Bakda Kupat : Pesona Lebaran di Tengah Jawa ..

Mendengar kata ‘lebaran’, apa yang spontan kamu pikirkan?

Kalau saya, otomatis akan menyebutkan ‘mudik’, ‘bermaaf-maafan’, ‘silaturahmi’, ‘baju baru’ dan ‘opor ayam’. Apakah kita sama? Saya yakin, iya. Ah, lebaran memang identik sekali dengan Indonesia. Seolah momen tersebut bukan sekedar hari raya keagamaan, namun sudah melekat erat pada negeri ini, menjadi sebuah tradisi ..

Dimulai sejak Ramadhan tiba di penghujungnya, masyarakat kita sudah bersiap menyambut lebaran, yang juga sering dimaknai sebagai titik kemenangan. Kebiasaan pulang kampung, itu yang paling khas. Sejauh apapun jarak, semahal apapun harga tiket, tidak peduli, yang penting bisa berlebaran bersama sanak famili. Penampilan terbaik, yang dimanifestasikan dengan membeli sandang di pusat perbelanjaan terkenal, pun masih kerap dilakukan. Hampir wajib hukumnya. Mempersiapkan berbagai panganan, baik berat maupun ringan. Meja ruang tamu mendadak meriah dengan toples-toples berisi kue kering, aroma ayam bumbu kuning dan sambal goreng menguar harum dari dapur ..

IMG_6235

Nah, di tengah semua keriuhan itu, daerah tengah Jawa masih menjaga sebuah kebiasaan lain, yakni Bakda Kupat. Ada yang pernah mendengar? Atau bahkan masih akrab dengan rangkaian kegiatannya?

Bakda Kupat atau lebaran ketupat ini biasanya digelar pada hari ke delapan, Bulan Syawal. Pada tanggal tersebut, umat muslim dianggap telah selesai menjalankan ibadah sunah puasa Syawal-nya. Alih-alih membuatnya pada saat lebaran, masyarakat baru bersicepat membuat ketupat, lengkap dengan lauk pauk pendampingnya, pada saat Bakda Kupat ini. Mereka saling berbagi dengan sanak keluarga dan tetangga, serta bersilaturahmi ke kanan dan kiri ..

Ini memang ‘hanya’ tradisi. Bukan semata-mata ajaran Islam yang diajarkan Kanjeng Nabi ..

Namun beginilah Jawa Tengah, Islam diterima melalui asimilasi kebudayaan yang dipelopori oleh Para Wali. Cara yang jenius, menurut saya. Dan, Bakda Kupat adalah salah satunya ..

Wali Songo menyusupkan ketupat dalam lipatan tuntunan berhari raya, tanpa merusak kemurnian itu sendiri. Ketupat dibungkus dengan janur kuning, yang bagi masyarakat Jawa dianggap sebagai simbol penolak bala. Masuk akal, bukan. Sebab saat rumah dipenuhi seluruh keluarga, apa harapan tertinggi Sang Pemiliknya? Tidak lain adalah kebersamaan itu tidak diganggu oleh hal buruk apapun. Sebuah doa ..

Janur kuning tersebut kemudian dianyam sedemikian rupa sehingga berbentuk belah ketupat berdimensi 5 sudut. Bukan tanpa makna pula, selongsong ketupat berfilosofi kiblat papat lima pancer, yang bermakna keseimbangan hidup. Manusia boleh memburu kehidupan ke 4 penjuru mata angin, namun ia tidak boleh lupa, bahwa di atas segalanya, ada Tuhan. Kepada-Nya lah semua akan kembali ..

Lalu, ketupat berisi beras, yang merupakan simbol kemakmuran. Maknanya jelas, manusia memohon perbaikan kualitas hidup duniawinya, supaya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tanpa melupakan kewajiban berbagi ..

Sedangkan, nama Kupat diriwayatkan merupakan sebuah akronim Ngaku dan Lepat. Mengakui kesalahan. Sebab pada Bulan Syawal, umat muslim diminta untuk memperbaiki hablumminannas-nya. Merawat kembali hubungan dengan orang lain, dengan cara membuka hati, mengakui kesalahan dan membuka pintu maaf seluas-luasnya ..

Di beberapa desa, di sekitar kampung halaman saya, Magelang, Bakda Kupat terasa lebih meriah dibanding lebarannya sendiri. Tiap rumah mengeluarkan seperangkat menu andalannya, ketupat wajib ada. Mereka berkumpul di Masjid atau balai desa, tua muda, miskin kaya, untuk mensyukuri seluruh karunia Allah SWT. Setelahnya apa? Makan bersama! Seru sekali .. 😉

Hmm, lebaran memang selalu membawa efek bahagia, dengan segala pesonanya. Indonesia punya banyak cerita tentang itu. Coba ceritakan bagaimana #PesonaLebaran di kampung halamanmu. Sungguh saya ingin mendengar ..

***

Punya momen lebaran yang mengesankan?
Di-share saja di Kontes Foto Instagram dari Indonesia Travel. Seruuu ..

 

2 thoughts on “Bakda Kupat : Pesona Lebaran di Tengah Jawa ..

  • October 1, 2015 at 07:49
    Permalink

    Lebaran memang identik selalu dengan baju baru,
    bahkan kecil dulu, saya bahkan menangis karena terlambat dibelikan baju baru.

    Lebaran Ketupat itu 1 minggu setelah lebaran yah.
    saya baru tau, solanya di Makassar Meriahnya lebaran pada saat hari Lebaran.
    Indoenesia memang kaya akan budaya dan tradisi.

    Reply
    • October 1, 2015 at 11:21
      Permalink

      Hahaha, pengalamannya sama banget, Bang. Saya ingat pernah nangis gara-gara baju lebarannya ngga sesuai bayangan. Lebay deh saya .. 😀

      Iya, di beberapa tempat di Jawa Tengah, ketupat baru dibuat seminggu setelah Idul Fitri. Trus dimakan rame-rame gitu, ngumpul di suatu tempat. Ya tetangga, ya sanak saudara. Silaturahmi terasa begitu hangat, Bang .. 😀

      Reply

Leave a Reply

Follow

Get the latest posts delivered to your mailbox:

%d bloggers like this: