Selembar Cinta dari Belitung Timur untuk Indonesia ..

Rumah megah berlantai 2 dengan warna dominanΒ  peach itu seperti menjadi anti-mainstream di tengah kesederhanaan Desa Gantung yang sunyi dan tentram. Itulah kediaman Keluarga Indra Purnama, tempat dimana Basuki Tjahaja Purnama, Basuri Tjahaja Purnama dan 2 saudaranya yang lain lahir dan dibesarkan ..

IMG_5612_2

Halamannya berpaving, super luas. Saya dan peserta Tour De Beltim 2014 berhamburan disana. Mengambil foto, berlagak menjadi model atau sekedar melihat-lihat; suasana yang semula sepi pun, mendadak riuh ceria..

Alih-alih masuk ke rumah yang kata Ahok didesain sendiri oleh istri tercintanya dan terinspirasi dari jajaran pantai di Ancol, saya dan rekan-rekan seperjalanan justru melipir ke sisi kiri bangunan utama. Disanalah Sanggar Batik Simpor, yang digagas Purnama Bersaudara berdiri. Sebuah konstruksi berdinding separuh, dengan tiang-tiang kayu di beberapa bagiannya, pohon-pohon bunga pun tumbuh rimbun di bagian depannya ..

IMG_5619_2

Berbeda dengan Solo atau Yogya, yang memiliki Batik sebagai warisan budaya, Belitung Timur perlu melakukan usaha ekstra untuk menghidupkan industri secarik kain bermotif khas tersebut. Batik Simpor, idenya diprakarsai oleh Purnama Bersaudara, dengan sebuah pemikiran bahwa saat ini, Batik telah melekat erat pada kesan yang muncul ketika nama besar Indonesia disebutkan. Bukan sekedar milik Orang Jawa semata ..

Mempunyai sanggar di kompleks tempat tinggal Sang Pemimpin, tidak serta merta membuat popularitas Batik Simpor melejit. Upaya untuk memberdayakan para Ibu Rumah Tangga di Desa Gantung, sesekali menemui kendala. Pelatihan khusus dari Museum Batik, Jakarta, pernah dilakukan pada tahun 2011. Studi banding ke Yogya dan Pekalongan pun telah dijalani. Awalnya, jumlah pembatik, yang didominasi Ibu Rumah Tangga dan pemudi-pemudi Desa Gantung, cukup banyak, 50 orang. Sayangnya, kini, menyusut drastis ..

IMG_5614_2

Mungkin menurut mereka membatik itu sulit, rumit .. “, begitu curahan hati Ibu Liwani, salah satu pembatik yang masih bertahan berkarya di sanggar ..

Padahal, menurut saya, meskipun bukan sebuah mahakarya orisinal Belitung Timur, Batik Simpor, dengan warna-warna cerahnya, memiliki daya tarik yang unik. Motif-motif yang tergurat di atas kainnya pun sangat Belitung Timur, tiada dua di daerah lain. Motif Daun Simpor, misalnya, diadopsi dari daun bersisi lebar, yang begitu akrab dengan kehidupan masyarakat Belitung Timur, untuk membungkus jajanan, tempe mentah, bahkan lontong. Selain itu, terdapat juga motif Buah Keremunting dan Ikan Cempedik, yang juga hanya dapat dijumpai di Negeri Sejuta Pelangi tersebut ..

IMG_5615_2

Saya beruntung, sempat mencoba mengikuti kelas membatik di Sanggar Batik Simpor. Seperti rangkaian membatik pada umumnya sih, diawali dengan membubuhkan cap lilin bermotif di atas selembar kain putih, mengeringkannya sejenak, melakukan pencelupan warna, membilas, mengeringkan dan voilaaa .. jadilah Batik ala Belitung Timur, meskipun sederhana ! Yay .. πŸ˜‰

IMG_5620_2

Jumlah produksi batik di sanggar ini masih sangat terbatas, Kak. Stok di etalase saja sering kehabisan .. “, kata Ibu Liwani lagi, saat saya bertanya tentang pemasaran Batik Simpor ini ..

Ya paling-paling kalau ada pameran saja, kita ikutan .. “, lanjutnya ..

Saya bergeser ke bagian lain dari sanggar, yaitu etalase yang menjual macam-macam kerajinan tangan khas Belitung Timur, termasuk Batik Simpor. Memang, seperti kata Ibu setengah baya tadi, persediaan kain batik tidak banyak. Rak-rak etalase dipenuhi hiasan dari buah pinang, mug, gantungan kunci, kartu pos dan lain sebagainya ..

Berapa harganya, Bu ? “, tanya saya, saat secarik Batik Simpor berwarna kuning cerah memikat mata.

Dua ratus dua puluh lima, Kak .. “, jawab Sang Penjaga Etalase.

Duh. Mahal *bagi saya*. Saya pun batal mengadopsi batik, lalu membeli beberapa lembar kartu pos saja. Hehe ..

Menjelang petang, rombongan Tour De Beltim 2014 meninggalkan kediaman Keluarga Indra Purnama. Saat itulah, di benak saya berkeliaran pesan tentang cinta Belitung Timur kepada negeri yang menaunginya, Indonesia, lewat lembar-lembar Batik Simpor. Batik sangat lekat dengan Indonesia, maka meski bukan merupakan kearifan budayanya, Belitung Timur jatuh bangun memperjuangkan Batik Simpor. Selain untuk memperkenalkan ciri khasnya lewat ajang adi busana, di mata saya, Belitung Timur semakin menegaskan eksistensi dan kecintaannya kepada Indonesia ..

Okay, selamat Hari Batik, Wahai Anak Bangsa .. πŸ˜‰

***

.. Tulisan ini di-publish untuk menyemarakkan Hari Batik Nasional, tanggal 2 Oktober 2014,
sekaligus menjadi cerita pertama dalam rangkaian Tour De Beltim 2014, yang baru saja berlangsung tanggal 22 – 25 September 2014 lalu ..

.. Oh ya, tanggal 13 – 14 Oktober 2014 nanti akan digelar event Fashion Show Batik 2014 – Belitung Timur, yang berlokasi di Pantai Nyiur Melambai, Manggar. Akan menarik, sepertinya ..

PosterBelitung

***

Tulisan lain :

Fahmi Anhar – Berburu Batik Lasem
Danan Wahyu Sumirat – Madura Cultural Trip #3 – Gentongan, Membatik Dengan Hati
Halim Santoso – Loyalitas di Balik Keindahan Batik Lasem
Olyvia Bendon – Batik Indonesia, Warisan yang Hidup
Farchan Noor Rachman – Batik Itu Indonesia, Begitu Katanya

21 thoughts on “Selembar Cinta dari Belitung Timur untuk Indonesia ..

  • October 2, 2014 at 18:02
    Permalink

    lucky you! batik belitung motifnya bagus juga kak. tapi… kok… aku… nggak… di… ba… wa… in…?

    Reply
  • October 2, 2014 at 19:28
    Permalink

    Dua ratus lima puluh ribu mahal? Yahh brarti pas di BelTim congkaknya luntur? *lapor kokoh* hihihihi

    Reply
  • October 2, 2014 at 21:44
    Permalink

    @ fahmi : Iya, bagus, Mi, cuma memang masih sederhana, ngga serumit batik-batik di Jawa. Bawain kamu ? Memangnya siapa kamu ? *njuk ndrama* πŸ˜€

    @ halim : *tertunduk di pojokan* :(

    Reply
  • October 3, 2014 at 05:44
    Permalink

    Ternyata Ada cerita batik dari tanah belitung… Ihbjadi pengen balik kesana

    Reply
  • October 3, 2014 at 07:13
    Permalink

    @noerazkha bagus ya…. batiknya cerah2.. batik expo belitung sama kayak Banyuwangi Batik Festival ga ya?
    menggerakkan seluruh instansi pemerintah dan sekolah jadi modelnya (gagasan mantap banget dari bupati banyuwangi)
    @bang fahmi : hahahaha ga lupa ya nitip kain dimana2

    Reply
  • October 3, 2014 at 08:21
    Permalink

    @ mas danan : Ada, Mas, tapi memang belom lama dikembangkannya. Mereka pun mengakui kalo batik bukan milik Belitung Timur, mereka sekedar mengadopsi rangkaian prosesnya dan menciptakan motif baru yang khas. Aku juga mau dong balik kesana .. πŸ˜‰

    @ repyssa : Iyaaa, warnanya cerah-cerah, motifnya pun sederhana. Mungkin belum semeriah Banyuwangi Batik Festival ya, Kak, ini acaranya lebih ke fashion show aja. Semoga kelak, pagelaran semacam ini semakin meriah di Belitung Timur, kita doakan .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 3, 2014 at 08:34
    Permalink

    Waah.. Kreatif banget keluarga Purnama.. Mungkin byk yang gugur jd pembatik jg karena banyak yang gak jadi beli setelah tau harganya ya.. Hehehhe..

    Reply
  • October 3, 2014 at 09:11
    Permalink

    @ jnynita : Hahaha, salah satunya yang gugur itu saya deh kayanya .. *ngikik*

    Btw, salam kenal, Kak, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 3, 2014 at 10:21
    Permalink

    Wah udah diposting! Btw sempat nanya gak apakah di Belbar juga ada batik movement seperti ini? Btw 225 gak mahal lho sebenernya, cuma di luar budget aja πŸ˜‰

    Reply
  • October 3, 2014 at 10:33
    Permalink

    Namanya mirip2 banget yaaa, kalo siwer bisa salah baca πŸ˜€
    Batiknya baguuuus, coraknya unik gitu

    Reply
  • October 3, 2014 at 10:59
    Permalink

    @ bang topan : Hasyeekk, #BerbagiLewatKata dikunjungi Bang Topan. Ahahaha ..

    Kemarin niat posting, sekalian menyemarakkan #HariBatik gitu niatnya. Ngga sempet tanya tentang industri batik di Belitung Barat , coba colek2 Pak Kusuma, Bang. Hehehe .. Dan tentang 225K IDR, apa daya lah, Kak, cuma bawa uang saku mepet sih .. *nangis di bahu Bang Topan* *trus dikeplak* πŸ˜‰

    @ dita : Hahaha, iya, beda K sama R doang ya, Kak .. πŸ˜€ Coraknya khas Belitung Timur itu .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 3, 2014 at 13:42
    Permalink

    Saya senang ketika tahu kabar-kabar seperti ini yaitu memberdayakan warga kecil lewat UKM. Saya juga paham kenapa jumlah pembatik (terutama dari generasi muda) menyusut. Saya rasa, kondisi ini nggak hanya terjadi di Belitung saja, namun juga di sentra-sentra penghasil batik.

    Saya rasa, membatik itu memang butuh keterampilan dan ketelatenan. Buat yang belum terampil, mungkin butuh waktu lama untuk membatik di kain mori ukuran 3 meter. Karena ini produk seni, saya rasa memang pantas dihargai mahal karena butuh proses kreatif dan juga tenaga untuk menghasilkan batik. Tapi ya itu, kembali lagi ke konsumen kita, yang mayoritas (termasuk saya :p) kurang mampu menebus benda mahal, hehehe.

    Alhasil banyak pembatik muda yang beralih profesi karena usaha dan pendapatannya bisa jadi tidak sebanding. Gimana menurutmu mbak?

    Reply
  • October 3, 2014 at 16:18
    Permalink

    Yihaaa… kayaknya ini komen perdanaku yah di blog ini? πŸ˜›
    hehe, kemaren sempet diajakin nulis batik, tapi aku gak punya pengalaman apa-apa soal batik
    *ngais-ngais tanah
    kalo menurutku yang harus dijaga dari batik adalah proses pembuatannya, bukan hasil
    percuma batik banyak tapi hasil cetakan semua
    nah, yang di belitung ini walo masih usaha kecil tapi paling enggak prosesnya masih terjaga *salut
    motifnya juga lucu, ada ikaaan, haha
    pertama kali liet batik motifnya ikan πŸ˜›

    Reply
  • October 4, 2014 at 08:28
    Permalink

    @ mawi wijna : Batik, yang merupakan salah satu hasil dari proses kesenian, sepertinya memang mendapatkan perlakuan yang sama dengan hasil karya seni lainnya ya, Kak. Tidak banyak orang yang paham bagaimana rangkaian proses menghasilkannya, yang rumit, ruwet, susah dan lain sebagainya, makanya begitu jadi, dibandrol harga mahal, pada keberatan untuk membeli (saya termasuk di dalamnya) ..

    Untungnya ada alternatif proses yang berhasil dikembangkan oleh para pelaku seni membatik, yaitu batik cap. Meskipun tidak seorisinal batik tulis, tapi lumayan lah untuk menjaga agar batik bisa tetap dinikmati oleh semua kalangan, seperti sekarang .. πŸ˜‰

    @ yofangga : Welkam tu mai haus, Kakak ..

    Sepakat untuk menjaga proses pembuatan batik, Kak, karena itulah yang membuat batik menjadi salah satu mahakarya milik kita. Tapi bolehlah para pelaku seni batik menempuh jalur alternatif cap, sekedar untuk membuat batik bisa dinikmati oleh semua pihak .. πŸ˜€

    Iya, itu namanya Ikan Cempedik, Kak. Kalau disini apa ya namanya ? Semacam teri mungkin ya ..

    Reply
  • October 4, 2014 at 09:43
    Permalink

    Sama kaya menganyam rotan, dianggap sulit dan membosankan untuk di pelajari oleh generasi muda karena mamakan waktu yang lama untuk proses dari sebilah rotan hingga menjadi tas yang cantik.

    Reply
  • October 4, 2014 at 10:48
    Permalink

    @ backpackerborneo : Iya, Kak, sayang ya sebenarnya kalo ngga ada regenerasi. Serem juga bayangin kerajinan-kerajinan asli kita bakalan ilang .. :(

    Reply
  • October 6, 2014 at 11:33
    Permalink

    @ mba yusmei : Hahaha, kudu mbalik mrana meneh berarti .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 8, 2014 at 13:06
    Permalink

    Orang2 yang betah membatik ini keren ya.
    Aku pernah bikin kain batik seukuran 2 x 1 meter, itu pun gotong royong berempat bareng mbah dan adek2ku. Belum lagi klo menggambar isian.
    Sebenernya harga 200 ribuan itu masuk kategori masuk akal klo mengingat2 proses membatiknya. Cuma kalau aku ada di posisi pembeli, harga segitu pengennya kutawar lagi #TrusDilelehinLilin

    Semoga batik Simpor ini semakin berkembang dan menjadi salah satu produk kebanggan Indonesia πŸ˜€

    Reply
  • October 8, 2014 at 17:03
    Permalink

    @ mba dian : Iyaaa ! Keren sekaliii .. Aku cuma nambahin “@noerazhka” aja, kemringet ngelilinnya. Udah gitu, pake bilang batik seharga 200 ribu aja, aku bilang mahal .. Astaga ! Ngga menghargai kerja keras banget sih yaaa .. :(

    Amieeennn, semogaaa .. πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply to Dian Rustya Cancel reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: