Sepotong Petang di Gang Petolongan, Semarang ..

Suatu sore, hari kesekian di Bulan Ramadhan ..

IMG_5146_2

Adzan Maghrib sudah akan berkumandang, ketika saya, Mba Yusmei dan Rifqy menyusuri Jalan Pekojan, yang membelah Kawasan Pecinan, Semarang. Jalanan yang biasanya ramai di kala siang, telah terlihat lengang. Toko-toko bangunan, yang mendominasi di sisi kiri kanan, sudah mengakhiri kegiatan jual belinya ..

Tersebutlah ia, Masjid Jami’ Pekojan, yang menjadi tujuan kami saat itu. Masjid tersebut terletak di Gang Petolongan, tidak jauh dari muka Jalan Pekojan dan berada di tengah hiruk pikuk Kawasan Pecinan, Semarang ..

Heran ya, apa yang membawa kami tertarik mengunjungi Masjid Jami’ Pekojan ini ?

Selain karena menyesuaikan tema perjalanan dengan Bulan Ramadhan, kami ini memang traveler syariah, yang hobi blusukan dari satu masjid ke masjid yang lain ..

Err, ngga percaya ya ? Baguslah, kalimat barusan memang dusta. Hahaha .. 😉

Oke, serius ..

IMG_5140_2

Masjid Jami’ Pekojan adalah salah satu tempat bersejarah di Kota Semarang, yang telah berusia 100 tahun lebih. Menurut prasasti yang tertempel di dinding Masjid, pada tahun 1878, seorang ulama bernama Muhammad Azhari Akwan, membangun musholla kecil di atas sebidang tanah wakaf dari Natar Sab, pedagang kaya dari India. Seiring berjalannya waktu, penduduk yang tinggal di sekitar musholla turut menyerahkan tanahnya untuk perluasan tempat ibadah tersebut. Perlahan-lahan musholla kecil bereinkarnasi menjadi sebuah Masjid yang anggun. Pembangunan tersebut melibatkan penduduk lokal dan beberapa ulama keturunan Pakistan ..

IMG_5137_2

Hingga akhirnya, inilah Masjid Jami’ Pekojan yang dapat kita saksikan sekarang, berdiri kokoh, dengan bangunan dominan berwarna hijau, seluas 3.500 M2 ..

IMG_5143_2

Meski tidak semegah Masjid Agung Jawa Tengah, Masjid Jami’ Pekojan ini memiliki interior yang khas dan menarik. Beberapa sisinya memang telah beberapa kali direnovasi, namun ruang utama masih dipertahankan sebagaimana para Saudagar India dan Pakistan mendesainnya, dahulu kala. Plafon dari bilah-bilah kayu jati, mimbar penuh ukiran dan berundak-undak, jam kuno, serta jendela-jendela berhias kaca patri dan teralis bermotif bunga-bunga ..

IMG_5135_2

Saat hendak memasuki pelatarannya, saya, Mba Yusmei dan Rifqy sedikit sungkan, serambi Masjid telah penuh orang. Namun memang beginilah kebiasaan yang mendarah daging di Masjid Jami’ Pekojan, setiap hari, di sepanjang Bulan Ramadhan. Jelang Adzan Maghrib, orang-orang dari segala penjuru berdatangan untuk mendengarkan tausyiah pendek, berbuka puasa bersama dengan menu takjil spesial, kemudian menjalankan Sholat Maghrib berjamaah ..

Menu takjil spesial ? Seperti apa memangnya ?

Ahay. Ini dia keistimewaan lain yang dipunyai Masjid Jami’ Pekojan. Menu takjil yang disajikan disana berbeda dengan kebanyakan Masjid pada umumnya, seperti beberapa butir kurma, snack ringan atau segelas air putih, misalnya ..

Ya, setiap hari, Masjid Jami’ Pekojan menghidangkan Bubur India dan Teh Tarik hangat bagi orang-orang yang sengaja datang untuk berbuka puasa bersama. Sore itu, kami bertiga menjadi bagian dari keramaian para pencari takjil tersebut .. 😉

IMG_5134_2

Bubur India ini sebenarnya bubur putih biasa, namun bercita rasa gurih, disiram kuah kemerahan, bersuwir labu siam dan potongan telur rebus. Sementara, asap yang mengepul di atas permukaan teh tarik, membuat siapapun menjadi tidak sabar untuk segera mencicipinya. Sabar sebentar sampai Adzan Maghrib berkumandang ya ..

Saya dan Mba Yusmei sempat berbincang sebentar dengan seorang pengurus Masjid. Pak Ari, namanya. Menurut Beliau, Bubur India dan Teh Tarik merupakan ciri khas Masjid Jami’ Pekojan. Keberadaannya seumur dengan usia Masjid ini. Dulu, setiap jelang petang, selepas berdagang, Para Saudagar singgah di Masjid, bercengkerama dan menyantap menu ini, Bubur India dan Teh Tarik. Kebiasaan inilah yang dilanggengkan hingga sekarang, meski terbatas hanya di Bulan Ramadhan ..

Setiap hari, para pengurus Masjid mengolah 15 – 20 Kg beras, hasil donasi warga sekitar. Proses memasak dimulai sejak lepas tengah hari, sebagian diambil oleh musafir yang kebetulan melintas, sebagian lainnya disajikan dalam mangkuk-mangkuk plastik beraneka warna dan dibagikan di serambi Masjid ..

Segera setelah Adzan Maghrib terdengar dan mengucapkan niat berbuka puasa, saya mencicipi bubur berporsi besar itu. Nyammm, enak lho ! Rasanya mengingatkan saya pada bubur ndeso, yang sering saya santap saat kecil dulu ..

Kenyang makan, kami pun menunaikan sholat berjamaah. Setelahnya, kami berniat kembali ke penginapan. Namun, langkah terhenti sebentar, ketika kami jumpai sebuah makam di sisi kiri Masjid. Itulah makam seorang yang dipercaya sebagai keturunan Rasulullah SAW, yaitu Syarifah Fatimah. Semasa hidupnya, Beliau dikenal mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Kemurahan hatinya untuk menolong sesama sembuh dari sakit, terdengar hingga ke seluruh pelosok negeri. Konon, nama Gang Petolongan pun berasal dari kata ‘Pertolongan’, untuk mengenang jasa Sang Ulama perempuan, yang wafat pada tahun 1859 ..

Masjid Jami’ Pekojan pun kami tinggalkan ..

Baru selangkah, hawa Pecinan kembali pekat terasa. Rumah-rumah beratap lengkung, bau dupa yang dibakar, sementara di belakang gema-gema ayat suci Al Qur’an masih terus berkumandang. Sungguh melting pot yang menawan, pun ditingkahi sejarah panjang yang senantiasa melekat dan menyelubungi Gang Petolongan. Karenanya, saya menjadi sangat heran, jika kalian tidak tertarik atau penasaran untuk singgah di Masjid Jami’ Pekojan .. 😉

***

7 thoughts on “Sepotong Petang di Gang Petolongan, Semarang ..

  • September 16, 2014 at 07:59
    Permalink

    Kalo Solo punya Bubur Samin di Masjid Darussalam, Semarang punya Bubur India ini… okesip bulan ramadhan tahun depan kudu ke sana *pasang peci* 😀

    Reply
  • September 16, 2014 at 08:18
    Permalink

    Kalau I’tikaf di masjidnya bakal dapat jatah bubur dobel nggak ya? hehehe

    Reply
  • September 16, 2014 at 11:15
    Permalink

    @ halim : Nah, jadi kapan kamu nganter aku ke Masjid Darussalam, Lim ? 😉

    @ mawi wijna : Hahahaha, bisa jadi, Kak. Cobain aja gih .. :)

    Reply
  • September 17, 2014 at 09:26
    Permalink

    aku kesini siang-siang… tuku sarung dinggo lebarang ning toko ngarep masjid kae kak. tau gitu pas buka puasa ya, bisa cicip takjil bubur india-he

    Reply
  • September 18, 2014 at 13:42
    Permalink

    @ fahmi : Hahaha, waktu kami kesana, pas weekend sih ya, jadi ngga bisa ajak2 dirimu .. 😉

    Reply
  • June 18, 2015 at 11:38
    Permalink

    Ihhhh jadi pengen gitu kayak musafir yg mesjid hopping buat cari tau sejarah2 n kebiasaan di beberapa tempat pas Ramadhan :3

    Dan takjil gratisss

    Reply
    • June 18, 2015 at 12:55
      Permalink

      Iya, Mei, kebetulan di Semarang banyak masjid-masjid yang menyimpan cerita-cerita unik, jadi seneng deh masjid hopping-nya. Hehehehe ..

      Takjil gratis?! Gue banget .. 😀

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: