Lagi-lagi Tentang Blora ..

Masih ingat tulisan saya yang ini, Perihal Blora?

Blora_7

Di bagian akhirnya, saya berjanji akan melanjutkan cerita mengenai sebuah kabupaten,Β yang dianggap, tidak populer di tapal batas Timur Provinsi Jawa Tengah. Sekarang, saya akan menepati janji tersebut, menulis, lagi-lagi, tentang Blora. Awal Bulan Mei lalu, saya kembali mengunjungi Blora, kali ini bukan dalam rangka dinas, melainkan benar-benar dolan. Disana, tinggal seorang sahabat saya, Yunita, yang berkenan menampung, sekaligus menemani jalan-jalan. Yeay ..

Kunjungan kedua tersebut menegaskan yang pertama, bahwa Blora tak sekedar daerah pinggiran yang bisa seenaknya ditempeli label nir-potensi. Seriously, Blora punya banyak hal unik, hingga layak dikunjungi dan dieksplorasi ..

Let’s see ..

Lontong Tahu Blora Mbah Supi

Menu kulinari Blora memang tidak banyak jenisnya, namun justru yang sedikit itu punya citarasa luar biasa. Lontong tahu, salah satunya. Di Semarang, makanan tersebut pun sudah saya idolakan, meski dengan variasi tambahan gimbal udang khas kota domisili saya ini. Ketika di Blora, ajakan untuk makan lontong tahu jelas tidak saya sia-siakan, apalagi Yunita membawa saya ke lapak sederhana milik Mbah Supi. Kabarnya, lontong tahu racikan perempuan sepuh tersebut cukup legendaris di Blora, selain karena sudah ada sejak tahun 1912, rasanya juga khas, tidak berubah enaknya ..

Blora_8

Benar saja, sesampainya kami disana, ubarampe Mbah Supi sudah komplet. Sekaleng kacang tanah, beberapa jenis sayuran, lonjoran lontong, sebuah penggorengan, dengan tumpukan tahu di sisiannya, kerupuk dan sebagainya. Saat ditanya, pedas atau tidak, saya jawab, sedang. Ketika ditawari, pakai piring atau daun jati, serta merta saya sambar, daun jati. Ya, kapan lagi,Β kan, makan lontong tahu lengkap beralas daun jati? πŸ˜‰

Mengenai rasa, sudahlah, memang tidak bisa dipungkiri, lontong tahu buatan Mbah Supi sungguh istimewa. Legit gurih bumbu kacangnya begitu lekat di indera saya. Tekstur irisan tahu yang lembut pun menjadi paduan tepat untuk lontong yang gempi. Nyam nyam! Kami sempat bertanya, apakah ada resep rahasia yang digunakan Mbah Supi. Beliau tertawa ringan dan menjawab bahwa tidak ada yang rahasia, paling-paling hanya penggunaan kecap merek Kuda Terbang untuk menjaga konsistensi rasa. Itu saja ..

Selebihnya kerja keras dan senantiasa ikhlas saja mungkin ya, Mbah? Batin saya ..

Sedulur Sikep Samin Karangpace

Blora identik dengan Suku Samin. Hal tersebut saya ketahui beberapa waktu belakangan. Dulu, saya hanya tahu bahwa Wong Samin itu sekelompok orang lugu yang berperilaku saklek, yang bermukim di Kendeng, pegunungan kapur membujur di sisi Utara Jawa. Kebetulan asisten rumah tanggaΒ Budhe saya adalah Wong Samin, beberapa cerita lucu mengenai keluguannya sering terdengar di telinga. Seperti saat Budhe memintanya belanja ke pasar, hingga siang, dia tidak pulang-pulang. Saat disusul, lalu ditanya kenapa tidak pulang, begini jawabnya,

Ibu kan namung ndhawuhi dalem belanja, mboten meseni kedah wangsul .. ”
(Ibu kan hanya menyuruh saya belanja, tidak berpesan harus pulang)

Ya menurut ngana .. πŸ˜€

Blora_5

Beruntung, awal Mei lalu Yunita mengajak saya sowan ke Dusun Karangpace, Desa Klopoduwur, Kecamatan Banjarejo, sekitar 10 km dari pusat Kota Blora. Disana, seorang tokoh Sedulur Sikep Samin tinggal, Mbah Lasiyo namanya. Dari Beliaulah, saya mendapat beberapa pencerahan mengenai Wong Samin, yang ternyata tidak sekedar tentang sekelompok orang lugu yang berperilaku saklek ..

Blora_6

Kami disambut hangat oleh Mbah Lasiyo di sebuah pendopo yang berdiri megah, di tengah rumah-rumah kayu sederhana. Beliau mulai bercerita tentang ajaran Samin yang berkembang di Blora, sejak medio abad ke-19. Leluhurnya, Pak Engkrek, merupakan salah satu tokoh penting penyebar ajaran Samin, yang mulanya dikembangkan oleh Samin Surosentiko. Wong Samin terkenal dengan semangatnya melawan Kolonial Belanda dengan caranya yang unik, yaitu sama sekali tidak mau bersentuhan dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh kaum penjajah tersebut, seperti tidak bersedia membayar pajak dan enggan bersekolah, selain juga sesekali tetap melakukan perlawanan fisik ..

Mbah Lasiyo ngendika, menurut ajaran Samin, manusia tidak boleh dibeda-bedakan menurut agamanya. Satu hal yang penting dan harus dipegang teguh oleh Wong Samin, yaitu bertabiat baik. Lalu, sebab penasaran, saya pun bertanya mengenai keluguan dan perilaku saklek yang dianut oleh Wong Samin ..

Mbah Lasiyo tertawa,

Kuwi jaman Landa mbiyen, saiki yo ora .. ”
(Itu jaman penjajahan Belanda dulu, sekarang ya tidak ..)

Ternyata begini, Wong Samin menjawab pertanyaan dengan lugas, tidak berbohong, namun juga tidak sepenuhnya menjelaskan fakta. Misalnya begini,

Mbah Lasiyo saking pundi?
(Mbah Lasiyo dari mana?)

Saka mburi ..
(Dari belakang ..)

Ya, Mbah Lasiyo tidak berbohong, Beliau memang dari belakang, namun belakang mana tidak dijelaskannya. Hal seperti inilah yang digunakan oleh Wong Samin untuk mengecoh dan kerap kali membuat penjajah kesal. Oalah, jadi asisten rumah tangga Budhe saya itu kebablasan dong ya. Hahaha .. πŸ˜‰

Sumur Angguk Nglobo

Kendaraan kami memasuki jalan makadam di tengah hutan jati yang merimbun. Semua ini demi menuntaskan rasa penasaran saya pada sumur angguk peninggalan Kolonial Belanda, yang masih dimanfaatkan oleh Pertamina untuk mengebor minyak. Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, ya, disanalah saya saat itu ..

Blora_4

Setelah berjalan agak jauh meninggalkan keramaian, sampai juga kami di Pertamina EP Distrik II Nglobo. Lalu, di tengah pemukiman masyarakat, sesosok sumur angguk menyapa saya yang kegirangan. Gerakan besi tuanya naik turun beraturan, hingga muncul suara-suara khas yang terdengar asing di telinga. Sumur angguk yang dirancang unik tersebut berfungsi untuk memompa minyak dari perut bumi ke tangki penampungan. Jumlahnya sudah tidak banyak, karena fungsinya telah digantikan dengan pompa yang jauh lebih canggih, letaknya pun tersembunyi di dalam hamparan hutan jati, tidak heran, melihatnya membuat saya terkesima. Saya sempat berkelakar ringan pada Yunita,

Sumur angguk ini sangat Blora ya, Nit .. ” πŸ˜‰

Blora_2

Oh iya, selain Sumur Angguk Nglobo, saya sempat mengunjungi kompleks kilang minyak tradisional di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro. Tidak kalah unik dengan Nglobo, penambang minyak disana menggunakan pompa tradisional, yang tersusun dari bilah-bilah kayu panjang dan pipa berukuran sedang. Suara bising dan aroma menyengat begitu lekat terasa, tetesan minyak mentah berwarna hitam pekat juga dapat saya saksikan disana. Unik ..

Hutan Jati

Saat itu, saya mengakhiri eksplorasi Blora di tepian hutan jati yang sedang meranggas. Tidak perlu effort berlebih untuk menyaksikan fenomena tersebut. Melintas saja di jalan raya Cepu – Blora, hutan jati menghampar sejauh mata memandang. Awal Mei merupakan permulaan musim kemarau, jati-jati tersebut menggugurkan daun, sebagai cara untuk berkhidmat pada alam, menyesuaikan diri, menghindari mati ..

Blora_3

Di mata manusia, ketaatan pepohonan tersebut tampak menakjubkan. Kayu-kayu bercabang terlihat nelangsa tanpa dedaunan. Langit, yang saat itu mengabu sebab mendung, seperti menambah syahdu. Instagramable, begitu istilahnya .. πŸ˜‰

Saya tidak lama berada di sana, karena rintik gerimis mendadak luruh. Loh, pohon jati sudah terlanjur meranggas, kok hujan masih hendak menderas? Ah, kemarau yang galau ..

Blora_1

Selain kegalauan, hutan jati juga berpotensi menghasilkan kayu-kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar berbagai piranti rumah tangga. Salah satu sentra kerajinan kayu jati yang sempat saya kunjungi saat itu adalah Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro. Produk-produk yang ditawarkan oleh galeri rumahan disana begitu berkualitas dan berharga miring. Menggoda saya untuk berbelanja .. πŸ˜‰

***

Jadi, sudah mulai tertarik untuk main ke Blora, kan? πŸ˜‰

21 thoughts on “Lagi-lagi Tentang Blora ..

  • July 28, 2015 at 10:29
    Permalink

    Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS? Ikuti lomba blog “Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure” di sini http://bit.ly/terios7wonders2015
    #Terios7Wonders

    Jangan sampai ketinggalan, ya!

    Reply
    • July 28, 2015 at 10:57
      Permalink

      Ngga mau! Trauma tahun lalu, udah susah-susah nulis sampe encok kumat, yang menang ternyata udah di-capcipcup-in. Males banget, jaman sekarang masih ada lomba super fake kaya gitu. BHAY! :(

      Reply
      • August 29, 2015 at 10:44
        Permalink

        Hyahahaha.. dibalesi!! Selow banget mbak zizah iki.. πŸ˜€

        Reply
        • September 3, 2015 at 21:01
          Permalink

          Lho kan jujur, Ri. Sak karep e dhewe nyepam ning blogpost e uwong .. :(

          Reply
  • July 28, 2015 at 13:47
    Permalink

    Jadi ada gambaran tentang Blora seperti yang digambarkan Pram..

    Reply
    • July 28, 2015 at 16:58
      Permalink

      Aku malah belum pernah tuntas baca buku-bukunya Pram, Chan, semoga segera .. :(

      Reply
  • July 28, 2015 at 15:04
    Permalink

    Blora memang identik dengan Cepu (perminyakannya, tentu saja) dan kesannya kalau dari ranah eksplorasi sosial masih untouchable ya Mbak. Namun di sini terbukti bahwa banyak sekali yang bisa ditelisik dari kabupaten ini, plus info soal Orang Samin yang baru saya baca di sini :haha. Jadi mereka lebih ke pola pikir dan ajaran ketimbang ke kesamaan suku atau agama ya :hehe. Menarik sekali. Ah, lain kali kalau ada tawaran ke Blora, saya mesti sambar saja, seperti menyambar tawaran menyantap lontong tahu dengan beralaskan daun jati :haha.

    Reply
    • July 28, 2015 at 17:07
      Permalink

      Tau ngga, Gara, di Cepu, satu lapis di balik calon kompleks perminyakan terpadu, yang sudah ditandai dengan berdirinya Hotel Arra Amandaru, kondisinya beneran timpang. Mewah versus kumuh. Untouchable, baik dari sisi sosial dan ekonomi. Agak ngenes sih sebenernya. Hehe ..

      Iya, tentang Orang Samin, ternyata lebih ke pola pikir dan ajaran, yang berkembang di saat Indonesia ada di bawah pemerintahan Kolonial Belanda. Mereka menggunakan pola pikir dan ajaran Samin Surosentiko untuk melawan penjajah lewat cara lain : membuat jengkel. Haha ..

      Saya juga masih mau ke Blora lagi. Belum tuntas mengulik tentang Suku Samin. Bareng yuk .. πŸ˜‰

      Reply
  • July 28, 2015 at 15:27
    Permalink

    Saya malah tertarik sama orang-orang Sikep itu mbak. Gimana ya cara-cara mereka beradaptasi dengan modernitas? Sepertinya tidak begitu saklek seperti suku Baduy dalam.

    Lalu itu yang jawaban, “saka mburi” itu kalau di Jogja sini sering diartikan sebagai dari kamar kecil (bahasa halusny “saking wingking”). Tapi apakah memang yg dimaksud Pak Lasiyo itu dari belakang ataukah dari kamar kecil ya?

    Reply
    • July 28, 2015 at 17:16
      Permalink

      Iya, Kak, ternyata Orang Samin ngga setertutup Orang Baduy Dalam. Bahkan, banyak di antara mereka yang sudah mengenyam pendidikan sampai tingkat universitas. Mereka hanya masih memegang kuat nilai-nilai ajaran Samin yang dijaga turun temurun. Macem-macem itu ajarannya, Kak. Haha .. πŸ˜€

      Tentang jawaban-jawaban mereka yang geje, itu memang disengaja. Tidak jelas “saka mburi” itu benar-benar dari belakang (rumah), kamar mandi atau asal jawab saja, yang penting, kala itu, para penjajah terkecoh. Itu saja niatnya .. πŸ˜‰

      Reply
  • July 28, 2015 at 16:57
    Permalink

    Hahaha aku suka postingan yg ini, menghibur namun informatif! Pengen hang out sama wong Samin jadinya πŸ˜€

    Btw, lontong tahu mbah Supi sejak 1912? Beliau sendiri generasi ke-berapa?

    Reply
    • July 28, 2015 at 17:21
      Permalink

      Ahak, terima kasih, Abang .. πŸ˜€

      Aku juga masih pengin mengulik Orang Samin lebih jauh lagi, kemarin agak terbatas waktunya, keburu sore. Bareng yuk ..

      Mbah Supi itu generasi kedua, dulu, orang tuanya yang memulai usaha itu. Sayangnya sekarang anak-anak Mbah Supi belum ada yang berminat melanjutkan berdagang lontong tahu. Huhuhu .. :(

      Reply
  • July 29, 2015 at 08:52
    Permalink

    Scroll arep komen kok malah ngakak baca “Sarma” yg nyepam tulisanmu iki, Zah hahaha…
    Blora jebulnya punya sisi menarik yang WOW banget yah. Beneran mesti balik ke sana, berburu semua tempat yang dirimu sebut di sini πŸ˜€

    Reply
    • July 29, 2015 at 11:55
      Permalink

      Salah banget dia nyepam disini, Lim. Hahaha .. πŸ˜‰

      Aku tertarik ke Blora kan gara-gara dirimu, Lim. Ternyata benar, walaupun terpinggirkan, Blora itu unik dan menarik. Kudu kesana lagi, belom puas mengulik tentang Suku Samin .. πŸ˜€

      Reply
  • July 29, 2015 at 11:27
    Permalink

    wuh blora, suku samin sih katanya semua orang jujur, benar ya, selalu tepat janji gitu.. dan sebenarnya memang terksan lugu sih

    salam kenal.

    Reply
    • July 29, 2015 at 11:57
      Permalink

      Iya, bener banget, Kak, menepati janji adalah salah satu nilai luhur yang selalu dipegang oleh Suku Samin .. πŸ˜€

      Salam kenal juga, terima kasih sudah berkunjung ..

      Reply
  • July 29, 2015 at 12:36
    Permalink

    Aaah, waktu mudik kemarin nggak bisa main ke kota Blora. Ngomonging lontong tahu, jadi inget jaman SMA. Bapak kosku kadang beliin lontong tahu.

    Kalau ke Blora lagi, monggo dieksplorasi wisata gua nya, Mbak. Ada buanyak gua. :)

    Reply
    • July 29, 2015 at 13:38
      Permalink

      Banyak gua? Waaahhh, informasi ini baru saya dapatkan dari Njenengan, Kak. Harus kunjungan ulang ke Blora lagi berarti. Hehehe .. πŸ˜‰

      Terima kasih sudah dolan-dolan kesini ..

      Reply
  • August 29, 2015 at 10:46
    Permalink

    Kami malah belum pernah eksplor Blora.. Padahal deket dari rumah kami. Huhuhu

    Reply
  • October 7, 2016 at 00:04
    Permalink

    Bagus ini blog nya mbak. Selain terkenal dengan samin,seni barongannya di eksplor juga mbak…hehee

    Salam kenal mbak..

    Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: