Perihal Blora ..

Blora_Cepu_Cover
Menyebut nama Blora, membuat sebagian orang hilang antusias. Atau, berkedik bahu, tanda tak tahu. Tak heran, Kabupaten yang terletak di ujung Timur Provinsi Jawa Tengah ini memang bukan destinasi wisata favorit. Akses menuju kesana tidak bisa dibilang mudah. Jauh dari mana-mana. Merkengkong, begitu saya menyebutnya. Kualitas jalanannya pun bergelombang, hingga rusak parah. Bahkan, di instansi tempat saya bekerja, ada istilah “diblorakan“, untuk mendefinisikan penempatan tugas yang dihindari banyak orang. Segitunya ..

Namun, benarkah Blora nir-potensi ?

Saat berkesempatan mengunjunginya, sebab alasan dinas, bulan lalu, saya merasa inilah sedikit waktu untuk mengenal Blora. Setiap daerah pasti menyimpan keunikannya masing-masing. Hal tersebut sebuah keniscayaan, bukan ? Demikian pula dengan Blora. Dan, di sela padatnya urusan pekerjaan, saya mencoba mencari tahu perihal Blora, mengenai apa saja yang menarik disana ..

Mari, saya ceritakan .. 😉

Lontong Opor Kapuan

Blora_Cepu_1
Menurut salah satu senior yang bertugas di Blora, berkunjung ke Kabupaten ini belum lengkap jika tidak mencicip kuliner otentik, yang berjuluk Lontong Opor Kapuan. Letaknya di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, sekitar 20 Km dari pusat kota Blora. Ancar-ancar paling mudah untuk menemukannya adalah Jalan Raya Cepu – Randublatung, Stasiun Kapuan dan Bandar Udara Ngloram. Saat menujunya, saya mengalami situasi yang sedikit dramatis. Driver kantor yang mengendarai mobil dengan “luar biasa“, medan jalan yang “luar biasa” dan truk-truk proyek kusam yang menjadi lawan papasan “luar biasa” di sepanjang perjalanan. Ditambah lagi, kondisi perut kosong yang meronta, hingga kepala pening bukan main. Luar biasa !

Saat mobil merapat di sebuah rumah sederhana, saya bertanya-tanya, “Inikah tempat kulinari andalan Blora ?“. Rumah tersebut hanya dilengkapi penanda berupa spanduk bertuliskan “Lontong Opor Pak Pangat”. Jika tidak, tidak ada yang menyangka bahwa cita rasa kuliner yang berasal dari dalam rumah berdinding kayu itu begitu melegenda ..

Blora_Cepu_2
Seporsi lontong opor, terdiri dari selonjor lontong dan sepotong daging ayam, disertai kuah santan sedap, dengan sedikit rasa pedas, dijual dengan harga 14 ribu Rupiah. Awalnya saya skeptis. Saya bukan penggemar daging ayam, apalagi yang dimasak menggunakan kuah. Namun, saat mencobanya sesuap, okay, saya mengambil kesimpulan bahwa lontong opor tersebut nikmat. Tak salah orang-orang menyebutnya sebagai menu kuliner andalan Kabupaten Blora ..

Singkat cerita, saya menikmati lontong, daging ayam dan kuah santannya hingga tandas. Nyam ! Happy tummy !

Bengawan Solo yang Bukan di Solo

Bengawan Solo kok di Blora ? Ngga salah ?

Blora_Cepu_6
Sama sekali tidak. Bengawan Solo memang mengaliri sisi Timur Kabupaten Blora, Kecamatan Cepu, tepatnya. Sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut sekaligus menjadi batas wilayah administratif Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sudah sampai di Cepu, sayang sekali kalau tidak menengok Bengawan Solo dari atas jembatannya. Maka, saat itu, jelang senja, saya menyempatkan diri menghabiskan waktu disana, di tapal batas provinsi tempat saya berdomisili saat ini ..

Blora_Cepu_5
Ucapan “Selamat Jalan, Jawa Tengah” dan sambutan “Selamat Datang, Jawa Timur”, mengapit Jembatan Bengawan Solo tersebut. Di seberang sana, Kabupaten Bojonegoro siap menyambut kedatangan orang-orang. Kendaraan lalu lalang, sebab jalur ini merupakan salah satu urat nadi perekonomian Jawa Tengah – Jawa Timur. Sementara di sisi lain jembatan, masyarakat beraktifitas santai, mulai dari memancing, sekedar duduk-duduk atau memandangi beberapa gadis kecil yang asyik berlarian.  Di bawahnya, Bengawan Solo mengalir tenang, seperti melenakan kewaspadaan akan air bah yang kerap kali meluluhlantakkan Cepu dan Bojonegoro ..

Heritage Loco Tour KPH Cepu

Menemukannya, sebenarnya tanpa sengaja. Saya hanya sedang mencari lokasi kunjungan dinas untuk esok hari, di Jalan Sorogo, Cepu, ketika akhirnya tersesat di Kompleks Perhutani. Di belakang kompleks tersebut, terdapat Bengkel Traksi Ngelo, yang merupakan starting point bagi heritage loco tour KPH Cepu yang tersohor itu ..

Blora_Cepu_7
Saya memang belum beruntung dapat merasai sensasi naik kereta uap tersebut. Selain karena kereta tua yang hadir dari tahun 1920-an itu tidak beroperasi setiap waktu, juga sebab biaya menaikinya sama sekali tidak murah. Bayangkan saja, sekali jalan bisa merogoh kantong hingga 11 juta Rupiah !

Blora_Cepu_8
Meski demikian, saya cukup senang bisa mengeksplorasi setiap sudut Bengkel Traksi Ngelo. Aura kekunoan terasa kental disana. Lokomotif dan gerbong-gerbong tua, seperti tengah tertidur nyenyak di dalam bangunan tinggi besar, separuh dindingnya adalah jalinan kawat tebal. Lajur-lajur rel terhampar teratur, seperti membentuk pola tertentu. Bangunan kantor, tangki air dan pohon-pohon tinggi, menjadikan tempat ini terlihat harmonis dengan cerita jaman yang tersembunyi di baliknya ..

Blora_Cepu_9
Saya sempat berbincang singkat dengan seorang petugas jaga disana, kabarnya heritage loco Tour KPH Cepu menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 25 Km, bermula di Bengkel Traksi Ngelo dan berakhir di Gubug Payung. Rangkaian lokomotif dan gerbong tua buatan Jerman tersebut sekali berhenti di Pancuran Bregojo untuk mengisi ulang tangki air. Peserta tour juga dapat menikmati eksotisme hamparan hutan jati, Kompleks TPK Batokan dan Railway Fly Over, yang populer disebut Buk Brosot. Ah, semoga suatu saat saya bisa menikmati perjalanan tersebut. Menarik sekali sepertinya ..

Pilihan Penginapan

Menjadi satu-satunya anak buah yang melakoni perjalanan dinas dengan para atasan, membuat saya bertugas memastikan akomodasi bagi mereka. Stigma tentang Blora sempat membuat saya pesimis, adakah penginapan yang layak, dengan budget sesuai jatah ..

Sekilas mengulik via internet, o’ow, saya salah besar ternyata ! Pilihan penginapan di Kabupaten Blora terbilang beragam. Sebutlah Hotel Kencana, yang terletak tidak jauh dari Alun-alun Blora. Atau sedikit bergeser ke Cepu, disana, bahkan, hotel-hotel dengan kelas menengah ke atas bertebaran. Grand Mega Resort & Spa, Hotel Ammi, Arra Amandaru atau Cepu Indah. Tinggal pilih. Bagi kami, 2 hotel pertama jelas tidak masuk hitungan, rate-nya terlalu tinggi. Hotel ketiga pun, sebenarnya, namun beruntunglah kami mendapatkan promo soft opening. Separuh harga, cocok dengan budget yang dipunya ..

Blora_Cepu_10
Maka malam itu, kekhawatiran saya mengenai penginapan di Blora pun tertepis ..

***

Demikianlah ..

Dua hari satu malam mengunjunginya, tentu masih jauh dari cukup bagi saya mengenal Blora. Namun, setidaknya saya bisa merasakan, kota ini unik dan menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Kehidupan Suku Samin yang masih begitu terjaga; eksotisme sumur minyak tua, lengkap dengan pompa tradisionalnya; deretan bangunan tua, yang pasti menyimpan kisah sejarah; Sate, Lontong Tahu dan Soto Klethuk; membuat saya yakin untuk mengulangi kunjungan ke Kabupaten Blora ..

Saya janji, inshaa Allah, cerita perihal Blora ini akan saya lanjutkan, nanti ..

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Blog Competition #TravelNBlog 3
yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

35 thoughts on “Perihal Blora ..

    • April 2, 2015 at 10:53
      Permalink

      Hahaha, sori, Mas Adi, ngga bermaksud. Semoga pagi ini keributan di perut sudah bisa teratasi yaaa .. 😉

      Reply
      • April 2, 2015 at 11:14
        Permalink

        Alhamdulillah sudah mba, tapi itu kok ya pinter banget motret lontong opornya mba? fotonya bikin laper dan aku bisa tahu kalo opornya enak hahahaha

        Reply
        • April 2, 2015 at 20:09
          Permalink

          Hahahaha, lebay deh, Mas Adi. Itu mah foto asal jepret. Saking lapernya, saking puyengnya, udah ngga mikir foto bagus, yang penting hajar bleh lontong opornya !

          Reply
  • April 2, 2015 at 08:26
    Permalink

    banyak sisi lain Blora yang bisa dikulik2 ya kak
    bikin penasaran deh 😀

    Reply
    • April 2, 2015 at 16:58
      Permalink

      Iyaaa. Aku berniat balik lagi kesana. Belum sempat datang ke kampung Suku Samin yang legendaris itu juga, Dit. Yuks, bareng kesananya .. 😉

      Reply
  • April 2, 2015 at 09:46
    Permalink

    Bagi saya nama Blora tidak asing apalagi kota Cepu.
    Saya pernah dua kali kesana, tahun 2012 selama 4 bulan dan tahun 2013 selama 10 bulan.
    Setiap sudut kota cepu saya sudah jelajahi dengan naik sepeda karena angkot dalam kota cepu tidak ada, kecuali antar kota.
    Uniknya, lama di kota cepu tapi gak pernah bergeser sedikit ke ibukota kabupatennya, karena kata orang sana Blora mah gak ada apa-apanya.

    Reply
    • April 2, 2015 at 16:59
      Permalink

      Hahaha, bener banget, Kak, Blora memang relatif lebih sepi daripada Cepu .. 😉

      Reply
  • April 6, 2015 at 12:56
    Permalink

    Saya malah seneng kalau eksplorasi tempat-tempat yang “diblorakan” banyak orang. Nyatanya Blora punya cukup banyak potensi, indikasinya adanya hotel-hotel bagus itu. Kalau dipoles lebih telaten lagi, Blora bisa punya banyak andalan wisata yang manis. Suka banget sama foto-foto loco tour itu, juga jembatan di atas Bengawan Solo.

    Lontong opor itu… opo maneh kuwi… *elus2 perut* 😀

    Reply
    • April 6, 2015 at 17:06
      Permalink

      Kabarnya, hotel2 bagus itu untuk memfasilitasi para pekerja perusahaan minyak yang banyak keluar masuk Cepu. Terlepas dari itu, potensi Kab. Blora memang luar biasa unik. Pokoknya harus kesana ! Hahahaha .. 😉

      Matur nuwun pujian buat foto-fotonya, Qy .. 😀

      Reply
  • April 6, 2015 at 20:57
    Permalink

    (((BERKEDIK BAHU)))

    Aku malah rung tahu ning Blora, tapi opore kayake kok winuk.

    Reply
    • April 7, 2015 at 17:01
      Permalink

      Hahaha. Ahsyem, ‘berkedik bahu’ dibahas. Aku nek ga mergo DL yo ga tekan kono, Rif .. 😀

      Dan memang iya, opor e enak maksimal !

      Reply
  • April 11, 2015 at 05:31
    Permalink

    Blora kan deket ya dari Tuban ? Hehhe Kapan2 mampir dah insyaAllah hehee

    Reply
  • April 13, 2015 at 16:45
    Permalink

    Sudah pernah ke Blora, tapi cuma mampir beli soto. Jadi tambah pengin ke Blora, buat eksplore. Ajak daku ke sanaa 😀

    Reply
    • April 14, 2015 at 17:08
      Permalink

      Inshaa Allah, Kak, pasti ajak-ajak!
      Masih nunggu jadwal dari adek-adek asrama, biar bisa sekalian sharing-sharing cantique. Hahahaha .. 😀

      Reply
  • April 16, 2015 at 13:09
    Permalink

    Diblorakan hahaha… Betewe aku penasaran sama sepurnya yg 11 juta itu,,, jembatan sungainya medeni,,, karatan dan berlubang T__T

    Reply
    • April 17, 2015 at 19:42
      Permalink

      Sama, Lid! Coba ada yang mau nyeponsorin kita biar bisa gratisan ngerasain naik kereta legendaris itu yaaakkk .. *ndremis* 😀

      Reply
  • April 28, 2015 at 10:29
    Permalink

    blora, sebuah kota yang aku tau namanya cuma dari buku pramudya sama film “lari dari blora” malah ada yang bikin film “pocong jalan blora” #geblek, seminor itukah blora? bisa jadi iya dan tidak (aku yo bingung mbak) 😀 soalnya gak ada sodara disana…
    disana kalo gak salah ada kpp kan, bukan kp2? ada beberapa temen yg kukenal dinas di blora…
    dulu aku suka nitip sirup kawista kalo mereka pulang ke blora :)

    mbak’e…boleh request foto gapura perbatasan jateng-jatim di blora gak? kayaknya postingannya ada yang kurang dikit buatku … makasih :)

    Reply
    • May 4, 2015 at 20:14
      Permalink

      Sama, Isna, sebelum mengunjunginya, saya pun berpikir tidak ada apa-apa di Blora. Ternyata anggapan saya itu salah. Banyak hal yang bisa dijumpai di Blora. Tulisan ini masih bersambung, akan ada bagian selanjutnya, yang akan saya posting segera ..

      Di Blora ada KPP kok, membawahi Kab. Blora dan Kab. Grobogan. KP2KP nya ada di Purwodadi, Grobogan .. 😉

      Ada sih foto gapura perbatasan Jateng – Jatim, nanti ya ..

      Reply
  • April 28, 2015 at 10:32
    Permalink

    soal diblorakan, berarti sama kayak aku di sumberjo (sumatera barat dan jambi) mbak… dibangkokan dan dituakan (kpp bangko n tungkal) wkwkwkwk #self toyor … dua kota yang dianggap sepi, susah air, dan kurang layak huni…

    Reply
    • May 4, 2015 at 20:46
      Permalink

      Padahal ngga fair loh nge-judge suatu daerah semacam itu. Ngga menutup kemungkinan, suatu saat kita penempatan disana kan .. 😉

      Reply
  • May 11, 2015 at 16:47
    Permalink

    yups….aku pikir bangko => bangka yang dekat palembang, rupanya oh rupanya (pipi njur teles) …

    Reply
    • May 21, 2015 at 20:26
      Permalink

      Maksudnya gimana sih, Na ? Aku kok kurang paham. Hehehe .. 😉

      Reply
  • June 9, 2015 at 22:39
    Permalink

    Bloraaaa… Wah saya pengin njajal yg 11 juta ituuu.. Tp sama siapaaa yg mau bayar 😀 tambah pengen ngeksplore Blora deh, suatu saat nanti :))

    Reply
    • June 10, 2015 at 22:12
      Permalink

      Aku juga mauuuuu ! Masalahnya pun sama, belum nemu rombongan atau seseorang yang berkenan mbayari. Hahahahaha .. 😉

      Reply
  • July 29, 2015 at 11:32
    Permalink

    Heritage Loco Tour KPH Cepu dulu pernah shooting bikin film indie disitu. tempatnya keren ya, sayang rumput-rumput liarnya terlalu liar. dulu gue nyebutnya lavatory soalnya wcnya bagus kalau dari luar haha

    Reply
    • July 29, 2015 at 11:54
      Permalink

      Tadinya aku malah ngga ngeh kalo itu toilet, Kak, saking bagusnya. Hahahaha .. 😉

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: