Potret Bocah Desa Komodo ..

ALE_6559_2

Kapal kami merapat di sebuah dermaga rakyat. Sederhana, hanya bilah-bilah kayu yang disusun sedemikian rupa. Beberapa perahu nelayan tampak bersandar disana, sementara rumah-rumah panggung terlihat berjajar di daratannya.

Selamat datang di Pulau Komodo .. “, demikian celetuk Thomas, guide kami, sesaat setelah kapal terikat dengan sempurna di sisi bandar.

Sebelum bertemu dengan komodo, kita sapa dulu saudara-saudara kita yang tinggal di Desa Komodo ya, Mba .. “, lanjut Thomas bersemangat.

Ya, selamat datang di Desa Komodo, satu-satunya desa yang ada di Pulau Komodo. Desa berpenduduk 1500-an jiwa ini merupakan bagian dari Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Menginjakkan kaki disana, saya kira tidak ada yang istimewa. Saya pikir, desa ini hanya persinggahan sebentar, sebelum akhirnya kapal kami bermalam di Loh Liang. Saya meloncat keluar kapal bersama teman-teman. Seorang pria paruh baya berkulit legam, yang saya lupa namanya, menyambut kami dengan begitu gembira.

Katanya,

Jarang-jarang ada yang mau mampir ke desa kami. Terima kasih, Thomas, sudah membawa mereka kesini .. “.

Kemudian, sesuai dugaan, pria paruh baya berkulit legam tersebut bercerita banyak tentang tanah kebanggaannya. Beliau berceloteh sembari mendampingi kami berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah desa. Ada legenda mengenai Orang Komodo yang, konon, bisa bicara dengan komodo, sebab mereka satu ibu. Benarkah? Entah. Ada fakta tentang latar belakang rumah panggung, yakni untuk menghindari serangan komodo dan binatang buas lain yang masih banyak berkeliaran di pulau itu. Ada kisah tentang mata pencaharian utama warga Desa Komodo, yaitu nelayan dan pembuat cenderamata khas Pulau Komodo. Ah, menyenangkan mendengarkan ceritanya.

IMG_4527_2

Kami berjalan semakin jauh, semakin masuk ke lapis-lapis lingkungan desa. Potret kehidupan seadanya yang memprihatinkan mulai terlihat. Rumah-rumah panggung yang berjajar di kanan kiri jalan setapak tersebut tidak dilengkapi dengan sistem sanitasi yang baik. Bahkan, banyak di antaranya, menyatukan hunian keluarga dengan kandang kambing atau hewan ternak lainnya. Anjing-anjing kurus berkeliaran liar, burung-burung gagak berterbangan, sesekali bertengger di atap-atap rumah. Penduduk tidak dapat disalahkan, posisi mereka terlalu jauh dari pusat kota dan keramaian. Mereka hidup dan bertahan dengan cara mereka sendiri, nyaris tanpa ada yang peduli. Tanah mereka memang sering didatangi turis dari seluruh negeri. Bukan, bukan untuk menuntun mereka memperbaiki kehidupan, melainkan melihat penghuni lain pulau ini, Sang Naga Terakhir.

Ironi.

Namun, saya seperti menemukan oase di tengah ironi tersebut. Mereka, anak-anak Desa Komodo.

IMG_4544_2

Saya menjumpai mereka hampir di sepanjang jalan desa. Mata-mata bening mereka menatap saya dan teman-teman dengan takjub. Tingkah mereka malu-malu, mendekati kami tidak, menjauh pun tidak. Wajah mereka polos, tanpa beban. Kaki mereka telanjang berlarian, tanpa peduli ketika tidak sengaja menginjak tahi ayam. Kulit mereka legam, terbakar matahari pesisir dan teruji cara hidup yang tidak mudah.

IMG_4526_2

Saya mencoba memulai kontak dengan mereka, para generasi baru Desa Komodo. Mengajak bicara saja tidak cukup, alih-alih menganggapi, mereka justru akan lari. Okay, saya coba dengan kamera.

Siapa mau difoto ? “, teriak saya tiba-tiba.

Voila, perhatian mereka tercuri. Pandangan mereka lurus menatap saya dan beberapa rekan yang menenteng kamera. Lalu suara riuh menunjuk diri mereka sendiri terdengar. Yeay, anak-anak itu mau difoto!

IMG_4542_2

Saya minta mereka berpose, tidak sekedar berdiri tegak seperti patung. Anak-anak Desa Komodo tersebut menurut, mulai dari muka unyu, berlenggak-lenggok kemayu, hingga jari membentuk kode peace dan metal. Ada-ada saja. Saya tertawa melihat tingkah mereka. Lokasi terpencil tidak serta merta menghilangkan kodrat narsis ya, ternyata.

Setiap selesai mengambil 1 gambar, saya panggil mereka mendekat. Saya tunjukkan hasil rupa mereka dalam kamera. Mau tahu apa komentarnya?

Kak, aku jelek disitu, bisa diulang ? “. Hahahahaha.

Sungguh, saya lupa bahwa awalnya saya tidak terlalu antusias dengan Desa Komodo ini. Anak-anak Desa Komodo mengalihkan itu semua. Asyik sekali menghabiskan senja di tanah yang begitu jauh dari hingar bingar kota bersama mereka. Saya dan teman-teman membaur sekali dengan mereka, bocah-bocah polos yang belum pernah tahu apa itu Twitter, Facebook, apalagi Path. Mereka juga belum pernah paham seperti apa gemerlap Jakarta, bahkan Labuan Bajo.

Sampai akhirnya Thomas memanggil kami kembali ke kapal. Ya, kami harus segera merapat ke Loh Liang untuk bermalam disana. Saya berpamitan kepada mereka, anak-anak Bocah Komodo. Tahukah apa yang salah satu dari mereka katakan?

IMG_4547_2

Kami antar kakak-kakak ke dermaga ya .. “.

Saya iyakan, ada haru yang sengaja tidak saya katakan. Letak dermaga tidak dekat dari rumah, namun mereka begitu bersemangat mengantar kami menuju kapal. Tangan-tangan kecil mereka menggenggam saya, sedapatnya, ada yang dapat telapak tangan, pergelangan tangan, bahkan kain celana saya.

Sampai di ujung daratan, saya hentikan mereka, sambil berpesan,

Kalian sekolah yang pintar ya, ngga boleh bolos, rajin belajarnya dan jangan lupa kerjain PR .. “, yang kemudian disambut dengan anggukan kepala-kepala kecil mereka.

Nanti kakak pasang foto kalian ya, biar kalian bisa lihat .. “, lagi-lagi mereka mengangguk perlahan.

Saya lambaikan tangan, kapal dan teman-teman saya sudah menunggu. Mereka tidak beranjak sedikit pun hingga kapal menjauh, tangan mereka masih juga melambai.

***

Hai, Bocah-bocah Desa Komodo, kakak tepati janji untuk memasang foto kalian nih! Semoga kalian bisa melihatnya ya. Sebuah potret tentang kebahagiaan kalian yang begitu murni .. “, lirih saya malam ini, dengan mata yang sedikit berkaca, sekaligus tersenyum. Nanar.

***

22 thoughts on “Potret Bocah Desa Komodo ..

  • June 1, 2015 at 06:56
    Permalink

    duh aku jadi kangen komodo, kmrn belum sempet ke desanya … ah aku kalo bayangin long trip koyo ngene dadi neges mbak

    Reply
    • June 1, 2015 at 08:59
      Permalink

      Kunjungan tak terduga ini, Om Danan. Alhamdulillah bisa ketemu mereka .. 😉

      Lha kok ngenes kenapa? Tapi long trip emang menguras emosi, tenaga dan duit sih ya. Hahaha ..

      Reply
  • June 1, 2015 at 11:10
    Permalink

    Hmm Hmm Hmm. Barangkali ada perguruan tinggi yang berniat menerjunkan mahasiswanya untuk Kuliah Kerja Nyata di desa Komodo? Kalau lihat anak-anak di desa seperti ini saya jadi ingat pas masa-masa KKN di mana mahasiswa KKN itu umumnya banyak berteman dengan anak-anak, hahaha.

    Eh, rumah-rumah panggung itu kan rumah tradisional mereka ya? Apa memang desainnya secara turun-temurun itu tidak menyertakan adanya sanitasi yang baik? Juga, umumnya bagian bawah rumah panggung kan memang dimanfaatkan untuk beternak?

    Reply
    • June 1, 2015 at 16:16
      Permalink

      Malah waktu itu yang saya temui ada relawan dari Belanda, cuma 1 orang, didampingi seorang relawan lokal. Dia bantu-bantu ngasih pengetahuan tentang kebersihan, kesehatan, ngajar-ngajarin bikin kerajinan tangan gitu. Hehehe ..

      Rumah tradisional banget kayanya ngga deh, Mawi. Gaya panggung gitu mungkin untuk nyesuaiin kondisi alam yang masih banyak binatang liar berkeliaran. Iya, memang bagian bawah rumah digunakan untuk kandang, tapi kebersihannya beneran ngga dipedulikan. Anak-anak ya main disitu, bahkan ada beberapa ibu yang memasak tepat di samping kandang ternaknya. Duh .. :(

      Reply
  • June 1, 2015 at 13:55
    Permalink

    Hi Zizou… Merasakan hal yg sama waktu berkunjung ke Arborek… Gak bisa melupakan kepolosan dan ketulusan yg terpancar dari mata mereka, anak2 desa Arborek… :)

    Reply
    • June 1, 2015 at 16:24
      Permalink

      Hai, Mba Esti ..

      Iya, anak-anak itu seperti potret asli bagi suatu daerah ya. Kebahagiaan mereka begitu murni .. 😉

      Reply
  • June 4, 2015 at 18:23
    Permalink

    Dilema desa-desa di negeri kita. Miskin dan tertinggal dalam pembangunan. Menjadikannya desa wisata juga ibarat pisau ber ata dua..Duh kapan ya masuk desa tapi air mata kita tak terkuras kayak gini :(

    Reply
    • June 7, 2015 at 20:01
      Permalink

      Bener, Mba Evi, dilema banget. Belum tau ya gimana solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Cuma bisa berharap, semoga bocah-bocah seperti yang saya temui di Desa Komodo ini tetap bisa mendapatkan masa depannya yang terbaik .. 😉

      Reply
  • June 12, 2015 at 13:14
    Permalink

    Tahun lalu 4 malam di kampung Komodo, lalu hari kelima rasanya berat banget mau pulang.. Gak rela ninggalin segala bentuk potret-potretnya, anak-anaknya, keramahan warganya, keterbatasannya… :(

    Reply
  • October 14, 2015 at 21:22
    Permalink

    assalamualaikum mba, kenalka nama saya Ramayana saya dari pulau komodo. saya lahir dan dibesarkan disana cuman saat ini saya sedang kuliah diluar daerah. saya search di om google ehh nemu web ini, makasih ya dah berkunjung di kampung saya kalau ada waktu luang mari jalan-jalan lagi di kampung ‘ora’ (sebutan masyarakat komodo untuk desa komodo) :) senang rasanya dengan saudara-sudara saya diluar sana yang masih peduli dengan keadaan kampung komodo, banyak kepedihan yang mesti mba lihat dan mungkin untuk ikut merasakan, karena kebanyakan orang menganggap bahwa hidup dikawasan taman nasional “komodo” itu enak, itu tdk untuk masyarakat komodo.

    ohh iya banyak yang ingin saya ceritakan tentang kehidupan atau realita kehidupan masyarakat komodo.

    Reply
    • October 16, 2015 at 10:40
      Permalink

      Waalaikumsalam ..

      Hai, Ramayana, senang sekali menerima pesanmu di tulisan saya tentang kampung halaman kamu. Adik-adik kecil di Kampung Komodo benar-benar menyenangkan, paling tidak, pernah membuat saya sangat terkesan dengan keramahan dan keluguannya ..

      Saya akan senang sekali mendengar cerita tentang Kampung Komodo dari seseorang yang lahir dan besar di sana. Silahkan, Ramayana, boleh via kolom komentar ini atau kirim email ke : noerazhka@gmail.com ..

      Saya tunggu yaaa .. :)

      Reply
      • October 18, 2015 at 04:58
        Permalink

        Asikkk, saya tunggu ceritanya juga mbak. Saya suka ingin tahu tentang keadaan masyarakat sekitar

        Reply
        • October 18, 2015 at 07:36
          Permalink

          Siap! Nanti kalo udah dapet cerita dari Kak Ramayana, pasti saya share .. 😀

          Reply
          • October 18, 2015 at 07:37
            Permalink

            Ok mbak… saya juga suka lihat dan komunikasi sama anak2 desa. Lucu dan banyak hal dapat kita pelajari dari mereka

            Reply
  • October 16, 2015 at 08:48
    Permalink

    iya mb, dulu mampir ke sini, anak2nya seru2. Diajak main games gitu semangat banget

    Reply
    • October 16, 2015 at 11:07
      Permalink

      Tuh kaann, anak-anak Kampung Komodo memang nggemesin ya, Kak Ainun .. 😀

      Reply
  • October 18, 2015 at 05:13
    Permalink

    Moga2 anak2 desa Komodo bisa melihatnya mbak. Kalau si mbak pasang foto mereka di blog mbak yang keren ini. Gitu kalau anak-anak di sana, bagaimana dalam hal minat bacanya ya mbak?

    Reply
    • October 18, 2015 at 07:38
      Permalink

      Harapannya begitu, Kak Sandi. Saya sudah titipkan link tulisan ini via operator kami waktu di TN Komodo. Semoga beneran bisa disampaikan ke adik-adik di sana.

      Untuk minat baca kayanya minim deh, Kak. Mereka lebih memilih bermain di halaman rumah atau pantai. Ngga ada pasokan buku juga sih sepertinya .. :(

      Reply
      • October 18, 2015 at 07:39
        Permalink

        Oo begitu mbak. Kalau misal kesana lagi terus bawa buku-buku bergambar sepertinya mereka suka mbak

        Reply
        • October 18, 2015 at 14:02
          Permalink

          Itu dia, Kak, kemaren itu semacam surprise kami dibawa ke desa ini oleh guide kami. Makanya ngga prepare bawa apa-apa untuk anak-anak. Semoga next time ada rejeki lagi untuk berkunjung ke sana .. :)

          Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: