[Jelajah Pecinan Semarang] Tujuh Rumah Para Dewa ..

Tay Kak Sie 4_2

Gara-gara membaca “Pecinan Semarang“, sebuah buku bersampul merah, karya Ananda Astrid Adrianne dan Anastasia Dwirahmi, saya dan Mba Yusmei bertekad ingin menikmati Kawasan Pecinan Semarang dengan detail. Niat tersebut sudah cukup lama tercetus, kalau tidak salah, sejak Ramadhan tahun lalu. Lucky us, beberapa hari lalu, kami berhasil menuntaskannya sebagian ..

Sebagian ?

Ya, tentu saja, Kawasan Pecinan Semarang begitu luas, sementara waktu yang kami punya begitu terbatas. Maklum, beginilah nasib M2K, Mbak Mbak Kantoran, liburnya minimalis .. ๐Ÿ˜‰

Saat saya dan Mba Yusmei memasuki Kawasan Pecinan Semarang, dari Jalan Pekojan, gegap gempita perayaanย Imlek masih begitu terasa. Warna merah dan emas mendominasi, simbol kambing kayu pun terlihat bertebaran di beberapa titik. Ah, kami makin bersemangat blusukan dari gang ke gang di lingkup Kawasan Pecinan Semarang. Pasti menyenangkan !

Dan, inilah 7 kelenteng, rumah para dewa, yang sempat kami singgahi. Kemegahan di antara lapis-lapis Kawasan Pecinan Semarang yang mulai mengusam ..

Gang Lombok

1. Kelenteng Besar Tay Kak Sie

Tay Kak Sie 1_2

Inilah kelenteng pertama yang kami kunjungi, Tay Kak Sie. Bisa dibilang, kelenteng ini paling populer seantero Kawasan Pecinan Semarang. Letaknya strategis, tidak jauh dari keramaian Jalan Pekojan, berada tepat di samping warung legendaris Lumpia Gang Lombok. Selain itu, melekat padanya, sebuah kisah agung tentang pendaratan Sang Laksamana Cheng Ho di Kota Semarang ..

Tay Kak Sie 7

Kelenteng yang dibangun pada tahun 1771 ini kerap disebut sebagai Istana Para Dewa, mengingat banyaknya jumlah altar dewa dewi yang dipuja. Detail arsitekturnya pun luar biasa, ornamen-ornamennya masih terawat dengan sangat baik. Jemaat Kong Hu Chu dan Tao silih berganti bersembahyang di Tay Kak Sie, hingga kelenteng ini nyaris tidak pernah sepi ..

2. Rumah Abu Kong Tik Soe

Kong Tik Soe 5

Meski letaknya bersebelahan, Kong Tik Soe jauh lebih sunyi dibandingkan Tay Kak Sie. Saat memasukinya, saya dan Mba Yusmei tidak menjumpai satu orang pun di dalamnya. Alih-alih warna merah emas yang memeriahkan pelatarannya, Kong Tik Soe diselimuti kesan cokelat yang muram. Sesuai namanya, saat ini, Kong Tik Soe memang difungsikan sebagai rumah abu. Di bangunan utamanya terdapat beberapa altar, di dalamnya terdapat abu jasad orang-orang yang dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa dan beberapa abu yang sengaja dititipkan untuk diletakkan disana ..

Kong Tik Soe 6

Kong Tik Soe dibangun pada tahun 1837. Saat itu, sebagian gedungnya pernah digunakan sebagai Kongkoan, semacam kantor administrasi warga Tionghoa. Para pejabatnya diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kini, di sisi kiri rumah abu, terdapat balai pengobatan Tjie Lam Tjay, yang terbuka untuk umum ..

Gang Pinggir

3. Kelenteng Tong Pek Bio

Tong Pek Bio 5

Bisa dibilang, Gang Pinggir merupakan ruas jalan utama di Kawasan Pecinan Semarang. Sebab itulah, kelenteng-kelenteng yang berada disana sangat mudah ditemukan. Tong Pek Bio, salah satunya ..

Pelatarannya tidak terlalu luas, hanya cukup untuk parkir 1 unit mobil dan beberapa motor saja. Pun, sepi, tidak ada jemaat yang bersembahyang, saat saya dan Mba Yusmei sampai disana. Seperti halnya sebagian besar kelenteng di Kawasan Pecinan Semarang, Tong Pek Bio merupakan rumah bagi Dewa Bumi, Hok Tik Tjing Sin. Patungnya menempati altar utama, konon usianya sudah nyaris menyentuh 150 tahun. Demikian pula dengan pintu kelenteng, yang terbuat dari bilah kayu tebal dan terdapat lukisan dewa-dewa di permukaannya. Kabarnya, beberapa ahli lukis pernah berusaha membuat replikanya, namun selalu gagal ..

Tong Pek Bio 6

Satu hal unik yang saya jumpai di Tong Pek Bio adalah gantungan kue-kue keranjang di muka pintu kelenteng. Masih dalam rangka perayaan Tahun Baru Cina, sepertinya ..

4. Kelenteng Ling Hok Bio

Ling Hok Bio 1_2

Inilah kelenteng kedua yang terletak di Gang Pinggir. Serupa dengan Tong Pek Bio, Ling Hok Bio tidak punya pelataran depan yang luas. Usut punya usut, ternyata hal ini berkaitan dengan pelebaran jalan yang sempat beberapa kali dilakukan. Rumah-rumah para dewa di Gang Pinggir ini harus merelakan sejengkal dua jengkal tanahnya demi kepentingan umum ..

Ling Hok Bio 5

Saat saya dan Mba Yusmei merapat, Ling Hok Bio sedang ramai dikunjungi jemaat. Mereka khusyuk berdoa, hingga kami tidak sampai hati turut menyeruak masuk ke dalamnya. Berbincanglah kami dengan Pak Geyong, salah satu penjaga kelenteng, di terasnya. Dari Beliau lah saya mendengar sebuah kabar duka, bahwa ternyata Thio Tiong Gie, Sang Dalang Potehi yang legendaris, telah wafat. Sedih sekali, sebab sebenarnya bertemu dengan Koh Thio, mendengar ceritanya tentang seni wayang Potehi yang telah langka, adalah salah satu tujuan kami menjelajahi Kawasan Pecinan Semarang.ย Hiks. Beristirahatlah dengan tenang, Koh .. :(

Jalan Wotgandul

5. Kelenteng Siu Hok Bio

Siu Hok Bio 2_2

Terletak di garda depan Kawasan Pecinan Semarang, tepat di depan Pasar Gang Baru; bangunannya pun tak besar, bahkan terkesan nyempil di antara toko-toko modern. Namun warna merah emasnya menyala, ada harapan yang tidak pernah padam disana. Warga Tionghoa tak henti mendatanginya, berdoa dan memuja Dewa Bumi, lalu pulang, seraya berharap keberkahan Sang Dewa menyertainya. Itulah Siu Hok Bio, kelenteng tertua di Kawasan Pecinan Semarang ..

Siu Hok Bio 5

Kelenteng yang begitu dipercaya mengalirkan rejeki bagi jemaatnya yang berbuat baik, sesuai dengan namanya yang bermakna “makmur panjang umur, berdiri pada medio abad ke-18. Ruang di depan altar utamanya tidak luas; meja pemujaan, tempat sesajian, lilin-lilin merah berukuran besar; terletak berhimpitan. Sementara di sayap kiri, terdapat ruangan kecil yang digunakan penjaga kelenteng untuk mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan upacara pemujaan ..

Gang Sebandaran

Jujur, sepanjang saya tinggal di Semarang, baru kali ini saya melintas di Gang Sebandaran. Letaknya agak tersembunyi dari ruas jalan utama, tepatnya di sisi Barat, tepian Kali Semarang. Menyusurinya, membuat pikiran saya berkelebat, inilah ruh Kawasan Pecinan Semarang. Deretan rumah-rumah tua berarsitektur khas Tionghoa, atap pelana, jendela yang sekaligus berfungsi sebagai meja jualan, dapat dengan mudah ditemui disana ..

Nama Sebandaran sendiri berasal dari kata “bandar“. Tidak berlebihan, sebab di masa lalu, disinilah kapal-kapal dagang keluar masuk melewati kampung otentik ini ..

6. Kelenteng Hwie Wie Kiong

Hwie Wie Kiong 2

Hwie Wie Kiong, kelenteng pertama yang saya singgahi di Gang Sebandaran. Pelataran depannya cukup luas, beberapa anak kecil asyik berkejaran disana. Memasukinya, saya menangkap bangunan dengan arsitektur megah dan masih begitu terawat. Bangunan yang berdiri pada tahun 1814 ini, awalnya merupakan kelenteng milik Keluarga Tan. Mereka memuja Jenderal Perang Gay Tjiang Seng Ong, yang dipercaya selalu berpihak pada orang-orang terbelakang. Sekarang, siapapun boleh memasukinya, berdoa disana. Hwie Wie Kiong terbuka bagi umum ..

Hwie Wie Kiong 1

Satu hal menarik yang dimiliki Hwie Wie Kiong adalah kolam ikan di sisi kanan dan kirinya. Selain itu, ukiran simbol naga pada kayu pembatas ruang juga mempercantik kelenteng yang pada awal masa berdirinya menghadap tepat pada Kali Semarang ..

7. Kelenteng See Hoo Kiong

See Hoo Kiong 2

Kelenteng kedua di Gang Sebandaran, sekaligus kelenteng terakhir yang saya dan Mba Yusmei kunjungi hari itu. See Hoo Kiong. Serupa dengan Hwie Wie Kiong, pelataran See Hoo Kiong pun super luas. Bahkan, saat kami datang, sekelompok anak muda tengah berlatih Barongsay disana. Beberapa warga pun mengerumuni, antusias melihat aksinya ..

Penampakan depan See Hoo Kiong sempat membuat saya terheran-heran. Muram. Banyak bagian bangunannya yang bocel-bocel, tidak terlihat terawat. Bahkan jika diperhatikan, detail atapnya banyak yang rusak dan kehilangan warna. Ubin yang digunakan pada ruang utamanya pun masih asli, belum pernah diganti ..

See Hoo Kiong 1

Aneh, padahal justru inilah kelenteng termuda di Kawasan Pecinan Semarang. Ia dibangun pada akhir abad ke-19. Ternyata, memang benar, See Hoo Kiong belum pernah sekalipun direnovasi. Alasannya ? Tidak mendapatkan restu dari para dewa. Oohh ..

Fakta bahwa Dewi Laut Thian Siang Seng Boo yang utama dipuja disana juga menarik untuk dicermati. Sejalan dengan posisi Kota Semarang yang berada di pesisir Utara Jawa, serta letak kelenteng yang tepat di titik bandar, kegiatan ekonomi masyarakat tidak bisa lepas dari hal kelautan dan perdagangan. Bagi mereka yang percaya, itulah berkat tak berkesudahan yang diberikan oleh Sang Dewi Laut ..

***

Catatan tepi :

1. Jika hendak mengetahui atau sekedar merasakan atmosfer Pecinan, susurilah Kawasan Pecinan Semarang. Gang demi gangnya menawarkan bermacam hal baru yang menarik untuk disimak. Apalagi ketika Imlek dan Cap Go Meh, kesan perayaannya begitu kental terasa disana. Imlek dan Cap Go Meh di Kota Semarang bukan melulu soal Pasar Malam Semawis, namun lebih tentang kearifan lokal, serta kekhidmatan para Tionghoa untuk berdoa, memuja dan berharap akan berkat kehidupan yang lebih baik di masa depan. Bukankah ini wajah #ImlekNusantara yang sebenar-benarnya ?

2. Seluruh foto diambil menggunakan Samsung S4 Zoom SM – C101 dan diedit seperlunya dengan aplikasi Photoscape.

23 thoughts on “[Jelajah Pecinan Semarang] Tujuh Rumah Para Dewa ..

  • March 8, 2015 at 23:02
    Permalink

    jd inget Chiang Mai.. Di tiap sudut kota selalu ada kuil2 :) Semarang kaya akan kuil jg ternyata …tiap kesana kita biasanya hanya transit sbntar utk makan lalu lanjut solo mba ๐Ÿ˜€

    Reply
  • March 8, 2015 at 23:34
    Permalink

    Nggak nyangka dapat “kejutan” sekeren ini di pecinan semarang. Gak sia2 ribet pake rok seharian haha

    Reply
  • March 9, 2015 at 02:14
    Permalink

    Sempat masuk yang di wotgandul juga?
    Yang di dalam itu berhadapan dengan toko pembuat rumah boneka kertas yang untuk rumah arwah kelak, juga pembuat nisan. Kalau malam sih tembus langsung ke Semawis.
    Favoritku 2 klenteng di Sebandaran tuh, tipologinya sama. Besar dan cantik material kunonya. :)

    Reply
  • March 9, 2015 at 08:07
    Permalink

    Jadi penasaran yang See Hoo Kiong deh, ntar sebelum acara cuap-cuap travel mo mlipir ke gang-gang Pecinan dengan bantuan tulisan ini ahh :-)

    Reply
  • March 9, 2015 at 13:16
    Permalink

    Wiiihh.. Seru juga ya ternyata Pecinan Semarang. Jadi pengen deh ๐Ÿ˜€

    Reply
  • March 9, 2015 at 21:55
    Permalink

    Ada Pekojan di sana? Di Jakarta juga ada kan ya?
    Fotonya bikin mupeng deh

    Reply
  • March 10, 2015 at 20:37
    Permalink

    @ mawi wijna : Hah, cuma 3, Kak ? Wah, kok dikit amat ya, untuk ukuran Yogya yang kotanya ya lumayan gede gitu lho ..

    @ fanny fristhika : Iya, banyak kelenteng di Semarang, Mba, ya walaupun letaknya terkonsentrasi di Kawasan Pecinan Semarang aja sih. Wah, saya jadi ngga sabar pengin ke Chiang Mai nih .. ๐Ÿ˜€

    @ yusmei : Hahahaha, belom selesai lho, Mba, harus segera dilanjutkan episode keduanya .. ๐Ÿ˜‰

    @ indri : Kemaren konsentrasi ke kelenteng-kelenteng doang, Mba In, gara-gara hilang semangat pas dikasih tau dalang wayang Potehi ternyata udah meninggal. Next time deh, kunjungan ke tempat yang selain kelenteng .. ๐Ÿ˜‰

    @ halim : Siaaappp ! ๐Ÿ˜€

    @ hamid : Seru dong ! Banyak banget hal-hal menarik yang bisa dikunjungi, ngga cuma kelenteng, tapi juga kerajinan khas warga Tionghoa, yang masih ditekuni hingga kini .. ๐Ÿ˜‰

    @ ryan : Adaaa ! Pekojan di Semarang itu semacam pusat toko-toko bahan bangunan. Kalo siang rameee banget, jalanannya ngga besar, jadi pasti macet. Ayo ke Semarang .. ๐Ÿ˜€

    Reply
  • March 12, 2015 at 21:20
    Permalink

    @ rifqy : Halaaahhh, ayo buruan ke Semarang, Dek Rifqy ! Hihihihi .. ๐Ÿ˜‰

    Reply
  • March 13, 2015 at 12:49
    Permalink

    Semarang punya banget yah nuansa tionghoa disana.
    serasa berada di beijing apalagi dengan sam poo kong nya.

    Reply
  • March 17, 2015 at 23:12
    Permalink

    wih…semarang punya banyak banget kelenteng yah ๐Ÿ˜ฎ ngiler sama semarang

    Reply
  • March 20, 2015 at 16:34
    Permalink

    @ muhammad akbar : Iya banget, Kak, Kawasan Pecinan di Kota Semarang terbilang lumayan terawat. Warga setempat juga masih merawat lingkungan tersebut dengan baik, kesan pecinannya kental banget .. ๐Ÿ˜€

    @ isna : Hayuklah main ke Semarang, Kak .. ๐Ÿ˜‰

    Reply
  • September 28, 2015 at 11:43
    Permalink

    ini ada nih beginian di solo, tepatnya di pasar gede, mungkin mbak yusmei lebih tau :))

    Reply
    • September 29, 2015 at 06:30
      Permalink

      Wah, ada juga di Pasar Gede? Kok Mba Yusmei ngga pernah kasih tau yaaa .. ๐Ÿ˜€

      Reply
  • October 21, 2015 at 08:24
    Permalink

    Di kota ku juga ada nih, kelenteng terbesar di Asia Tenggara (Kwan Sing Bio)

    Reply
  • January 13, 2016 at 12:54
    Permalink

    ini di kota lama Semarang? Menarik juga kalau bisa menjelajahi kawasan ini. Mirip di Glodok :)

    Reply
    • January 13, 2016 at 13:36
      Permalink

      Betuls, Kak. Ini kawasan Kota Lama Semarang. Ayo lah ke Semarang, kabar-kabar yaaa .. ๐Ÿ˜€

      Reply
  • November 29, 2016 at 14:07
    Permalink

    Menarik sekali destinasi wisata di Semarangโ€ฆ. salut sama publisernya
    Kira2, menyediakan pakettour gak ya

    salm kenal dari kami Brainking Plus

    Reply
    • December 29, 2016 at 09:24
      Permalink

      Destinasi wisata Semarang memang luar biasa, Kak, terutama kawasan Kota Lama dan Pecinannya. Favorit saya itu. Sementara hanya bisa menemani saja kalo ada teman-teman yang dateng ke sini, kalo pas waktunya. Maklum, masih jadi mbak-mbak kantoran. Hehehe .. ๐Ÿ˜€

      Reply
  • December 8, 2016 at 18:58
    Permalink

    Indah banget klengtengnya,,di kota saya Bojonegoro cuma satu klentengnya,,itu pun kecil ๐Ÿ˜€

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: