#TripToTheEast : 9 Hal Keren di Kaki Rinjani ..

Malam pertama, nginep di Sembalun aja ya, Azizah, dijamin ngga nyesel .. “, demikian kata Mba Indie, teman yang saya mintai tolong untuk menyusun seluruh rencana perjalanan selama di Bumi Mandalika ..

Sembalun, merupakan salah satu kaki Rinjani. Konon, desa kecil berparas luar biasa cantik tersebut merupakan bekas kawah purba gunung api tertinggi kedua di Indonesia ini. Di tempat berketinggian 1.156 MDPL dan berpagar tebing-tebing angkuh Rinjani inilah, para pendaki memulai pendakiannya. Sebagai sepasang pecinta angin sejuk pegunungan, sekaligus tertarik dengan godaan pesona Sembalun, saya dan Mas Bojo mengiyakan tawaran Mba Indie untuk menginap disana, meski hanya semalam ..

Selain Sembalun, Rinjani punya sisi kaki yang lain. Senaru, namanya. Berbeda dengan Sembalun, yang di mata saya tampak bak perempuan lembut, dengan rambut bergerai-gerai dihembus angin sepoi; Senaru tampil perkasa, seperti lelaki berpostur kokoh dan melindungi siapa saja yang ada di rengkuhnya ..

Memangnya ada apa saja sih di Sembalun dan Senaru ? Sebegitu menariknya kah ?

Penasaran ? Let’s check it out .. πŸ˜‰

1. Jalan berkelok, hutan rimba dan gazebo

IMG_3727

Senja sudah hampir tua, ketika saya dan Mas Bojo meninggalkan riuhnya suasana kota. Avanza hitam, yang dikemudikan Mas Budi, mulai melintasi jalan menanjak dan berkelok, aspalnya pun tidak lagi rata ..

Kita sudah masuk ranah Taman Nasional Gunung Rinjani, Mba .. “, saya yang mulanya agak terkantuk-kantuk, mendadak terjaga penuh, mendengar kata-kata Mas Budi ..

Benar saja, sisi kanan kiri kami bukan lagi deretan kios dan keramaian manusia, melainkan pepohonan yang makin lama makin rapat. Ruas jalan yang saya lewati nyaris gelap, selain karena matahari sudah hampir terbenam, juga karena sulur-sulur dahan membentuk semacam kanopi dan menghalangi cahaya yang hendak masuk ..

Setelah setengah jam menghajar medan jalan yang luar biasa, Mas Budi menghentikan kendaraan di sepelataran tanah lapang, di tepian jalan. Tempat tersebut terlihat seperti puncak punggungan bukit, sebuah gazebo sederhana pun berdiri kokoh di salah satu sisinya. Hawa dingin langsung menggigit, begitu saya keluar dari mobil. Sial ! Jaket ter-packing rapi di backpack pula. Jadilah saya tidak henti loncat-loncat, menggerak-gerakkan seluruh badan, untuk mengalihkan perhatian diri dari kedinginan yang teramat sangat. Hahaha .. πŸ˜‰

Dan, voila, pemandangan yang terpampang di depan mata benar-benar menakjubkan !

Sembalun terhampar, terlihat mungil, dikelilingi tebing-tebing Rinjani, dengan helaian kabut yang terlihat melapisi atap-atap bangunan. Syahduuu ..

Kesyahduan gazebo tambah mendayu, karena saya menikmatinya berdua *bukan dengan Mas Budi lho, Gaes !*. Bersama Mas Bojo. Ihiy ..

2. Monyet-monyet baik

IMG_3786_2

Taman Nasional Taman Gunung Rinjani memang rumah yang nyaman bagi para monyet. Hawanya yang sejuk dan tidak harus banyak berbagi ruang dengan manusia, membuat makhluk berbulu perak dan berekor panjang ini betah hidup disana ..

Saat saya dan Mas Bojo berjalan menuju gazebo, sekumpulan monyet bergerak mendekat. Awalnya saya ketakutan, ngeri diserang seperti di kebanyakan habitat monyet lainnya. Eh, ternyata tidak lho. Mereka hanya memandangi kami dari kejauhan, beberapa di antaranya malah tetap asyik bergelantungan di batang-batang pohon atau bercengkerama dengan monyet kecil, yang saya tengarai sebagai anaknya ..

Mereka nunggu dikasih makan, Mba .. “, celetuk Mas Budi dari kejauhan ..

Duh, Nyet, jangankan ngasih makan kamu, lha kami saja kelaparan .. πŸ˜‰

3. Penginapan indehoy

kakirinjani1

Setelah puas menikmati Sembalun dari ketinggian, Mas Budi mengajak saya dan Mas Bojo turun. Desa yang menjadi jantungnya Taman Nasional Gunung Rinjani tersebut makin terasa keeksotisannya ketika dinikmati langsung di permukaannya ..

Langit sudah gelap, penerangan di jalan desa pun tidak seberapa, kami menyusuri Sembalun dengan cahaya seadanya. Tak lama, laju kendaraan melambat, memasuki areal berumput yang lumayan luas. Sebuah bangunan utama, dengan beranda klasik di bagian depannya; beberapa paviliun, yang kemudian saya ketahui sebagai kamar-kamar penginapan. Ya, inilah tempat kami bermalam hingga besok siang : Sembalun Agro Villa & Restaurant ..

kakirinjani4_2

Jujur, awalnya saya sedikit pesimis, Sembalun begitu terpencil, penginapan seperti apa yang ada disana. Ternyata anggapan tersebut salah besar ! Sembalun Agro Villa & Restaurant bisa diadu dengan hotel-hotel berbintang. Mba Indie mereservasi 1 Villa Room untuk kami, sebuah paviliun private, dengan fasilitas lux dan super lengkap. Keberadaan beranda di depan dan belakang pun menambah kecintaan saya pada penginapan ini. Syukaaa .. πŸ˜‰

Tambah lengkap, ketika menginap di kamar indehoy ini dengan orang kesayangan. Yeay !

4. Pemandangan menakjubkan di sekitaran kamar

IMG_3742_2

Lepas Subuh, saya dan Mas Bojo memutuskan untuk segera keluar dari kamar. Menyaksikan awal hari di Sembalun pasti akan sangat mengesankan, meski tidak mungkin menangkap momen sunrise, karena terhalang tebing-tebing Rinjani ..

Benar saja, ketika cahaya matahari mulai memecah kegelapan, segala apa yang tertangkap oleh mata, membuat saya bertasbih tanpa henti. Gunung Rinjani seolah ada dalam jangkauan tangan, begitu dekat, hingga lekuk-lekuk punggungan bukitnya terlihat detail. Langit pun super biru, dengan sedikit semburat oranye. Saya meleleh, jatuh cinta ..

Bagaimana dengan pemandangan di beranda belakang ?

Tidak kalah menakjubkan, hamparan rumpun bunga dan kebun buah ada disana. Latar belakangnya tebing-tebing tinggi, yang seolah melindungi Sembalun dari apapun di luar sana ..

Duh, Gusti, luar biasa kreasi-Mu .. πŸ˜‰

*oh ya, abaikan foto modelnya ya, fokus ke gagahnya Rinjani yang jadi background saja ..*

5. Nasi goreng panas yang cepat dingin

IMG_3749_2

Ternyata bukan hanya saya yang menggigil kedinginan di Sembalun, nasi goreng pun. Dia disajikan dengan asap yang masih mengepul, namun tak lama, ketika saya menyantapnya, rasanya seperti baru keluar dari kulkas. Dingiiinnn ! Hahaha .. πŸ˜‰

6. Desa adat Reban Bande

kakirinjani2_2

Pagi masih begitu muda, saat Mas Budi meminta saya dan Mas Bojo bergegas. Kemana ?

Ada desa adat di Sembalun Bumbung sana, Mba, Reban Bande namanya. Orang-orang Suku Sasak masih ada yang tinggal disana .. “, Mas Budi begitu bersemangat menginformasikan hal ini pada kami ..

IMG_3759_2

Reban Bande, kompleks rumah adat dan makam ini dikelilingi pagar batu setinggi dada orang dewasa. Beberapa rumah adat khas Suku Sasak terlihat berderet di salah satu sisinya. Separuh dindingnya terbuat dari batu bata dan semen, sementara sisanya merupakan anyaman bambu sederhana. Atapnya merupakan tumpukan ilalang kering yang disusun sedemikian rupa. Lantainya, inilah yang paling khas dari rumah Orang Sasak, terbuat dari kotoran sapi. Setiap rumah memiliki pintu yang rendah, hal ini mengajarkan manusia untuk selalu rendah hati dan peduli dengan orang-orang sekitar yang dilanda kesusahan ..

IMG_3767_2

Rumah adat Suku Sasak pun memiliki lumbung padi, yang berbentuk panggung dan biasa disebut Gleng. Disanalah penduduk menyimpan bahan makanannya, sementara bagian bawahnya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpulnya anggota keluarga ..

Di belakang kompleks rumah adat, terdapat sebuah prasasti jejak kaki tetua adat, yang dipercaya sebagai penyebar Agama Islam pertama di Sembalun. Untuk menandai keberadaannya, susunan batu dan sebuah pagar besi dipasang melingkarinya ..

Desa Adat Reban Bande juga merupakan tempat dilaksanakannya Upacara Adat Ngayu-ngayu, yang merupakan ritual penghormatan kepada alam ..

7. Sindang Gile, Si Singa Gila

IMG_3823_2

Puas mengeksplorasi Sembalun, jelang siang, kami beralih ke sisi lain kaki Rinjani, Senaru ..

Perjalanan dari Sembalun menuju Senaru terbilang cukup panjang, karena separuh memutari gunung. Destinasi pertama kami adalah Air Terjun Sindang Gile ..

Untuk menyaksikannya, saya, Mas Bojo dan teman-teman seperjalanan yang telah bergabung sejak di Reban Bande, harus menyusuri ratusan anak tangga ..

Turunnya sih enak, entah bagaimana nanti naiknya .. “, begitu pikir saya .. πŸ˜‰

Lima belas menit berjalan santai, akhirnya gemericik air dari tubuh Rinjani pun mulai terdengar. Itulah Sindang Gile, yang berasal dari istilah Singang atau Singa dan Gile atau Gila. Alkisah, di tempat jatuhnya air terjun ini sering terlihat sekelebat sosok singa yang berperilaku membabi buta ..

Terlepas dari legenda yang ada, Air Terjun Sindang Gile memang pantas menjadi salah satu destinasi unggulan di Lombok. Curahan airnya yang deras dan kolam tampungannya yang alami, menggoda siapapun yang berkunjung untuk segera membasahi dan menyegarkan diri disana. Areal di sekitarnya pun teduh, karena dikelilingi banyak pepohonan nan rimbun. Duduk-duduk saja atau bermain air, silahkan pilih, Gaes .. πŸ˜‰

8. Tracking ekstrim

kakirinjani3_2

Puas bermain air di Sindang Gile, kami segera menuruti ajakan Mas Budi untuk pindah destinasi. Air terjun berikutnya, Tiu Kelep. Untuk menuju kesana, kami hanya bisa berjalan kaki menyusuri jalan setapak di tengah hutan. Kata Mas Budi sih tidak jauh, hanya sekitar 15 hingga 20 menit saja. Siap !

Sepuluh menit pertama, kami masih riuh bercanda tawa. Medan jalan masih landai dan bisa ditempuh sambil melangkah santai. Namun, tiba-tiba senyum kami mendadak meredup saat melihat anak tangga curam dan jembatan buatan melintang diatas jurang maha dalam ..

Harus lewat situ, Mas Budi ? “, pertanyaan retoris sih, karena hanya dijawab dengan tawa oleh driver sekaligus guide kami itu ..

Satu persatu, kami memberanikan diri menaiki anak tangga dan melintasi jembatan buatan tersebut. Saya sibuk menyugesti diri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, semua akan baik-baik saja, karena jembatan beton ini sangat kuat untuk mengantarkan kami ke seberang. Chayo !

IMG_3831_2

Namun ternyata medan tracking ekstrim menuju Tiu Kelep belum berakhir. Kami masih harus melewati jalan setapak dengan batuan terjal di sana sini, akar pohon mati dan menyeberangi sungai berarus lumayan deras. Alih-alih tegang, kami berusaha menyalurkan ketakutan dengan macam-macam obrolan dan canda. Terpeleset batu licin, terperosok saat menyeberangi sungai, hingga tersangkut dahan pohon, bisa kami lalui dengan baik. AlhamdulillahΒ .. πŸ˜‰

9. Tiu Kelep yang menakjubkan

IMG_3834_2

Setelah melalui segala aral melintang, sampailah kami di hadapan sebuah bentang alam yang luar biasa indah, Air Terjun Tiu Kelep. Sungguh, hilang semua ketegangan dan kelelahan seusai menyusuri hutan di badan Rinjani ini ..

Tiu Kelep bermakna air yang melayang, kata Mas Budi ..

Tebing-tebing di sekeliling air terjun terlihat seperti setengah silinder, yang diselimuti semak-semak hijau, beberapa aliran air tampak mengucur disana. Sementara itu, sebuah aliran air yang lebih deras, terjun dari tebing lain yang lebih tinggi, membentuk formasi menawan bentukan alam. Kolam tampungannya pun lebih luas dan tidak terjal seperti di Sindang Gile. Mas Bojo dan teman-teman seperjalanan tidak sabar untuk nyemplung, bahkan berenang-renang disana ..

IMG_3847_2

Lha saya ? Ah, saya cukup menikmati Tiu Kelep dari tepian saja. Menjaga barang bawaan dan sesekali mengambil gambar mereka lewat kamera. Hahaha .. πŸ˜‰

***

Dalam perjalanan menuju Pesisir Timur, saya sungguh terkesan dengan pesona Kaki Rinjani. Sederhana, apa adanya, namun begitu menakjubkan. Bermacam-macam bentang alam tersaji apik disana. Kakinya saja sudah cantik, bagaimana puncaknya ? Ah, suatu saat, semoga saya punya keleluasaan waktu dan kesanggupan fisik untuk menikmati pendakian Rinjani. Amieeennn .. πŸ˜‰

***

20 thoughts on “#TripToTheEast : 9 Hal Keren di Kaki Rinjani ..

  • October 24, 2014 at 06:00
    Permalink

    Yayy.. Mas Dul jadi foto model πŸ˜€

    Reply
  • October 24, 2014 at 13:39
    Permalink

    Aku di Lombok hanya sebentar doang gak sampek 24 jam dan kenangan terindah di Lombok adalah digebukin orang sasak main paresean haha, sakitnya tuh di siniiii

    Reply
  • October 24, 2014 at 18:03
    Permalink

    Baru tahu kalau ada pos dengan view ciamik dan bisa dilalui mobil di Sembalun, punya penginapan keren lagi… Sepertinya cocok buat daku yang nggak anak gunung banget… ehm Zah boleh nyempil bobok di kasur sofanya? Hahahaha

    Reply
  • October 25, 2014 at 19:04
    Permalink

    @ bee : Sekali-kali to yo, Bee .. πŸ˜‰

    @ alid : Kurang dari 24 jam ? Short time gitu, Lid ? Luar biasaaa .. *ngibrit*

    @ halim : Iya, ngga usah capek-capek jalan kaki buat mendaki gunung lewati lembah. Hahahaha .. Uhm, yakin mau nyempil di sofa bed, Lim ? Nanti kamu ngga bisa tidur gimana .. πŸ˜‰

    @ backpackerborneo : Iyoih ! Tapi kalo sampe puncak, indahnya bakal berkali-kali lipat kali ya, Kak. Masih ngimpi bisa mendaki Rinjani nih .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 26, 2014 at 14:55
    Permalink

    Serunya ya.
    Mb, penginapannya di sembalun naksir nih. Jd pengen ngerasain nginep di kaki gunung Rinjani. Btw, ada cerita soal review Warna homestay di trawangan g mb? bagi2 dong mbak

    Reply
  • October 27, 2014 at 11:32
    Permalink

    @ ainun : Haiii, akhirnya berkunjung lagi kesini, Ainun, welkambek .. πŸ˜‰

    Iyaaa, penginapan di Sembalun itu memang indehoy banget, ngga terlalu mahal pun. Cobain gih .. Duh, kemaren itu saya nginep dimana ya pas di Gili Trawangan ?! Ngga terlalu berkesan, jadi ngga inget .. πŸ˜‰

    @ velysia zhang : Hai, salam kenal, terima kasih sudah berkunjung. Itu pelanginya beneraann .. Keren yah .. πŸ˜‰

    @ agung : Hihihi, iya, yuk eksplor Lombok daratan lagi. Ternyata jauh lebih stunning dibanding Gili-gilinya, menurut saya sih, yang notabene anak gunung ini .. πŸ˜‰

    Reply
  • October 28, 2014 at 05:26
    Permalink

    Hahaha nasi gorengnya…
    Keinget air minum yg ditaruh di dalam kamar yg berubah kayak abis di kulkas
    *untung uda beli termos*

    Reply
  • October 28, 2014 at 14:38
    Permalink

    @ sapar : Hahaha, iya, air putih juga gitu, ga perlu kulkas babar blas .. πŸ˜‰

    Reply
  • November 7, 2014 at 10:59
    Permalink

    Fix! Harus ke lombok lagi, dan minimal harus disana 2 bulan! Kereeeen, lombok gak cuma punya pantai yang cakep XD

    Reply
  • November 7, 2014 at 11:33
    Permalink

    @ fahmi : Sebagai anak gunung, dengan bangga saya tunjukkan sisi Lombok yang bukan pantai .. *ngikik jumawa*

    Reply
  • November 10, 2014 at 10:25
    Permalink

    ku jg ingin manjat gunung gunung indonesia seperti rinjani ini. jika mampu ku akan muncak gunung. oh yaaa. ada tanah di jual ngga di sekitaran rinjani??

    Reply
  • November 12, 2014 at 09:24
    Permalink

    waduuuh yang anak gunung aja bilang trek-nya ekstrim, kayaknya harus banyak latian fisik sebelum kesini hehehe πŸ˜€

    Reply
  • November 12, 2014 at 17:12
    Permalink

    @ mukhifas alfikri : Lah, mana saya tahu, Kak ?! Saya kemaren ke Kaki Rinjani plesiran, bukan ngobyek makelaran tanah .. :s

    @ dita : Haishhh, aku jadi anak gunungnya udah sepuluh tahun lalu, Kak Dit. Hahahaha .. πŸ˜‰

    Reply
  • December 15, 2014 at 17:10
    Permalink

    kalau ditanya tempat paling bagus di lombok apa, pasti aku akan jawab dengan lantang : RINJANI!

    Reply
  • December 24, 2014 at 14:14
    Permalink

    hiihh mrinding bacanya. Habis keren sekali πŸ˜€ tumben sama Mas Bojo πŸ˜€

    Reply
  • December 24, 2014 at 16:04
    Permalink

    @ hamid : Kaki Rinjani memang luar biasa, Hamid .. Haha, sering sih sebenernya pergi sama dia, cuma dia ngga terlalu suka dipublikasikan aja .. πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: