Gerimis di Selogriyo ..

Mendung menggantung di langit Magelang, sesiangan. Gerimis pun setia, rapat tanpa reda. Begitu pula saat saya dan rekan-rekan Lopen Semarang sampai di sisi jalan aspal yang tak terlalu lebar. Windusari, disanalah kami berada. Jujur, meskipun lahir dan besar di Magelang, saya belum pernah sekalipun menginjak daerah yang letaknya hanya sekitar 10 km dari pusat kota ini. Shame on me .. πŸ˜‰

Tujuan kami adalah menyambangi Candi Selogriyo, salah satu candi Hindu yang masih berdiri kukuh di kaki Gunung Sumbing ..

IMG_6284_2

Tidak seperti Prambanan, another candi Hindu yang dapat langsung dinikmati kemegahannya begitu pengunjung turun dari kendaraan, Candi Selogriyo seperti gadis pingitan yang tersimpan jauh di balik bukit. Butuh usaha ekstra untuk bisa menikmati kecantikannya. Kami harus melakukan tracking yanglumayan panjang. Katanya sih hanya 2 km, tapi saya ragu, sepertinya lebih. Hehehe ..

Saya mulai berjalan perlahan, menyusuri jalan makadam, sambil sesekali menghalau hujan. Sebuah keramaian kampung pun saya temukan. Riuh yang tidak biasa, beberapa orang berkostum, anak-anak yang berlarian, suara-suara tabuhan, serta pedagang tiban. Ternyata, Desa Kembang Kuning sedang menggelarΒ merti desa, semacam ritual penghargaan untuk alam, yang akrab dengan perangkat sesaji, panggung kesenian budaya lokal dan ajang makan bersama. Sayang, kami datang kesorean, ritual tersebut nyaris usai ..

page1_2

Lepas menyusuri kehangatan warga desa, ya, bukan sekali dua kali, rombongan kami saling sapa dengan mereka, sampailah kami di gerbang batu bertuliskan ‘Candi Selogriyo’. Sudah dekat, pikir saya. Dan ternyata salah. Perjalanan masih jauh, jauh secara jarak, sekaligus jauh lebih rumit jenis medannya. Setapak menyempit, bukan lagi makadam, namun murni jalan tanah dengan rumput liar di sisi kanan kirinya. Hujan mempersulit keadaan, tanah bermetamorfosis menjadi lumpur. Licin bukan main. Kontur track pun beraneka ragam, mulai dari datar, sedikit menanjak, lalu curam ..

IMG_6288_2

Untung saja pemandangan alam di sekitar jalur perjalanan begitu menghibur. Hamparan sawah menghijau, dipagari bukit-bukit yang tak kalah hijau, hawa sejuk khas pegunungan, helaian kabut putih tipis, sayang, langit sedang tidak terlalu biru. Saya menikmatinya, jarang-jarang ketemu yang seperti itu di kota. Untung saja. Andai tidak, mungkin saya sudah memutuskan untuk pingsan saja, sejak tadi .. πŸ˜‰

Nafas saya sudah hampir habis, saat kompleks Candi Selogriyo terlihat di depan mata. Namun, perjuangan belum selesai, masih ada sekian puluh anak tangga yang harus saya jalani. Huvt ..

Lalu ..

IMG_6296_2

Voila … sebuah candi tunggal nan mungil meluruhkan kelelahan saya. Selogriyo, yang dibangun pada abad ke-8, saat Wangsa Sanjaya menggapai masa kejayaannya, berdiri anggun, seorang diri, di sebuah bukit. Dia seolah bersandar pada Gunung Sumbing dan menghadapkan muka pada lembah Magelang, di sisi Timur ..

Candi yang cantik, saya tersenyum seraya mendekatinya. Senyum tersebut berubah miris, saat saya temukan vandalisme parah memporakporandakan keanggunannya. Bukan coretan dengan cat atau tinta, sadly, batu-batu candi digores nama. Saya geram bukan main ! Hih !

Kekesalan teralihkan, saat sahabat-sahabat Kota Toea Magelang dan Watu Magelang, yang memang memandu perjalanan kami saat itu, mulai bercerita tentang Candi Selogriyo ..

Selogriyo ditemukan oleh seorang Residen Magelang bernama Hartman, pada tahun 1835, dalam kondisi berantakan. Ide rekonstruksi pun diinisiasi oleh Beliau. Candi ini tidak memiliki perwara, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, ia berdiri seorang diri. Uniknya lagi, gerbang Selogriyo tidak memiliki makara, puncaknya pun mewakili bentuk buah keben, yang merupakan bagian dari Pohon Kalpataru ..

page2

Arca-arca Candi Selogriyo masih terbilang lengkap, meski sebagian besar harus kehilangan kepalanya. Di sisi Timur, terdapat arca Sora Nandiswara dan Mahakala, yang dipercaya sebagai penjaga candi, sekaligus penguasa mata angin. Di sisi Selatan, terdapat patung Agastya, yang merupakan jelmaan Mahadewa Shiwa. Patung ini adalah satu-satunya yang berbentuk utuh. Di sisi Barat, terdapat arca Ganesha, putra Mahadewa Shiwa, yang merupakan Dewa Ilmu Pengetahuan. Arca tersebut berposisi duduk, tangan kanannya memegang kapak dan sebelah gadingnya patah. Terakhir, di sisi Utara, terdapat arca Durga Mahesa Sura Mardini, titisan Shati, istri Mahadewa Shiwa ..

Selain arca-arca, Selogriyo memiliki sebuah petirtaan, yang terletak agak terpisah di sebelah Selatan candi. Beberapa batuan khas, seperti lingga – yoni dan kotak peripih *tempat diletakkannya 9 elemen bumi, sebagai syarat pembangunan candi*, dapat ditemukan sekitar 10 m dari candi ..

IMG_6297_2

Wow ! Saya menghela nafas, betapa agungnya peradaban masa lalu yang tersemat di candi ini. Posisinya yang jauh dari keramaian, ditengarai disengaja oleh pembangunnya, sebab candi ini difungsikan untuk tempat semedi dan persembahan ..

Senja makin tua, gerimis pun masih merintik, saat sahabat-sahabat Kota Toea Magelang dan Watu Magelang menyudahi penjelasannya mengenai Candi Selogriyo. Saatnya pulang, artinya saya dan rombongan harus melalui track sulit yang tadi kami tempuhi saat berangkat. Hahaha. Tracking frenzy ! Bayangan jalan menurun lebih mudah dijalani pun hanya angan-angan, saya harus tetap ekstra hati-hati, karena permukaan tanah masih tetap basah dan licin. Namun, tak apalah, demi Selogriyo yang megah dan pemandangan di sekitarnya yang indah .. πŸ˜‰

Fine. Selamat malam, Selogriyo. Selamat kembali lelap dalam pelukan atmosfer sejuk Magelang, yang masih saja menggerimis hingga kami pulang ..

***

12 thoughts on “Gerimis di Selogriyo ..

  • February 8, 2015 at 22:43
    Permalink

    Dulu tahun 2009, itu track sulit pernah kami libas pakai motor. Pinggirnya jurang tapi pemandangannya subhanallah indahnya.
    Klo ngga salah di candinya ada papan larangan jangan berbuat mesum ya?

    Reply
  • February 9, 2015 at 08:28
    Permalink

    Medan e berat tapi viewnya cakep dikelilingi sawah. Bentuk candinya juga setipe dengan rangkaian Gedong Songo.
    Ke sana pas summer ahh :-)

    Reply
  • February 9, 2015 at 17:57
    Permalink

    Pengiiin ke sana, tapi trancking-nya lumayan yo. Sama belum kesampaian ke batik Borobudur nih :)

    Reply
  • February 9, 2015 at 20:25
    Permalink

    @ mawi wijna : Iya, sebenernya track-nya bisa dilewati motor, tapi ya gitu deh, hehehe .. πŸ˜‰ Lagian kemaren kami rombongan, jadi ya mau ngga mau harus jalan kaki rame-rame. Iyups, ada papan larangan “Dilarang Pacaran” or something like that gitu, ngga terlalu merhatiin, Kak .. πŸ˜€

    @ halim : Iya, Lim, pemandangannya luar biasa, apalagi pas kabut, duh syahduuu ..

    @ mba yusmei : Betul, Mba, kesananya jangan pas musim hujan, PR bingits ! Nah, sekalian aja tuh, habis dari Selogriyo, melipir lagi ke Wanurejo, ngeliat Batik Borobudur .. πŸ˜‰

    Reply
  • February 13, 2015 at 02:01
    Permalink

    Salam kenaal, blogger dari Semarang juga kan, keren foto2nya, kapan2 kopdar yuuk

    Reply
  • February 13, 2015 at 21:50
    Permalink

    @ rahmiaziza : Hai, Kak, salam kenal jugaaa .. Iya, saya berdomisili di Semarang .. Yuk yuk, kapan-kapan kita ketemuan, dijadwalkan saja, Kak .. πŸ˜‰

    Reply
  • January 11, 2016 at 10:08
    Permalink

    Mbak ikutan Lopen juga ya?aku juga lo syang aku ga ngerti ada event ini rau gtu ikutan ikh.. :(

    Reply
    • January 11, 2016 at 17:04
      Permalink

      Kadang-kadang aja sih, Mba. Apalagi sekarang Lopen makin jarang bikin kegiatan. Sedih deh. Atau kita berkegiatan sendiri? Hihihi. Jadwalkan yuk ah .. πŸ˜€

      Reply
    • January 3, 2017 at 09:21
      Permalink

      Kurang lebih 2 jam ya, Kak, dengan mempertimbangkan kondisi lalu lintas tentunya .. :)

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: