Kenangan di Puncak Bukit Chandu ..

Sepagian, langit Singapore tampak mendung, bahkan sesekali gerimis sudah turun. Saya agak mengkhawatirkan agenda jalan-jalan yang telah tersusun, bisa gagal jika sampai benar-benar hujan, mengingat waktu saya tidak banyak, hanya sejak Jumat siang hingga Minggu pagi saja. Weekend gateaway gitu ceritanya *diperparah dengan reschedulle flight, harusnya sore, geser ke pagi, hih!* ..

Alhamdulillah, ternyata mendung membawa berkah, hawa negara kota itu menjadi begitu sejuk. Padahal menurut Mba Ratna, hari-hari sebelum saya datang, suhu Singapore semacam bisa digunakan untuk sauna gratis. Panasnya ampun-ampunan ..

Satu lagi, saat itu saya juga membuktikan bahwa istilah “Mendung tak berarti hujan” bukan sekedar basa-basi pujangga saja .. 😉

IMG_3397_2_2

Mengawali perjalanan pagi itu dari seputaran Joo Chiat *disanalah saya nebeng Mba Ratna*, destinasi kami adalah Reflections at Bukit Chandu. Awalnya, saya tidak paham, tempat apa itu. Bahkan, bodohnya, saya sempat mengira Mba Ratna akan membawa saya ke pusat pijat refleksi. Err ..

Ternyata, eh, ternyata, Reflections at Bukit Chandu adalah museum yang terdaftar sebagai salah satu anggota National Heritage Board, sebuah badan bentukan yang bertugas menginformasikan sejarah dan semangat Singapore. Yippie, Mba Ratna ngerti saya banget deh, Museum Trip di Singapore pun berlanjut, setelah sehari sebelumnya, saya sempat ngider sendiri ke National Museum of Singapore dan MINT ..

IMG_3394_2

Reflections at Bukit Chandu terletak lumayan jauh dari Joo Chiat. Saya harus naik bis menyusuri East Coast Rd. hingga West Coast Rd., sebelum menemukan lorong Pepys Rd. Sudah sampai ? Jelas belum. Saya dan Mba Ratna melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dekat ? Jelas tidak. Jauh, full of tanjakan pula, alhasil keringat bercucuran, nafas pun ngos-ngosan. Oh, Usia *umpetin KTP* ..

Setelah berjalan kaki, sambil setengah ngesot, sampailah kami ..

20140412_110501_2

Serangkaian anak tangga mengantarkan saya dan Mba Ratna menyaksikan sebuah bangunan bergaya klasik, yang menjadi satu-satunya saksi bisu Pertempuran Pasir Panjang, yang merupakan imbas dari pecahnya Perang Dunia II. Bangunan Reflections at Bukit Chandu, dulunya difungsikan sebagai bungalow di tengah perkebunan pengepakan opium milik Inggris *that’s why this hill named Bukit Chandu*, yang dibangun pada awal abad 20 ..

IMG_3396_2

Kami disambut oleh seorang Engkoh-engkoh, dengan logat Singlish yang khas. Keramahannya, seketika membuat saya merasa hangat *actually, Singapore benar-benar sedang dingin, saat itu*. Beberapa arahan mengenai aturan kunjungan museum, dia sampaikan dengan jelas, termasuk admission fee sebesar 2 SGD per orang. Si Engkoh juga mengatakan bahwa Reflections at Bukit Chandu terdiri dari beberapa galeri yang terletak di bangunan 2 lantai itu dan dapat kami nikmati secara berturutan ..

Okay, let’s enjoy the galleries ..

page1_2

Seperti museum-museum lain di Singapore yang telah saya kunjungi, Reflections at Bukit Chandu memiliki konsep penataan koleksi yang sungguh tidak perlu diragukan lagi. Rapi, runtut membetuk kisah dan tampak terawat. Bahkan beberapa alat peraga multi media, saya jumpai di lantai 2. Pertama, Kotak Cerita Kopral Din, yang merupakan perpaduan antara diorama, efek laser dan suara pendukung. Lalu, yang kedua adalah Bukit Chandu Theatre, dimana pengunjung akan disuguhi pertunjukan digital selama kurang lebih 15 menit, lengkap dengan setting panggung, *lagi-lagi* efek laser dan headphone khusus. Keren sih ..

Namun, tahukah, Teman, cerita apa yang dibungkus di dalam bangunan megah berkesan romantis klasik ini ? Uhm, tanpa bermaksud merendahkan perjuangan dan pengorbanan Singaporean kala itu ya. Literally, Reflections at Bukit Candu yang terkemas begitu menarik dan modern itu hanya mengisahkan Pertempuran Pasir Panjang, yang terjadi dalam rentang waktu 5 hari. Ya, benar-benar 5 hari ! Sejak 10 hingga 14 Februari 1942 !

Piye perasaanmu ? Begitu saya ungkapkan pada Mba Ratna, berkali-kali ..

Ya, bagaimana perasaanmu, ketika serangan Jepang ke Indonesia, yang ternyata sempat mampir ke Semenanjung Melayu dan Pantai Barat Singapore, terdokumentasi sedemikian heroiknya di museum ini ? Pertahanan Battalion Malay Regiment di sepanjang Pasir Panjang Ridge, New Harbour, Pulau Blakang Mati, Pulau Brani, Labrador dan Siloso, yang dipimpin oleh Komando Inggris ini dihargai sedemikian tinggi oleh Singaporean, bahkan disebut sebagai perang besar untuk mempertahankan independensi Singapore. Sementara ‘siksaan’ Jepang kepada Indonesia, yang berlangsung kurang lebih 3 tahun, hanya disampaikan di buku-buku sejarah sekolah dan berakhir menjadi suatu hal yang dilupakan ketika ujian usai. Hiks ..

Perasaan saya sih nelangsa ..

Ah, sudahlah ..

20140412_105838_2

Usai berkeliling, saya dan Mba Ratna menyempatkan diri melihat-lihat souvenir yang dijual di pintu masuk, seperti postcard, mug, gantungan kunci, tempelan kulkas dan lain sebagainya. Setelahnya, kami berdua duduk-duduk selow di halaman samping museum. Duh, disana, suasananya betul-betul syahdu. Bangunan lama, yang terawat dengan baik; taman menghijau, dengan kanopi-kanopi sederhana; tanah yang membasah, karena bekas hujan. Kurang pasangan saja sih kemarin itu .. 😀 *dikeplak Mba Ratna*

Jelang tengah hari, kami kembali turun, menyusuri Pepys Rd., menuju West Coast Rd. Perut pun mulai lapar, hingga Reflections at Bukit Chandu kami tinggalkan dan menuju food court di depan Harbour Front ..

Di jalan, saya termenung, Singaporean tahu benar ya bagaimana menghargai perjuangan para pendahulunya. Paling tidak itu yang dapat saya simpulkan dari cara mereka menata museum-museumnya, kemudian bangga memilikinya ..

Bolehkah saya berharap hal yang sama dapat terjadi pada Indonesia ?

***

Reflections at Bukit Chandu
31-K, Pepys Road, Singapore
Buka : Selasa – Minggu, 9 AM – 5.30 PM
HTM : 2 SGD (adult), 1 SGD (child, senior citizen)

12 thoughts on “Kenangan di Puncak Bukit Chandu ..

  • September 1, 2014 at 16:08
    Permalink

    Apa yang mbak harapkan ini bisa terjadi di Indonesia, a-sal-kan bangsa kita ini (sangat) menghargai sejarah bangsanya sendiri. Tolak ukurnya, lulusan Ilmu Sejarah sama bergengsinya dengan lulusan Ilmu Ekonomi.

    Reply
  • September 1, 2014 at 16:15
    Permalink

    @ mawi wijna : Agak susah berarti ya, jangankan bidang akademis yang cenderung serius, lha traveling yang sifatnya non-formal saja, kalau minatnya ke sejarah, dipandang sebelah mata .. 😉

    Reply
  • September 2, 2014 at 05:31
    Permalink

    Pernah ke Singapur, tapi belum sempat main ke Bukit ini.
    Ternyata cantik dan menarik ya, setelah membaca postingan ini.
    Jadi penasaran mau ke sana 😀

    Reply
  • September 2, 2014 at 08:52
    Permalink

    @ indah juli : Iya, memang menarik untuk dikunjungi .. 😉

    Terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak ..
    Salam kenal .. 😀

    Reply
  • September 2, 2014 at 15:57
    Permalink

    baru tau kalo ada tempat ini. Ehmmm boleh deh masuk wish list selanjutnya kalo ke S’pore lagi

    Reply
  • September 2, 2014 at 16:02
    Permalink

    @ ainun : Hai, Ainun, lama ngga mampir nih .. Hehehe .. Iya, letaknya memang agak di pinggiran, jauh dari keramaian highway juga, tapi menarik banget .. Kapan-kapan diulangin lagi yes .. 😉

    Reply
  • September 3, 2014 at 08:00
    Permalink

    waktu ke Singapura udah masuk agenda nih, tp sesampai di sana jalannya loncat2 disekip deh n blom kesampaian mendaki tuh bukit.

    jadi pengen ngider2 lagi 😉

    Reply
  • September 3, 2014 at 08:09
    Permalink

    @ mba olive : Ngider2 museum di Singapore itu surga bingits ya, Mba, rapi, sangat informatif, tempatnya ngga jadul. Uhuy ! Hehehehe .. 😉

    Reply
  • September 9, 2014 at 07:37
    Permalink

    IKI APIK!

    dan aku melewatkannya. :(
    dan entah kenapa Singapura selalu mengelola sejarahnya dengan baik..

    Reply
  • September 9, 2014 at 20:01
    Permalink

    @ chan : Iya, Chan, beneran bagus, aku syukaaa .. Halah, Singapore mah bisa dikunjungi sewaktu-waktu lagi kaann .. Sepakat, Singapore, dengan rangkaian sejarah tidak terlalu panjang saja bisa mengelolanya dengan baik, kok kita .. Ah, sudahlah .. :(

    Reply
  • April 28, 2015 at 14:37
    Permalink

    setujuh….singapur kan “kota” kecil, gelut 5 hari aja dibikin museum… kayak semarang ada juga perang lima hari, tapi menikmati sejarahnya gak seenak menikmati lumpianya..
    kalo lawang 1000 gak diliput dunia lain mungkin gak bakalan hits juga kali…

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: