Tapi asik tuh, ntar kalo beneran buka 24 jam, kita kesana lagi ya, jam 10 malem mulai eksplor. Hahahaha .. 😉

    Reply
  • August 23, 2014 at 17:03
    Permalink

    Kalau ke sana tengah malam sih beneran seru kayaknya. Tapi gak ada cerita remes bahu orang lain kalau ketakutan yah.

    Reply
  • August 23, 2014 at 17:05
    Permalink

    @ kokoh : Uhm, bahu Mba Yusmei ga terlalu asyik buat diremes sih, Koh, enakan buat sandaran hatimu aja. Gimana ? Sedap kan .. 😉

    *brb jahitin kebaya buat kondangan*

    Reply
  • August 23, 2014 at 17:06
    Permalink

    Aiiih.. Skrg museumnya cantik. Dulu saya kesana 2011 masih dalam progres penataan. Hanya ruang pamer 1 yang bisa dikunjungi.

    Siplaaahhhh :)

    Reply
  • August 23, 2014 at 17:11
    Permalink

    @ hamid : Berarti saya beruntung ya baru bisa mengunjunginya tahun 2014 ini ? Hehehehe .. 😉

    Reply
  • August 23, 2014 at 22:26
    Permalink

    Syok juga pas ke sini tahun 2014, pdhl dulu tahun 2011 sempet jadi salah satu proyek museum yang cetar membahana badai korupsinya terlihat dari ujung sampe ujung kaki satpam #lebay 😀
    Lepas dari itu, paling ngefans ama patung lilin Homo Erectus di ruang ketiga, rasanya seperti lihat sejarah manusia purba beneran, beda kelas ama koleksi di ruang sebelumnya. :-)

    Reply
  • August 23, 2014 at 23:40
    Permalink

    kalau yg berbaring itu bangun jd tambah seru lg mba :p
    miris sih memang yg ke museum sepi banget

    Reply
  • August 24, 2014 at 04:37
    Permalink

    Dulu, sering banget diceritain kalo sangiran itu kondisinya kotor dan berantakan gitu….
    tapi kalo liat yang di poto sekarang udah sangat layak untuk dikunjungi…

    Reply
  • August 24, 2014 at 10:37
    Permalink

    @ halim : Kapan-kapan ceritain tentang badai korupsi yang cetar membahana itu dong, Kakak .. Lumayan kan, pergosipan kita jadi agak berbobot materinya .. Hahahaha .. 😉

    Betul, ruang pamer ketiga paling oke dioramanya ..

    @ dede ruslan : ON NOOO !!! Ngga mau deh kalo ada efek horor-horornya, syeraaammm .. Hahahaha .. 😉

    @ pungky sudrajat : No problemo .. :)

    Reply
  • August 26, 2014 at 07:39
    Permalink

    Mbok ya kami diajak ke sini lho besok pas ke Solo.. Bumilnya ngidam ke Museum nihh.. Malu juga kami warga Jateng blm pernah ke sini *kode* Cc: Mbak Mei n Halim.

    Reply
  • August 26, 2014 at 17:01
    Permalink

    @ ari : Hayuk lah, besok pas ke Solo kita mampir ke Sangiran lagi, Bee .. 😉

    Reply
  • June 15, 2015 at 22:33
    Permalink

    setuju, pemandu wajib ada. bahkan di semua museum. agar pengunjung lebih bisa memahami dlm perspective yg lebih luas. bgmnpun arca, artefak, naskah kuno dll itu banda yg tdk berbicara. pengunjung yg kurang pengetahuannya akan sejarah, arkeologi, dll akan sulit memaknai banda2 yg ada di museum.
    Dan krn keberadaan story teller wajib, seyogyanya tarifnya gak mahal2

    Reply
    • June 16, 2015 at 17:26
      Permalink

      Sepakat bingits, Mba Astin !

      Semoga nasib museum-museum di Indonesia makin membaik yaaa .. 😉
      Matur nuwun sudah berkunjung ..

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: